Archive for the ‘Soil Science’ Category

Ilmu Tanah

Posted: April 4, 2011 in Soil Science

Ilmu tanah

Ilmu tanah adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk tanah. Tanah adalah lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) and atmosfer. Tanah adalah tempat tumbuhnya tanaman dan mendukung hewan dan manusia.

Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan tanaman dan organisme, membentuk tubuh unik yang menyelaputi lapisan batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon. Setiap horizon dapat menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.

Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swis yang bekerja di Amerika Serikat, dalam bukunya Factors of Soil Formation (1941) mengajukan konsep pembentukan tanah sebagai:

S = f(cl, o, r, p, t).

S adalah Soil (Tanah), cl = climate (iklim), o = organism, r = relief (topografi), p = parent material (bahan induk atau batuan), t = time (waktu).

Selain mempelajari faktor dan proses pembentukan tanah, ilmuwan tanah juga mempelajari sifat-sifat dan proses-proses fisika, kimia dan biologi dalam tanah. Sehingga lahirlah disiplin-disiplin

1. Pedologi

2. Fisika tanah

3. Kimia tanah

4. Biologi tanah

5. Konservasi tanah

6. Mekanika tanah

7. Pemetaan dan survey tanah

8. Pedometrika

[sunting] Sejarah ilmu tanah di Indonesia

Ilmu tanah di Indonesia Pertama diajarkan di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (merupakan kelanjutan dari Lanbouw Hogeschool yang didirikan 1940) oleh staf pengajar dari Belanda Prof. Dr. Ir. F.A. van Baren (pakar agrogeologi dan mineralogi) dan Prof. Dr. H.J. Hardon (pakar ilmu tanah dan kesuburan tanah). Kemudian digantikan oleh Drs. F.F.F.E. van Rummelen dan Dr. J. van Schuylenborgh. Akibat nasionalisasi, sejak tahun 1957 digantikan oleh Drs. Manus dan Dr. Ir. Tan Kim Hong. Penelitian tanah di Indonesia mulai saat Indonesia masih dalam kekuasaan kolonial Belanda oleh Dr. E.C.Jul. Mohr (1873–1970). Dr. Mohr yang bertugas di Indonesia sebagai kepala Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek di Bogor telah menjalankan survai di Indonesia sejak tahun 1920. Beliau menerbitkan bukunya tahun 1933:

* Mohr, E.C.J., 1933. De Bodem der Tropen in het Algemeen, en die van Nederlandsch-Indie in het Bijzonder. (Tanah-tanah di Daerah Tropis, dengan rujukan khusus di Hindia Belanda).

Buku tersebut memaparkan iklim dan komposisi tanah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Papua, Maluku, Halmahera, Kalimantan dan Sulawesi, disempurnakan dan diedarkan kembali:

* Mohr, E.J.C., van Baren, F.A. and van Schuylenborgh, J., 1972. Tropical soils: a comprehensive study of their genesis. 3rd edition. Mouton – Ichtiar Baru – van Hoeve, The Hague.

Buku ini masih menjadi rujukan bagi pakar tanah di daerah tropis sampai sekarang.

[sunting] Tokoh ilmu tanah Indonesia

* Go Ban Hong

* Tan Kim Hong

* Kang Biauw Tjwan

DEFINISI TANAH, FUNGSI DAN PROFIL TANAH

Definisi Tanah

1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)

Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)

Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.

Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)

Kata Edaphos = bahan tanah subur.

Tanah adalah media tumbuh tanaman

Perbedaan Pedologis dan Edaphologis

1. Kajian Pedologis:

Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan Pengetahuan Alam Murni.

Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah, Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu Ukur Tanah.

2. Kajian Edaphologis:

Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman.

Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi, Pupuk dan Pemupukan, Ekologi Tanah, dan Bioteknologi Tanah.

Paduan antara Pedologis dan Edaphologis:

Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan, Tata Guna Lahan, Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

Fungsi Tanah

1.Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran

2.Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)

3.Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)

4.Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:

1.Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan

2.Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.

Profil Tanah

Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah.

Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O –A – E – B – C – R.

Solum Tanah terdiri dari: O – A – E – B

Lapisan Tanah Atas meliputi: O – A

Lapisan Tanah Bawah : E – B

Keterangan:

O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa)

A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap

E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang

B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial).

C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan

R : Bahan Induk tanah

Kegunaan Profil Tanah

(1) untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O – A) dan solum tanah (O – A – E – B)

(2) Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil

(3) Warna Tanah

Komponen Tanah

4 komponen penyusun tanah :

(1) Bahan Padatan berupa bahan mineral

(2) Bahan Padatan berupa bahan organik

(3) Air

(4) Udara

Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.

 

TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH

Posted: April 4, 2011 in Soil Science

TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH

1. Pengertian Tanah

Definisi Tanah
1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)
Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)
Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.
Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)
Kata Edaphos = bahan tanah subur.
Tanah adalah media tumbuh tanaman

Perbedaan Pedologis dan Edaphologis
1. Kajian Pedologis:
Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan Pengetahuan Alam Murni.
Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah, Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu Ukur Tanah.

2. Kajian Edaphologis:
Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman.
Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi, Pupuk dan Pemupukan, Ekologi Tanah, dan Bioteknologi Tanah.

Paduan antara Pedologis dan Edaphologis:
Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan, Tata Guna Lahan, Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

2.Faktor yang mempengaruhi terbentuknya tanah

Iklim

Iklim merupakan faktor yang amat penting dalam pembentukan tanah. Suhu dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap intensitaas reaksi kimia dan fisika dalam tanah. Setiap suhu naik 10º C maka kecepatan reaksi menajdi dua kali lipat. Reaksi-reaksi oleh mikroorganisme jugfa sangat dipengaruhi oleh suhu tanah.

Adanya curah hujan dan suhu tunggi di daerah tropik menyebabkanreaksi kimia berjalan cepat. Akibatnya banayk tanah di Indonesia telah mengalami pelapukan lanjut, rendah kadar unsur hara dan bereaksi masam.

Di daerah-daerah yang beriklim lebih kering seperti di Indonesia bagian timur pencucian tidak berjalan intensif sehingga tanahnya kurang masam dan lebih tinggi kadar basa-basanya.

Organisme

Pengaruh organisme dalam proses pembentukan tanah tidaklah kecil. Akumulasi bahan orgsnik, siklus unsur hara, dan pembentukan struktur tanah yang stabil sangat dipengruhi oleh kegiatan organisme dalam tanah. Di samping itu unsur nitrogen dapat diikat kedalam tanah dari udara oleh mikroorganisme dalam tanah  dari udara oleh mikroorganisme baik yang hidup sendiri maupun yang simbiose dengan tanaman. Demikian juga vegetasi yang tumbuh ditanah tersebut dapat merupakan penghalang untuk terjadinya erosi, sehingga mengurangi jumlah tanah permukaan yang hilang.

Di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat tanah adalah sangat nyata. Vegetasi  hutan membentuk tanah-tanah hutan berwarna merah sedang vegetasi rumput-rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak sisa-sisa bahan organik yang tertinggal dari akar-akar dan sisa rumput.

Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman juga sangat berpengaruh tehadap sifat-sifat tanah. Jenis-jenis cemara juga akan menberi kation-kation logam seperti Ca, Mg, dan K yang rendah. Siklus unsur hara di bawah tanama-tanaman tersebut adalh rendah dibanding dengan tanaman berdaun lebar, dinama seresahnya lebih banyak mengandung basa-basa. Akibatnya tanah di bawah pohon pinus biasanya lebih masam dari pada tanah di bawah pohon jati dan sebagainya. Pencucian basa-basa biasanya juga lebih intensif pada tanah-tanah di bawah pohon pinus.

Bahan Induk

Sifat-sifat dari bahan induk masih tetap terlihat, bahkan pada tanah daerah humid yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut. Misalnya tanah-tanah bertekstur pasir adalah akibat dari kandungan pasir yang tinggi dari bahan induk. Susunan kimia dan mineral bahan induk mempengsruhi intensitas tingkat pelapukan, tetapi kadang-kadang menentukan jenis vegetasi alami yang tumbuh di atasnya. Terdapatnya batu kaour di daerah humid akan menghambat tingkat kemasaman tanah. Di samping itu vegetasi yang hidup di atas tanah berasal dari batu kapur biasnya banyak mengandung basa-basa. Dengan adanya pengembalian basa-basa lapisan tanah atas melalui seresah dari vegetasi tersebut maka proses pengasaman tanah menjadi lambat.

Topografi (relief )

Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah termasuk di dalamnya perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Relief mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan cara : (1) Mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau di tahan dalam tanah, (2) mempengaruhi dalamnya air tanah, (3) mempengaruhi besarnya erosi, dan (4) Mengarahkan gerakan air berikut bahan-bahan yang terlarut di dalamnya.

Topografi ( bentuk wilayah atau relief ) suatu daerah dapat menghambat atau mempercepat pengaruh iklim. Di daerah datar atau cekung dimana air tidak mudah hilang dari tanah atau menggenang, pengeruh iklim menjadi tidak jelas dan terbentuklah tanah berwarna kelabu atau banyak mengandung karatan sebagai akibat genangan air tersebut.

Di daerah bergelombang, drainase tanah lebih baik sehingga pengaruh iklim ( curah hujan suhu ) lebih jelas dan pelapukan serta pencucian lebih cepat. Di daerah-daerah yang berlereng curam kadang-kadang terjadi terus menerus erosi permukaan sehingga terbentuklah tanah-tanah dangkal. Sebaliknya, pada kaki-kaki lereng tersebut sering ditemukan tanah dengan profil dalam akibat penimbunan bahan-bahan yang dihanyutkan dari lereng atas tersebut.

Sifat-sifat tanah yang umumnya berhubungan dengan relief adalah: tebal solum, tebal dan kandungan bahan organik hrorizon A, kandungan aiar tanah (relative wetness), warna tanah, tingkat perkembangan horizon, reaksi tanah (PH), kejenuhan basa, kandungan garam mudah larut dan lain-lain.

Waktu

Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus maka tanah-tanah yanh semakin tua juga semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Profil tanah juga semakin berkembang dengan meningkatnya umur.

Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka bahan induk tanah berubah berturut-turut menjadi: tanah muda (immature atau young soil), tanah dewasa (mature soil) dan tanah tua (old soil). Ini diakibatkan oleh lama waktu proses pembentukan tanah.

 

2 Sifat fisika tanah

Tanah memmiliki sifat-sifat fisika yaitu :

1. Batas-batas horizon

Batas suatu horizon dengan horizon lainnya dalam profil tanah dapat terlihat jelas atau baur.Dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan horizon-horison ini dibedakan ke dalam beberapa tingkatan yaitu nyata(lebar peralihan kurang 2,5-6,5 cm), berangsur(lebar peralihan 6,5-12,5 cm ) dan baur (lebar peralihan lebih dari 12,5).disamping itu bentuk topografi dari batas horizon tersebut dapat rata, berombak, tidak teratur, atau terputus.

2. warna tanah

Warna merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanh tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya oleh perbedaan kandungan bahan organik.Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap.

Hubungan warna tanah dengan kandungan bahan organik di daerah tropika sering tidak sejalan dengan di daerah beriklim sedang(Amerika,Eropa) tanah-tanah merah di Indonesia banyak yang mempunyai kandungan bahan organik lebih dari satu persen, sama dengan kandungan bahan organik tanah hitam (Mollisol) di daerah beriklim sedang.

Warna tanah ditentukan dengan menggunakan warna-warna baku  yang terdapat dalam buku Munsell Soli Color Chart.Dalam warna baku ini warna disusun oleh  tiga variable yaitu : bue, vaue, chroma.Hue adalah warna spectrum yang dominant sesuai dengan warna gelombangnya.Value menunjukkan warna gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.

Warna tanah akan berbeda bila tanah basah, lembab atau kering, sehingga dalam menentukan warna tanah perlu dicatat apakah tanah tersebut dalam keadaan basah, lembab atau kering.

3.Tekstur

Tanah terdiri dari butir –butir  tanah bebagai ukuran.Bagian tanah yang berukuran lebih dari 2mm disebut bahan kasar(kerikil sampai batu).Bahan-bahn tanah yang lebih halus dapat dibedakan menjadi :

Pasir : 2mm-50u

Debu : 50u-2u

Liat    : kurang dari 2u

Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah berdasar atas berbandingan banyaknya butir-bitir pasir dan liat maka tanah dikelompokkan kedalam beberapa macam kelas tekstur yaitu

 

Pasir

Kasar

Pasir berlempung

 

Agak kasar                                     Lempung berpasir

Lempung berpasir halus

 

Lempung berpasir sangat halus

 

Sedang                                                Lempung

 

Lempung berdebu

 

Lempung liat bedebu

 

 

Lempung liat

 

Agak halus                              Lempung liat berpasir

 

Lempung liat berdebu

 

Liat berpasir

 

Halus                                       Liat berdebu

 

Liat

 

Dalam klasifikasi tanah(Taksonomi tanah) tingkat famili, kasr halusnya tanah ditunjukkan dalam sebaran besar butir (particle size distribution) yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah dengan memperhatikan  pula fraksi tanah yang lebih kasar dari pasir(lebih dari 2mm).Sebaran besar butir untuk fraksi kurang dari 2mm meliputi : berpasir, berlempung kasar, berlempung halus, berdebu kasar, berdebu halus, berliat halus, berliat sangat halus.Bila fraksi alus (kurang dari 2mm) sedikit sekali dan tanah terdiri dari kerikil, batu-batu, dan lain-lain disebut fragmental.Bila tanah halus termasuk kelas berpasir, berlempung atau berliat, tetapi mengandun g 35% atau lebih(volume) bahan kasar(kerikil,batu-batu) maka  sebaran besar butirnya disebut berpasir skeletal,berlempung skeletal, dan berliat skeletal.

Tanah-tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit menyaerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah bertekstur liat mempunyai permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsure hara tinggi.Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar

 

Di lapang tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah basah diantara jari-jari sambil dirasakan halus kasarnya yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir, debu, liat, sebagiai berikut.

 

Pasir                – rasa kasar

- tidak melekat

- tidak dapat dibentuk bola dan gulungan

 

Pasir                – rasa kasar jelas

berlempung     – sedikit sekali melekat

- dapat dibentuk bola yang mudah sekali hancur

 

Lempung         – rasa kasar agak jelas

berpasir            – agak melekat

- dapat di buat bola, mudah hancur

Lempung         – rasa tidak kasar dan tidak licin

- agak melekat

- dapat dibentuk bola agak teguh, dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat

Lempung         – rasa licin

Berdebu          – agak melekat

- dapat dibentuk bola, agak teguh, gulungan dengan permukaan mengkilat

Debu               – rasa licin sekali

-  agak melekat

- dapat dibentuk bola teguh, dapat disebut gulungan dengan permukaan membulat

Lempung         – rasa agak licin

Berliat             – agak melekat

- dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur

Lempung         – rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar

Liat berpasir    – agak melekat

- dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan mudah hancur

Lempung         – rasa halus

- agak licin

Liat berdebu    – melekat

- dapat dibentuk bola teguh, gulungan mengkilat

Liat berpasir    – rasa halus, berat tetapi terasa sedikit kasar

- melekat

- dapat dibentuk bola teguh, mudah digulung

Liat berdebu    – rasa halus, berat, agak licin

- sangat lekat

- dapat dibentuk bulat teguh, mudah digulung

Liat                  – rasa berat, halus

- sangat lekat

- dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung

4. Struktur

Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butr-butir tanah.Gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organic, oksida-oksida besi dan lain-lain. Gumpalan-gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran, dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda. Bentuk strutur: menurut bentuknya strutur dapat dibedakan menjadi:

1. Lempeng (platy) – sumbu vertical < sumbu horizontal ditemukan di horizon  A2  atau pada lapisan padas liat.

2. Prisma – sumbu vertical > sumbu horizontal bagian atasnya rata di horizon B, tanah daerah iklim kering.

3. Tiang – sumbu vertical > sumbu horizontal bagian atas membulat. Di horizon B tanah daerah iklim kering.

4. Gumpal bersudut – seperti kubus dengan sudut-sudut tajam.Sumbu verttkal = sumbu horizontal.Dihorison B tanah daerah iklim basah

5.gumpal membulat — seperti kubus dengan sudut-sudut,membulat, .Sumbu verttkal = sumbu horizontal.Dihorison B tanah daerah iklim basah

6.Granuler – bulat – porous.Di horizon A

7.Remah – bulat sangat porous. Di horizon A

 

Didaerah curah hujan tinggi umumnya ditemukan struktur remah atau granuler dipermukaan dan gumpal dihorison bawah.Di daerah kering sering dijumpai tanah dengan struktur tiang atau prisma dilapisan bawah.

5. Konsistensi

Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap daya yang akan mengubah bentuk. Gaya-gaya tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan sebagainya. Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena tanah dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah, atau kering. Maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut.

Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampaai teguh (agak sulit dicangkul).

Dalam keadaan kering, tanah dibedakan kedalam konsistensi lunak sampai  keras. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat.

Dlam keadaan lembab atau kering konsistensi tanah ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsistensi teguh (lembab) atau keras (kering).

Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari (melekat atau tidak melekat) atau mudah tidaknya membentuk bulatan dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). Secara lebih terinci cara penentuan konsistensi tanah adalah sebagai berikut:

Tanah basah : kandungan air diatas kapasitas lapang

a. Kelekatan       – kekuatan adhesi (melekat) dengan benda lain :

Tidak lekat      – tidak melekat pada jari tanah atau benda lain

Agak lekat       – sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain

Lekat               – melekat pada jari tangan atau benda lain

Sangat melekat         – sangat melekat pada jari tangan atau benda lain

b. Plastisitas       – menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan :

Tidak plastis    – tidak dapat membentuk gulungan tanah

Tidak plastis    – hanya gulungan tanah kurang dari 1 cm dapat terbentuk

Plastis              – dapat membentuk gulungan tanah lebih 1 cm, diperlukan sedikit tekanan untuk    merusak gulungan tersebut

Sangat Plastis  – diperlukan tekanan untuk merusak gulungan tersebut

Tanah lembab : kandungan air mendekati kapasitas lapang

Lepas - tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah pasir)

Tanah gembur    – gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas

Gembur              – diperlukan sedikit tekanan untuk m engahancurkan gunpalan tanah dengan meremas

Teguh )               – berturut-turut memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghancurkan

sangat teguh)      tanah sampai sama sekali tidak tidak dapat hancur dengan remasan tangan.

sangat teguh

sekali)

Tanah kering : tanah dalam keadaan kering angin

Lepas                  – tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah pasir)

Lunak                 – gumpalan tanah mudah hancur bila diremas

Agak keras)        – berturut-turut memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghancurkan

Keras)                 tanah sampai tidak dapat hancur dengan remasan tangan

Sanagat keras)

Sangat keras

sekali)

Sementasi (pemadasan)

Lemah                – dapat dihancurkan dengan tanah

Kuat                   – dapat dihancurkan dengan palu

Memadas            – dapat dihancurkan dengan pukulan palu yang keras

 

3 Sifat Biologi Tanah

 

Biologi tanah adalah studi tentang komponen-komponen ysng hidup dslsm tanah,meliputi jamur,bakteri,aktinomisetes,ganggang,dan fauna tanah,yang kesemuanya Mempunyai peranan yang penting dalam proses-proses yang terjadi didalam tanah.Sifat biologi tanah sangat erat kaitannya dengan organisme dan vegetsi tanah dimana mempunya peranan yang sangat penting dalan proses yang terjadi di tanah

4 Sifat Kimia Tanah

 

pH tanah

Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion nitrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH – yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+.Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH –, sedang pada tanah alkalis kandungan OH – lebih banyak daripada H+. BIla kandungan H+ sama dengan OH – maka tanah bereaksi netral yaitu tanah mempunyai pH 7.

Pentingnya pH tanah

1.Menentuksn mudah tidaknya unsure-unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya unsure hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada ph tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsure P tidak dapat diserap tanaman karena diikat(difiksasi) oleh Al, Sedang pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena difikssaasi oleh Ca.

2.Menunjukkan kemungkinan adanya unsure-unsur beracun.Pada tanah masma baynak ditemukan ion0-ion Al di dalam tanah, yang kecuali memfiksasi unsure P juga merupakan racun badi tanaman. Pada tanah-tanah rawa ph yang terlalu rendah(sangat masam) menunjukkan kandungan sulfat tinggi, yang juga merupakan racun bagi tanaman disamping itu pada reaksi tanah yang masam, unsure-nsur mikro juga mudah larut, sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yangsangat kecil, sehingga menjadi racun kalau terdapat dalam jumlah yang terlalu besar. Termasuk unsur mikro dalam jenis ini adalah Fe,Mn,Zn,Cu,Co. Unsur mikro yang lain yaitu Mo dapat menjadi racun kalau pH terlalu alkalis. Disamping itu tanah yang terlalu alkalis juga sering mengandung garam yang terlalu tinggi yang juga dapat menjadi racun bagi tanaman.

3. Mempengaruhi perkembangan mikro organisme

- Bakteri berkembang dengan baik pada pH 5,5 atau lebih sedang pada  kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terhambat.

- Jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah . Pada pH  lebih dari 5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri.

- Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik pada pH lebih dari 5,5.

Mengubah pH tanah : tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pH nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedang tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkkan pHnya dengan penambahan belerang.

Koloid tanah

Yang dimaksud dengan koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organic tanah  yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per satuan berat (massa). Koloid berasal dari bahasa Yunani yang berarti seperti lem (glue like). Termasuk koloid tanah adalah liat (koloid anorganik) dan humus (koloid organik). Menurut Brady 1974 koloid berukuran < 1 µ, sehingga tidak semua fraksi liat (< 2 µ) termasuk koloid. Koloid tanah merupakan bagian tanah yang sangat aktif dalam reaksi-reaksi fisiko kimia di dalam tanah.

Partikel-partikel koloid yang sangat halus yang disebut micelle (micro sell) umumnya bermuatan negative. Karena itu ion-ion yang bermuatan positif (kation) tertarik pada koloid tersebut sehingga terbentuk lapisan ganda ionic (ionic double layer). Bagian dalam dari lapisan ganda ion ini terdiri dari partikel koloid yang bermuatan negative (aniaon) sedang bagian luar merupakan kerumunan kation yang tertarik pada partikel-partikel koloid tersebut.

Mineral liat

Mineral liat adalah mineral yang berukuran < 2 µ. Mineral liat dalam tanah terbentuk karena :

1. Rekristalisasi (sintesis) dari senyawa-senyawa hasil pelapukan mineral primer atau

2. Alterasi (perubahan) langsung dari mineral primer yang telah ada (misalnya mika menjadi ilit). Mineral liat dalam tanah dapat dibedakan menjadi :

1. Mineral liat Al-silikat

2. Olsida-oksida Fe dan Al

3. MIneral-mineral primer

 

Koloid organik

Yang dapat dimasukkan koloid organic di dalam tanah adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organic dengan koloid anorganik (liat adlah bahwa koloid organic (humus) terutama disusun oleh C, H, dan O sedang liat terutama tersusun oleh Al, Si  dan O. Humus bersifat amorf, mempunyai kapasitas tukar kation yang lebih tinggi dari mineral liat (lebih tinggi dari montmorilonit), dan lebih mudah dihancurkan disbanding dengan liat.

Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Dalam keadaan masam H+dipegang kuat dalam gugusan karboksil dan fenol. Tetapi ikatan tersebut menjadi kurang kekuatannya bila pH menjadi lebih tinggi. Akibatnya disosiasi H+ meningkat dengan naiknya pH, sehingga muatan negative dalam koloid humus yang dihasilkan juga meningkat.

Kapasitas Tukar Kation

Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca²+, Mg²+, K+, Na+, NH­4+, H+, Al ³+, dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalm air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 gr) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah di jerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Hal tersebut dinamakan pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebut diatas merupakan kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah.

Kapasitas tukar kation dinyatakan dalam satuan kimia yaitu miliekivalen per 100 gr (me/100 gr). Satu ekkivaken adalh suatu jumlah yang secara kimia setara dengan 1 gr hydrogen. Jumlah atom dalam setiap ekivalen adalah 6,02 x 10²³ (bilangan Avogadro). Dengan demikian satu miliekivalen setara dengan 1 mg hydrogen yang terdiri dari 6,02 x 10²° atom hydrogen. Untuk menunjukkan jumlah muatan negative dalam tanah dengan menuliskan jumlah muatan yang sebenarnya ada (misalnya 6,02 x 10²°, 2 x 6,02 x 10²°dan seterusnya) adalah tidak praktis, sehingga lebih mudah digunakan satuan miliekivalen. Dari satu miliekivalen dapat diubah menjadi satuan berat, demikian pula dari satuan me/100 gr tanah dapat diubah menjadi PPM (Part Per Million).

Pertukaran Anion

Di dalam tanah, disamping pertukaran kation sering ditemukan pula pertukaran anion walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit. Kapasitas tukar anion (KTA) banyak ditemukan pada mineral liat amorf (alofan), dan liat Al dan Fe oksida. KTA ditemukan pula pada kaulinit dalam jumlah yang lebih sedikit. Adanya muatan positif pada mineral liat silikat disebabkan oleh adanya patahan-patahan kristal atau akibat penggantian gugusan OH – oleh anion-anion lain (Sanchez, 1976). Pada oksida-oksida Fe dan Al timbulnya muatn positif terutama akibat penggantian gugusan OH – oleh anion-anion lain. Karena koloid-koloid ini bermuatan positif maka terjadilah pertukaran anion. Secara umum, bila tanah mengandung muatan positif maka :

 

  1. Terjadi penjerapan anion seperti (NO­3–), chlor Cl– dan lain-lain.
  2. Kation-kation seperti Ca, Mg, dan K tidak dijerap tanah tetapi tetap dalam larutan tanah sehingga mudah tercuci.
  3. Fosfat dan Sulfat dapat difiksasi oleh tanah. Karena tanah mempunyai kemampuan memfiksasi P dengan sangat kuat maka P tersedia sangat rendah.

Kejenuhan Basa

Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut dapat dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation-kation asam.Termasuk kation-kation basa adalah Ca²+, Mg²+, K+, dan Na+, sedang yang termasuk kation-kation asam adalah H+, dan Al³+.

Kejenuhsn basa menunjukkan perbandingan antara kation-kation basa dengan jumlah senua kation(kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam konsep jerapan tanah.

Kation-kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman. Disamping itu basa-basa umumnya mudah tercuci, sehingga tanah dengan keajenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang subur

Unsur-unsur hara esensial
Unsur-unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat diperlukan bagi tanaman dan fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan dengan unsur lain, sehingga bila tidak terdapatdalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal. Unsur-unsur hara esenseial ini dapat berasal dari udara, air atau tanah. Jumlah unsur hara ada tujuh belas yaitu :

Unsur makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg,dan S

Unsur mikro : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co

Unsur hara makro adalah unsure hara yang diperlukan dalam jumlah banyak. Unsur hara mikro adlah unsur hara yang diperlukan dalm jumlah sedikit.

5 Morfologi dan Klasifikasi Tanah

Klasifikasi tanah dapat dibedakan menjadi klasifikasi alami dan klasifikasi taknis

Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi ini memberikan gambaran terhadap sifat fisik, kimia dan mineralogi tanah yang dimiliki masing-masing kelas yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasarbuntuk pengelolaan bagi berbagai penggunaan tanah.

Klasifikasi teknis adalah klasifiaksi atnah yang didasarkan atas sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah untuk penggunaan-penggunaan tertentu, misalnya klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman pekebunan

Sistem klasifikasi tanah (alami) yang ada di dunia ini berbagai macam , karena banyak Negara mengggunakan sistem klasifikasi yang dikembangkan sendiri oleh Negara tersebut. Di Indonesia saat ini dikenal tiga sistem klasifikasi tanah.

Dalam pengklasifikasian tanah dikenal berbagai tingkat(kategri) klasifikasi. Pada kategori tinggi tanah dibedakan secara garis besar, kemudian pada kategori berikutnya dibedakan lebih terperinci dan seterusnya sehingga pada kategori yang paling rendah tanah dibedakan sangat terperinci. Sifat-sifat tanah yang digunakan untuk membedakan tanah pada kategori tinggi juga merupakan pembeda pada kategori yang lebih rendah,sehingga jumlah factor pembeda semakin meningkat dengan semakin rendahnya kategori.

Taksonomi ]Tanah (USDA). Sistem ini dikembangkan oleh amerika pada tahun 1975 dengan menggunakan enam kategori yaitu, order, suborder, greatgoup, subgroup, famili, dan seri. Sistem iini tergolong baru baik mengenai cara-cara penamaan (tatanama) maupun definisi-definisi mengenai horison-horison penciri atau sifat-sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis-jenis tanah.

Horison penciri, untuk keperluan klasifikasi tanah selain penggolongan horizon tanah ke dalam horizon A, B, C dan sebagainya perlu diidentifikasi horizon penciri baik baik epipedon, horizon bawah(subsurface), ataupun sifat-sifat penciri lain.

Epipedon adalah horizon permukaan tetapi tidak sama dengan horizon A. Mungkin lebih tipis dari horizon A tetapi mungkin pula meliputi horizon B.

Epipedon histik                       — Horison permukaan yang mengandung bahan organic tinggi ( lebih dari                   20%)

Epipedon mollik                      — Mengandung bahan organic lebih 1% , warna lembab dengan value kurang dari 3,5 tebal 18 cm atau lebih, kejenuhan basah lebih dari 50%

Epipedon umbrik        –seperi mollik tapi kejenuhan basah kurang dari 50%

Epipedon anthropik    –seperi mollik, tetapi mengandung lebih dari 250 ppm P2O5 larut dalam asm sitrat

Epipedon ochrik                      –horison berwarna terang(value lembab lebih dari 3,5), bahan organic kurang dari 1% atau keras –sangat keras dan massif.

Epipedon plaggen       –tebal lebih dari 50 cm, hitam, terbentuk karena pemupukan organic ( pupuk kandang) yang terus menerus.

Horizon lain yang ditemukan di permukaan sebagai penciri adalah :

 

Horizon arenik                        –horison banyak mengandung pasir tebal lebih dari 50 cm terletak di atas horizon argilik.

Horizon glossarenik    –seperti arenik tapi tebalnya lebih dari 100 cm.

Horizon Bawah Penciri:

Horizon agrik              –horison di bawah lapisan akumulsi debumdan humus.

Horizon albik              –horison berwarna pucat (horizon A2),warna dengan value lembab lebih

Dari 5

Horizon argilik                        –horison penimbunan liat, adalah horizon B yang paling sedikit mengandung 1.2 kali lipat lebih banyak daripada liat diatasnya. Terdapat selaput liat.

Horison kalsik             –tebal 15 cm atau lebih, mengandung karbonat(CaCO3 atau MgCO3) sekunder tinggi.

Horisom Kambik                     –indikasi lemah adanya agrilik atau spodik, tetapi tidak memnuhi syarat untuk kedua horizon tersebut.

Horizon gipsik             –hroizon banyak mengandung gypsum(CaSO4)sekunder.

Horizon natrik             –horizon agrilikyang banyak mengandung Na.

Horizon oksik              –tebal 30 cm atau lebih, KTK(NH4OAC) < 16 me/100 g liat, dan KTK (NH4CL tanpa Buffer) < 10 me/100g liat.

Horison petrokalsik     –horizon kalsik yang mengeras

Hotison petrogipsik     –horison gipsik yang mengeras

Horizon salik               –tebal 15cm atau lebih,banyak mengandung garam-garam, sekunder mudah larut

Horizon sombrik                     –horison berwarna gelap, sifat-sifat seperti epipedon umbrik ,terjadi iluviasi humus tanpa Al dan tidak terletak di bawah horizon albik.

Horison spodik                        –horison iluviasi seskuioksida bebas dan bahan organic.

Horizon sulfuric                      –horizon banyak mengandung sulfat masam (cat clay), pH < 3,5 , terdapat karatan terdiri dari jarosit.

Horizon Penciri Untuk Tanah Organik :

Bahan fibrik                –kandungan hutan organic kasar ( fibrik ) lebih 2/3.

Bahan saprik               –Bahan hemik kandungan bahan organic dengan tingkat kasar 1/3 – 2/3.

Bahan humilluvik        –iluviasi humus setelah lama untuk bercocok tanam (pada tanah organic).

Bahan limnik               –endapan organic atau anorganik dari makhluk hidup air .

Penciri khusus:

Konkresi                      –senyawa tertenru yang mengeras, berlapis konsentris (memusat).Bahan yang disementasikan misalnya misalnya  : kapur,berisi mangan dan silikat.

Oterde                         –penimbunan besi dan bahan organic tanpa sementasi.

Fragipan                      –lapisan tanah yang teguh ,mudah pecah, kepdatan tinggi.Tampak memadas bila kering,tetapi mudah pecah bila lembab.

Duripan                       –lapisan tanah yang teguh,tak tembus aie dan akar.

Padas Liat(CLAYPAN)         –lapisan atau horizon padat kaya akan liat,batas dengan horizon diatasnya jelas.

Krotovinas                  –Coraqk yang membentuk pipa teratur dalam suatu horizon, terbenruk dari bahan berasal horizon yang lain.

Plintit(plinthire)                       –bahan liat lapuk ,kaya seskuisida,niskin humus,biasanya sebagai karatan-karatan merah di atas dasar kelabu atau dasar merah karatan kelabu atau putih,terbentuk “polygonal” atau beralih” irreversible”ke konkresi dalam keadaan basah atau keringberulang-ulang; batas-batas keatas dank e bawah baur atau berangsur-angsur.

Slickenside                  –permukaan-permukaan licin dan mengkilap disebabkan oleh massa tanah satu dan lainnya saling menggesek/menggeser.

Selaput liat (clasy skin)           –selaput liat alumunium silikat , biasanya terdapat di bidang-bidang belahan struktur atau dalam pori-pori dan terletak sejajajr dengan bidang-bidang belahan struktur.Selaput liat ini mengandung atau tidak mengandung organic dalam jumlah nyata mengeras bila kering.Bagian lapisan yang mengeras berwarna metah,biasanya mengandung karatan kuning,abu-abu atau putih.

Konthak lithik             –batas tanah dengan dibawahnya yang keras dan padu.

Regin temperature(untuk kedalaman tanah ±50 cm)

Pergilic                        –suhu tanah rata-rata tahunan kurang dari 0°C(Permaforst)

Crycic                          –suhu tanah tahuana antara 0° C – 8° C,suhu musim panas rata-rata kurang dari 15°C.

Firgid                          –suhu tanah rata-rata tahunan 0°C-8°C,pada mjusim panas suhu rata- rata lebih panas dari cycric (lebih dari 15°C)

Mesic                           –suhu tanah rata-rata tahunan 8°C-15°C.

Thermic                       — suhu tanah rata-rata tahunan 15°C-22°C.

Hyperthermic              — suhu tanah rata-rata tahunan lebih dari 22°C

Iso mesic                     –Perbedaan suhu tanah rata-rata musim panas dan musim dingin kurang dari 5°C suhu tanah rata-rata tahunan = figrid ,mesic, thermic, hyperthermic.

Tropic                          –mempunyai sifat iso dan suhu tanah rata-rata tahunan lebih dari 8°C(isomesic atau lebih panas)

Regin kelembababan (untuk kedalaman antara 10-90 cm)

Aquic                          –Tanah sering jenuh air,sehingga terjadi reduksi.Ditunjukan oleh adanya karatan denag khroma rendah.

Aridic atau torric         –Kering lebih dari 6 bulan (bila tanah tidak pernah beku).Tidak lembab leboh dari 90 hari atau lebih setiap tahun.

Perudic                        –curah hujan setiap bulan selalu melebihi evapotranspirasi.

Udic                            –tanah tidak kering 90 hari(kumulatif )setiap tahun.

Ustic                            –tanah setiap tahun kering lebih dari 90hari(kumulatif)tetapi kurang dari 180hari.

Xeric                           –hanya terdapat di daerah beriklim Meditran (non iso),Setiap tahun lebih dari 45 hari berturut-turut di musim panas ,lembab lebih dari 45 hari berturut-turut di musim dingin.

Tata Nama

Salah satu hal yang baru dalam system Taksonomi Tanah adalah penggunaan tata nama.Dalam system ini nama-nama tanah selalu memiliki arti ,yang umumnya yang menunjukan dari sifat utama dari tanah tersebut.Dalam kategori order nama tanah selalu deberi kata sol(solum = tanah),sedang suku nkata sebelumnya menunjukan, sifat utam dari tanah tersebut . Untuk kategori yang lebih rendah dari order akhiran sol tidak digunakan lagi.Sebagai gantinya maka untuk menunjukan hubungan sifat-sifat tanah dari kategori yinggi ke kategori rendah digunakanlah akhiran yang merupakan singkatan dari nama masing-masing order tersebut seperti terlihat pada table di bawah ini

Nama Order Aliaran unutk kategori lain Arti asal kata
ALFISOL ALF Dari Al-Fe
ARIDISOL ID Aridus sangat kering
ENTISOL ENT Dari recent
HISTOSOL IST Histos, jaringan
INCEPTISOL EPT Inceptum,permulaan
MOLLISOL OLL Mollis, lunak
OXISOL OX Oxide, oksida
SPODOSOL OD Spodos,abu
ULTISOL ULT Ultimus,akhir
VERTISOL ERT Verto,berubah

 

Pada tingkat famili,tanah diberi nama secara deskriptif yang umunya menerangkan susunan besar butir,susunan mineral liat,regim suhu tanah,atau sifat-sifat lain yang spesifik dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman .

Pada tingkat seri,tanah deberi nama menurut nama tempat dimana tanah tersebut pertama ditemukan.

Dibawah ini adalah sebuah contoh :

Order               : Ultisol (ultus = akhir, perkembangan tanah pada tingkat akhir)

Suborder         : Udult (udus = daerah tropic ,terus menerus panas dengan sifat iso)

Greatgroup      :Tropudult (trpikos = daerah tropic , terus, menerus panas dengan

sifat iso)

Subgroup         :  Aquic Trorpodult (Aqua = air,kadang-kadang berair.)

Famili              : Aquic Trorpodult , Berliat halus ,kaolinitik, isohipertermik

(kaolinitik = mineral liat yang dominan ; adalah kaolinitik

ishohipertermik = suhu tanah lebih dari 22°C, perbedaan

suhu musim panas dan musim dingin kurang dari 5°C)

Seri                  :Granada (pertama kali ditemukan di daerah granda).

Sifat-sifat tanah dalam tingkat order,Taksonomi Tanah

Berdsarkan atas horizon-horizon penciri dan sifat-sifat penciri lain maka tanah di dunia ini dapat dikelompokkkan ke dalam sepuluh order seperti tertera pada table 22.

Alfisol             — Tanah-tanah terdapat dimana penimbunan liat di horizon bawah (=horizon

agrilik) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35 % pada kelembaban 180cm dari permukaan tanah.Liat tertimbun di horizon bawah ini berasal ini berasal dari horizon di atasnya dan tercuci ke bawah tanah ini dulu termasuk dengan gerakan air. Tanah ini dulu termasuk tanah mediteran ,Merah kuning.

Aridisol                       –Tanah-tanah yang mempunyai keklebahan tanah arid (sangat kering).

Mempunyaiepipedon orchik, kadang-kdang dengan dengan gorison penciri lain.

Dulu disebut Desert soil .

Entisol             –Tanah yang masih sangat masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan

dalam perkembangan .Tidak ada horizon penciri lain kecuali epipedon orchik  ,

albik atau histik (ENT-Recent=Baru).Tanah ini disebut tanah alluvial atau

Regosol.

Hitosol                        –Tanah dengan kandungan bahan organic lebih dari 20% (tekstur pasir),atau

lebih 30% (tekstur liat).Lapisan yang mengandung bahan organic tinggi (tekstur

liat).Lapisan yang menagandung bahan organic tinggi tersebut tebalnya lebih dari

40 cm.(histos = jaringan).Tanah Gambut, Tanah orginik atau organosol.

Inceptisol        –Merupakan tanah muda ,tetapi lebih berkembang daipada Entisol (inceptum

permulaan ).Umumnya mempunyai horizon kamblik .karena tanah belum berkembang lanjut kebanyakan tanah ini cukup subur .Tanah ini dulu termasuk tanah Aluvial ,Andosol, Regosol, Gleihumus dan lain-lain.

Mollisol                       –Tanah dengan table epipedon lebih dari 18cm yang berwarna hitam (gelap),

kandungan bahan organic lebih dari 1% kejenuhan basa lebih dari 50%.

Agregasi tanah baik sehingga tanah tidak keras bila kering (Mollis = Lunak ).

Tanah ini  dulu disebut chernozen ,bRunizem, Rendzina dll.

 

Tabel 22.Order Tanah dan Penciri utama menurut system Taksonomi Tanah.

Order Penciri Utama
Horison Penciri Sifat-Sifat Pnciri lain
Alfisol Horizon Argilik KejenuhaN basa tinggi

( lebih dari 35%)

Aridisol Regim kelembaban tanah ordik (sanagat kering)
Entisol Hanya ada epipedon orchik, albik ,atau histik
Histosol Epipedon histik tebalnya lebih dari 40cm.
Inceptisol Horizon Kambik
Mollisol Epipedon Mollik Kejenuhan basa
Oxisol Horizon Oksik Seluruh solum lebih dari 50%
Spodosol Horizon spodik
Ultisol Horizon Agrilik Kejenuhan basa rendah (kurang dari 35%)
Vertisol Sifat vertik*),lebih dari 30% liat

*)         musim kering mengerut,tanah pecah-pecah ,musim hujan mengembang tanah sangat lekat.

Oxisol          -Tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak  aktif sehingga kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 16 me/100 g liat). Banyak mengandung oksida-oksida besi atau Al. Dilapang tanah nini menunjukkan batas-batas horizon yang tidak  jelas tanah ini dulu disebut tanah Latosol (umumnya Latosol merah atau merah kekuningan), laterik pada atau juga podzolik merah kuning

Spodosol         -Tanah dimana dihorison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horizon spodik) sedang dilapisan atas terdapat horizon elevasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Tanah ini dulu disebut podzol

Ultisol             -Tanah–tanah  dimana terjadi penimbunan liat dihorison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Tanah ini dulu disebut tanah podzolik merah kuning yang banyakterdapat di Indonesia. Kadang-kadang banyak juga tanah tnah latosol dan Hidromorf kelabu

Vertisol           -Tanah dengankandunga liat tinggi (lebih tinggi dri 30%) diseluruh horizon, mempunyai sifat mengembang mengerut sehingga tanah pecah-pecah dank eras, kalau basah mengembang dan lengket. Tanah ini dulu disebut tanah Gromusol atau Margalith

 

6 Manfaat Unsur Makro Serta Gejala Gejala Defisiasi Unsur-Unsur Makro Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Nitrogen (N)

Nitrogen berasal dari:

1.Bahan orgonik tanah

Bahan organik harus halus N tirendahnggi, C/N rendah

Bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi

Bahan organik merupakan  sumber N yang utama didalam tanah. Selain N,  iorganik mengandung pula nusur-unsur lain sebagai berikut : C, N , P , S (unsur  : mikro) =100 :10 :1 :1 sangat sedikit

Faktor yang mepengaruhi penghancuran (dekomposisi) bahan organik adalah :

  • Suhu       : Suhu tinggi, dekomposisi
  • Kelembaban       : Basah tanah yang selalu dalam posisi bahan organik, lambat, lembab cepat
  • Tata udara tanah            :Tata udara baik, dekomposisi
  • Pengolahan tanah           :tanah yang diolah, tata udara menjadi baik, penghancuran bahan organik cepat
  • pH          tanah dengan pH masam, penghancuran bahan organik lambat
  • Jenis bahan organik        : pinus sulit dihancurkan, tanaman –tanaman budidaya umumnya cepat dihancurkan

2. Pengikat oleh mikroorganisme dari N udara:

a. Simbosis dengan tanaman legumunase, yaitu oleh bakteri bintil akar atau rhizobium

b. bakteri yang hidup bebas (noon simbiotik

- Azetobakter

- Clostridium

3.Pupuk

Misalnya ZA,

Air hujan

Fungsi N

  • Memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman. Tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih hijau
  • Pembentuka protein

Gejala- gejala kekurangan N

  • Tanaman kerdil
  • Pertubuhan lambat
  • Daun-daun kuning gugur

Gejela-gejala kebanyakan N

  • Memperlambat kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan tanaman)
  • Batang-batang lemah mudah roboh
  • Senyawa-senyawa amino
  • Mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit

Nitrogen didalam tanah terdapat dalam bentuk, yaitu:

  • Protein (bahan organik)
  • Senyawa –senyawa amino
  • Amonium (NH)
  • Nitrat (NO)

Perubahan –perubahan bentuk bentuk nitrogen dalam tanah dari bahan organik melalui berbagai macam proses yaitu:

Aminisasi : pembentukan senyawa amino dari bahan organik (protein) oleh bermacam-macam (heterogonus) mikroorganisme

Protein  +  enzim              s enyawa amino + CO2 + Energi

(Bahan     (mikro-           (R-NH2)              (untuk pertumbuhan

Organik)    organisme)                                  mikroorganisme)

Amonifikasi : pembentukan amonium dari senyawa-senyawa amino oleh mikroorganisme R-NH2 + HOH             R-OH + NH3 + Energi

NH3 + HOH           NH4OH            NH4 + OH

Nitrifikasi : perubahan dari amonium ( NH4 ) menjadi nitrit oleh bakteri nitrosomonas kemudian menjadi nitrat ( oleh mikrobakter )

2NH4 + 3O                         2NO2 + 2H2O + 4H + Energi

(nitrosomonas)

2NO2 + O2                   2NO3 + Energi

(nitrobakter)

 

Factor-faktor yang mempengaruhi Nitrifikasi :

  • -Tata udara—Nitrifikasi berjalan baik kalau tata udara baik
  • Ph tanah – baik pada Ph sekitar 7
  • Suhu—terlalu dingi lambat

Nitrogen diambil tanaman dalam bentuk

-NH4

-NO3

Hilangnya N dari tanah

1. digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme

2. N dalam bentuk NH4 dapat diikat oleh mineral liat jenis ilit sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman

3. N dalam bentuk NO3 (nitrat) mudah dicuci oleh air hujan (leacing) :

- banyak hujan N rendah

- tanah pasir mudah merembeskan air, N lebih rendah dari pada tanah liat

4. Proses denitrifikasi :

Yaitu proses reduksi nitrat (NO3) menjadi N2 gas

  1. oleh mikroorganisme

bakteri denitrifikasi

2HNO3                                    2HNO2                N2O              N2 gas

-2(0)                                  -H2O                    -(0)

b. Proses reduksi nimia ( terjadi setelah terbentuk nitrit misalnya produksi nitrit dengan urea )

2HNO2 + CO(NH2)2        CO2 + 3H2O + 2N2 gas nitrit urea

Sarat terjadinya denitrifikasi :

-          ditempat yang tergenang, drainase buruk, tata udara jelek

Fosfor (P)

Unsur P di dalam tanah berasal dari :

-          Bahan organik (pupuk kandang, sisa-sisa tanaman)

-          Pupuk buatan ( TSP, DS)

-          Mineral-mineral dalam tanah (apatit)

Jenis P dalam tanah

  1. P-Organik ( phytin, nucleid acid, phospolitit)
  2. P-anorganik

Fungsi P

-          pembelahan sel

-          pembentukan albumin

-          pembentukan bungaa, buah dan biji

-          mempercepat pematanagan

-          memperkuat batang agar tidak mudah roboh

-          perkembangan akar

-          memperbaiki kualitas tanaman terutama sayur-sayuran dan makanan ternak

-          tahan terhadap penyakit

-          membentuk nutcleoprotein (sebagai penyusun gen)

-          metabolisme karbohidrat

-          menyimpan dan memindahkan energi

sebab-sebab kekurangan P dalam tanah

-          jumlah P didalam tanah sedikit

-          sebagian besar terdapat dalam bentuk yang tidak dapat diambil oleh tanaman

-          terjadi pengikatan (fiksasi) oleh Al pada tanah masam dan oleh Ca pada tanah alkalis

-          Gejala kekuranagn P

-          pertumbuhan terhambat (kerdil), karena pembelahan sel terganggu

-          daun-daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun

-          terlihat jelas pada tanaman yang masih muda

-          pada jagung, tongkol jagung menjadi tidak sempurna, kecil-kecil

 

Kalium (K)

Unsur K dalam tanah berasal dari :

  1. mineral-0mineral primer tanah (feldspar, mika dll.)
  2. pupuk buatan (Zk)

Fungsi K

-          (K) tidak merupakan unsur penyusun jaringan tanaman

-          Pembentukan pati

-          Mengaktifkan enzim

-          Pembukaan stomata (mengatur pernafasan dan penguapan)

-          Proses fisiologis pada tanaman

-          Proses metabolik dalam sel

-          Mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain

-          Mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan, penyakit

-          Perkembanagn akar

K di temukan dalam jumlah yang banyak diddalam tanah tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan (dalam koloid tanah).

 

K didalam tanah dapat dibedakan menjadi :

1. tidak tersedi bagi tanaman

- terdapat dalam mineral-mineral primer tanah seperti feldspar (ortoklas, leusit), mika dan lain-lain

- jumlahnya 90—98%total K di dalam tanah

2. tersedia

- terdiri dari K yang dapat dipertukarkan (dijerap oleh koloid liat atau humus) dan K dalam larutan ( bentuk ion K+)

- jumlah 1—2% total dalam tanah

3. tersedia tapi lambat

- yang yang btidak dapat dipertukarkan, diikat (difiksasi) ooleh mineral liat (+ monmorilonit)

- tidak terccuci oleh air hujan, dapat berubah menjadi bentuk yang tersedia

- jumlah tergantung banyaknya mineral ilit yang ada dalam tanah.

Pengambilan K oleh Tanaman

Tanaman cenderung mengambil K dalam jumlah yang jauh lebih banyk dari yang dibutuhkan tetaoi ntidak menambah produksi

Hilangnya K dari tanah

-diserap tanaman terutama tanaman leguminosa, tomat, kentang

- pencucian oleh air hujan ( oleh leacing)

Gejala kekurangan K

-          Unsur K mudah bergerak (mobile) didalam tanam sehingga gejala-gejala kekurangan K pada daun terutama terlihat pada daun tua, karena daun-daun muda yang masih tumbuh  dengan aktif menyedot K dari daun-daun tua tersebut

-          Ruas pada jagung memendek dan tanaman tidak tinggi

-          Pinggir-pinggir daun berwarna coklat mulai dari daun tua

 

Kalsium (Ca)

Asal  Ca dalam tanah

-          mineral-mineral primer (misalny mineral plagioklas)

-          karbonar : CaaCo3 (kalsit)

CaMg(CO3)2 (dolomit)

-          Garam-garam sederhana : CaSO4 (gypsum)

Ca fosfat

Ca diambil tanaman dalam bentuk Ca++

Fungsi Ca dalam tanaman

-          Untuk penyusunan dinding-dinding sel tanaman

-          Pembelahan sel

-          Untuk tumbuh (elongation)

Gejala kekurangan Ca

-          Tunas dan akar tidak dapat tumbuh (tidak dapat berkembang) karena pembalahan sel terhambat.

-          Pada jagung, ujung-ujung daun menjadi coklat dan melipat serta terkulai ke bawah saling melekat dengan daun du bawahnya.

Magnesium (Mg)

Diserap sebagai Mg++

Asal Mg dalam tanah

Mineral kelam – boitit, augit, hotrenblande, amfibol

Garam               – MgSO4

Kapur                – CaMg (CO3)2, dolomit

Fungsi

-          pembentukan khlorofil

-          sistem enzim (aktivator)

-          Pembentukan minyak

Gejala kekuranagn Mg

-          Mg mobil di dalam tanaman, difisiensi pada daun-daun tua

-          Daun menguning karena pembentukan klorofil terganggu

-          Pada jagung terliaht garis-garis kuning pada daun

-          Pada daun muda keluar lendir terutama bila sudah lanjut.

Belerang (S)

Diserap tanaman

-          dalam bentuk SO4

-          dalam bentuk gas SO2 dari udara melalui daun.

Bentuk dalam tanaman

-          Protein

-          Sulfat (SO4) 65 % dari total S

-          Bentuk (CH2=CHCH2)2S pada bawang merah, bawang putih

Fungsi : terutama untuk pembentuk protein

Fungsi Tanah
1.Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
2.Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)
3.Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
4.Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:
1.Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan
2.Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.

Kelebihan Tanah dibanding Media Tanam Lain

  • Lebih kuat dlm menyangga tanaman
  • Dapat menyediakan unsur hara
  • Dapat mengatur ketersediaan air
  • Filter dari kontaminan
  • Tempat hidup biota yang menghasilkan unsur yang berguna bagi tanaman

Kelemahan Tanah dibanding Media Tanam Lain

  • Tanah dijaman sekarang ini sulit didapat apalagi dikota-kota besar
  • Pengolahannnya memakan biaya yang besar
  • Penggunaan pupuk kurang efisien dibanding dengan media lain
  • Tempat hidup biota yang bisa merugikan tanaman

Upaya Konservasi Tanah

  1. Memberi pupuk / pemupukan sesuai dengan jenis tanah baik pupuk kandang maupun pupuk buatan.
  2. Membuat saluran irigasi untuk pengairan sawah yang jauh dari mata air.
  3. Membuat sengkedan untuk mencegah erosi tanah.
  4. Menjaga tanah dari penggunaan zat / bahan-bahan kimua yang merugikan.
  5. Menanami lahan yang gundul untuk membantu terjadinya erosi.
  6. Melakukan rotasi tanaman alias gonta-ganti jenis tanaman yang ditanam pada suatu bidang tanah.
  7. Melaksanakan penghijauan dengan cara memberi humus pada tanah.
  8. Memelihara cacing tanah dalam tanah untuk membantu menggemburkan tanah.
  9. Tidak membuang sampah sembarangan di tanah

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brady,Nyle C.1960.The Nature and Properties Of Soils 6th. The Macmilllan Company.USA

Foth,Henry D.1990.Fundamental Of Soil Science.8E.John Wiley & Sons.USA

Foth,Henry D.1984.Fundamental Of Soil Science 7th.John Wiley & Sons.USA

Handayanto dan Khairiah.2007.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.Pustaka. Adipura

Yogyakarta

Hardjowigeno,Sarwono.1987.Ilmu Tanah.Mediyatama Sarana Perkasa.Jakarta

Hardjowigeno,Sarwono.2003.Iklasifikasi Tanah dan pedogenesis..Akademika pressindo.Jakarta

Kemas,2004.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Rajawali Press.Jakarta

Singer,Michel J.1996.Soils an Introduction 3rd.University Of California.USA

 

By : Candra Quida N

Ultisols

  • Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu. Seperti dibawah ini :

Fisik:                                                                           Kimia:

  1. Kedalaman solum sedang ( 1-2 meter )          1. Ph < 5,5
  2. Warna merah atau kuning                               2.   BO rendah – sedang.
  3. Tekstur halus pada horizon Bt.                       3.   KB < 35 %
  4. Konsistensi teguh.                                           4.   KTK < 24 me /100 gr liat.
  5. Permeabilitas lambat sampai baik.                  5.   Nutrisi rendah.
  • Faktor  Kendala
  1. Mengalami proses pecucian sangat efektif.
  2. Kadar mineral lapuknya sangat rendah.
  3. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi .
  4. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah .
  5. Kandungan fosfor dan kalium tanah rendah.
  6. Daya simpan air terbatas.
  7. Kedalaman efektif terbatas.
  • Cara Pengendalian
  1. Untuk meningkatkan produktivitas tanah dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan , penambahan BO, dan penanaman tanaman adaptif.
  2. Penerapan teknik budidaya tanaman lorong ( tumpang sari ), terasiring, drainase dan pengolahan tanah yang seminim mungkin.
  3. Memperbanyak tanaman penutup tanah seperti rumput atau alang-alang.
  4. Melakukan rotasi tanaman untuk menjaga ketersediaan unsur hara.
  5. Tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.
  • Lokasi/ Ha

Ultisol di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia (Subagyo et al. 2004).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Harus adanya penutup lahan agar tanah tidak terkena sinar matahari langsung seperti Pemberian mulsa, berupa sisa-sisa tanaman, untuk mempertahankan kelembaban tanah, mengurangi alian permukaan/erosi, dan menambah bahan organik.
  2. Tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.
  3. Penanaman pohon-pohon produktif, yang menghasilkan buah, getah dan produk lainnya, yang dapat melindungi permukaan tanah dari terpaan air hujan dan aliran permukaan.
  4. Untuk tanaman pangan dilakukan pergiliran tanaman.

Entisols

  • Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Entisol terjadi di daerah dengan bahan induk dari pengendapan material baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat dibandingkan dengan laju pembentukan tanah. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

  • Faktor  Kendala

1.   Iklim yang sangat ekstrim basah atau kering, sehingga perombakan bahan induk terhambat.

2.   Bahan induk yang sangat resisten terhadap pelapukan, misalnya kuarsa.

3. Adanya faktor erosi yang selalu menggerus epipedon, sehingga tidak pernah terbentuk horison iluviasi.

  • Cara Pengendalian
  1. Memperbanyak tanaman penutup tanah seperti rumput atau alang-alang.
  2. Pembuatan terasering pada lereng-lereng agar tidak mudah tererosi.
  3. Pemberian mulsa (plastic atau organic)  dan bedengan untuk mengurangi penguapan dan memperbaiki drainase.
  4. Membiarkan apa adanya tanaman yang sudah alami disitu atau melakukan penanaman pohon-pohon untuk jadi hutan lindung, karena kurang baik untuk budidaya.
  5. Melakukan rotasi tanaman untuk menjaga ketersediaan unsur hara.
  6. Pada daerah berlereng memanfaatkan dengan system agroforestri.
  • Lokasi/ Ha

1.   Entisol merupakan tanah yang tersebar luas di permukaan bumi mulai dari kutub sampai dengan daerah ekuator.

2.   Luas areal entisol sekitar 10,6 % dari luas kepulauan Indonesia.

3.   Jenis tanah ini bnyak ditemukan di Irian Jaya (5.6 juta ha)Kalimantan  Tengah(1.54 juta ha),Sumatera Selatan(1.27 juta ha) dan NTT (0.91 juta ha).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

1.   Untuk entisol yang disawahkan memerlukan upaya pemantauan dari satu periode ke periode lainnya, dikhawatirkan timbulnya degradasi akibat budidaya

2.   Pertanian yang dikembangkan di tanah ini sebaiknya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija

3.   Entisol yang tergolong suborder Psamment di mana tekstur pasir sangat mendominasi, maka pemanfaatannya diarahkan kepada kawasan lindung mutlak.

4.   Pertanian yang dikembangkan di tanah ini sebaiknya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija

Histosols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

1.   Tidak mempunyai horizon.

2.   Berwarna kroma mantap atau meningkat dengan bertambahnya kedalaman dan mempunyai warna kurang dari 3.

3.   ketebalan BO mencapai puluhan meter bisa sampai ratusan meter.

4.   Mempunyai epipedon histik.

5.   Tekstur beragam.

6.   Tidak berstruktur atau berblok pada lapisan atas.

7.   Bahan organik fibrik, hemik atau saprik.

8.   Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.

  • Faktor  Kendala
  1. pH rendah.
  2. Jenuh air.
  3. Drainase jelek.
  4. Air tanah dangkal.
  5. Daya penyangga mekanis jelek.
  6. Miskin unsur hara.
  7. Mudah terbakar.
  • Cara Pengendalian
  1. Pengapuran.
  2. Pemupukan unsure makro dan mikro.
  3. Pembuatan saluran drainase.
  4. Dijadikan kawasan konservasi.
  5. Tidak menebang dan membabat vegetasi didaerah tersebut.
  • Lokasi/ Ha

Histosols tersebar hampir diseluruh dunia meskipun hanya meliputi 2% dari luas dunia.Sebagaian besar tersebar di Asia Selatan pada daerah tropika basah dan konsentrasi di sekitar flat sunda(Malaysia dan Kalimantan)lebih dari 20 juta ha .17 juta ha berada di Indonesia meliputi sumatera 9,7 juta ha dan Kalimantan 6,3 juta ha.

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

Potensi pengembangan lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut :

  1. Padi sawah.
  2. Tanaman semusim dan tanaman tahunan dapat dibudidayakan pada lahan gambut tetapi yang paling berhasil atau menunjukkan harapan adalah tanaman sayuran seperti : buncis, kacang panjang, bayam. Tanaman buah-buahan (seperti nanas, pepaya dan rambutan). Dan tanaman perkebunan (terutama kelapa, kelapa sawit, kopi dan karet)

Inceptisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah dengan horison bawah penciri kambik, telah terdapat proses pembentukan tanah alterasi.
  2. Kenaikan liat pada horison B dan perubahan warna (hue dan croma bertambah tinggi)
  3. Tekstur beragam dari kasar hingga halus (tergantung pada tingkat pelapukan bahan induknya)
  4. Cukup subur.
  5. Kedalaman efektif beragam dari dangkal hingga dalam.
  6. Merupakan tanah yang belum matang (immature) yang perkembangan profilnya lebih lemah dibanding dengan tanah matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya.

  • Faktor  Kendala
  1. Pelapukan belum intensif.
  2. Kisaran kadar KTK dan C-organik rendah.
  3. Kekurangan suplai unsur hara karena pelapukan batuan induk belum intensif.
  4. Terdapat horison sulfurik yang sangat masam pH sangat rendah (< 4) sehingga sulit untuk dibudiyakan.
  5. Beberapa kedalaman efektif dangkal dan terdapat kontak litic.
  6. Membentuk lapisan oksida (keras) yang sulit untuk ditembus oleh air.
  • Cara Pengendalian
  1. Memerlukan masukan yang tinggi baik masukan anorganik (pemupukan berimbang N, P dan K) maupun masukan organik (pengembalian sisa panen ke dalam tanah, pemberian pupuk kandang atau pupuk hijau).
  2. Memiliki tingkat kelerengan tinggi maka harus dengan pola tanaman tahunan atau agroforestry.
  • Lokasi/ Ha

Inceptisols ditemukan hampir diseluruh daratan Indonesia yaitu Irian Jaya(15.49 juta ha),Kalimantan Timur(6.12 juta ha),Kalimantan Tengah(4.21 juta ha), dan Maluku(4.0 juta ha).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

Pada umumnya inceptisols di Indonesia digunakan untuk pertanaman padi sawah dan sebaiknya untuk tanaman budidaya yang semusim apabila didaerah yang kemiringannya datar. untuk bercocok tanam hortikultura tanaman pangan, sampai dikembangkan sebagai lahan-lahan perkebunan besar seperti sawit, kakao, kopi, dan lain sebagainya, bahkan pada daerah-daerah yang eksotis, dikembangkan pula untuk agrowisata.

Alfisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah ini dicirikan adanya selaput liat.
  2. Tanah dengan horison argilik, kandik, atau natrik.
  3. KB >35%.
  4. Kesuburan alami tinggi.
  5. Bentuk wilayah beragam  dari bergelombang hingga tertoreh tekstur berkisar antara sedang hingga halus,Drainasenya baik . bahan organic pada umunya sedang hingga rendah.Jeluk tanah dangkal hingga dalam. Mempunyai sifat kimia dan fisika relati baik.
  • Faktor  Kendala
  1. Pada beberapa tempat di jumpai kondisi lahan berlereng dan berbatu.
  2. Horison B argilik dapat mencegah distribusi akar yang baik pada horison B bertekstur berat.
  3. Rendahnya kandungan bahan organik, fosfor dan kalium.
  • Cara Pengendalian

Pengelolaan tanah sebaiknya dilakukan dengan alternatif sebagai berikut :

  1. Pembuatan terassering pada lahan yang berlereng.
  2. Adanya tanaman lorong.
  3. Penambahan unsur hara secara organik.
  4. Adanya irigasi yang baik.
  5. Pembuatan guludan searah dengan kountur.

  • Lokasi/ Ha

Penyebaran alfisol di Indonesia terdapat dipulau Jawa,Sumatera,Irian Jaya,Bali,Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan luas areal 12.749.000 hektar. di Sulawesi lusa areal tanah Alfisol ini 2.930.000 hektar dan juga ditemukan di Irian Jaya 106.000 hektar.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

Penggunaan Alfisol di Indonesia diusahakan menjadi pesawahan (padi) baik tadah hujan atau pun berpengairan,perkebunan(buah-buahan ),tegalan, hutan produsi(sengon) dan pedang rumput.

Vertisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.
  2. Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi.
  3. Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi.
  • Faktor  Kendala
  1. Vertisol pada umumnya memiliki tekstur liat, kandungan liat berkisar antara 35% hingga 90% dari total tanah. Kandunga liat di seluruh lapiran tanah bukan merupakan pross translokai melainkan berasal dari bahan induk.
  2. Terjadi rekahan saat musim kemarau.
  3. Kejenuhan basa  tinggi, KTK yang tinggi, tekstur yang relative halus, permeabilitas yang rendah dan pH yang relative tinggi dan status hara yang tidak seimbang.
  4. Pada umumnya  Vertisol juga defisiensi P. Setelah N, unsure P merupakan pembatas hara terbesar pada Vertisol. Kekurangan unsure P jika kandungan P kurang dari 5 ppm.
  • Cara Pengendalian
  1. Adanya pemanfaatan irigasi yang baik.
  2. Pemupukan secukupnya hanya untuk unsur hara yang kurang kebanyakan unsur P sebagai pembatas.
  3. Melakukan pengolahan tanah agar membuat tanah tetap jenuh.
  4. Dalam mengatasi kembang mengkerutnya tanah vertisol yaitu dengan memperbanyak bahan organik seperi kompos dan pupuk kandang.

  • Lokasi/ Ha

Tanah-tanah ini banyak ditemukan kebanyakan di NTT(0.198 juta ha),Jawa Timur(0.96 juta ha),NTB(0.125 juta ha),Sulawesi Selatan(0.22 juta ha),dan Jawa Tengah(0.4 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Kapas,seringkali air melalui irigasi dan dapat tumbuh pada kisaran yang luas.
  2. Sorgum,pensetum dan sesame, dapat tumbuh pada curah hujan 200mm/tahun atau lebih besar.
  3. Padi dengan sistem irigasi yang sudah baik.
  4. Tanaman-tanaman lain yang terdapat adalah jagung,rumput makanan ternak,bunga matahari,risius,gula beet,tembakau.

Andisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Berkembang dari bahan induk abu vulkan, batu apung (pumice) dan sinder.
  2. Banyak mengandung mineral dalam tanah.
  3. Potensi fiksasi fosfat tinggi.
  4. Daya menahan air tinggi.
  5. Porositas tinggi dan permeabilitas cepat.
  6. Berat Isi tanah rendah.
  7. Ketebalan solum antara 100 sampai 225 cm.
  8. Warna hitam, kelabu sampai coklat tua.
  9. Tanah mineral dengan sifat andik.

10.  Tanah mineral yang tidak memiliki horison argilik, natrik, spodik dan oksik.

11.  Mempunyai satu atau lebih dari : epipedon histik, molik, umbrik,

  • Faktor  Kendala
  1. Peka terhadap erosi.
  2. Retensi P tinggi.
  3. Pencucian unsur hara tinggi.
  4. Andisol yang mempunyai kontak litik dan paralitik dangkal.
  • Cara Pengendalian
  1. Meningkatkan penutupan tanah (pemberian mulsa atau penambahan vegetasi di atasnya).
  2. Pembuatan teras pada daerah miring (8-10%).
  3. Penerapan pola tanam tumpangsari yang dapat menutup tanah sepanjang tahu.
  4. Penembahan pupuk fosfat dosis tinggi dan penambahan bahan organik.
  5. Meningkatkan penutupan tanah; penerapan drip irrigation untuk mengurangi laju pencucian unsur hara karena perkolasi.
  6. Membuat bedengan agar mengurangi pencucian unsur hara dan erosi.
  • Lokasi/ Ha

Total luasan sekitar 5.39 juta ha atau 2.9% dari lahan yang ada di Indonesia dengan penyebaran Sumatera Utara (1.06 juta ha),Jawa Timur(0.73 juta ha),Jawa Barat(0.50 juta ha),Jawa Tengah(0.45 juta ha),dan di Maluku(0.32 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Di Sumatera Andisols digunakan untuk budidaya tanaman industri(tembakau cerutu deli).
  2. Lembang (Jawa barat) merupakan sentral produksi hortikultura
  3. Jawa Timur pada umunya menjadi sentra untuk hortikultura dan tanaman tahunan.
  4. Di Temanggung(Jawa Tengah) dimanfaatkan untuk budidaya tanaman tembakau.

Dari semua pemanfaat tersebut dilakukan kajian yang intesif terhadap kemiringan   lahan agar tidak terjadi erosi yang tinggi.

Oxisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Tanah yang memiliki horizon oksik atau kandik dengan cadangan mineral yang sedikit. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning. Diuraikan dibawah ini :

Fisik:

  1. Tekstur oxisol sedang hingga halus, memiliki kandungan debu yang sangat rendah.
  2. Rasio antara debu terhadap lempung atau liat pada suatu sample tanah berada di bawah 0,15.
  3. Bulk density rendah, berkisar antar 1-1,3 gr/cm3.
  4. Kemampuan menahan airnya rendah jika di bandingkan dengan tanah yang lain.

Kimia:

  1. KB rendah, kandungan Fe, Al, dan Sioksida tinggi.
  2. KTK rendah <16 me/100 g
  3. Memilki reaksi tanah yang sangat masam

  • Faktor  Kendala
  1. Iklim : temperature dan curah hujan.
  2. Bahan induk :merupakan bahan induk tua yang sudah mengalami proses pelapukan lanjut.
  3. Relief / topografi.
  4. Cadangan mineral sedikit.
  5. KTK rendah.
  6. Tanah masam.
  7. Dapat keracunan Al, Fe dan Si.
  8. Kemampuan menahan air rendah (drainase cepat).
  • Cara Pengendalian
  1. Tidak menggangu tanaman alami pada tanah oxisols, didaerah yang berlereng.
  2. Membuat irigasi untuk suplai air.
  3. Pemupukan tanah agar suplai unsur hara yang di butuhkan tersedia.
  4. Memperbaiki sifat kimia dengan cara pengapuran dan penambahan BO.
  • Lokasi/ Ha

Tanah-tanah sudah tua total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dam menyebar  di Sumatera Selatan (2.82 juta ha),Irian Jaya (2.41 juta ha),Kalimantan Tengah(2.06 juta ha),Kalimantan Barat (1.79 juta ha),Jambi(1.14 juta ha) dan Lampung(1.01 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Menjadikan hutan lindung untuk mengurangi dampak pemanasan global.
  2. Permukaan tanah harus dalam kondisi tertutup oleh tanaman penutup tanah karena apabila permukaan tanah terbuka menyebabkan erosi dan mengintensifkan pelapukan tanah. Dapat juga terjadi pengerasan tanah karena adanya Fe yang tinggi.
  3. Untuk tanaman pangan pengelolaan tidak hanya dilakukan pemupukan unsur anorganik atau pengapuran  tetapi juga diperlukan adanya masukan bahan organik yang cukup besar untuk mempertahankan kondisi tanah.

Spodosol

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.
  2. Adanya lapisan pasir masam berwarna putih abu-abu  ( horizon albik ) di atas lapisan lempung berpasir yang berwarna gelap
  3. Terbentuknya tanah ini pada bahan induk pasir kuarsa dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan seresah masam.
  • Faktor  Kendala
  1. Kesuburan alami rendah.
  2. Iklim : Boreal ( dingin ) iklim sub tropis dan tropis.
  3. Adanya penimbunan Fe dan Al dengan humus yang dapat meracuni tanaman, bahkan dapat memadas/mengeras apabila terkena sinar matahari.
  4. Topografi : datar sampai bergelombang.
  5. Tanah ini juga peka terhadap erosi karena teksturnya berpasir sehingga cenderung gembur (remah).

  • Cara Pengendalian
  1. Adanya penutup lahan.
  2. Pembuatan bedengan, guludan atau terasering sesuai dengan kelerengannya.
  3. Untuk meningkatkan produktivitas tanah dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan , penambahan BO, dan penanaman tanaman adaptif.
  4. Sebaiknya tanah Spodosol tidak dijadikan lahan pertanian, tetapi tetap dibiarkan sebagai hutan. Kalau sudah terlanjur dibuka sebaiknya dilakukan reboisasi.
  • Lokasi/ Ha

Luas penyebaran tanah darat lebih kurang 200 juta ha.dengan luas dan penyebaran kemapuan wilayah seluas 162,335 juta ha.atau81% tersebar di Sumatera(47,270 juta ha),Kalimantan (53,966 juta ha),Sulawesi(18,904 juta ha)dan Irian Jaya(42,195 juta ha),Dari 162,335 juta ha.luas daratan tersebut 124,044 juta ha berwujud tanah kering dan 38,291 juta ha berwujud tanah basah.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Sebagai daerah konservasi.
  2. Spodosol banyak digunakan sebagai hutan .Kecuali itu dapat juga digunakan sebagi daerah rumput ternak(pasture), atau rekreasi.

Mollisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

Tanah yang mempunyai horison (lapisan) permukaan berwarna gelap yang mengandung bahan organik yang tinggi. Tanah ini kaya akan kation-kation basa, oleh karena itu tanah ini juga tergolong sangat subur. Mollisol secara karakter terbentuk di bawah rumput dalam iklim yang sedang. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering.

Sifat Fisik

  1. Memiliki warna gelap, kroma velue kurang dari 3,5 (lembab) dan kurang dari 5,5 (kering).
  2. Struktur gembur tidak keras, berbentuk prisma
  3. Tekstur halus sampai sedang.

Sifat Kimia

  1. pH sedang sampai alkali,
  2. memiliki kejenuhan basa lebih dari 60%.
  • Faktor  Kendala
  1. Intensitas pengelolaan dan pemanfaatannya relatif masih rendah.
  2. Biasanya adanya kontak litik yang ditemukan pada kedalam < 50 cm.
  • Cara Pengendalian
  1. Memanfaatka tanah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kebutuhan dan berdasarkan ilmu pengetahuan yang jelas.
  2. Budidaya tanaman semusim yang akarnya tidak lebih dari 50cm.
  • Lokasi/ Ha

Irian jaya, NTT, Kalimantan timur, Sulawesi tangah, dan Jawa timur.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

Cocok untuk usaha budidaya tanaman semusim yang memiliki akar pendek seperti jagung, kacang tanah, dan padi.

Aridisols

  • Sifat /Ciri Utama

Reaksi-eaksi fisik, kimia dan biologi berjalan lambat karena kurangnya air. Akibatnya aridisol merupakan tanah yang memiliki sifat hampir sama dengan bahan induknya. Aridisol memiliki KB tinggi karena rendahnya proses pencucian. Aridisol memiliki kandungan bahan organik yang rendah dan tidak adanya proses feritisasi. Serta tidak ditemukannya horizon eluviasi. Pada beberapa aridisol, di permukaan tanah sering ditemukan adanya gravel pavement. Ditemukanya caliche atau lapisan akumulasi karbonat, ini terjadi karena CaCO3 di endapkan oleh air perkolasi yang mulai habis. Selain itu juga ditemukan horizon salik dan  natrik

  • Faktor  Kendala
  1. Tanah-tanah yang berada di daerah-daerah dengan tingkat kekeringan yang ekstrem (sangat kering), bahkan sekalipun untuk petumbuhan vegetasi-vegetasi mesopit (seperti rumput).
  2. Selama musim kering biasanya terganggu oleh gundukan pasir serata erosi yang disebabkan arah angin yang cepat.
  3. Terjadinya pengerasan alga yang menyebabkan penurunan laju masuknya air (infiltrasi) bahkan dapat mencapai nol, hal ini dapat meningkatkan besarnya run off, banjir bandang, erosi parit yang parah saat musim penghujan yang berkepanjangan.
  4. Ketersediaan air sedikit bahkan tidak ada.
  • Cara Pengendalian
  1. Dilakukannya pengolahan tanah dengan penambahan bahan organik dalam tanah
  2. Penanaman sistem cover crop serta penambahan vegetasi di area yang dibutuhkan guna melindungi dari terjadinya run off yang besar.
  3. Penggunaan sistem irigasi seperti teras bangku atau gulutan.
  4. Penggunaan mulsa plastik.
  • Lokasi/ Ha

Di Indonesia tanah jenis ini hamper tidak ditemukan. Bahan induk tanah ini adalah batu kapur.Adapun di jumpai hanya sedikit tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

karena lingkungannya yang kering, Aridisol termasuk sangat sulit dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam. Tetapi dapat dilakukan budidaya tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan membutuhkan air yang sedikit, misalnya tebu dan nanas.

PENGAPLIKASIAN JERAMI DI LAHAN PERTANIAN

Produksi padi nasional tahun 2008 sebesar 57,157 juta ton (Deptan, 20092), dengan demikian produksi jerami nasional diperkirakan mencapai 80,02 juta ton. Sehingga jangan disia-siakan penggunaan jerami untuk diaplikasikan pada lahan pertanian entah dalam bentuk pupuk atau langsung ditanam dibawah tanah. Di Indonesia rata-rata kandungan unsur hara yang terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 0,02 % P, 1,4 % K dan 5,6 % Si. Jika dihitung ketika kita memanen padi 5 ton/ha akan dihasilkan jerami sebanyak 7,5 ton yang mengandung 45 kg N, 10 Kg P, 125 Kg K, 10 Kg S, 350 Kg Si, 30 Kg Ca 10 Kg Mg. Sangat besar manfaat jerami untuk lahan pertanian. Penjelasan tentang manfaat jerami yang langsung diaplikasikan pada lahan pertanian dengan ditanam langsung dibawah top soil.

Pengaruh jerami bagi tanah
jerami sangat berpengaruh besar terhadap sifat-sifat tanah karena jerami termasuk bahan organik. Penjelasan fungsi-fungsi jerami yang mempengaruhi sifat fisik, biologi dan kimia  tanah : berfungsi sebagai perbaikan agregart tanah karena bisa sebagai bahan perekat antara agregat tanah, memperbaiki aerasi tanah karena pori-pori yang ada dalam tanah meningkat otomatis banyak udara yang masuk ini juga berhubungan dengan perkolasi dan ketersediaan air dengan adanya ruang pori yang banyak jika ada hujan atau di irigasi pori-pori akan terisi air dan ketersediaan air meningkan diikuti pergerakan air yang semakin bebas, mensuplai unsur hara mikro maupun makro dengan unsur (N, P, K, Si, Ca dan Mg), pengganti pupuk kimia dapat dilihat ditabel bawah ini kandungan dari jerami, sehingga unsur hara yang dibutuhkan untuk tanam lagi dapat dipenuhi dengan jerami tersebut.

Rasio C/N 18.88
C- organik (%) 35.11
N (%) 1.86
P2O5 (%) 0.21
K2O (%) 5.35
Kadar air (%) 55%

Mengembalikan kesuburan tanah karena unsur hara yang diambil dari tanah dikembalikan lagi dengan cara penanaman didalam tanah, memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah karena tanah menjadi subur, sebagai ukuran kapasitas retensi hara tanah, untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah, pengatur suhu tanah dari perubahan iklim makro, menurunkan bobot isi karena tanah semakin banyak ruang porinya, Sebagai sumber energi mikroorganisme tanah karena makanan mikroorganisme, kapasitas tukar kation meningkat dikarenakan unsur hara yang terkandung semakin banyak yang sebelumnya tanahnya masam dan kationnya bertambah, meningkatkan sangga tanah karena memperkuat agregasi, memperkuat tanah dari erosi karna adanya agregasi yang kuat antar tanah, mengurangi pertumbuhan gulma dikarenakan tanah semakin sehat sehingga perkembangan gulma terganggu, warna tanah akan berubah agak gelap setelah terdekomposisi jeraminya karena menjadi BO dan KB akan meningkat karena ketersediaan hara yang tinggi dan sirklus hara tertutup.

By : Candra Quida N

TANAH AIR (AIR TANAH)

Posted: March 31, 2011 in Soil Science

Air tanah adalah air yang terletak di bawah permukaan tanah di tanah pori ruang dan dalam fraktur formasi batuan. Sebuah unit batuan atau deposit tidak dikonsolidasi disebut akuifer ketika dapat menghasilkan kuantitas yang dapat digunakan air. Kedalaman di mana ruang pori tanah dan rongga dalam batuan menjadi benar-benar jenuh dengan air disebut muka airAir tanah diisi dari, dan akhirnya mengalir kepermukaan secara alami, debit alam sering terjadi di mata air dan rembesan, dan dapat membentuk oasis atau lahan basah . Air tanah juga sering digunakan untuk pertaniankota dan industri digunakan oleh membangun dan mengoperasikan ekstraksi sumur .

Biasanya, air tanah dianggap sebagai air cair yang mengalir melalui akuifer dangkal, namun secara teknis juga dapat mencakup kelembaban tanahpermafrost (tanah beku), air bergerak di permeabilitas batuan dasar yang sangat rendah, dan mendalam panas bumi atau minyak formasi air. Air tanah dihipotesiskan untuk memberikan pelumasan yang mungkin dapat mempengaruhi pergerakan kesalahan. Kemungkinan bahwa banyak dari bawah permukaan bumi berisi air, yang mungkin dicampur dengan cairan lain dalam beberapa kasus.

Sebuah akuifer adalah lapisan substrat berpori yang berisi dan transmit air tanah. Ketika air dapat mengalir langsung antara permukaan dan zona jenuh dari suatu akuifer, akuifer tersebut adalah bebas. Bagian lebih dalam akuifer terkekang biasanya lebih jenuh karena gravitasi menyebabkan air mengalir ke bawah.

Substrat dengan porositas rendah yang memungkinkan transmisi terbatas airtanah dikenal sebagai akuitar . Sebuah akiklud adalah substrat dengan porositas yang sangat rendah maka hampir kedap air tanah. Sebuah kasus aquifer tertekan adalah akuifer yang ditutupi oleh suatu lapisan kedap air yang relatif batuan atau substrat seperti akiklud atau akuitar. Jika tertekan mengikuti kelas bawah dari perusahaan zona resapan air , air tanah bisa menjadi bertekanan sebagai mengalir. Hal ini dapat membuat sumur artesis yang mengalir bebas tanpa perlu pompa dan naik ke ketinggian lebih tinggi dari tabel air statis di bebas.

  • SIRKLUS AIR

Air tanah membentuk sekitar dua puluh persen dari pasokan air segar itu dunia, yaitu sekitar 0,61% dari seluruh air dunia, termasuk samudra dan es permanen. Global cadangan air tanah kira-kira sama dengan jumlah air tawar yang tersimpan dalam salju dan es pak, termasuk kutub utara dan selatan. Hal ini membuat sebuah sumber penting yang dapat bertindak sebagai penyimpanan alami yang dapat penyangga terhadap kekurangan air permukaan, seperti dalam selama masa kekeringan.

Air tanah alami digantikan dengan air permukaan dari curah hujansungai dan sungai ketika mengisi ulang dari air limpasan permukaan.

Air tanah bisa menjadi panjang ‘panjang reservoir ‘dari alam siklus air (dengan waktu tinggal dari hari sampai ribuan tahun), sebagai lawan dari istilah air waduk-pendek seperti segar permukaan air dan atmosfer (yang memiliki waktu tinggal dari menit ke tahun). Angka ini menunjukkan seberapa dalam air tanah (yang cukup jauh dari permukaan recharge) dapat memakan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan siklus alam.

  • MASALAH-MASALAH YANG TERJADI

Masalah tertentu telah mengelilingi penggunaan air tanah di seluruh dunia. Sama seperti air sungai yang telah over digunakan dan tercemar di banyak bagian dunia, jadi juga memiliki akuifer. Perbedaan besar adalah bahwa akuifer berada di luar pandangan. Masalah utama lainnya adalah bahwa lembaga pengelolaan air, ketika menghitung ‘hasil tangkapan’ akuifer dan air sungai, sering menghitung air yang sama dua kali, sekali dalam akuifer, dan sekali di sungai tersambungnya. Masalah ini, meskipun dipahami selama berabad-abad, telah bertahan, sebagian melalui inersia dalam pemerintah.

  • Cerukan

Air tanah yang bermanfaat dan sering sumber daya yang melimpah. Namun, selama penggunaan, atau cerukan, dapat menyebabkan masalah besar bagi pengguna manusia dan lingkungan.Ditemukannya masalah yang paling (sejauh penggunaan air tanah manusia yang bersangkutan) adalah menurunkan dari tabel air di luar jangkauan sumur yang ada. Akibatnya sumur harus diperdalam untuk mencapai air tanah. Air tanah juga ekologis penting. Pentingnya air tanah untuk ekosistem sering diabaikan, bahkan oleh ahli biologi air tawar dan ekologi. Mempertahankan air tanah sungai, lahan basah dan danau, serta ekosistem bawah tanah di karst atau akuifer aluvial.

  • Subsidence

Subsidence terjadi bila terlalu banyak air yang dipompa keluar dari bawah tanah, mengempis ruang di bawah permukaan-atas, dan dengan demikian menyebabkan tanah untuk benar-benar runtuh. Hasilnya dapat terlihat seperti kawah di bidang tanah. Hal ini terjadi karena dalam kondisi keseimbangan alamnya. tekanan hidrolik air tanah dalam ruang pori akuifer dan akuitar mendukung beberapa dari berat dari sedimen diatasnya. Ketika air tanah akan dihapus dari akifer oleh pemompaan yang berlebihan, tekanan pori di drop akifer dan kompresi akuifer tersebut mungkin terjadi. kompresi ini mungkin sebagian diperoleh kembali jika tekanan rebound, tetapi sebagian besar tidak. Ketika akuifer mendapat dikompresi dapat menimbulkan penurunan tanah, penurunan permukaan tanah.

  • Pencemaran

Pencemaran air dari tanah, dari polutan dirilis ke tanah yang dapat bekerja dengan cara mereka ke dalam tanah, dapat membuat kontaminan membanggakan  dalam suatu akuifer. Pergerakan air dan dispersi dalam akuifer menyebar polutan di daerah yang lebih luas, maju batasnya sering disebut tepi membanggakan, yang kemudian dapat bersinggungan dengan sumur air tanah atau siang hari ke dalam air permukaan seperti merembes dan mata air, membuat persediaan air yang tidak aman bagi manusia dan satwa liar. Interaksi kontaminasi air tanah dengan air permukaan dianalisis dengan menggunakan model hidrologi transportasi .

The stratigrafi daerah memainkan peran penting dalam transportasi polutan tersebut. area yang dapat memiliki lapisan tanah berpasir, batuan dasar retak, tanah liat, atau hardpan. Wilayah topografi karst pada batu kapur batuan dasar kadang-kadang rentan terhadap polusi dari permukaan tanah. kesalahan Gempa juga dapat masuk rute untuk masuk kontaminan ke bawah.tabel kondisi air adalah sangat penting untuk pasokan air minum, pertanian irigasi, pembuangan limbah (sampah dan limbah perusahan)satwa liar habitat, pertambangan dan lainnya yang termasuk masalah ekologi.

By : Candra Quida N

PENETAPAN C-ORGANIK DAN KEBUTUHAN KAPUR DALAM TANAH

Candra Quida Nurfendika

Abstrak

Bahan organik tanah merupakan indicator kesuburan tanah karena bahan organik kumpulan senyawa-senyawa organik yang telah mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme. Dan mempunyai manfaat yang baik bagi tanah. Banyak unsur-unsur kimia yang terkandung didalam tanah dan tidak semuanya menguntungkan sehingga butuh penetralan dalam tanah atau perbaikan tanah dengan cara pengapuran.

Kata kunci : C-Organik dan pengapuran.

Tanah merupakan penyusun sebagian besar bumi ini disamping air. Sebagai pijakan dalam hidup kita dibumi ini. Fungsi tanah sangat banyak, misalnya sebagai dasar rumah kita, pembutan kerajinan dari tanah, sebagai media tumbuhan dan lain sebagainya. Tanah mempunyai partikel penyusunnya berupa pasir, debu, dan liat. Di dalam tanah terdapat mineral, unsur hara, air, udara, dan banyak mikroorganisme yang hidup didalam tanah.  Tanah juga mempunyai tingkatan kedalaman yang disebut dengan horizon.  Dalam setiap tingkatan tersebut berbeda-beda yang terkandung didalamnya. Banyak sekali keanekaragaman mikroorganisme dan hewan tanah baik yang bersifat merugikan maupun yang menguntungkan. Kandungan yang terdapat didalam tanah tidak selamanya terpenuhi dan dapat berkurang karena adanya factor alam seperti erosi yang mempengaruhi sehingga kandungan dalam tanah tersebut hilang terbawa air. Dan karena factor tumbuhan yang membutuhkan unsur-unsur yang terkandung sehingga habis. Karena itu perlu adanya penggantian atau penambahan unsur-unsur dalam tanah tersebut agar tanah tersebut tetap subur. Dan  tetap menjadi media tumbuh tumbuhan yang terbaik.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di adakan penelitian tentang unsur-unsur yang hilang sehingga dapat diketahui unsur yang hilang tersebut dan berapa yang dibutuhkan. Dalam satu agregat tanah hanya sedikit terkandung bahan organik. Bahan organik sangat penting bagi tumbuhan karena bahan organik sebagian syarat tanah yang subur. Sehingga tanah yang kehilangan bahan organik dapat merugian bagi tumbuhan. Tidak hanya kekurangan unsur yang terkandung didalam tanah tetapi dapat juga kelebihan sehingga mengakibatkan keracunan dan over dosis bagi tumbuhan. Oleh karena itu dibutuhkan pengapuran untuk menetralkannya.

 

PENETAPAN C-ORGANIK

Dasar teori

Kandungan bahan organik pada masing-masing horizon merupakan petunjuk besarnya akumulasi bahan organik dalam keadaan lingkungan yang berbeda. Komponen bahan organik yang penting adalah C dan N. kandungan bahan organik ditentukan secara tidak langsung yaitu dengan mengalikan kadar C dengan suatu faktor yang umumnya sebagai berikut: kandungan bahan organik = C x 1,724. Bila jumlah C organik dalam tanah dapat diketahui maka kandungan bahan organik tanah juga dapat dihitung. Kandungan bahan organik merupakan salah satu indicator tingkat kesuburan tanah.

Pengertian bahan organik

Kumpulan senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa anorganik hasil mineralisasi (disebut biontik) termasuk mikroba heterotrofik dan autotrofik yang terlibat (biotic).

Bahan organik tanah

1)      Ukuran partikelnya < 2mm.

2)      0 – 6% berada dihorison A.

3)      Sekitar >1% biomas terdapat dipermukaan horizon.

4)      Sebagian bahan organik dilapukkan oleh mikroba.

Manfaat bahan organik

1)      Menambah keasaman / kebasaan tanah.

2)      Mempengaruhi warna tanah.

3)      Mempengaruhi cirri fisik tanah (mempengaruhi tekstur dan struktur)

4)      Menambah kemampuan tanah untuk mengikat / menahan unsur hara.

5)      Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lain-lain.

Pengaruh bahan organik tanah terhadap sifat tanah

1)      Menurunkan plastisitas.

2)      Memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih remah.

3)      Meningkatkan daya menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembapan dan temperatur tanah menjadi stabil.

4)      Terhadap fisika tanah bahan organik tanah membentuk struktur yang baik.

5)      Terhadap kimia tanah bahan organik sebagai sumber nutrisi tanah / sumber unsur hara dan terjadi kapasitas pertukaran kation yang tinggi.

6)      Terhadap biologi tanah sebagai suplai energi untuk bahan organisme tanah.

 

PENETAPAN KEBUTUHAN KAPUR

Dasar teori

Pemberian kapur ke dalam tanah pada umumnya bukan karena tanah kekurangan Ca tetapi tanah terlalu masam. Sehingga pengapuran dapat menetralkannya.

Tujuan pengapuran

1)      Mempengaruhi kondisi tanah bereaksi masam sehingga cukup baik untuk pertumbuhan tanaman / jazad mikro.

2)      Menghilangkan pengaruh racun Al, Fe, dan Mn.

3)      Menambah unsur basa Ca atau Mg.

4)      Meniadakan fiksasi P atau Mo.

Manfaat pengapuran

1)      Menaikan PH tanah.

2)      Menambah unsur-unsur Ca dan Mguntuk menetralkan atau membasakan.

3)      Menambah ketersediaan unsur-unsur P dan Mo.

4)      Mengurangi keracunan Fe, Mn, dan Al.

5)      Memperbaiki kehidupan mikroorganisme dan memperbaiki pembentukan bintil-bintil akar.

6)      Bermanfaat dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga sifat kesuburan tanah menjadi bak.

Bentuk-bentuk kapur

1)      Kapur kalsit (CaCO3)

Terdiri dari batu kapur kalsit yang ditumbuk atau digiling sampai kehalusan tertentu.

2)      Kapur dolomite (CaMg(CO3)2)

Terdiri dari batu kapur dolomite yang ditumbuk pada kehalusan tertentu.

3)      Kapur bakar / quick lime (CaO)

Batu kapur yang dibakar sehingga terbentuk CaO.

CaCO3 + panas è CaO + CO2

(dibakar)                (kapur bakar)

4)      Kapur hidrat / siaked lime (Ca(OH)2)

CaO + H2O è Ca(OH)2 + panas

(diberi air)           (kapur hidrat)

5)      Kapur tohor (kapur hidup)

Kapur yang mempunyai Kadar kalsium tinggi.

Faktor yang mempengaruhi pengapuran

a)      PH tanah è karena pengapuran dapat menaikan PH tanah sehingga tidak masam.

b)      Tekstur è dengan pengapuran dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga teksturnya akan menjadi baik.

c)      Kandungan bahan organik è tanah yang mengandung bahan organik tidak perlu pengapuran.

d)     Mutu kapur è pengapuran dengan menggunakan kapur yang bermutu baik akan mempengaruhi hasil dari pengapuran dengan hasil yang baik pula.

e)      Mutu jenis tanaman è jenis tanaman yang tidak memerlukan perlakuan yang ekstra tidak membutuhkan pengapuran. Dengan begitu pengapuran biasanya digunakan pada bidang pertanian.

Sasaran pengapuran

Tanah mineral dan organik yang bereaksi masam, contohnya untuk tanah mineral: ultisol, oksisol, andisol, dan untuk tanah organik: histosol / gambut.

Dasar penentuan kebutuhan kapur

Di daerah tropic pengapuran berdasarkan pada jumlah kapur yang dibutuhkan untuk meniadakan pengaruh beracun Al, mengurangi kemasam tanah, dan menyediakan unsur Ca dan Mg.

Tahap pemberian kapur

  • Sesuai dengan dosis setempat (penentuan melalui uji cepat)
  • Penebaran kapur harus serata mungkin. Pembenaman dan pencampuran ke tanah harus sedalam-dalamnya dan serata-ratanya (kecuali dilarang pengolahan dalam)

Waktu pemberian kapur

  • Kapur diberikan pada musim: Labuan (akhir musim kemarau, awal musim penghujan)
  • Pada waktu pengolahan tanah untuk tanaman musim penghujan.

Cara pemberian kapur

1)      Tentukan luas lahan yang akan dikapur, bersihkan terlebih dahulu dari rumput.

2)      Tentukan dosis kapur yang diperlukan.

3)      Bagi luasan yang akan dikapur, perhitungan jumlah kebutuhan kapur sampai bagian terkecil.

Table kebutuhan kapur

PH KEBUTUHAN KAPUR Ton/Ha PH KEBUTUHAN KAPUR Ton/Ha
2 6,8 1 3,7
1,9 6,5 0,9 3,4
1,8 6,2 0,8 3
1,7 5,9 0,7 2,7
1,6 5,6 0,6 2,4
1,5 5,3 0,5 2,1
1,4 4,9 0,4 1,8
1,3 4,6 0,3 1,5
1,2 4,3 0,2 1,1
1,1 4,2 0,1 0,8

 

 

 

Prosedur penentuan kebutuhan tanah

1)      Ambil sedikit tanah dari plasti sample (10 g).

2)      Masukkan kedalam fial film.

3)      Masukkan air dan larutan CaCO3 kedalam fial film (10 ml).

4)      Letakkan fial film kea lat pengocok selama 5 menit.

5)      Diukur PH nya dengan alat PH meter.

6)      Dihitung kebutuhan kapurnya.

 

HASIL

Perhitungan PH melalui alat ukur PH meter :

a)      PH ultisol + larutan CaCO3 = 5,84 è PH potensial

b)      PH ultisol + H2O                        = 5        è PH actual

c)      PH oxisol + larutan CaCO3 = 5,99 è PH potensial

d)     PH oxisol + H2O                         = 4,83 è PH actual

 

  • Δ PH (ultisol) = 5,84 – 5 = 0,84
  • Δ PH (osisol) = 5,99 – 4,83 = 1,16
  • Jadi kebutuhan kapur pada tanah ultisol 3 ton/Ha
  • Jadi kebutuhan kapur pada tanah oxisol 4,3 ton/Ha

 

Pembahasan

PH tanah yang ultisol yang berwarna orange mempunyai PH + air adalah 5 dan PH tanah ultisol + CaCO3 adalah 5,84. Tanah ultisol dicampur dengan CaCO3 mempunyai PH lebih besar karena larutan CaCO3 bersifat masam. Sama halnya dengan tanah oxisol akan mempunyai PH yang tinggi jika dicampur dengan CaCO3 karena CaCO3 bersifat masam.

 

KESIMPULAN

  • Pengapuran adalah pemberian kapur kedalam tanah pada umumnya bukan karena kekurangan Ca tetapi karena tanah terlalu masam.
  • BOT adalah sisa-sisa makhluk hidup baik tumbuhan maupun hewan yang mengalami pelapukan atau dekomposisi oleh mikroorganisme yang tertimbun dalam tanah.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Hakim, nurhajati. 1986. Dasar-dasar ilmu tanah. Unlam. Lampung

Hanafiah, kemas. 2007. Dasar-dasar ilmu tanah. Rajagrafindo. Jakarta

Hardjowigeno, sarwono. 2007. Ilmu tanah. Akademika pressindo. Jakarta

Tim dosen jurusan tanah FP UB. 2008. Panduan praktikum tanah dan media tumbuh. Jurusan tanah FP UB. Malang