Pengendalian Hama Terpadu (PHT)Untuk Menjaga Lingkungan

Posted: April 4, 2011 in Pests and Diseases

Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Hama

Semua spesies pun tidak luput dari ancaman serangan hama. Serangga, ulat, ngengat, kutu, dan siput merupakan beberapa contoh hama yang sering mengganggu tanaman. Hama-hama tersebut umumnya menyerang atau memakan bagian tanaman seperti daun atau bunga. Selain memakan bagian tanaman, sering kali hama-hama tersebut meletakkan larva atau telurnya di bagian tanaman tersebut.

Serangan hama dapat mengakibatkan kerusakan yang cukup merugikan. Untuk itulah diperlukan upaya pengendalian dan control terhadap tanaman sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan yang lebih parah. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu mekanis, pengaturan sanitasi lingkungan atau ekologi, dan kimiawi.

Pengendallian hama secara mekanis dilakukan dengan cara menangkap langsung hama yang terdapat pada tanaman. Keong atau ulat dapat ditangkap pada malam atau siang hari saat mereka menempel pada tanaman. Pengendalian mekanis dilakukan bila populasi hama sedikit. Bila populasinya banyak, sebaiknya digunakan cara lain karena tidak efesien dalam hal waktu maupun tenaga kerja.

Pengendalian lainnya adalah dengan pengaturan sanitasi lingkungan. Sanitasi yang baik dan terjaga mengurangi kemungkinan hama menyerang tanaman. Sebagai contoh, siput kecil biasanya berdiam di sampah atau rumput-rumput yang lembap. Bila lingkungan tanaman terhindari dari adanya sampah atau kotoran lainnya maka kesempatan siput untuk tinggal di lingkungan tersebut menjadi berkurang. Dengan demikian, tanaman akan aman dari serangan hama.

Pengendalian secara kimiawi pun dapat dijadikan pilihan bila cara lain tidak mungkin dilakukan atau tidak dapat mengatasi hama. Artinya, bisa sudah dilakukan cara mekanis atau sanitasi lingkungan tetap saja hama menyerang tanaman maka cara kimia pun digunakan. Di pasaran sudah banyak dijual berbagai merek dan jenis pestisida untuk mengatasi hama anggrek. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan pestisida adalah dosis dan cara pemakaiannya. Bila dosis dan cara pemakainan salah, akan terjadi kerusakan pada tanaman maupun gangguan kesehatan manusia. Penggunaan pestisida relatif lebih praktis dan cepat cara kerjanya. Namun demikian, biaya yang diperlukan lebih besar dibandingkan cara mekanis maupun sanitasi lingkungan.

Penyakit

Bakteri dan jamur sering menyerang daun, batang, akar, maupun bunga anggrek Phalaenopsis spesies. Penyakit ini masuk ke dalam jaringan tanaman melalui stomata atau luka pada tanaman. Adanya jamur pada tanaman tampak saat sporanya tumbuh. Sementara adanya bakteri sangat sulit dikenali, kecuali setelah ada tanda-tanda terjadinya serangan.

Gejala awal serangan jamur dan bakteri sering dianggap sama karena memiliki cirri serangan yang hampir mirip. Secara umum cirri-ciri serangan bakteri dan jamur antara lain pada dain terdapat bercak-bercak kecil, melepuh seperti tersiram air panas, berair baik keruh maupun bening, dan berbau amis. Walaupun gejala serangan sama, keduanya masih dapat dibedakan. Bakteri mengeluarkan cairan keruh dan berbau amis, sedangkan jamur mengelaurkan cairan bening dan tidak berbau. Selain itu, penyebaran serangan bakteri pun lebih cepat dibandingkan dengan serangan jamur.

Serangan bakteri atau jamur umumnya terjadi bila kondisi lingkungan tanaman tidak sesuai, yaitu sirkulasi udara di dalam rumah kaca kurang baik serta kelembapan udara dan suhu tinggi.

Untuk mencegah terjadinya serangan penyakit, sebaiknya kondisikan lingkungan atau ekologinya.

Kondisi lingkungan yang baik bagi anggrek Phalaenopsis spesies relatif hampir sama dengan jenis anggrek tropis lainnya. Dalam hal ini kondisi lingkungan yang sangat berperan adalah :

1. suhu siang antara 28-30 C,
2. intensitas cahaya 20-35%,
3. kelembapan udara sekitar 60-75%,
4. udara bergerak, serta
5. sumber air dengan derajat keasaman (Ph) 6-7

banyak cara dalam upaya mengondisikan ekologi tersebut. Di siang hari saat teriknya matahari dapat menyebabkan suhu udara menjadi tinggi dan kelembapan udara menjadi rendah. Secara sederhana, suhu udara yang tinggi tersebut dapat diturunkan dankelembapan yang rendah dapat dinaikkan dengan cara penyiraman lantai atau pengabutan, yaitu penyemprotan butiran air lembut di sekitar rumah tanaman. Upaya tersebut dapat juga dilakukan dengan penggunaan alat pengendali yang disebut cooling pet (tirai air) yang diletakkan pada salah satu sisi rumah tanaman, beserta alat lain sebagai pelengkap, yaitu blower (pengembus) yang diletakkan di belakang tirai air, exhausefan (penyedot) udara dari dalam ke luar yang bekerja secara mekanik, dan pengatur waktu (timer).

Intensitas cahaya diatur dan disesuaikan denga krei yang terbuat dari bambu atau paranet. Paranet merupakan lembaran plastik hitam rajutan berkerapatan tertentu yang disesuaikan dengan umur dan jenis pohon. Paranet ini dipasang di bawah atap plastik.

Dengan upaya-upaya pengendalian kondisi lingkungan tersebut tentu saja menyebabkan kepesatan tumbuh dankeberhasilan pemeliharaan sesuai yang diharapkan. Singkatnya, sukses suatu usaha budi daya anggrek pada umumnya sangat bergantung pada pengondisian faktor lingkungan tersebut. Sebut saja factor tersebut merupakan factor primer, sedangkan pemberian pupuk dan pestisida merupakan faktor sekunder.

Sering kira mendengar atau membaca suatu anjuran atau saran, “pilih jenis anggrek yang sesuai dengan ketinggian tempat “. Agaknya anjuran atau saran tersebut harus ditinggalkan karena dengan perhitungan yang cermat (analisis usaha) dan terutama penguasaan teknologi budi daya yang tepat maka saat ini anggrek apa saja dapat ditanam di mana saja dan kapan saja.

Bila tanaman sudah terserang upaya yang harus dilakukan adalah pengendalian sesegera mungkin. Bila upaya pengendalian tersebut terlambat, dapat timbul kerugian yang lebih besar. Upaya pengendalian penyakit yang umum dilakukan adalah dengan penyemprotan fungsida atau bakterisida. Segera pisahkan tanaman yang terserang dengan mengisolasikannya dari tanaman sehat.

 

Masalah hama terjadi karena adanya sistem yang tidak seimbang.

 

Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan hama, yakni:

•  Kebakaran, banjir dan pembukaan lahan baru

•  Penggunaan areal tanah yang luas hanya untuk satu jenis tanaman (monokultur)

•  Masuknya hama dari suatu daerah ke daerah lain

•  Punahnya predator-predator hama dan pindahnya habitat predator hama karena penggunaan pestisida

 

Solusi   pengendalian    hama   jangka    panjang    dibutuhkan    untuk    mengembalikan

keseimbangan alam di lahan pertanian, perkebunan dan lingkungan alami. Ini tentu saja memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga PHT juga meliputi solusi pengendalian hama jangka pendek, termasuk penggunaan pestisida alami.

 

PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama, untuk:

•  Mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama

•  Mengurangi jumlah permasalahan hama jika sudah terjadi

•  Menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan yang sudah terjadi

 

Setiap bagian dalam lingkungan berkaitan erat dengan setiap bagian lainnya, termasuk

manusia.  Apa  yang  terjadi  pada  satu  bagian  dari  sistem  atau  lingkungan  AKAN mempengaruhi bagian-bagian lainnya dari sistem atau lingkungan tersebut. Ini adalah filosofi  yang  penting  dalam  PHT  dan  masa  depan  yang  berkelanjutan.  Jadi,  untuk berhasilnya PHT kita haruslah memahami bagaimana setiap bagian dalam sistem bekerja dan bagaimana mereka saling bekerjasama. (Misalnya, tanah, serangga, tanaman dan pepohonan, burung, binatang, air, manusia, teknologi).

 

Sistem PHT akan membantu untuk:

•  Mengurangi penggunaan sumber daya dan produk yang mahal, karena lahan akan

“merawat” dirinya sendiri secara terus-menerus, serta sumber daya yang dibutuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya lokal

•  Memperbaiki kualitas tanah, tumbuhan dan lingkungan

•  Meningkatkan produksi dari tanah secara keseluruhan

•  Meningkatkan  keanekaragaman  dan  daya  tahan  terhadap  hama,  penyakit  dan cuaca ekstrim

•  Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitarnya

Pengendalian Hama Terpadu dapat diterapkan di kebun rumah skala kecil, kebun untuk

pasar, hingga lahan pertanian skala besar seperti padi, tanaman buah-buahan dan juga untuk keseluruhan sistem.

Untuk menjadi sehat dan kuat, tanaman membutuhkan kondisi yang baik untuk tumbuh, yang meliputi:

•  Tanah yang subur

•  Air yang cukup

•  Sinar matahari yang cukup

Jenis tanaman  yang  satu  dengan yang lainnya  membutuhkan kondisi yang berbeda-

beda.  Beberapa jenis tanaman menyukai tanah yang sangat kering, beberapa menyukai tanah yang lembab, beberapa menyukai tempat yang teduh, beberapa menyukai sinar matahari yang berlebihan dll. Ada berbagai macam ‘musim mikro’ dalam setiap lahan, jika tanaman cocok dengan kondisi yang dibutuhkan, mereka akan tumbuh dengan baik dan memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit.

Sebagai contoh:

•  Tanah basah – Kangkung

•  Hutan teduh – Vanili

•  Tanah kering berpasir – Kaktus

 

PHT  memiliki  banyak  aspek,  yang  bermanfaat  untuk  mencegah  permasalahan  hama

secara alami:

•  Tanah yang sehat dan hidup – Memperkuat daya tahan tanaman

•  Predator hama alami – Mengontrol jumlah hama

•  Lingkungan yang sehat – Menjaga keseimbangan hama dan mendorong pertumbuhan predator hama

•  Penyerbukan terbuka, benih non-hibrida – Memperkuat daya tahan terhadap hama

•  Pengelolaan tanaman yang baik, meliputi:

•  Rotasi tanaman – Mengisi unsur hara dalam tanah

•  Pola-pola alami untuk berbagai macam bentuk kebun – Mencegah serangan hama

•  Tanaman campuran, bukan monokultur – Mengurangi jumlah perkembangan hama

•  Tanaman penghambat hama – Memperlambat serangan berbagai macam hama

•  Penanaman berpasangan – Tanaman akan saling membantu satu sama lain

•  Membuat & menggunakan umpan serta perangkap – Menjaga rendahnya jumlah hama

•  Menggunakan binatang untuk mengontrol hama – Metode yang efektif dan efisien

untuk mengontrol hama

•  Membuat & menggunakan pestisida alami – Mendukung lingkungan yang lebih sehat

•  Kontrol biologis – Mekanisme pengontrolan hama alami dalam skala yang lebih luas

 

 

 

 

KLASIFIKASI HAMA PASCA PANEN

SERANGGA DALAM PENYIMPANAN BIJI-BIJIAN DAN PRODUK OLAHAN

Serangga yang menginfestasi biji-bijian maupun produk olahan yang disimpan dapat diklasifikasikan menurut arti penting/statusnya secara ekonomi dalam menimbulkan kerusakan.

·          Hama penting adalah spesies yang seringkali menimbulkan kerusakan besar pada bahan simpan dan biasanya teradaptasi untuk berkembang dalam lingkungan penyimpanan.

·          Hama minor meliputi sejumlah besar spesies yang berpotensi menimbulkan kerusakan dan kadang-kadang mendekati status hama penting.  Umumnya berkembang dalam bahan simpan yang berkualitas buruk yang memiliki kelembaban marginal (relatif tinggi) atau telah kadaluwarsa.

·          Hama insidental sebenarnya hanya secara kebetulan saja ditemukan di penyimpanan (belalang, lalat, dsb) dan umumnya tidak menimbulkan kerusakan kuantitatif, namun keberadaannya dianggap sebagai kontaminan yang menurunkan kualitas bahan simpan.

·          Serangga menguntungkan, misalnya parasitoid dan predator serangga biasa ditemukan pada bahan simpan yang terserang hama pascapanen.  Serangga ini dikembangkan sebagai alternatif pengendalian hama di penyimpanan.  Walaupun demikian, beberapa spesies hama bisa menjadi predator fakultatif bahkan kanibal karena kelangkaan makanan.

Klasifikasi lain yang umum dilakukan berdasarkan perilaku makan dan siklus perkembangan hama.  Spesies yang sebagian besar siklus hidupnya berada di dalam biji yang menjadi sumber makanannya digolongkan sebagai infestor internal. Sebaliknya spesies yang mengkonsumsi bahan simpan dari permukaan luar dikategorikan sebagai infestor eksternal.

Klasifikasi ini paralel dengan pengertian hama primer (primary colonizer) dan hama sekunder (secondary colonizer).  Infestor internal disebut juga hama primer karena membutuhkan biji-bijian yang masih utuh untuk makanan dan perkembangannya.  Infestor eksternal identik dengan hama sekunder karena sering ditemukan pada biji-bijian yang telah pecah karena perlakuan mekanis maupun serangan hama primer.  Hama sekunder juga sering menyerang produk olahan seperti tepung, mie kering, keju, dsb.  Spesies ini tidak mempunyai kemampuan menembus pelindung alamiah biji simpan seperti halnya hama primer, namun pada produk olahan bisa terbentuk semacam liang gerekan.

Infestor internal/hama primer sering kali menjadi hama penting pascapanen karena tingginya tingkat kerusakan, apalagi bila embrio biji juga dikonsumsi.  Sifat infestasinya yang tersembunyi (hidden infestation) juga menyebabkan hama ini sulit dideteksi dan dibersihkan saat pemprosesan bahan simpan.  Infestor internal terdiri dari:

·          Kumbang moncong (famili curculionidae).  Yang umum ditemukan adalah tiga spesies yaitu Sitophilus zeamais, S. oryzae dan S. granarius.

·          Kumbang benih (famili bruchidae), yang terpenting sebagai hama pascapanen adalah genus Callosobruchus, Zabrotes, dan Caryedon.  Genus Bruchus, Bruchidius dan Specularius adalah kelompok hama di pertanaman dan tidak bertahan lama dalam lingkungan penyimpanan.

·          Kumbang penggerek (famili bostrichidae).  Rhyzopertha dominica yang menjadi hama penting khususnya pada biji-bijian yang kecil seperti gandum dan beras.  Dua spesies lainnya biasa ditemukan pada komoditi yang tidak sempurna pengeringannya yaitu Prostephanus truncatus yang menyerang jagung yang masih bertongkol serta Dinoderus spp. (penggerek bambu).  Famili scolytidae juga merupakan kumbang penggerek, namun sangat jarang bisa berkembang biak pada biji simpan, contohnya  Hypothenemus hampei.

·          Ngengat penggerek (famili gelechiidae), yaitu Sitotroga cerealella yang biasanya kalah bersaing dengan kelompok kumbang di atas bila ditemukan bersama-sama.

Eksternal infestor/hama sekunder dalam keadaan tertentu dapat hidup pada biji-bijian utuh namun tetap saja menyerang dari permukaan luar dan tampaknya menyukai bagian embrio/lembaga.  Kelompok hama ini terdiri dari berbagai famili dari ordo coleoptera, lepidoptera, psocoptera dan tungau.

Meningkatkan Predator Hama Alami

 

Cara alami untuk mengontrol hama yang telah berlangsung selama berabad-abad adalah hubungan  yang  saling  mempengaruhi  dalam  ekosistem.  Hal  ini  meliputi  tersedianya jumlah predator hama untuk mengendalikan hama itu sendiri.

Karena kualitas lingkungan dan hubungan yang saling menguntungkan dalam ekosistem telah tercemar oleh pengelolaan yang salah dan polusi (termasuk polusi akibat agrikultur yang tidak berkelanjutan), mengakibatkan punahnya predator hama, yang merupakan salah satu sebab dari meningkatnya permasalahan hama. Ketika  mempresentasikan  ide-ide  berikut,  pelatih  dapat  mendorong  diskusi  dengan bertanya  kepada  peserta  tentang  apa  yang  mereka  pikirkan  untuk  menarik  predator hama ke dalam sebuah kebun. Anda dapat merasakan manfaat yang besar dalam usaha mengontrol hama di daerah Anda, dengan menarik predator hama alami ke dalam kebun, pertanian atau kebun buah-buahan. Anda dapat melakukannya dengan:

•  Penanaman berpasangan, bermacam bunga dan tanaman herbal di antara tanaman sayuran dan pohon buah-buahan – Menarik burung pemangsa serangga, laba-laba, tawon, kumbang kepik dan belalang sembah

•  Membangun habitat bagi predator hama dengan batang kayu kering, bambu tua atau tumpukan batu – Kadal pemangsa serangga, laba-laba pemangsa kumbang dan katak akan hidup disitu

•  Membangun kolam kecil – Menarik banyak predator yang menguntungkan

•  Menanam pepohonan di dekat kebun, pertanian atau kebun buah-buahan – Menarik serangga, burung pemangsa dan kelelawar

 

Membutuhkan waktu beberapa tahun untuk membentuk populasi predator hama alami

yang  baik.  Cara  lain  mengontrol  hama,  seperti  pestisida  alami,  mungkin  dibutuhkan untuk digunakan sewaktu-waktu. Walau bagaimanapun, pestisida kimia dan bahkan beberapa jenis pestisida alami dapat membunuh predator hama dan populasi serangga yang menguntungkan. Pergunakanlah secara hati-hati, hanya jika dibutuhkan, dan hanya jika sudah mencoba semua metode yang lain.

Pemanfaatan Senyawa Kimia Alami Sebagai Alternatif Pengendalian Hama Tanaman

Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama tanaman saat ini banyak menimbulkan dampak negatif. Masalah pencemaran lingkungan merupakan akibat yang jelas terlihat, selain itu penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat menyebabkan resistensi hama dan bahkan meninggalkan residu pestisida pada produk hasil pertanian yang bisa berbahaya apabila dikonsumsi manusia. Oleh karena itu diperlukan upaya pengendalian hama secara ramah lingkungan, seperti penggunan pestisida nabati atau biopestisida.

Selain dengan pestisida nabati ada salah satu cara pengendalian hama tanaman secara ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan dan serangga (hama). Serangga menggunakan senyawa kimia untuk berkomunikasi dengan serangga lain, demikian juga dengan tumbuhan memiliki senyawa kimia yang dikeluarkan untuk menarik serangga penyerbuk (attractant), ataupun untuk mempertahankan diri (protectant). Dengan memanipulasi senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh serangga ataupun tanaman diharapkan akan dapat menurunkan populasi hama dengan cara menghambat kehadiran hama tersebut dalam suatu areal pertanaman budidaya.

Sebelum dijelaskan tentang cara memanipulasi senyawa kimia yang disekresikan oleh serangga dan tumbuhan untuk pengendalian hama, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai jenis-jenis senyawa kimia tersebut. Senyawa-senyawa kimia yang digunakan oleh serangga untuk berkomunikasi dengan serangga lain ataupun dengan tumbuhan diantaranya adalah:

1.  Feromon, merupakan bahan yang disekresikan oleh organisme, dan berguna untuk berkomunikasi secara kimia dengan sesamanya dalam spesies yang sama. Berdasarkan fungsinya ada dua kelompok feromon yaitu:

a. Feromon “releaser”, yang memberikan pengaruh langsung terhadap sistem syaraf pusat individu penerima untuk menghasilkan respon tingkah laku dengan segera. Feromon ini terdiri atas tiga jenis, yaitu feromon seks, feromon jejak, dan feromon alarm.

b. Feromon primer, yang berpengaruh terhadap system syaraf endokrin dan reproduksi individu penerima sehingga menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis.

2.  Allomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon pada individu spesies lain. Organisme pelepas memperoleh keuntungan, sedang penerimanya dirugikan. Bagi tumbuhan, allomon ini dapat dipakai sebagai sifat pertahanan dari serangan serangga herbivora. Allomon dapat juga dilepaskan oleh serangga untuk menolak predator.

3.  Kairomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon fisiologis dan perilaku pada individu spesies lain. Senyawa kimia tersebut menimbulkan keuntungan adaptif bagi serangga, individu penerima. Sebagai contoh adalah kairomon yang dihasilkan tanaman jagung, yaitu tricosan, yang dapat menarik Trichogramma evanescens agar dapat menemukan inangnya, yaitu telur Helicoverpa zea.

4.  Apneumon, adalah senyawa kimia yang menjadi penghubung antara serangga dengan benda mati. Serangga tersebut terus berkembang biak dengan suburnya dan menjadi makanan beberapa spesies predator.

5. Sinomon, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme yang dapat menimbulkan respon fisiologis atau perilaku yang memberikan keuntungan adaptif pada kedua belah pihak.

Teknik pemanfaatan senyawa-senyawa kimia tersebut sebagai salah satu alternatif pengendalian hama tanaman adalah sebagai berikut.

A. Pemanfaatan senyawa feromon sintesis (feromoid)

Senyawa feromon seks beberapa spesies serangga telah diidentifikasi, dan telah pula dibuat sintesisnya antara lain Spodoptera litura. Serangga hama yang lain adalah Helicoverpa armigera dengan bentuk senyawa (z,z)-13, 15-oktadekadiena-1-ol asetat dan (z,z)-11, 13-oktadekadiena-1-ol asetat. Senyawa kimia feromon seks Lasioderma serricorne (F.) telah pula diidentifikasi dan dikarakterisasi dengan bentuk senyawa 4,6-dimetil-7-hidroksinonan-3-one. Pemanfaatan feromoid (feromon sintesis) selain untuk memantau populasi juga dapat untuk mengacaukan perkawinan (mating disruption). Dengan kacaunya perkawinan maka tidak banyak telur yang bisa menetas sehingga populasi tertekan. Teknologi ini telah digunakan untuk mengendalikan Plutella xylostella pada kubis, Pectinophora gossypiella (Saund.) pada kapas, serta Grapholita funebrana (F.) dan G. prumifora (F.) pada apel.

B. Pola tanam tumpangsari dan tanaman perangkap

Sistem tumpangsari sering menyebabkan penurunan kepadatan populasi hama dibanding system monokultur, hal ini disebabkan karena peran senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dilepas dan gangguan visual oleh tanaman bukan inang akan mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang. Sebagai contoh, tanaman bawang putih yang ditanam diantara tanaman kubis dapat menurunkan populasi Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis tersebut. Hal ini karena senyawa yang dilepas oleh bawang putih tidak sama dengan senyawa yang dilepas tanaman kubis sehingga P. xylostella kurang menyukai habitat tanaman tumpangsari tersebut. Tanaman bawang putih melepas senyawa alil sulfida yang diduga dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri yang dilepas kubis atau bahkan dapat mengusir hama tersebut.

Penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama juga mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. Mekanisme yang terjadi adalah adanya daya tarik yang lebih kuat dari tanaman perangkap dibanding tanaman utama sehingga hama lebih menyukai berada pada tanaman perangkap tersebut. Salah satu tanaman yang mampu menarik serangga hama dan musuh alaminya adalah jagung. Tanaman jagung sebagai perangkap telah berhasil diterapkan untuk mengendalikan Helicoverpa armigera pada kapas.

C. Pemasangan Senyawa / Minyak Atsiri

Prinsip dasar teknik ini sama dengan pola tanam tumpangsari. Perbedaannya, pada teknik ini tidak perlu menanam tanaman sela di antara tanaman utama, melainkan hanya memasang senyawa atsiri, baik sintetis maupun hasil ekstraksi alami (minyak atsiri), di tempat-tempat tertentu pada areal tanaman budidaya. Sampai saat ini senyawa atsiri yang paling banyak digunakan adalah metil eugenol sebagai perangkap hama lalat buah jantan. Senyawa 1,8-cineole yang merupakan senyawa penarik bagi hama pisang, yaitu kumbang Cosmopolites sordidus. Selain untuk mengendalikan hama yang menyerang pertanaman, senyawa atsiri juga telah diuji untuk mengendalikan hama gudang. Senyawa phenol thymol dan carvacrol yang berasal dari tanaman Thymus serpyllum serta terpinen-4-ol yang berasal dari Origanum majorama dapat digunakan sebagai fumigan uintuk hama kumbang kedelai Acanthoscelides obtectus. Eugenol yang berasal dari bunga cengkeh efektif terhadap hama Tribolium castaneum, Sitophilus zeamais, dan Prostephanus truncatus. Dengan demikian senyawa-senyawa atsiri ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk menggantikan bahan fumigasi kimia yang telah diaplikasikan selama ini di gudang-gudang penyimpanan. Penelitian dalam skala komersial perlu dilakukan untuk membuktikan efektifitas teknologi ini.

D. Pemanfaatan sampah/ bahan organik

Teknik ini memanfaatkan senyawa apneumon sebagai senyawa kimia penghubung antara serangga dengan benda mati. Sampah sebagai sarang musuh alami, khususnya predator, tampaknya belum terpikirkan untuk sarana pengendalian hama. Sampah (bekas gulma yang disiang) merupakan media hidup yang baik bagi musuh alami. Sampah yang lapuk tersebut sebenarnya merupakan media hidup mikroorganisme yang menjadi makanan predator. Akibatnya populasi hama tanaman dapat ditekan dengan meningkatnya predator tersebut. Contoh yang lain adalah kumbang kelapa Oryctes rhinoceros L. yang meletakkan telurnya pada kotoran sapi yang sudah lapuk atau tumpukan batang kelapa yang lapuk. Dengan demikian akan terjadi akumulasi larva pada satu tempat, khususnya apabila disediakan perangkap, sehingga pengendalian mekanis mudah, murah dan cepat dilakukan.

Dengan menerapkan teknik-teknik tersebut pada lahan pertanian diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang kita tahu banyak minimbulkan dampak negatif. Selain itu juga menghemat biaya untuk pengendalian hama tanaman.

Dampak Negatif dari Penggunaan Pestisida Kimia

Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:

  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama baru (resurjensi)
  3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  4. Terbunuhnya musuh alami
  5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  6. Kecelakaan bagi pengguna

Keunggulan dan Kekurangan Pestisida Nabati

Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Kira-kira ini kelebihan dan kekurangan pestisida nabati.

Kelebihan:

  1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari
  2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian
  3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan
  4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif
  5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia
  6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman
  7. Murah dan mudah dibuat oleh petani

Kelemahannya:

  1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
  2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga)
  3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku
  4. Kurang praktis
  5. Tidak tahan disimpan

Fungsi dari Pestisida Nabati

Pestisida Nabati memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

Bahan dan Cara Umum Pengolahan

  • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)

Semprotan Pestisida & Fungisida Alami

 

Ada berbagai macam jenis pestisida & fungisida alami yang bisa dibuat dan digunakan. Terbuat  dari  bahan-bahan  tradisional  yang  sudah  dikenal  atau  resep  baru  dengan

menggunakan bahan-bahan yang tersedia di daerah sekitar.

 

Prinsip menggunakan pestisida dan fungisida alami merupakan bagian dari PHT.

 

•  Semprotan pengendalian hama alami merupakan bagian dari sistem pengendalian

hama dan hanya dipergunakan bila diperlukan

 

•  Jangan menggunakan pestisida dan fungisida alami bila tidak ditemukan hama dan

tanaman yang rusak

 

•  Kerusakan  dalam  jumlah  yang  kecil  tidak  masalah  –  Luangkan  waktu  untuk mengamati  jika  ada  predator  yang  memakan  hama-hama  dan  apakah  hama menyebar dengan cepat atau lambat

 

•  Beberapa pestisida alami sangatlah kuat dan akan membunuh semua serangga, baik yang  merugikan  maupun  yang  bermanfaat.  Berhati-hatilah  karena  sebagian  besar seranggga tidak merugikan tanaman Anda dan bahkan bisa menjadi predator hama yang baik. Membunuh mereka justru akan menciptakan masalah di kemudian hari

 

 

Bagaimana menggunakan pestisida dan fungisida alami

 

Jenis-jenis alat penyemprotan:

•  Sapu lidi

•  Semprotan tangan dari plastik

•  Sebuah botol air dengan lubang-lubang kecil pada tutupnya

•  Semprotan bambu buatan sendiri dapat pula digunakan

•  Bacalah bagian “Alat Penyemprot Sederhana” pada Buku PK MOD 9

•  Kantong penyemprot

 

 

Hal-hal yang penting diperhatikan ketika menggunakan pestisida & fungisida alami

•  Semprotan dari bambu, kantong penyemprot dan semprotan tangan dari plastik

HARUS dibersihkan dengan air setelah digunakan

 

•  Beberapa  pestisida  alami  dapat  menyebabkan  masalah  pada  kulit  dan  dapat membuat  Anda  sakit  jika  terlalu  banyak  mengenai  kulit  atau  masuk  ke  mulut, hidung atau mata Anda

 

•  Selalu kenakan baju dan celana panjang, sarung tangan, sepatu dan kain penutup hidung dan mulut, khusus untuk pestisida alami yang kuat kenakanlah kacamata

 

Ide-ide bagi penggunaan semua insektisida dan fungisida alami

•  SANGAT PENTING – Hentikan penggunaan setidaknya 2 minggu sebelum panen

–  Hal  ini  akan  menghindari  kontaminasi  pestisida  atau  fungisida  pada  makanan yang dapat menyebabkan manusia sakit

 

•  Gilirlah jenis penyemprotan untuk menghindari serangga menjadi kebal pada salah satu jenis insektisida dan fungisida

 

•  Beberapa insektisida dan fungisida akan bekerja lebih baik dibanding yang lainnya, terdapat  beberapa  faktor  yang  mempengaruhi  hasil.  Lakukan  percobaan  dan pelajarilah hasilnya

 

•  Hanya lakukan penyemprotan pada pagi-pagi sekali atau sore menjelang malam untuk mencegah terbakarnya tanaman dari panas matahari

 

•  Pada musim hujan usahakan untuk menyemprot setidaknya 3 jam sebelum hujan turun sehingga semprotan memiliki waktu yang cukup untuk bekerja maksimal

 

Beberapa jenis semprotan pestisida alami

•  Semprotan tradisional                    •    Semprotan serangga (semprotan biologis)

 

•  Semprotan nimba                          •    Semprotan lombok / bawang putih

 

•  Semprotan pepaya                        •    Semprotan jus jahe

 

•  Semprotan daun talas                    •    Semprotan daun tomat

 

•  Semprotan lem                              •    Semprotan sabun

 

•  Semprotan daun tembakau

 

Beberapa jenis fungisida alami

•  Semprotan nimba                          •    Teh Rumput Laut

 

•  Urin yang diencerkan                     •    Susu bubuk

 

•  Ubi jalar                                          •    Bawang putih

 

•  Pepaya

Pengendalian Hama Berbasis Biologi

1. Pengendalian hayati adalah penggunaan musuh alami (pemangsa, parasitoid, dan patogen) untuk mengendalikan populasi hama.

2. Pengendalian hama dengan taktik atau teknologi berbasis biologi mencakup lima tipe, yaitu:

a. pengendalian hayati,

b. pestisida mikroba,

c. senyawa-senyawa kimia yang memodifikasi perilaku hama,

d. manipulasi genetika populasi hama, dan

e. imunisasi tanaman.

3. Pendekatan yang digunakan di dalam pengendalian hayati adalah:

a. pengendalian hayati klasik,

b. pengendalian hayati augmentasi, dan

c. konservasi musuh alami.

4. Pengendalian alami adalah pengendalian populasi makhluk hidup di alam karena tekanan faktor lingkungan biotik dan abiotik. Di dalam pengendalian alami tidak ada peran aktif manusia.

5. Musuh alami di dalam pengendalian hayati terdiri atas pemangsa, parasitoid, dan patogen. Pemangsa adalah serangga atau hewan pemakan serangga yang selama masa hidupnya banyak memakan mangsa. Parasitoid adalah serangga yang meletakkan telurnya pada permukaan atau di dalam tubuh serangga lain yang menjadi inang atau mangsanya. Ketika telur parasitoid menetas, larva parasitoid akan memakan inang dan membunuhnya. Patogen adalah makhluk hidup yang menjangkitkan penyakit pada inang atau menjadi pesaing untuk mikroba patogen yang menyerang tanaman.

6. Catatan sejarah pengendalian hayati diawali di Cina sebelum tahun 900. Para petani Cina telah memanfaatkan semut Oecophylla smaradigna untuk mengendalikan hama ulat dan kumbang yang menyerang tanaman jeruk.

7. Dr. Erasmus Darwin adalah orang yang pertama kali mengusulkan kemungkinan penggunaan serangga parasitoid untuk mengendalikan hama.

8. Keberhasilan kumbang Rodolia cardinalis mengendalikan Icerya purchasi dan ngengat Cactoblastis cactorum mengendalikan kaktus Opuntia telah menjadi legenda di dalam pengendalian hayati klasik hama serangga dan gulma.

Potensi dan Masa Depan Pengendalian Hayati Dalam Pengelolaan Hama

1. Masa depan pengendalian hayati akan dipengaruhi oleh adanya ancaman hama asing akibat perdagangan antarnegara, ancaman terhadap keanekaragaman hayati akibat masuknya hama dan musuh alami dari luar, serta perkembangan industri agen-agen pengendali hayati komersial dan biopestisida.

2. Ada persepsi baru yang menganggap bahwa taktik pengendalian hama berbasis biologi, termasuk pengendalian hayati, juga mengandung berbagai risiko. Masyarakat konservasi sangat menyoroti masuknya jenis makhluk hidup yang berbahaya ke suatu negara, karena akan mengganggu ekosistem alami. Namun hal tersebut terjadi pada awal sejarah pengendalian hayati sebelum adanya proses pengaturan dan ketika perhatian orang masih sedikit terhadap nasib organisme asli.

3. Insektisida mikroba dapat menimbulkan risiko lingkungan, termasuk pengaruhnya terhadap organisme bukan target dan pemangsanya. Bacillus thuringiensis dapat mengakibatkan pengurangan jumlah larva ngengat dan kupu-kupu bukan target untuk sementara waktu. Risiko lain adalah kemungkinan munculnya ketahanan hama terhadap insektisida mikroba, misalnya yang terjadi akibat penggunaan Bacillus thuringiensis.

4.  Banyak orang yang menyimpulkan bahwa risiko-risiko yang mungkin muncul dari taktik pengendalian hama berbasis biologi jauh lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang akan muncul dari penggunaannya.

5.  PHT didefinisikan sebagai suatu pendekatan berkelanjutan dalam mengelola hama dengan mengombinasikan taktik pengendalian hayati, budidaya, fisika, dan kimia guna meminimalkan risiko ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s