HUBUNGAN IRIGASI DENGAN SIRKLUS HIDROLOGI

Hubungan irigasi dengan sirklus hidrologi sangat erat hubungannya. irigasi mencakup empat aspek penting yang saling mempengaruhi, yaitu iklim, tanaman, tanah, dan manusia. Iklim, seperti curah hujan, kelembapan, suhu, penguapan, dan sebagainya akan mempengaruhi besar-kecilnya proses evapotranspirasi. Kebutuhan akan air tiap fase pertumbuhan tanaman tidak sama, hal ini dikarenakan oleh perbedaan jumlah dan ukuran daun. Selain itu, tipe tanaman juga menentukan kebutuhan air tanaman, tanaman dengan tipe daun berbeda akan membutuhkan air dengan jumlah yang berbeda pula serta cara distribusi yang tentu saja berbeda. Karakteristik tanah yang berhubungan dengan air akan mempengaruhi jumlah air yang diberikan serta frekuensi pemberiannya.

Irigasi bersumber dari air permukaan (danau/ sungai/ waduk) atau dari groundwater. dalam siklus hidrologi, saat terjadi hujan air mencapai permukaan tanah dan ada yang ke daun tanaman, air yang ke tanah kemudian bergerak secara kontinu dengan tiga cara berbeda, yaitu penguapan, infiltrasi, dan aliiran permukaan (run off). Apabila air langsung mengalami penguapan dan run off, maka air yang dapat digunakan untuk irigasi menjadi sedikit, karena air di waduk, sungai, danau, rawa, serta groundwater akan berkurang. Apabila langsung terjadi aliran permukaan karena tidak ada yang menahan laju air akan mempercepat hilang y air karena tidak dsmpan di dalam tanah, jika lebih lama disimpan dalam tanah ketersedian air tanah stabil dan daerah penampungan juga akan terus stabil ketinggiannya sehingga tidak terjadi banjir dan kekeringan.

PERFORMANCE IRIGASI DI INDONESIA DI PETAK TERSIER

Dalam perjalanan sejarah irigasi di Indonesia, pengelolaan irigasi di tingkat jaringan utama pernah menjadi kewenangan pemerintah maupun petani. Namun, untuk pengelolaan petak tersier selalu menjadi kewenangan petani karena jaringan tersier merupakan jaringan irigasi yang langsung bersentuhan dengan petani. Pengelolaan petak tersier yang dilakukan oleh petani dilakukan melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sebagai organisasi yang menghimpun petani dengan satu kepentingan terhadap air irigasi dalam satu petak tersier. Pengelolaan jaringan irigasi tingkat tersier mempunyai kontribusi signifikan dalam memperoleh kinerja irigasi yang tinggi. Oleh karena itu pemerintah memandang perlu untuk turut membantu pengembangan pengembangan petak tersier dan meningkatkan kinerja petak tersier. Pengembangan petak tersier di Daerah Irigasi (DI) baru atau pengembangan dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum sedangkan Departemen Pertanian membantu peningkatan jaringan tersier melalui Program Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT).

Contoh nyata kerusakan pada petak tersier, Sekitar 130 irigasi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengalami rusak berat, sementara 200 lainnya dalam kondisi rusak sedang dan 100an rusak ringan, akibat terjadinya gempa dan longsor di sejumlah wilayah di daerah itu. Oleh karenanya, setidaknya 78 daerah irigasi di KBB telah mendapatkan pemeliharaan dengan ditambah jalur sekunder dan tersier dari saluran irigasi utama, kata Kepala Seksi Pembangunan DBMP (Dinas Bina Marga dan Pengairan) KBB, Pardin saat dihubungi wartawan, Sabtu. Tak hanya itu, menurutnya, pemeliharaan daerah irigasi di KBB masih terkendala oleh kurangnya jumlah petugas pemeliharaan irigasi (PPI). Pasalnya, sebanyak 452 daerah irigasi (DI) di KBB hanya dipelihara oleh enam belas petugas sehingga untuk pemeliharaan sisanya dilakukan oleh petugas Mitra Cai. “Kekurangan PPI sejauh ini tertolong oleh keberadaan Mitra Cai atau Perkumpulan Petani Pengelola Air (P3A). Harus kita akui jika petugas pemelihara irigasi pun masih kurang. Idealnya, satu petugas mengawasi dua kilometer saluran irigasi dan peralatan kalibrasinya. Kita sih inginnya kondisi demikian tidak berlangsung lama,” katanya. Ditegaskannya, kurang maksimalnya pemeliharaan dan pengawasan, menurut dia, sering berdampak pada pencurian peralatan irigasi. Pemberdayaan P3A diharapkan dapat membantu pemeliharaan dan pengawasan daerah irigasi.

 

METODE SRI (System of Rice Intensification) pada PADI

1. Inovasi metode SRI

SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara  mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara,  terbukti telah berhasil meningkatkan  produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Metode ini  pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 -84 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam bahasa. Prancis dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengannama System of Rice Intensification disingkat SRI.

Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan  SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka, dan Bangladesh dengan hasil yang positif.

SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan presentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar

Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen. Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan  seperti mesin yang dapat  dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.

2. Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI

    Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai

    1. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
    2. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
    3. Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
    4. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
    5. Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau)

    3. Keunggulan metode SRI

    1. Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
    2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
    3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
    4. Produksi meningkat,  di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
    5. Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan Mikro-oragisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida.

    4. Teknik Budidaya Padi Organik  metode SRI

    4.1.   Persiapan benih

    Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung.  Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik (1:1) di dalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm (pipiti). Selama 7 hari. Setelah umur 7-10 hari benih padi sudah siap ditanam.

    4.2.  Pengolahan tanah

    Pengolahan tanah Untuk Tanam padi metode SRI tidak  berbeda dengan cara pengolahan tanah untuk tanam padi cara konvesional yaitu dilakukan untuk mendapatkan struktur tanah yang lebih baik bagi tanaman, terhidar dari gulma. Pengolahan dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan menggunakan traktor tangan, sampai terbentuk struktur lumpur. Permukaan tanah diratakan untuk mempermudah mengontrol dan mengendalikan air.

    4.3.  Perlakuan pemupukan

    Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim taman. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bias berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.

    4.4. Pemeliharaan

    Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan dilakukan hanya untuk mempermudah pemeliharan. Pada prakteknya pengelolaan air pada sistem padi organik dapat dilakukanSebagai berikut; pada umur 1-10 HST tanaman padi digenangi dengan ketinggian air rata-rata 1cm, kemudian pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi. Untuk perlakuan yang masih membutuhkan penyiangan berikutnya, maka dua hari menjelang penyiangan tanaman digenang. Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu tanaman tidak digenangi kembali sampai panen. Untuk mencegah hama dan penyakit pada SRI tidak digunakan bahan kimia, tetapi dilakukan pencengahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik.

    5. Pertanian Padi Organik Metode SRI dan Konvesional.

    Sistem tanam padi SRI, pada prakteknya memiliki banyak perbedaan dengan sistem tanam Konvensional (Tabel 3).

    

    perbedaan sistem tanam padi konvensional dengan SRI

    perbedaan sistem tanam padi konvensional dengan SRI

    6. Perbedaan Hasil Cara SRI dengan Konvensional.

    Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro-organisme Lokal) buatan  sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan behasiat sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang keluarkan menjadi lebih efisien dan murah. Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian  pupuk anorganik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk dapat meningkatkan produsi apalagi bila dihadapkan pada  kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba. Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus menerus kondisi tanah semakin kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal.

    Hasil panen pada metode SRI pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil sebelumnya (metode konvensional) dan terus  meningkat pada musim berikutnya sejalan dengan meningkatnya bahan organik dan kesehatan tanah. Beras organik yang dihasilkan dari  sistem tanam di musim pertama memiliki harga yang sama dengan beras dari sistem tanam konvesional, harga ini didasarkan atas dugaan bahwa beras tersebut belum tergolong organik, karena pada lahan tersebut masih ada pupuk kimia yang tersisa dari musim tanam sebelumnya. Dan untuk musim berikutnya dengan menggunakan metode SRI secara berturut-turut, maka  sampai musim ke 3  akan diperoleh beras organik dan akan  memiki harga yang lebih tinggi dari beras padi dari sistem konvensional.

    analisis usaha tani

    analisis usaha tani

    7. Manfaat Sistem SRI

    Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut

    1. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
    1. Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
    2. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida  kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka
    3. Membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani
    4. Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia
    5. Mewariskan tanah yang sehat untuk  generasi mendatang.

    8. Kesimpulan

    Metode SRI menguntungkan untuk petani, karena produksi meningkat sampai 10 ton/ha, selain itu karena tidak mempergunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi gembur, mikroorganisme tanah meningkat jadi ramah lingkungan. Untuk mempercepat penyebaran metode SRI perlu dukungan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.

    By : Candra Quida N

    KLOROFIL DAN PROSES FOTOSINTESIS

    Posted: April 7, 2011 in Referens

    • KLOROFIL

    Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu Chloros artinya hijau dan phyllos artinya daun. Ini diperkenalkan tahun 1818, dimana pigmen tersebut diekstrak dari tumbuhan dengan menggunakan pelarut organik. Hans Fischer peneliti klorofil yang memperoleh nobel prize winner pada tahun 1915 berasal dari technishe hochschule, munich germany.

    Klorofil adalah pigmen pemberi warna hijau pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik. Senyawa ini yang berperan dalam proses fotosintesis tumbuhan dengan menyerap dan mengubah tenaga cahaya menjadi tenaga kimia. Dalam proses fotosintesis, terdapat 3 fungsi utama dari klorofil yaitu memanfaatkan energi matahari, memicu fiksasi CO2 menjadi karbohidrat dan menyediakan dasar energetik bagi ekosistem secara keseluruhan. Dan karbohidrat yang dihasilkan fotosintesis melalui proses anabolisme diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat dan molekul organik lainnya.

    Klorofil menyerap cahaya berupa radiasi elektromagnetik pada spektrum kasat mata (visible). Misalnya, cahaya matahari mengandung semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai violet, tetapi seluruh panjang gelombang unsurnya tidak diserap dengan baik secara merata oleh klorofil. Klorofil dapat menampung energi cahaya yang diserap oleh pigmen cahaya atau pigmen lainnya melalui fotosintesis, sehingga klorofil disebut sebagai pigmen pusat reaksi fotosintesis. Dalam proses fotosintesis tumbuhan hanya dapat memanfaatkan sinar dengan panjang gelombang antara 400-700 nm.

    Pada tanaman tingkat tinggi ada 2 macam klorofil yaitu klorofil-a (C55H72O5N4Mg) yang berwarna hijau tua dan klorofil-b (C55H70O6N4Mg) yang berwarna hijau muda. Klorofil-a dan b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), sedangkan yang paling sedikit cahaya hijau (500-600 nm). Sedangkan cahaya berwarna biru dari spektrum tersebut diserap oleh karotenoid. Karotenoid ternyata berperan membantu mengabsorpsi cahaya sehingga spektrum matahari dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Energi yang diserap karotenoid diteruskan kepada klorofil-a untuk diserap digunakan dalam proses fotosintesis, demikian pula dengan klorofil-b.

    chlorophyll

    chlorophyll

    • FOTOSINTESIS

    Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhanalga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi.Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof.

    Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Secara fisiologis, umumnya tanaman memiliki kemampuan untuk menggunakan zat-karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta diasimilasikan di dalam tubuh tanaman tersebut. Peristiwa ini hanya dapat berlangsung ketika ada cukup cahaya,  dan oleh karena itu maka asimilasi zat-karbon disebut juga sebagai fotosintesis.

    Lengkapnya kita katakan, bahwa fotosintesis atau asimilasi zat-karbon itu suatu proses, dimana zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil diubah menjadi zat organic karbohidrat dengan pertolongan sinar/cahaya/foto. Peristiwa fotosintesis dinyatakan dengan persamaan reaksi kimia sebagai beriktut:

    6 CO2 + 6 H2O + energi cahaya è C6H12O6 + 6 O2

    Peristiwa ini hanya berlangsung pada tumbuhan yang berklorofil, karena mampu menangkap energi cahaya. Fotosintesis selain menghasilkan karbihidrat juga menghasilkan gas oksigen yang merupakan bahan vital untuk melaksanakan respirasi aerob. CO2 yang digunakan untuk fotosintesis sama jumlahnya dengan oksigen yang dihasilakan selama proses fotosintesis. Molekul glukosa yang terbentuk kemudian bergabung dan membentuk tepung

    (amilum) dengan rumus kimia (C6H10O5)n . Persamaan reaksi kimia fotosintesis belum dapat menujukkan adanya produk antara dan tahapan fotosintesis. Ada 2 macam fotosintesis menurut ada tidaknya cahaya :

    • Reaksi terang : 2 H20 ——> 2 NADPH2 + O2
    • Reaksi gelap sebagai berikut :

    12 NADPH + 18 ATP+6 CO2 + 6 H2O è C6H12O6 + 12 NADP +18 P + 6H2O

    Reaksi terang merupakan fotosintesis saat adanya cahaya matahari dengan menghasilkan energi untuk kegiaatan fotosintesis saat gelap bisa disebut juga reaksi gelap yang menghasilkan karbohidrat.

     

    By : Candra Quida N

     

    1. PENDAHULUAN

    Dalam pengembangan produksi pangan khususnya padi, petani dihadapkan kepada beberapa kendala baik yang bersifat fisik, sosio-ekonomi maupun kendala yang bersifat biologi (biological constraint). Salah satu kendala biologi adalah gangguan spesies organisme yang menyebabkan penurunan baik kuantitas maupun kualitas produk bahkan sampai menggagalkan panen. Sebelum swasembada pangan, kebijaksanaan pemerintah dalam pengendalian hama sangat mengandalkan pada penggunaan pestisida. Waktu itu, penyemprotan pestisida pada tanaman dilakukan secara terjadwal (scheduled) baik ada maupun tidak ada serangan hama. Penggunaan pestisida terjadwal dimasukan sebagai salah satu paket teknologi produksi padi dan petani bebas menggunakan berbagai jenis pestisida termasuk pestisida presisten (undegradable).

    Setelah swasembada pangan tercapai tahun 1984, metoda pengendalian hama mengalami perubahan mendasar karena diketahui bahwa penggunaan pestisida yang tidak bijaksana adalah sangat keliru. Subiyakto (1992) menyatakan bahwa, sejak pestisida digunakan secara besar-besaran, masalah hama bukan semakin ringan tetapi semakin rumit, beberapa spesies hama kurang penting berubah status menjadi sangat penting dan yang lebih menghawatirkan adalah kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan oleh residu pestisida yang mengancam kehidupan termasuk manusia.

    Mengingat dampak negatif dari penggunaan pestisida yang tidak terkendali, pemerintah mengintroduksikan suatu paket teknologi pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan disebut teknologi Pengendalian Hama Terpadu (integreted pest management). Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada dasarnya terdiri atas dua kegiatan pengendalian yaitu usaha-usaha pencegahan (preventive controls) dan penggunaan pestisida (pesticide controls). Penggunaan pestisida boleh dilakukan apabila cara pertama sudah digunakan tetapi belum memberikan hasil optimal.

    Introduksi teknologi PHT bertujuan agar petani menjadi tahu dan mampu merubah perilaku dalam pengendalian hama tanaman dari cara lama (sistem kalender) ke cara baru (konsep PHT). Disamping itu, jenis pesisida yang boleh digunakan untuk tanaman padi juga dibatasi, hanya boleh menggunakan jenis pestisida yang mudah terurai (degradable) dan berspektrum sempit (narrow spectrum). Dalam pelaksananya, ditetapkan melalui Inpres No.3 tahun 1986 mengenai berbagai jenis pestisida yang dilarang penggunaanya untuk tanaman padi (Dirjentan, 1987).

    2. POKOK BAHASAN

    1. Pengertian PHT

    Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, PHT tidak lagi dipandang sebagai teknologi, tetapi telah menjadi suatu konsep dalam penyelesaian masalah lapangan (Kenmore 1996). Waage (1996) menggolongkan konsep PHT ke dalam dua kelompok, yaitu konsep PHT teknologi dan PHT ekologi. Konsep PHT teknologi merupakan pengembangan lebih lanjut dari konsep awal yang dicetuskan oleh Stern et al. (1959), yang kemudian dikembangkan oleh para ahli melalui agenda Earth Summit ke-21 di Rio de Janeiro pada tahun 1992 dan FAO. Tujuan dari PHT teknologi adalah untuk membatasi penggunaan insektisida sintetis dengan memperkenalkan konsep ambang ekonomi sebagai dasar penetapan pengendalian hama. Pendekatan ini mendorong penggantian pestisida kimia dengan teknologi pengendalian alternatif, yang lebih banyak memanfaatkan bahan dan metode hayati, termasuk musuh alami, pestisida hayati, dan feromon. Dengan cara ini, dampak negatif penggunaan pestisida terhadap kesehatan dan lingkungan dapat dikurangi (Untung 2000). Konsep PHT ekologi berangkat dari perkembangan dan penerapan PHT dalam sistem pertanian di tempat tertentu. Dalam hal ini, pengendalian hama didasarkan pada pengetahuan dan informasi tentang dinamika populasi hama dan musuh alami serta keseimbangan ekosistem. Berbeda dengan konsep PHT teknologi yang masih menerima teknik pengendalian hama secara kimiawi berdasarkan ambang ekonomi, konsep PHT ekologi cenderung menolak pengendalian hama dengan cara kimiawi. Dalam menyikapi dua konsep PHT ini, kita harus pandai memadukannya karena masing-masing konsep mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini disebabkan bila dua konsep tersebut diterapkan tidak dapat berlaku umum.

    • PHT dalam Konteks Produksi Padi

    Luas panen padi pada tahun 2003 tercatat 11,48 juta hektar dan produksi padi pada tahun tersebut mencapai 52,08 juta ton, meningkat 1,14% dibanding tahun 2002 (51,49 juta ton). Kenaikan produksi merupakan dampak dari peningkatan produktivitas padi, dari 4,47 t/ha pada tahun 2002 menjadi 4,52 t/ha pada tahun 2003. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi, termasuk pengendalian hama dan penyakit, memegang peranan penting. Dengan asumsi tidak ada terobosan teknologi maka produksi padi pada tahun 2020 diproyeksikan 57,4 juta ton. Sementara itu jumlah penduduk Indonesia pada tahun yang sama diperkirakan 262 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,27%/ tahun. Apabila konsumsi beras per kapita masih tetap 134 kg/tahun maka kebutuhan beras pada tahun 2020 mencapai 35,1 juta ton atau setara dengan 65,9 juta ton gabah kering giling (GKG). Kalau produksi padi tidak meningkat berarti pada tahun 2020 terjadi kekurangan beras 4,5 juta ton atau setara dengan 8,5 juta ton GKG (Budianto 2002). Untuk mengatasi kekurangan pangan perlu adanya terobosan peningkatan produksi padi. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa produktivitas padi masih dapat ditingkatkan melalui implementasi program PHT. Dalam praktek PHT, hasil padi petani di Karawang pada MK 1995 masih meningkat hingga 37% dengan penanaman varietas tahan hama wereng dan meningkat 46,3% untuk varietas tidak tahan (Baehaki et al. 1996).

    • PHT Mendukung Pertanian Praktek Pertanian yang Baik

    Aspek keselamatan, kesehatan, dan lingkungan pada keseluruhan proses produksi sampai pemasaran dinilai dengan International Standardization Organization (ISO) yang dikenal dengan pendekatan sistem mutu dan keamanan pangan, termasuk di dalamnya Sistem Manajemen ISO 9000 tentang Manajemen Mutu, ISO 14000 tentang Manajemen Lingkungan, dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) tentang Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Produk yang berkualitas harus memiliki empat kriteria yaitu:

    (1) Memenuhi sifat keindraan (sensory properties) yang meliputi rasa, penampilan, bau, dan warna;

    (2) Memenuhi nilai nutrisi (nutritional value) yang menyangkut isi nutrisi, vitamin, dan tidak terdapat hal yang tidak diinginkan seperti zat yang menimbulkan alergi;

    (3) Menenuhi kualitas kesehatan (hygienic quality) yang menyangkut kebersihan, kesegaran, tidak ada serangga, tidak menjijikkan; dan

    (4) Memenuhi aspek keamanan pangan (food safety) yang menyangkut tidak adanya mikroorganisme penyebab penyakit, tidak berisi zat toksik seperti pestisida, logam berat, mikotoksin, dan tidak ada tipuan (Frost 2001).

    GAP (Good Agricultural Practices) dapat diaplikasikan dalam rentang waktu dan daerah yang luas terhadap sistem pertanian dengan skala yang berbeda. GAP digunakan dalam sistem pertanian berkelanjutan yang mencakup PHT, pengelolaan hara terpadu, pengelolaan gulma terpadu, pengelolaan irigasi terpadu, dan pemeliharaan (conservation) lahan pertanian. Penerapan PHT diperlukan dalam sistem produksi pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, GAP harus memiliki empat prinsip utama:

    1. Penghematan dan ketepatan produksi untuk ketahanan pangan (food security), keamanan pangan (food safety), dan pangan bergizi (food quality).

    2. Berkelanjutan dan bersifat menambah (enhance) sumber daya alam.

    3. Pemeliharaan kelangsungan usaha pertanian (farming enterprise) dan mendukung kehidupan yang berkelanjutan (sustainable livelihoods).

    4. Kelayakan dengan budaya dan kebutuhan suatu masyarakat (social demands).

    Aspek yang akan disentuh oleh elemen GAP di bidang “perhamaan” adalah proteksi tanaman. Hal ini membutuhkan strategi pengelolaan risiko, yang mencakup penggunaan tanaman tahan hama dan penyakit, rotasi tanaman pangan dengan pakan ternak, ledakan penyakit pada tanaman peka, dan penggunaan bahan kimia seminimal mungkin untuk mengendalikan gulma, hama, dan penyakit dengan mengikuti konsep PHT. GAP akan menjangkau beberapa aktivitas yang berkaitan dengan pengendalian hama sebagai berikut:

    1. Penggunaan varietas tahan dalam proses pelepasan beruntun (sequencetial), asosiasi, dan kultur teknis untuk mencegah perkembangan hama dan penyakit.

    2. Pemeliharaan keseimbangan biologi antara hama dan penyakit dengan musuh alami.

    3. Adopsi praktek pengendalian menggunakan bahan organik bila memungkinkan.

    4. Penggunaan teknik pendugaan hama dan penyakit bila telah tersedia.

    5. Pengkajian semua metode yang memungkinkan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap sistem produksi dan implikasinya terhadap lingkungan guna meminimalkan pemakaian bahan kimia pertanian, khususnya dalam meningkatkan adopsi teknologi PHT.

    6. Penyimpanan dan penggunaan bahan kimia yang sesuai dan teregistrasi untuk individu tanaman serta waktu, dan interval penggunaan sebelum panen.

    7. Pengamanan penyimpanan bahan kimia dan hanya digunakan oleh personel yang sudah terlatih dan memiliki pengetahuan (knowledgeable persons).

    8. Pengamanan peralatan yang digunakan untuk mengatasi bahan kimia dengan meningkatkan keamanan dan pemeliharaan standar.

    9. Pemeliharaan catatan secara akurat terhadap insektisida yang dipakai.

    • Alternatif Kebijakan Implementasi PHT dalam Praktek Pertanian yang Baik Menuju Pertanian Berkelanjutan.

    1. Pemilihan Varietas Tahan dan Hemat Energi

    Keberlanjutan pertanian antara lain ditentukan oleh penggunaan varietas tahan hama penyakit dan hemat energi. Usaha untuk menghasilkan varietas yang hemat energi di antaranya adalah dengan mengubah tipe tanaman C3 menjadi C4, atau mengubah arsitektur tanaman menjadi lebih produktif, misalnya padi tipe baru dengan anakan sedikit dan bentuk daun yang memiliki kemampuan lebih tinggi untuk berfotosintesis sehingga dapat berproduksi lebih tinggi (Cantrell 2004).

    Dalam memilih varietas yang akan ditanam, nilai tambah produksi dan pemasaran juga perlu diperhitungkan. Hal ini penting artinya karena setiap varietas mempunyai karakter yang berbeda; ada yang cocok untuk dibuat bihun, beras kristal, nasi goreng, dan sebagainya. Dalam praktek pertanian yang baik, petani perlu dibimbing dalam memilih varietas yang tidak rakus hara, hemat air, tahan hama dan penyakit, dan berproduksi normal di mana pun ditanam. Ini penting artinya agar mereka tidak menggunakan input secara berlebihan, baik pupuk, air maupun pestisida, sebagaimana yang dikehendaki oleh kaidah praktek pertanian yang baik menuju keberlanjutan sistem produksi.

    Dalam kesempatan ini dianjurkan kepada para pemulia tanaman untuk menyusun program perakitan varietas padi yang hemat energi, tahan hama dan penyakit, dan berproduksi normal di mana pun ditanam. Paradigma baru pemuliaan tanaman ini seyogianya dapat dijabarkan ke dalam rencana strategis penelitian padi nasional. Pembentukan varietas padi tahan hama penyakit dan hemat energi sesuai dengan dinamika paradigma pembentukan varietas unggul baru dari zaman ke zaman.

    2. Teknologi Pengendalian Hama secara Hayati

    Pengendalian hayati secara inundasi adalah memasukkan musuh alami dari luar dengan sengaja ke pertanaman untuk mengendalikan hama. Inundasi yang dapat dilakukan adalah penggunaan cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae sebagai agens hayati. Efektivitas biakan B. bassiana terhadap wereng coklat mencapai 40% (Baehaki et al. 2001). Cendawan ini selain dapat mengendalikan wereng coklat, juga dapat digunakan untuk mengendalikan walang sangit (Tohidin et al. 1993), Darna catenata (Daud dan Saranga 1993), dan lembing batu (Caraycaray 2003). Formulasi cendawan M. anisopliae dapat menurunkan populasi hama sampai 90%.

    1. Pergiliran Varietas antarmusim

    Hama tanaman padi tidak akan meledak sepanjang musim dan peningkatan populasinya hanya terjadi pada musim hujan. Pada musim kemarau, populasi hama, misalnya wereng, cenderung rendah, kecuali pada musim kemarau yang banyak hujan atau di daerah cekungan. Pergiliran varietas berdasarkan gen ketahanan yang terkandung pada tanaman padi untuk menghadapi tingkat biotipe wereng coklat. Pada daerah wereng coklat biotipe 1, pertanaman padi diatur dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan Bph1, bph2 dan Bph3 pada musim hujan. Pada musim kemarau dapat ditanam varietas padi yang tidak mempunyai gen tahan.

    Pergiliran varietas pada daerah wereng coklat biotipe 2 dilakukan dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan bph2 dan Bph3 pada musim hujan. Pada musim kemarau ditanam varietas yang mempunyai gen Bph1. Pergiliran varietas pada daerah wereng coklat biotipe 3 dilakukan dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan Bph1+ dan Bph3 pada musim hujan. Pada musim kemarau ditanam varietas dengan gen tahan Bph1 dan bph2. Pengaturan pertanaman di dalam musim juga diperlukan untuk menangkal serangan wereng coklat dan penggerek batang padi, yaitu pada awal musim hujan menanam varietas tahan yang berumur pendek dan pada pertengahan musim sampai akhir musim hujan menanam varietas yang tidak tahan ataupun tahan wereng coklat dan berumur panjang.

    3. Teknologi Pengendalian Hama Padi dengan Sistem Integrasi Palawija pada Pertanaman Padi

    Para ahli agroekologi sedang mengenalkan intercropping, agroforestry, dan metode diversifikasi lainnya yang menyerupai proses ekologi alami (Alteri 2002). Hal ini penting artinya bagi keberlanjutan kompleks agroekosistem. Pengelolaan agroekologi harus berada di garis depan untuk mengoptimalkan daur ulang nutrisi dan pengembalian bahan organik, alir energi tertutup, konservasi air dan tanah, serta keseimbangan populasi hama dan musuh alami. Hama dan penyakit tanaman padi juga dapat dikendalikan berdasarkan agroekologi, antara lain dengan sistem integrasi palawija pada pertanaman padi (SIPALAPA).

    Sistem ini berupa pertanaman polikultur, yaitu menanam palawija di pematang pada saat ada tanaman padi. SIPALAPA dapat menekan perkembangan populasi hama wereng coklat dan wereng punggung putih. Hal ini disebabkan adanya predator Lycosa pseudoannulata, laba-laba lain, Paederus fuscifes, Coccinella, Ophionea nigrofasciata, dan Cyrtorhinus lividipennis yang mengendalikan wereng coklat dan wereng punggung putih. Demikian juga parasitasi telur wereng oleh parasitoid Oligosita dan Anagrus pada pertanaman SIPALAPA lebih tinggi daripada pertanaman padi monokultur. Penerapan teknologi SIPALAPA dapat meningkatkan keanekaragaman sumber daya hayati fauna dan flora (biodiversitas). Penanaman kedelai atau jagung pada pematang sawah terbukti dapat memperkaya musuh alami, mempertinggi dinamika dan dialektika musuh alami secara dua arah antara tanaman palawija dan padi. Dalam praktek pertanian yang baik, pada pasal 13.b disebutkan bahwa keberhasilan usaha tani terkait dengan upaya peningkatan keanekaragaman hayati melalui konservasi lahan (EUREP 2001). Hal ini dapat diaktualisasikan melalui aktivitas kelompok tani dengan menghindari kerusakan dan deteriorasi habitat, memperbaiki habitat, dan meningkatkan keanekaragaman hayati pada lahan usaha tani.

    4. Pengendalian berdasarkan Manipulasi Musuh Alami

    Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami dimaksudkan untuk memberikan peranan yang lebih besar kepada musuh alami, sebelum memakai insektisida. Pada prinsipnya musuh alami akan selalu berkembang mengikuti perkembangan hama. Selama musuh alami dapat menekan hama maka pengendalian dengan bahan kimia tidak diperlukan karena keseimbangan biologi sudah tercapai. Namun bila perkembangan musuh alami sudah tidak mampu mengikuti perkembangan hama, artinya keseimbangan biologi tidak tercapai, maka diperlukan taktik pengendalian yang lain, termasuk penggunaan bahan kimia. Teknologi pengendalian wereng coklat menggunakan ambang kendali berdasarkan manipulasi musuh alami dapat mengurangi pemakaian insektisida dan

    meningkatkan pendapatan (Baehaki et al. 1996). Teknologi ini diawali dengan pemantauan pada pertanaman untuk menentukan ambang ekonomi wereng terkoreksi musuh alami dengan menggunakan formula Baehaki (1996). Insektisida yang direkomendasikan dapat digunakan untuk pengendalian hama jika ambang ekonomi terkoreksi yang ditentukan telah terlampaui.

    Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami menghemat penggunaan insektisida 33-75%, meskipun pada musim hujan dengan kelimpahan hama wereng cukup tinggi. Dengan cara ini, hasil padi di tingkat petani meningkat 36% dengan peningkatan keuntungan 53,7%. Ambang ekonomi bukan harga yang tetap, tetapi berfluktuasi bergantung pada harga gabah dan pestisida. Bila harga gabah meningkat maka ambang ekonomi akan turun dan sebaliknya, tetapi bila harga insektisida naik maka amba

    5. Teknologi Pengendalian Hama berdasarkan Ambang Ekonomi

    Tidak semua hama dapat diformulasikan teknologi pengendaliannya berdasarkan musuh alami karena terbatasnya pengetahuan tentang korelasi perkembangan musuh alami dengan perkembangan suatu hama. Bagi hama yang belum ada teknologi pengendaliannya berdasarkan perkembangan Musuh alami, dapat digunakan teknologi berdasarkan ambang ekonomi tunggal atau ambang ekonomi ganda. Di lapangan, adakalanya pertanaman padi diserang oleh lebih dari satu macam hama sehingga diperlukan teknologi yang mampu mengendalikan lebih dari satu jenis hama. Untuk itu, pengendalian dapat berpatokan pada ambang ekonomi hama ganda. Formula pengendalian hama berdasarkan ambang ekonomi ganda pada fase vegetatif untuk wereng coklat-wereng punggung putih mengikuti pola 9-0-14, sedangkan pada fase reproduktif mengikuti pola 18-0-21. Ambang ekonomi ganda sundep-ulat grayak pada fase reproduktif mengikuti pola 9-0-15, sundep-hydrellia pada fase vegetatif mengikuti pola 6-0-19, dan sundep-pelipat daun pada fase vegetatif mengikuti pola 9-0-13 (Baehaki dan Baskoro 2000).

    Pengendalian dengan insektisida dilakukan setelah populasi hama atau kerusakan tanaman mencapai ambang ekonomi ganda yang telah ditentukan.

    6. Minimalisasi Residu Pestisida

    Penggunaan insektisida merupakan taktik dinamis yang dilaksanakan dalam kurun waktu pertumbuhan tanaman bila teknik budi daya dan pengendalian hayati gagal menekan populasi hama di bawah ambang ekonomi. Penentuan ambang ekonomi sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan pengendalian. Bhat (2004) menyebutkan bahwa ambang ekonomi merupakan komponen yang sangat penting dalam PHT. Pengendalian hama berdasarkan ambang ekonomi juga bertujuan untuk mengatasi penggunaan bahan kimia secara berlebihan yang berdampak terhadap tingginya residu pestisida pada produk pertanian dan pencemaran lingkungan.

    3. KESIMPULAN

    PHT merupakan pengelolaan hama secara ekologis, teknologis, dan multidisiplin dengan memanfaatkan berbagai taktik pengendalian yang kompatibel dalam satu kesatuan koordinasi sistem pengelolaan pertanian berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Implementasi PHT memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk petani, peneliti, pemerhati lingkungan, penentu kebijakan, dan bahkan politisi. Implementasi PHT dapat mendukung keberlanjutan pengembangan pedesaan dengan mengamankan suplai air dan menyediakan makanan sehat melalui praktek pertanian yang baik. PHT mengakomodasikan teknologi ramah lingkungan dengan pendekatan hayati, tanaman inang tahan, hemat energi, budi daya, dan aplikasi pestisida berdasarkan ambang ekonomi. Bahan kimia yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan pengelolaan yang diatur dengan undangundang. PHT harus mengembangkan diversitas agroekosistem yang menguntungkan dari pengaruh integrasi antartanaman sehingga terjadi interaksi dan sinergisme, serta optimalisasi fungsi dan proses ekosistem, seperti pengaturan biotik yang merusak tanaman, daur ulang nutrisi, produksi dan akumulasi biomassa. Hasil akhir dari pola agroekologi adalah meningkatnya ekonomi dan keberlanjutan agroekologi dari suatu agroekosistem. Pendekatan pertanian berkelanjutan untuk pengelolaan hama, yang meliputi kombinasi pengendalian hayati, kultur teknis, dan pemakaian bahan kimia secara bijaksana, merupakan alat dalam merintis pertanian ekonomis, pelestarian lingkungan, dan menekan risiko kesehatan. PHT, GAP, dan pertanian berkelanjutan mengarah kepada keselarasan lingkungan, secara ekonomi memungkinkan dipraktekkan, serta memperhatikan keadilan masyarakat (socially equitable).

    BUDIDAYA ANTHURIUM

    Posted: April 4, 2011 in Horticulture

    ANTHURIUM

    anthurium

    anthurium

    Nama anthurium berasal dari bahasa Yunani, yang artinya bunga ekor. Sumber genetik anthurium berasal dari Benua Amerika yang beriklim tropik, khususnya di Peru, Kolumbia, dan Amerika Latin. Pengembangan anthurium relatif berhasil di daerah yang beriklim subtropis, antara lain Belanda.

    Taksonomi tanaman anthurium

    Kingdom         : Plantae

    Divisi               : Spermatophyta

    Sub-Divisi       : Angispermae

    Kelas               : Monocotyledonae

    Ordo                : Aracales

    Famili              : Araceae

    Genus              : Anthurium

    Species            : Anthurium crystallianum Lindl & Andre, Anthurium andreanum Linden, A. ornatum Hook. f. dan lain-lain.

     

    Morfologi

    Anthurium termasuk keluarga Araceae yang mempunyai perakaran yang banyak, batang dan daun yang kokoh, serta bunga berbentuk ekor.

    AKAR
    Anthurium yang sehat mempunyai jumlah akar yang banyak, berwarna putih dan menyebar ke segala arah. Oleh sebab itu membutuhkan media yang porous.

    BATANG
    Batang Anthurium tidak nampak karena terbenam di dalam media. Setelah tanaman dewasa batang ini akan membesar menjadi bonggol.

    DAUN
    Daun Anthurium pada umumnya tebal dan kaku, bentuknya bervariasi seperti berbentuk jantung, lonjong, lancip, dan memanjang. Untuk Anthurium daun, kekompakan bentuk daun meningkatkan nilai estetikanya.

    1. 1. BUNGA
      Anthurium mempunyai bunga berumah satu artinya dalam satu bunga terkandung sel kelamin betina dan sel kelamin jantan. Bunga terdiri dari tangkai, mahkota, dan tongkol. Semua bagian bunga tersebut menjadi satu kesatuan dan berbentuk seperti ekor, sehingga Anthurium dikenal dengan si bunga ekor. Putik dan tepung sari menempel pada tongkol. Masaknya putik dan tepung sari tidak bersamaan (dichogamaous). Pada umumnya putik masak lebih awal dibanding tepung sari.
    2. BUAH DAN BIJI
      Buah berbentuk bulat dan menempel pada tongkol, buah muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah. Biji yang telah masak akan terlepas dari tongkolnya, biji inilah yang baik untuk disemai. Bibit yang dihasilkan dari biji, umumnya mempunyai sifat yang berbeda dari induknya.

     

    POTENSI DAN KENDALA ANTHURIUM BUNGA

    1. 1. POTENSI

    Potensi Anthurium sebagai komoditas florikultura bernilai ekonomis dan sosial bagi peningkatan pendapatan petani semakin besar. Hal ini melihat fungsi gandanya sebagai flora hias dan bunga potong yang makin digemari oleh masyarakat di dalam dan luar negeri.

    Tanaman ini pada tahun 2007  menjadi sebuah komoditas laku keras untuk diperjualbelikan bahkan dengan harga yang tinggi mencapai puluhan juta rupiah dan berapa harga pasar terjadi tidak ada yang dapat memprediksikan dengan tepat seperti harga pasar kebutuhan pokok dapat diprediksikan dengan pasti.

    Tanaman ini ketika itu tidak dapat diprediksikan karena antara suplay dan demand mungkin berbading terbalik artinya suplay tanaman ini memang dapat dikatakan langka sedangkan kebutuhan atau permintaan sangat tinggi khususnya untuk para kolektor adan pedagang yang punya akses kepada kolektor. Dengan embel-embel yang langka ini maka potensi pasarnya masih sangat luas dibanding dengan tanaman hias lain seperti adenium dan aglaonema. Saat ini memang sangat terkenal di Pulau Jawa dan akan meluas ketempat lain bahkan ke luar Jawa.

    Dengan potensi pasar yang besar dan kepetingan para pedagang sebagai bahan komoditi yang diperjualbelikan maka para pengusaha atau pedagang masih dapat memetik keuntungan dari jual beli tanaman anthurium ini.

     

    1. 2. KENDALA

    Kendala dalam budidaya anthurium ini adalah adanya hama dan penyakit jenis serangga yang paling sering mengganggu adalah Thrips. Dengan gejala perusakan yang nampak pada seludang bunga yang salah bentuk. Hama tersebut dapat dikendalikan dengan menggunakan Decis. Sedangkan pada bagian daun biasanya terserang oleh jamur, dan dapat dikendalikan dengan menggunakan Dithane M-45 atau Daconil.

     

    VARIETAS ANTHURIUM

    1. Anthurium scherzeranium

    Tinggi tanaman biasanya berkisar 60 cm. Warna merah cerah mengkilau, panjang seludang berkisar 7,5-10 cm. Umur 2 tahun mulai berbunga.

    2. Anthurium andreanum

    Panjang seludang dapat mencapai kurang lebih 15 cm.

    3. Anthurium bakeri

    Daunnya memanjang seperti pita berwarna hijau kekuningan. Seludangnya kecil berwarna hijau kekuningan dengan ujung tajam. Bunganya panjang berwarna merah cerah. Putiknya menempel pada tangkai sari seperti bercak-bercak warna merah cerah.

     

     

    4. Anthurium papilionensis

     

    Warna daun hijau kekuningan, bentuknya seperti jantung, seludang bunga berwarna kuning keputihan.

    5. Anthurium magnificum

    Warna daun hijau dengan tulang daun berwarna kuning keputihan. Bentuk daun seperti jantung. Seludangnya seperti pita berwarna putih yang ujungnya runcing. Bunganya panjang dengan tangkai sari dan putiknya berwarna kuning.

    6. Anthurium clarinervum

    Warna daun hijau seperti beludru . Tulang daun berwarna agak putih . Bentuk daun seperti jantung dengan tangkai bunga yang sangat panjang. Berseludang kuning, ujungnya runcing dan bunganya berwarna kuning kehijauan

     

    TEKNIK BUDIDAYA ANTHURIUM

    SYARAT TUMBUH

    1. Kebutuhan Cahaya
      Untuk mendapatkan cahaya yang sesuai, pembudidayaan yang dilakukan pada daerah dataran rendah membutuhkan bangunan dengan atap naungan paranet 60-70%. Untuk dataran sedang menggunakan naungan paranet 50%. Sedang untuk dataran tinggi cukup digunakan atap paranet 25%. Jika cahaya terlalu banyak, daun akan menguning dan kering, sebaliknya bila cahaya kurang daun nampak lemas dan pucat, serta daun dan tangkainya cenderung memanjang.
    2. Kebutuhan Suhu
      Suhu lingkungan yang optimal berkisar antara 18º-31º C. penampilan daun akan lebih mengkilap bilaman a perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu mencolok. Kondisi ini akan membantu membentuknya klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau dan mengkilap. Untuk hal itu maka bilamana suhu siang terlalu tinggi, pada lingkungan pertanaman perlu ditambah kipas angin untuk menurunkan suhu.
    3. Kebutuhan Kelembaban
      Kelembaban udara yang cocok untuk pertumbuhan si raja daun ini berkisar antara 60%-80%. Bilamana kelembaban udara terlalu kering maka perlu penyemprotan air di sekitar tanaman. Sebaliknya bila terlalu lembab perlu dipasang kipas angin.
    4. Sirkulasi Udara
      Angin semilir akan memberikan kondisi yang baik bagi tanaman, karena dengan adanya angin yang bertiup perlahan akan membuat hawa yang sejuk. Oleh karena itu peranan kipas angin yang dipasang di lingkungan pertanaman akan berperan ganda, yakni menyejukan udara, menjaga kelembaban udara dan menjaga suhu udara.

    MEDIA TUMBUH

    Tanaman anthurium membutuhkan persyaratan media tumbuh sebagai berikut :

    1. Bersifat porous atau mudah merembeskan air yang berlebihan dan menahan air secukupnya untuk tanaman

    2. Subur, gembur, dan tidak mengandung hama atau penyakit tular tanah

    3. Bersifat ringan dan dapat menjaga kelembaban medium tumbuh sepanjang waktu.

    PENYEMAIAN

    Perbanyakan melalui biji perlu dilakukan melalui tahap pembibitan dengan menyiapkan sarana persemaian berupa bak, kotak kayu atau pot dengan medium pasir steril atau campuran moss dengan pasir (1:1), atau bisa juga dengan menggunakan arang sekam. Biji anthurium disemai dengan kedalaman 1-1,5 cm dengan jarak antar biji 5 x 5 cm, 10 x 5 cm atau 10 x 10 cm.

    PERBANYAKAN TANAMAN

    Anthurium dapat diperbanyak secara generatif yaitu dengan biji maupun vegetatif, dengan tunas anakan dan stek batang. Cara perbanyakan tersebut antara lain:

    1. Biji

    Biji anthurium yang sudah masak dipetik rata-rata berumur 10-12 bulan setelah persarian. Kemudian disemai dengan media kompos yang sudah tua atau moss yang sudah dipotong-potong lembut.

    Kemudian kompos halus ditabur dan disiram dengan air hingga lembab. Ditutup dengan plastik, setelah daun pertama tumbuh, dipindahkan ke pot.

    2. Tunas dan rhizoma

    Tunas dan rhizoma dapat diperlakukan sama, yaitu disemai dalam lingkungan yang medianya banyak mengandung humus, dan lingkungan yang lembab.

    3. Stek ujung batang pokok

    Anthurium membentuk batang pokok yang memanjang, sekaligus membentuk akar udara dari ketiak daunnya. Batang pokok yang masih berakar udara berwarna hijau dan berair diambil kemudian disemai di tempat teduh.

    PENANAMAN

    Anthurium bila ditanam mulai dari biji akan mulai berbunga pada umur sekitar 3 tahun. Jarak tanam anthurium di lahan minimal 50 x 50 cm.

     

    STRATEGI PEMELIHARAAN ANTHURIUM

    Pemeliharaan dan perawatan yang harus dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan dan membersihkan daun dari debu dan kotoran yang menempel serta memotong daun yang menguning. Di smping itu kegiatan pemeliharaan yang tidak terlupakan adalah repotting.

    1. Repotting

    Repotting merupakan kegiatan penggantian pot dan sekaligus media karena ukuran tanaman dan potnya sudah tidak sesuai lagi. Langkah-langkah repotting seperti langkah-langkah yang dilakukan pada penanaman. Namun yang perlu diperhatikan dalam repotting ini adalah memotong dan membersihkan akar-akar yang busuk dan mengatur perakaran pada media dan pot yang baru. Pengaturan perakaran ini dimaksudkan agar semua bagian akar dapat kontak langsung dengan media. Jangan sampai akar tidak menempel pada media (ada rongga antara media dan akar) karena hal ini akan menyebabkan membusuknya akar dan akibatnya tanaman akan menjadi tidak sehat.

    1. Pengairan

    Pengairan dilakukan dengan alat semprot dan dikenakan keseluruh bagian tanaman dilakukan 2-3 hari sekali dengan melihat kondisi media. Media dijaga agar tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering.

    1. Pemupukan

    Pupuk yang diberikan sebaiknya pupuk majemuk (N, P dan K) yang penyediaannya lambat (slow riliaze) diberikan 2-3 bulan sekali dengan dosis sesuai anjuran dan besarnya tanaman. Di samping itu juga perlu ditambahkan pupuk daun yang diberikan setipa 1-2 minggu sekali. Untuk menjaga penampilan agar daun tampil bersih dan mengkilap maka daun yang ada perlu dibersihkan dengan lap yang lembut yang telah dibasahi dengan air. Daun-daun yang telah tua dan menguning perlu dipotong.

     

    STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI ANTHURIUM

    1. Perbanyakan dengan kultur jaringan.
    2. Penanaman biji dari anthurium dengan perlakuan yang tepat.
    3. Penyambungan antara batang bawah dengan atas agar tumbuh baik karena batang atas masih dapat tumbuh maksimal.

    PANEN DAN PASCA PANEN ANTHURIUM

    1. Pemanenan

    Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari, pukul 06.00-08.00 waktu setempat.  panen bunga juga bisa dilakukan pada sore hari.  Akan tetapi bunga yang telah dipotong sebaiknya diperlakukan secara khusus, yaitu pangkal tangkai bunga harus direndam di dalam air yang dicampur dengan suatu bahan nutrisi tanaman, misalnya gula (glukosa), agar bunga tidak cepat layu.

    1. Pengumpulan Bunga yang Telah Dipotong

    Bunga-bunga yang telah dipotong langsung dikumpulkan di dalam wadah (tempat bunga) yang sesuai dengan kebutuhan setiap jenis bunga.  Tempat bunga tersebut hendaknya disimpan pada suatu tempat yang teduh dan aman, terhindar dari percikan air atau kotoran lainnya, sehingga bunga terjaga dari kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bunga.

    1. Pengangkutan ke Tempat Sortasi

    Setelah selesai dikumpulkan, bunga diangkut ke tempat sortasi untuk disortir dan diseleksi.  Di tempat sortasi, bila waktu untuk melakukan sortir bunga masih lama, sebaiknya pangkal tangkai bunga direndam dulu di dalam bak berisi air bersih agar bunga tidak cepat layu.

    1. Sortasi dan Seleksi Kualitas

    Bunga hasil panen diletakkan di atas meja, dipisahkan menurut jenis dan warna bunga.  Bunga diperiksa/diteliti satu persatu untuk melihat kedaan bunganya, tingkat kemekaran bunga, keadaan tangkai bunga yang meliputi panjang-pendeknya, lurus-bengkoknya, besar-kecilnya, dan tegar-lemasnya (vigor), serta kebersihan daunnya.

    1. Pengikatan/Pengelompokan Bunga (Bunching)

    Pada umumnya bunga dilakukan pengikatan / pengelompokan, kecuali anthurium, anggrek, dan beberapa bunga lainnya.  Bunga dan daun-daunan yang telah diseleksi dan ditentukan kriteria grading-nya, diikat dengan menggunakan tali atau karet menurut aturan jumlahnya.

    1. Pembungkusan

    Setelah diikat menurut aturan jumlahnya, bunga harus segera dibungkus dengan kertas atau plastik pembungkus sesuai dengan jenis bunga yang akan dibungkus.  Pembungkusan ini bertujuan untuk menjaga agar bunga terhindar dari kerusakan (lecet-lecet) sehingga kualitas bunga tetap terjaga.

    1. Penyimpanan

    Penyimpanan sementara dilakukan untuk penyimpanan bunga dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1 hari) bunga bisa disimpan pada suhu ruang dengan merendam pangkal tangkainya di dalam bak berisi air bersih.  Penyimpanan untuk persediaan (stok) dilakukan untuk jangka waktu yang agak lama  bunga harus disimpan di dalam ruang penyimpanan berpendingin (cold storage) dengan temperatur sekitar 50C dan kelembaban udara yang tinggi, sekitar 90%.

    1. Pengepakan

    Untuk pengiriman ke tempat penjualan, bunga harus dikemas dalam kardus/karton atau kontainer plastik yang berukuran sesuai dengan panjang maksimal bunga, sehingga bunga bisa diatur rapi dan tetap terjaga kualitasnya.  Di Kebun Ciputri, dalam satu kardus berukuran 100 x 40 x 40 cm dapat diisi dengan 25 bungkus chrysant, dimana isi per bungkusnya 10 tangkai.  Untuk carnation dapat digunakan kardus berukuran 80 x 40 x 20 cm, yang dapat menampung 24-30 bungkus carnation, dengan isi 10 tangkai / bungkus.  Pada bidang-bidang yang berukuran 40 x 40 cm untuk kardus chrysant, dan 40 x 20 m untuk carnation diberi lubang-lubang, sebagai tempat pegangan tangan dan juga untuk ventilasi udara di dalam kardus.

     

    Ilmu Tanah

    Posted: April 4, 2011 in Soil Science

    Ilmu tanah

    Ilmu tanah adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk tanah. Tanah adalah lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) and atmosfer. Tanah adalah tempat tumbuhnya tanaman dan mendukung hewan dan manusia.

    Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan tanaman dan organisme, membentuk tubuh unik yang menyelaputi lapisan batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon. Setiap horizon dapat menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.

    Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swis yang bekerja di Amerika Serikat, dalam bukunya Factors of Soil Formation (1941) mengajukan konsep pembentukan tanah sebagai:

    S = f(cl, o, r, p, t).

    S adalah Soil (Tanah), cl = climate (iklim), o = organism, r = relief (topografi), p = parent material (bahan induk atau batuan), t = time (waktu).

    Selain mempelajari faktor dan proses pembentukan tanah, ilmuwan tanah juga mempelajari sifat-sifat dan proses-proses fisika, kimia dan biologi dalam tanah. Sehingga lahirlah disiplin-disiplin

    1. Pedologi

    2. Fisika tanah

    3. Kimia tanah

    4. Biologi tanah

    5. Konservasi tanah

    6. Mekanika tanah

    7. Pemetaan dan survey tanah

    8. Pedometrika

    [sunting] Sejarah ilmu tanah di Indonesia

    Ilmu tanah di Indonesia Pertama diajarkan di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (merupakan kelanjutan dari Lanbouw Hogeschool yang didirikan 1940) oleh staf pengajar dari Belanda Prof. Dr. Ir. F.A. van Baren (pakar agrogeologi dan mineralogi) dan Prof. Dr. H.J. Hardon (pakar ilmu tanah dan kesuburan tanah). Kemudian digantikan oleh Drs. F.F.F.E. van Rummelen dan Dr. J. van Schuylenborgh. Akibat nasionalisasi, sejak tahun 1957 digantikan oleh Drs. Manus dan Dr. Ir. Tan Kim Hong. Penelitian tanah di Indonesia mulai saat Indonesia masih dalam kekuasaan kolonial Belanda oleh Dr. E.C.Jul. Mohr (1873–1970). Dr. Mohr yang bertugas di Indonesia sebagai kepala Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek di Bogor telah menjalankan survai di Indonesia sejak tahun 1920. Beliau menerbitkan bukunya tahun 1933:

    * Mohr, E.C.J., 1933. De Bodem der Tropen in het Algemeen, en die van Nederlandsch-Indie in het Bijzonder. (Tanah-tanah di Daerah Tropis, dengan rujukan khusus di Hindia Belanda).

    Buku tersebut memaparkan iklim dan komposisi tanah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Papua, Maluku, Halmahera, Kalimantan dan Sulawesi, disempurnakan dan diedarkan kembali:

    * Mohr, E.J.C., van Baren, F.A. and van Schuylenborgh, J., 1972. Tropical soils: a comprehensive study of their genesis. 3rd edition. Mouton – Ichtiar Baru – van Hoeve, The Hague.

    Buku ini masih menjadi rujukan bagi pakar tanah di daerah tropis sampai sekarang.

    [sunting] Tokoh ilmu tanah Indonesia

    * Go Ban Hong

    * Tan Kim Hong

    * Kang Biauw Tjwan

    DEFINISI TANAH, FUNGSI DAN PROFIL TANAH

    Definisi Tanah

    1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)

    Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

    2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)

    Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.

    Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

    3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)

    Kata Edaphos = bahan tanah subur.

    Tanah adalah media tumbuh tanaman

    Perbedaan Pedologis dan Edaphologis

    1. Kajian Pedologis:

    Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan Pengetahuan Alam Murni.

    Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah, Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu Ukur Tanah.

    2. Kajian Edaphologis:

    Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman.

    Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi, Pupuk dan Pemupukan, Ekologi Tanah, dan Bioteknologi Tanah.

    Paduan antara Pedologis dan Edaphologis:

    Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan, Tata Guna Lahan, Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

    Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)

    Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

    Fungsi Tanah

    1.Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran

    2.Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)

    3.Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)

    4.Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

    Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:

    1.Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan

    2.Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.

    Profil Tanah

    Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah.

    Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O –A – E – B – C – R.

    Solum Tanah terdiri dari: O – A – E – B

    Lapisan Tanah Atas meliputi: O – A

    Lapisan Tanah Bawah : E – B

    Keterangan:

    O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa)

    A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap

    E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang

    B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial).

    C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan

    R : Bahan Induk tanah

    Kegunaan Profil Tanah

    (1) untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O – A) dan solum tanah (O – A – E – B)

    (2) Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil

    (3) Warna Tanah

    Komponen Tanah

    4 komponen penyusun tanah :

    (1) Bahan Padatan berupa bahan mineral

    (2) Bahan Padatan berupa bahan organik

    (3) Air

    (4) Udara

    Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.

     

    Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

    Hama

    Semua spesies pun tidak luput dari ancaman serangan hama. Serangga, ulat, ngengat, kutu, dan siput merupakan beberapa contoh hama yang sering mengganggu tanaman. Hama-hama tersebut umumnya menyerang atau memakan bagian tanaman seperti daun atau bunga. Selain memakan bagian tanaman, sering kali hama-hama tersebut meletakkan larva atau telurnya di bagian tanaman tersebut.

    Serangan hama dapat mengakibatkan kerusakan yang cukup merugikan. Untuk itulah diperlukan upaya pengendalian dan control terhadap tanaman sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan yang lebih parah. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu mekanis, pengaturan sanitasi lingkungan atau ekologi, dan kimiawi.

    Pengendallian hama secara mekanis dilakukan dengan cara menangkap langsung hama yang terdapat pada tanaman. Keong atau ulat dapat ditangkap pada malam atau siang hari saat mereka menempel pada tanaman. Pengendalian mekanis dilakukan bila populasi hama sedikit. Bila populasinya banyak, sebaiknya digunakan cara lain karena tidak efesien dalam hal waktu maupun tenaga kerja.

    Pengendalian lainnya adalah dengan pengaturan sanitasi lingkungan. Sanitasi yang baik dan terjaga mengurangi kemungkinan hama menyerang tanaman. Sebagai contoh, siput kecil biasanya berdiam di sampah atau rumput-rumput yang lembap. Bila lingkungan tanaman terhindari dari adanya sampah atau kotoran lainnya maka kesempatan siput untuk tinggal di lingkungan tersebut menjadi berkurang. Dengan demikian, tanaman akan aman dari serangan hama.

    Pengendalian secara kimiawi pun dapat dijadikan pilihan bila cara lain tidak mungkin dilakukan atau tidak dapat mengatasi hama. Artinya, bisa sudah dilakukan cara mekanis atau sanitasi lingkungan tetap saja hama menyerang tanaman maka cara kimia pun digunakan. Di pasaran sudah banyak dijual berbagai merek dan jenis pestisida untuk mengatasi hama anggrek. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan pestisida adalah dosis dan cara pemakaiannya. Bila dosis dan cara pemakainan salah, akan terjadi kerusakan pada tanaman maupun gangguan kesehatan manusia. Penggunaan pestisida relatif lebih praktis dan cepat cara kerjanya. Namun demikian, biaya yang diperlukan lebih besar dibandingkan cara mekanis maupun sanitasi lingkungan.

    Penyakit

    Bakteri dan jamur sering menyerang daun, batang, akar, maupun bunga anggrek Phalaenopsis spesies. Penyakit ini masuk ke dalam jaringan tanaman melalui stomata atau luka pada tanaman. Adanya jamur pada tanaman tampak saat sporanya tumbuh. Sementara adanya bakteri sangat sulit dikenali, kecuali setelah ada tanda-tanda terjadinya serangan.

    Gejala awal serangan jamur dan bakteri sering dianggap sama karena memiliki cirri serangan yang hampir mirip. Secara umum cirri-ciri serangan bakteri dan jamur antara lain pada dain terdapat bercak-bercak kecil, melepuh seperti tersiram air panas, berair baik keruh maupun bening, dan berbau amis. Walaupun gejala serangan sama, keduanya masih dapat dibedakan. Bakteri mengeluarkan cairan keruh dan berbau amis, sedangkan jamur mengelaurkan cairan bening dan tidak berbau. Selain itu, penyebaran serangan bakteri pun lebih cepat dibandingkan dengan serangan jamur.

    Serangan bakteri atau jamur umumnya terjadi bila kondisi lingkungan tanaman tidak sesuai, yaitu sirkulasi udara di dalam rumah kaca kurang baik serta kelembapan udara dan suhu tinggi.

    Untuk mencegah terjadinya serangan penyakit, sebaiknya kondisikan lingkungan atau ekologinya.

    Kondisi lingkungan yang baik bagi anggrek Phalaenopsis spesies relatif hampir sama dengan jenis anggrek tropis lainnya. Dalam hal ini kondisi lingkungan yang sangat berperan adalah :

    1. suhu siang antara 28-30 C,
    2. intensitas cahaya 20-35%,
    3. kelembapan udara sekitar 60-75%,
    4. udara bergerak, serta
    5. sumber air dengan derajat keasaman (Ph) 6-7

    banyak cara dalam upaya mengondisikan ekologi tersebut. Di siang hari saat teriknya matahari dapat menyebabkan suhu udara menjadi tinggi dan kelembapan udara menjadi rendah. Secara sederhana, suhu udara yang tinggi tersebut dapat diturunkan dankelembapan yang rendah dapat dinaikkan dengan cara penyiraman lantai atau pengabutan, yaitu penyemprotan butiran air lembut di sekitar rumah tanaman. Upaya tersebut dapat juga dilakukan dengan penggunaan alat pengendali yang disebut cooling pet (tirai air) yang diletakkan pada salah satu sisi rumah tanaman, beserta alat lain sebagai pelengkap, yaitu blower (pengembus) yang diletakkan di belakang tirai air, exhausefan (penyedot) udara dari dalam ke luar yang bekerja secara mekanik, dan pengatur waktu (timer).

    Intensitas cahaya diatur dan disesuaikan denga krei yang terbuat dari bambu atau paranet. Paranet merupakan lembaran plastik hitam rajutan berkerapatan tertentu yang disesuaikan dengan umur dan jenis pohon. Paranet ini dipasang di bawah atap plastik.

    Dengan upaya-upaya pengendalian kondisi lingkungan tersebut tentu saja menyebabkan kepesatan tumbuh dankeberhasilan pemeliharaan sesuai yang diharapkan. Singkatnya, sukses suatu usaha budi daya anggrek pada umumnya sangat bergantung pada pengondisian faktor lingkungan tersebut. Sebut saja factor tersebut merupakan factor primer, sedangkan pemberian pupuk dan pestisida merupakan faktor sekunder.

    Sering kira mendengar atau membaca suatu anjuran atau saran, “pilih jenis anggrek yang sesuai dengan ketinggian tempat “. Agaknya anjuran atau saran tersebut harus ditinggalkan karena dengan perhitungan yang cermat (analisis usaha) dan terutama penguasaan teknologi budi daya yang tepat maka saat ini anggrek apa saja dapat ditanam di mana saja dan kapan saja.

    Bila tanaman sudah terserang upaya yang harus dilakukan adalah pengendalian sesegera mungkin. Bila upaya pengendalian tersebut terlambat, dapat timbul kerugian yang lebih besar. Upaya pengendalian penyakit yang umum dilakukan adalah dengan penyemprotan fungsida atau bakterisida. Segera pisahkan tanaman yang terserang dengan mengisolasikannya dari tanaman sehat.

     

    Masalah hama terjadi karena adanya sistem yang tidak seimbang.

     

    Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan hama, yakni:

    •  Kebakaran, banjir dan pembukaan lahan baru

    •  Penggunaan areal tanah yang luas hanya untuk satu jenis tanaman (monokultur)

    •  Masuknya hama dari suatu daerah ke daerah lain

    •  Punahnya predator-predator hama dan pindahnya habitat predator hama karena penggunaan pestisida

     

    Solusi   pengendalian    hama   jangka    panjang    dibutuhkan    untuk    mengembalikan

    keseimbangan alam di lahan pertanian, perkebunan dan lingkungan alami. Ini tentu saja memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga PHT juga meliputi solusi pengendalian hama jangka pendek, termasuk penggunaan pestisida alami.

     

    PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama, untuk:

    •  Mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama

    •  Mengurangi jumlah permasalahan hama jika sudah terjadi

    •  Menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan yang sudah terjadi

     

    Setiap bagian dalam lingkungan berkaitan erat dengan setiap bagian lainnya, termasuk

    manusia.  Apa  yang  terjadi  pada  satu  bagian  dari  sistem  atau  lingkungan  AKAN mempengaruhi bagian-bagian lainnya dari sistem atau lingkungan tersebut. Ini adalah filosofi  yang  penting  dalam  PHT  dan  masa  depan  yang  berkelanjutan.  Jadi,  untuk berhasilnya PHT kita haruslah memahami bagaimana setiap bagian dalam sistem bekerja dan bagaimana mereka saling bekerjasama. (Misalnya, tanah, serangga, tanaman dan pepohonan, burung, binatang, air, manusia, teknologi).

     

    Sistem PHT akan membantu untuk:

    •  Mengurangi penggunaan sumber daya dan produk yang mahal, karena lahan akan

    “merawat” dirinya sendiri secara terus-menerus, serta sumber daya yang dibutuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya lokal

    •  Memperbaiki kualitas tanah, tumbuhan dan lingkungan

    •  Meningkatkan produksi dari tanah secara keseluruhan

    •  Meningkatkan  keanekaragaman  dan  daya  tahan  terhadap  hama,  penyakit  dan cuaca ekstrim

    •  Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitarnya

    Pengendalian Hama Terpadu dapat diterapkan di kebun rumah skala kecil, kebun untuk

    pasar, hingga lahan pertanian skala besar seperti padi, tanaman buah-buahan dan juga untuk keseluruhan sistem.

    Untuk menjadi sehat dan kuat, tanaman membutuhkan kondisi yang baik untuk tumbuh, yang meliputi:

    •  Tanah yang subur

    •  Air yang cukup

    •  Sinar matahari yang cukup

    Jenis tanaman  yang  satu  dengan yang lainnya  membutuhkan kondisi yang berbeda-

    beda.  Beberapa jenis tanaman menyukai tanah yang sangat kering, beberapa menyukai tanah yang lembab, beberapa menyukai tempat yang teduh, beberapa menyukai sinar matahari yang berlebihan dll. Ada berbagai macam ‘musim mikro’ dalam setiap lahan, jika tanaman cocok dengan kondisi yang dibutuhkan, mereka akan tumbuh dengan baik dan memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit.

    Sebagai contoh:

    •  Tanah basah – Kangkung

    •  Hutan teduh – Vanili

    •  Tanah kering berpasir – Kaktus

     

    PHT  memiliki  banyak  aspek,  yang  bermanfaat  untuk  mencegah  permasalahan  hama

    secara alami:

    •  Tanah yang sehat dan hidup – Memperkuat daya tahan tanaman

    •  Predator hama alami – Mengontrol jumlah hama

    •  Lingkungan yang sehat – Menjaga keseimbangan hama dan mendorong pertumbuhan predator hama

    •  Penyerbukan terbuka, benih non-hibrida – Memperkuat daya tahan terhadap hama

    •  Pengelolaan tanaman yang baik, meliputi:

    •  Rotasi tanaman – Mengisi unsur hara dalam tanah

    •  Pola-pola alami untuk berbagai macam bentuk kebun – Mencegah serangan hama

    •  Tanaman campuran, bukan monokultur – Mengurangi jumlah perkembangan hama

    •  Tanaman penghambat hama – Memperlambat serangan berbagai macam hama

    •  Penanaman berpasangan – Tanaman akan saling membantu satu sama lain

    •  Membuat & menggunakan umpan serta perangkap – Menjaga rendahnya jumlah hama

    •  Menggunakan binatang untuk mengontrol hama – Metode yang efektif dan efisien

    untuk mengontrol hama

    •  Membuat & menggunakan pestisida alami – Mendukung lingkungan yang lebih sehat

    •  Kontrol biologis – Mekanisme pengontrolan hama alami dalam skala yang lebih luas

     

     

     

     

    KLASIFIKASI HAMA PASCA PANEN

    SERANGGA DALAM PENYIMPANAN BIJI-BIJIAN DAN PRODUK OLAHAN

    Serangga yang menginfestasi biji-bijian maupun produk olahan yang disimpan dapat diklasifikasikan menurut arti penting/statusnya secara ekonomi dalam menimbulkan kerusakan.

    ·          Hama penting adalah spesies yang seringkali menimbulkan kerusakan besar pada bahan simpan dan biasanya teradaptasi untuk berkembang dalam lingkungan penyimpanan.

    ·          Hama minor meliputi sejumlah besar spesies yang berpotensi menimbulkan kerusakan dan kadang-kadang mendekati status hama penting.  Umumnya berkembang dalam bahan simpan yang berkualitas buruk yang memiliki kelembaban marginal (relatif tinggi) atau telah kadaluwarsa.

    ·          Hama insidental sebenarnya hanya secara kebetulan saja ditemukan di penyimpanan (belalang, lalat, dsb) dan umumnya tidak menimbulkan kerusakan kuantitatif, namun keberadaannya dianggap sebagai kontaminan yang menurunkan kualitas bahan simpan.

    ·          Serangga menguntungkan, misalnya parasitoid dan predator serangga biasa ditemukan pada bahan simpan yang terserang hama pascapanen.  Serangga ini dikembangkan sebagai alternatif pengendalian hama di penyimpanan.  Walaupun demikian, beberapa spesies hama bisa menjadi predator fakultatif bahkan kanibal karena kelangkaan makanan.

    Klasifikasi lain yang umum dilakukan berdasarkan perilaku makan dan siklus perkembangan hama.  Spesies yang sebagian besar siklus hidupnya berada di dalam biji yang menjadi sumber makanannya digolongkan sebagai infestor internal. Sebaliknya spesies yang mengkonsumsi bahan simpan dari permukaan luar dikategorikan sebagai infestor eksternal.

    Klasifikasi ini paralel dengan pengertian hama primer (primary colonizer) dan hama sekunder (secondary colonizer).  Infestor internal disebut juga hama primer karena membutuhkan biji-bijian yang masih utuh untuk makanan dan perkembangannya.  Infestor eksternal identik dengan hama sekunder karena sering ditemukan pada biji-bijian yang telah pecah karena perlakuan mekanis maupun serangan hama primer.  Hama sekunder juga sering menyerang produk olahan seperti tepung, mie kering, keju, dsb.  Spesies ini tidak mempunyai kemampuan menembus pelindung alamiah biji simpan seperti halnya hama primer, namun pada produk olahan bisa terbentuk semacam liang gerekan.

    Infestor internal/hama primer sering kali menjadi hama penting pascapanen karena tingginya tingkat kerusakan, apalagi bila embrio biji juga dikonsumsi.  Sifat infestasinya yang tersembunyi (hidden infestation) juga menyebabkan hama ini sulit dideteksi dan dibersihkan saat pemprosesan bahan simpan.  Infestor internal terdiri dari:

    ·          Kumbang moncong (famili curculionidae).  Yang umum ditemukan adalah tiga spesies yaitu Sitophilus zeamais, S. oryzae dan S. granarius.

    ·          Kumbang benih (famili bruchidae), yang terpenting sebagai hama pascapanen adalah genus Callosobruchus, Zabrotes, dan Caryedon.  Genus Bruchus, Bruchidius dan Specularius adalah kelompok hama di pertanaman dan tidak bertahan lama dalam lingkungan penyimpanan.

    ·          Kumbang penggerek (famili bostrichidae).  Rhyzopertha dominica yang menjadi hama penting khususnya pada biji-bijian yang kecil seperti gandum dan beras.  Dua spesies lainnya biasa ditemukan pada komoditi yang tidak sempurna pengeringannya yaitu Prostephanus truncatus yang menyerang jagung yang masih bertongkol serta Dinoderus spp. (penggerek bambu).  Famili scolytidae juga merupakan kumbang penggerek, namun sangat jarang bisa berkembang biak pada biji simpan, contohnya  Hypothenemus hampei.

    ·          Ngengat penggerek (famili gelechiidae), yaitu Sitotroga cerealella yang biasanya kalah bersaing dengan kelompok kumbang di atas bila ditemukan bersama-sama.

    Eksternal infestor/hama sekunder dalam keadaan tertentu dapat hidup pada biji-bijian utuh namun tetap saja menyerang dari permukaan luar dan tampaknya menyukai bagian embrio/lembaga.  Kelompok hama ini terdiri dari berbagai famili dari ordo coleoptera, lepidoptera, psocoptera dan tungau.

    Meningkatkan Predator Hama Alami

     

    Cara alami untuk mengontrol hama yang telah berlangsung selama berabad-abad adalah hubungan  yang  saling  mempengaruhi  dalam  ekosistem.  Hal  ini  meliputi  tersedianya jumlah predator hama untuk mengendalikan hama itu sendiri.

    Karena kualitas lingkungan dan hubungan yang saling menguntungkan dalam ekosistem telah tercemar oleh pengelolaan yang salah dan polusi (termasuk polusi akibat agrikultur yang tidak berkelanjutan), mengakibatkan punahnya predator hama, yang merupakan salah satu sebab dari meningkatnya permasalahan hama. Ketika  mempresentasikan  ide-ide  berikut,  pelatih  dapat  mendorong  diskusi  dengan bertanya  kepada  peserta  tentang  apa  yang  mereka  pikirkan  untuk  menarik  predator hama ke dalam sebuah kebun. Anda dapat merasakan manfaat yang besar dalam usaha mengontrol hama di daerah Anda, dengan menarik predator hama alami ke dalam kebun, pertanian atau kebun buah-buahan. Anda dapat melakukannya dengan:

    •  Penanaman berpasangan, bermacam bunga dan tanaman herbal di antara tanaman sayuran dan pohon buah-buahan – Menarik burung pemangsa serangga, laba-laba, tawon, kumbang kepik dan belalang sembah

    •  Membangun habitat bagi predator hama dengan batang kayu kering, bambu tua atau tumpukan batu – Kadal pemangsa serangga, laba-laba pemangsa kumbang dan katak akan hidup disitu

    •  Membangun kolam kecil – Menarik banyak predator yang menguntungkan

    •  Menanam pepohonan di dekat kebun, pertanian atau kebun buah-buahan – Menarik serangga, burung pemangsa dan kelelawar

     

    Membutuhkan waktu beberapa tahun untuk membentuk populasi predator hama alami

    yang  baik.  Cara  lain  mengontrol  hama,  seperti  pestisida  alami,  mungkin  dibutuhkan untuk digunakan sewaktu-waktu. Walau bagaimanapun, pestisida kimia dan bahkan beberapa jenis pestisida alami dapat membunuh predator hama dan populasi serangga yang menguntungkan. Pergunakanlah secara hati-hati, hanya jika dibutuhkan, dan hanya jika sudah mencoba semua metode yang lain.

    Pemanfaatan Senyawa Kimia Alami Sebagai Alternatif Pengendalian Hama Tanaman

    Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama tanaman saat ini banyak menimbulkan dampak negatif. Masalah pencemaran lingkungan merupakan akibat yang jelas terlihat, selain itu penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat menyebabkan resistensi hama dan bahkan meninggalkan residu pestisida pada produk hasil pertanian yang bisa berbahaya apabila dikonsumsi manusia. Oleh karena itu diperlukan upaya pengendalian hama secara ramah lingkungan, seperti penggunan pestisida nabati atau biopestisida.

    Selain dengan pestisida nabati ada salah satu cara pengendalian hama tanaman secara ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan dan serangga (hama). Serangga menggunakan senyawa kimia untuk berkomunikasi dengan serangga lain, demikian juga dengan tumbuhan memiliki senyawa kimia yang dikeluarkan untuk menarik serangga penyerbuk (attractant), ataupun untuk mempertahankan diri (protectant). Dengan memanipulasi senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh serangga ataupun tanaman diharapkan akan dapat menurunkan populasi hama dengan cara menghambat kehadiran hama tersebut dalam suatu areal pertanaman budidaya.

    Sebelum dijelaskan tentang cara memanipulasi senyawa kimia yang disekresikan oleh serangga dan tumbuhan untuk pengendalian hama, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai jenis-jenis senyawa kimia tersebut. Senyawa-senyawa kimia yang digunakan oleh serangga untuk berkomunikasi dengan serangga lain ataupun dengan tumbuhan diantaranya adalah:

    1.  Feromon, merupakan bahan yang disekresikan oleh organisme, dan berguna untuk berkomunikasi secara kimia dengan sesamanya dalam spesies yang sama. Berdasarkan fungsinya ada dua kelompok feromon yaitu:

    a. Feromon “releaser”, yang memberikan pengaruh langsung terhadap sistem syaraf pusat individu penerima untuk menghasilkan respon tingkah laku dengan segera. Feromon ini terdiri atas tiga jenis, yaitu feromon seks, feromon jejak, dan feromon alarm.

    b. Feromon primer, yang berpengaruh terhadap system syaraf endokrin dan reproduksi individu penerima sehingga menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis.

    2.  Allomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon pada individu spesies lain. Organisme pelepas memperoleh keuntungan, sedang penerimanya dirugikan. Bagi tumbuhan, allomon ini dapat dipakai sebagai sifat pertahanan dari serangan serangga herbivora. Allomon dapat juga dilepaskan oleh serangga untuk menolak predator.

    3.  Kairomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon fisiologis dan perilaku pada individu spesies lain. Senyawa kimia tersebut menimbulkan keuntungan adaptif bagi serangga, individu penerima. Sebagai contoh adalah kairomon yang dihasilkan tanaman jagung, yaitu tricosan, yang dapat menarik Trichogramma evanescens agar dapat menemukan inangnya, yaitu telur Helicoverpa zea.

    4.  Apneumon, adalah senyawa kimia yang menjadi penghubung antara serangga dengan benda mati. Serangga tersebut terus berkembang biak dengan suburnya dan menjadi makanan beberapa spesies predator.

    5. Sinomon, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme yang dapat menimbulkan respon fisiologis atau perilaku yang memberikan keuntungan adaptif pada kedua belah pihak.

    Teknik pemanfaatan senyawa-senyawa kimia tersebut sebagai salah satu alternatif pengendalian hama tanaman adalah sebagai berikut.

    A. Pemanfaatan senyawa feromon sintesis (feromoid)

    Senyawa feromon seks beberapa spesies serangga telah diidentifikasi, dan telah pula dibuat sintesisnya antara lain Spodoptera litura. Serangga hama yang lain adalah Helicoverpa armigera dengan bentuk senyawa (z,z)-13, 15-oktadekadiena-1-ol asetat dan (z,z)-11, 13-oktadekadiena-1-ol asetat. Senyawa kimia feromon seks Lasioderma serricorne (F.) telah pula diidentifikasi dan dikarakterisasi dengan bentuk senyawa 4,6-dimetil-7-hidroksinonan-3-one. Pemanfaatan feromoid (feromon sintesis) selain untuk memantau populasi juga dapat untuk mengacaukan perkawinan (mating disruption). Dengan kacaunya perkawinan maka tidak banyak telur yang bisa menetas sehingga populasi tertekan. Teknologi ini telah digunakan untuk mengendalikan Plutella xylostella pada kubis, Pectinophora gossypiella (Saund.) pada kapas, serta Grapholita funebrana (F.) dan G. prumifora (F.) pada apel.

    B. Pola tanam tumpangsari dan tanaman perangkap

    Sistem tumpangsari sering menyebabkan penurunan kepadatan populasi hama dibanding system monokultur, hal ini disebabkan karena peran senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dilepas dan gangguan visual oleh tanaman bukan inang akan mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang. Sebagai contoh, tanaman bawang putih yang ditanam diantara tanaman kubis dapat menurunkan populasi Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis tersebut. Hal ini karena senyawa yang dilepas oleh bawang putih tidak sama dengan senyawa yang dilepas tanaman kubis sehingga P. xylostella kurang menyukai habitat tanaman tumpangsari tersebut. Tanaman bawang putih melepas senyawa alil sulfida yang diduga dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri yang dilepas kubis atau bahkan dapat mengusir hama tersebut.

    Penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama juga mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. Mekanisme yang terjadi adalah adanya daya tarik yang lebih kuat dari tanaman perangkap dibanding tanaman utama sehingga hama lebih menyukai berada pada tanaman perangkap tersebut. Salah satu tanaman yang mampu menarik serangga hama dan musuh alaminya adalah jagung. Tanaman jagung sebagai perangkap telah berhasil diterapkan untuk mengendalikan Helicoverpa armigera pada kapas.

    C. Pemasangan Senyawa / Minyak Atsiri

    Prinsip dasar teknik ini sama dengan pola tanam tumpangsari. Perbedaannya, pada teknik ini tidak perlu menanam tanaman sela di antara tanaman utama, melainkan hanya memasang senyawa atsiri, baik sintetis maupun hasil ekstraksi alami (minyak atsiri), di tempat-tempat tertentu pada areal tanaman budidaya. Sampai saat ini senyawa atsiri yang paling banyak digunakan adalah metil eugenol sebagai perangkap hama lalat buah jantan. Senyawa 1,8-cineole yang merupakan senyawa penarik bagi hama pisang, yaitu kumbang Cosmopolites sordidus. Selain untuk mengendalikan hama yang menyerang pertanaman, senyawa atsiri juga telah diuji untuk mengendalikan hama gudang. Senyawa phenol thymol dan carvacrol yang berasal dari tanaman Thymus serpyllum serta terpinen-4-ol yang berasal dari Origanum majorama dapat digunakan sebagai fumigan uintuk hama kumbang kedelai Acanthoscelides obtectus. Eugenol yang berasal dari bunga cengkeh efektif terhadap hama Tribolium castaneum, Sitophilus zeamais, dan Prostephanus truncatus. Dengan demikian senyawa-senyawa atsiri ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk menggantikan bahan fumigasi kimia yang telah diaplikasikan selama ini di gudang-gudang penyimpanan. Penelitian dalam skala komersial perlu dilakukan untuk membuktikan efektifitas teknologi ini.

    D. Pemanfaatan sampah/ bahan organik

    Teknik ini memanfaatkan senyawa apneumon sebagai senyawa kimia penghubung antara serangga dengan benda mati. Sampah sebagai sarang musuh alami, khususnya predator, tampaknya belum terpikirkan untuk sarana pengendalian hama. Sampah (bekas gulma yang disiang) merupakan media hidup yang baik bagi musuh alami. Sampah yang lapuk tersebut sebenarnya merupakan media hidup mikroorganisme yang menjadi makanan predator. Akibatnya populasi hama tanaman dapat ditekan dengan meningkatnya predator tersebut. Contoh yang lain adalah kumbang kelapa Oryctes rhinoceros L. yang meletakkan telurnya pada kotoran sapi yang sudah lapuk atau tumpukan batang kelapa yang lapuk. Dengan demikian akan terjadi akumulasi larva pada satu tempat, khususnya apabila disediakan perangkap, sehingga pengendalian mekanis mudah, murah dan cepat dilakukan.

    Dengan menerapkan teknik-teknik tersebut pada lahan pertanian diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang kita tahu banyak minimbulkan dampak negatif. Selain itu juga menghemat biaya untuk pengendalian hama tanaman.

    Dampak Negatif dari Penggunaan Pestisida Kimia

    Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:

    1. Hama menjadi kebal (resisten)
    2. Peledakan hama baru (resurjensi)
    3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
    4. Terbunuhnya musuh alami
    5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
    6. Kecelakaan bagi pengguna

    Keunggulan dan Kekurangan Pestisida Nabati

    Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Kira-kira ini kelebihan dan kekurangan pestisida nabati.

    Kelebihan:

    1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari
    2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian
    3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan
    4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif
    5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia
    6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman
    7. Murah dan mudah dibuat oleh petani

    Kelemahannya:

    1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
    2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga)
    3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku
    4. Kurang praktis
    5. Tidak tahan disimpan

    Fungsi dari Pestisida Nabati

    Pestisida Nabati memiliki beberapa fungsi, antara lain:

    1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
    2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
    3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
    4. Menghambat reproduksi serangga betina
    5. Racun syaraf
    6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
    7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
    8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

    Bahan dan Cara Umum Pengolahan

    • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
    • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
    • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)

    Semprotan Pestisida & Fungisida Alami

     

    Ada berbagai macam jenis pestisida & fungisida alami yang bisa dibuat dan digunakan. Terbuat  dari  bahan-bahan  tradisional  yang  sudah  dikenal  atau  resep  baru  dengan

    menggunakan bahan-bahan yang tersedia di daerah sekitar.

     

    Prinsip menggunakan pestisida dan fungisida alami merupakan bagian dari PHT.

     

    •  Semprotan pengendalian hama alami merupakan bagian dari sistem pengendalian

    hama dan hanya dipergunakan bila diperlukan

     

    •  Jangan menggunakan pestisida dan fungisida alami bila tidak ditemukan hama dan

    tanaman yang rusak

     

    •  Kerusakan  dalam  jumlah  yang  kecil  tidak  masalah  –  Luangkan  waktu  untuk mengamati  jika  ada  predator  yang  memakan  hama-hama  dan  apakah  hama menyebar dengan cepat atau lambat

     

    •  Beberapa pestisida alami sangatlah kuat dan akan membunuh semua serangga, baik yang  merugikan  maupun  yang  bermanfaat.  Berhati-hatilah  karena  sebagian  besar seranggga tidak merugikan tanaman Anda dan bahkan bisa menjadi predator hama yang baik. Membunuh mereka justru akan menciptakan masalah di kemudian hari

     

     

    Bagaimana menggunakan pestisida dan fungisida alami

     

    Jenis-jenis alat penyemprotan:

    •  Sapu lidi

    •  Semprotan tangan dari plastik

    •  Sebuah botol air dengan lubang-lubang kecil pada tutupnya

    •  Semprotan bambu buatan sendiri dapat pula digunakan

    •  Bacalah bagian “Alat Penyemprot Sederhana” pada Buku PK MOD 9

    •  Kantong penyemprot

     

     

    Hal-hal yang penting diperhatikan ketika menggunakan pestisida & fungisida alami

    •  Semprotan dari bambu, kantong penyemprot dan semprotan tangan dari plastik

    HARUS dibersihkan dengan air setelah digunakan

     

    •  Beberapa  pestisida  alami  dapat  menyebabkan  masalah  pada  kulit  dan  dapat membuat  Anda  sakit  jika  terlalu  banyak  mengenai  kulit  atau  masuk  ke  mulut, hidung atau mata Anda

     

    •  Selalu kenakan baju dan celana panjang, sarung tangan, sepatu dan kain penutup hidung dan mulut, khusus untuk pestisida alami yang kuat kenakanlah kacamata

     

    Ide-ide bagi penggunaan semua insektisida dan fungisida alami

    •  SANGAT PENTING – Hentikan penggunaan setidaknya 2 minggu sebelum panen

    –  Hal  ini  akan  menghindari  kontaminasi  pestisida  atau  fungisida  pada  makanan yang dapat menyebabkan manusia sakit

     

    •  Gilirlah jenis penyemprotan untuk menghindari serangga menjadi kebal pada salah satu jenis insektisida dan fungisida

     

    •  Beberapa insektisida dan fungisida akan bekerja lebih baik dibanding yang lainnya, terdapat  beberapa  faktor  yang  mempengaruhi  hasil.  Lakukan  percobaan  dan pelajarilah hasilnya

     

    •  Hanya lakukan penyemprotan pada pagi-pagi sekali atau sore menjelang malam untuk mencegah terbakarnya tanaman dari panas matahari

     

    •  Pada musim hujan usahakan untuk menyemprot setidaknya 3 jam sebelum hujan turun sehingga semprotan memiliki waktu yang cukup untuk bekerja maksimal

     

    Beberapa jenis semprotan pestisida alami

    •  Semprotan tradisional                    •    Semprotan serangga (semprotan biologis)

     

    •  Semprotan nimba                          •    Semprotan lombok / bawang putih

     

    •  Semprotan pepaya                        •    Semprotan jus jahe

     

    •  Semprotan daun talas                    •    Semprotan daun tomat

     

    •  Semprotan lem                              •    Semprotan sabun

     

    •  Semprotan daun tembakau

     

    Beberapa jenis fungisida alami

    •  Semprotan nimba                          •    Teh Rumput Laut

     

    •  Urin yang diencerkan                     •    Susu bubuk

     

    •  Ubi jalar                                          •    Bawang putih

     

    •  Pepaya

    Pengendalian Hama Berbasis Biologi

    1. Pengendalian hayati adalah penggunaan musuh alami (pemangsa, parasitoid, dan patogen) untuk mengendalikan populasi hama.

    2. Pengendalian hama dengan taktik atau teknologi berbasis biologi mencakup lima tipe, yaitu:

    a. pengendalian hayati,

    b. pestisida mikroba,

    c. senyawa-senyawa kimia yang memodifikasi perilaku hama,

    d. manipulasi genetika populasi hama, dan

    e. imunisasi tanaman.

    3. Pendekatan yang digunakan di dalam pengendalian hayati adalah:

    a. pengendalian hayati klasik,

    b. pengendalian hayati augmentasi, dan

    c. konservasi musuh alami.

    4. Pengendalian alami adalah pengendalian populasi makhluk hidup di alam karena tekanan faktor lingkungan biotik dan abiotik. Di dalam pengendalian alami tidak ada peran aktif manusia.

    5. Musuh alami di dalam pengendalian hayati terdiri atas pemangsa, parasitoid, dan patogen. Pemangsa adalah serangga atau hewan pemakan serangga yang selama masa hidupnya banyak memakan mangsa. Parasitoid adalah serangga yang meletakkan telurnya pada permukaan atau di dalam tubuh serangga lain yang menjadi inang atau mangsanya. Ketika telur parasitoid menetas, larva parasitoid akan memakan inang dan membunuhnya. Patogen adalah makhluk hidup yang menjangkitkan penyakit pada inang atau menjadi pesaing untuk mikroba patogen yang menyerang tanaman.

    6. Catatan sejarah pengendalian hayati diawali di Cina sebelum tahun 900. Para petani Cina telah memanfaatkan semut Oecophylla smaradigna untuk mengendalikan hama ulat dan kumbang yang menyerang tanaman jeruk.

    7. Dr. Erasmus Darwin adalah orang yang pertama kali mengusulkan kemungkinan penggunaan serangga parasitoid untuk mengendalikan hama.

    8. Keberhasilan kumbang Rodolia cardinalis mengendalikan Icerya purchasi dan ngengat Cactoblastis cactorum mengendalikan kaktus Opuntia telah menjadi legenda di dalam pengendalian hayati klasik hama serangga dan gulma.

    Potensi dan Masa Depan Pengendalian Hayati Dalam Pengelolaan Hama

    1. Masa depan pengendalian hayati akan dipengaruhi oleh adanya ancaman hama asing akibat perdagangan antarnegara, ancaman terhadap keanekaragaman hayati akibat masuknya hama dan musuh alami dari luar, serta perkembangan industri agen-agen pengendali hayati komersial dan biopestisida.

    2. Ada persepsi baru yang menganggap bahwa taktik pengendalian hama berbasis biologi, termasuk pengendalian hayati, juga mengandung berbagai risiko. Masyarakat konservasi sangat menyoroti masuknya jenis makhluk hidup yang berbahaya ke suatu negara, karena akan mengganggu ekosistem alami. Namun hal tersebut terjadi pada awal sejarah pengendalian hayati sebelum adanya proses pengaturan dan ketika perhatian orang masih sedikit terhadap nasib organisme asli.

    3. Insektisida mikroba dapat menimbulkan risiko lingkungan, termasuk pengaruhnya terhadap organisme bukan target dan pemangsanya. Bacillus thuringiensis dapat mengakibatkan pengurangan jumlah larva ngengat dan kupu-kupu bukan target untuk sementara waktu. Risiko lain adalah kemungkinan munculnya ketahanan hama terhadap insektisida mikroba, misalnya yang terjadi akibat penggunaan Bacillus thuringiensis.

    4.  Banyak orang yang menyimpulkan bahwa risiko-risiko yang mungkin muncul dari taktik pengendalian hama berbasis biologi jauh lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang akan muncul dari penggunaannya.

    5.  PHT didefinisikan sebagai suatu pendekatan berkelanjutan dalam mengelola hama dengan mengombinasikan taktik pengendalian hayati, budidaya, fisika, dan kimia guna meminimalkan risiko ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

     

     

    Gangguan terhadap tanaman selama proses tumbuhnya di lapangan dapat di sebabkan oleh berbagai macam hal, dapat berupa makhluk hidup maupun bencana alam. Gangguan yang disebabkan oleh makluk hidup dinamakan gangguan biologis sedangkan yang disebabkan yang lanilla dinamakan gangguan mekanis.

    Berdasarkan penyebab gangguan biologis dibedakan atas hama, penyakit, dan gangguan oleh gulma. Di bawah ini akan di jelaskan secara terperinci mengenai hama, penyakit dan gulma yang menyerang tanaman.

    1. I. GULMA

    1.1 Definisi Gulma

    • Gulma merupakan tumbuhan yang hidup pada suatu tempat dan suatu waktu yang tidak dikehendaki.
    • Gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya tidak di inginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa di capai oleh tanaman produksi.
    • Gulma merupakan tanaman yang berpotensi merugikan dan mengganggu tanaman. Gulma tersebut biasanya bertindak sebagai kompetitor dalam memperebutkan unsur hara di dalam tanah.

    1.2 Prosedur Pengendalian Gulma

    Prosedur ini dapat di golongkan menjadi 6 kategori yaitu :

    1. Pengendalian Secara Pencegahan ( Preventif )

    Pengendalian secara pencegahan ditujukan untuk mencegah atau menghalangi perkembangbiakan dan penyebaran bahan gulma ( biji, rimpang, batang ) dari suatu tempat ke tempat yang lain.

    1. Pengendalian Secara Mekanik

    Pengendalian secara mekanik merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak sebagian atau seluruh gulma, sehingga gulma tersebut mati. Contohnya dengan menggunakan alat-alat bantu mulai dari alat sederhana hingga mekanisasi. Alat-alat sederhana dapai berupa kored, cangkul, sabit, dan garu yang di tarik ternak. Alat semi mekanis hádala mesin-mesin sederhana seperti mower dan cultivator. Sedangkan alat mekanisasi berupa tractor yang dilengkapi rotovator ( powered rotary cultivation ) dan weed cruscher.

    1. Pengendalian Secara Biologis

    Pengendalian gulma secara biologis pada dasarnya adalah pengendalian dengan menggunakan organismo hidup, baik berupa binatang ternak, ikan maupun tumbuh-tumbuhan. Organismo pengendalian gulma harus bersifat monofag, aman, mempunyai daya adaptasi luas, aktivitas, dan penyebaraanya dapat di atur atau di kuasai. Gulma yang dapat dikendalikan secara biologis ( hayati ) harus mempunyai 2 sifat penting yaitu spesies gulmanya menempati lahan yang luas dan gulma tersebut hidup perenial, sehingga musuh-musuh alami dapat hidup sepanjang tahun.

    1. Pengendalian Secara Kultur Teknis

    Pengendalian ini didasarkan pada segi ekologi yaitu berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai dengan tanaman budidaya, sehingga dapat tumbuh dengan baik dan mampu bersaing dengan gulma.

    1. Pengendalian Secara Kimiawi

    Pengendalian kimiawi dilakukan dengan menggunakan senyawa kimia ( herbisida ) untuk menghambat atau mematikan pertumbuhan gulma. Selain herbisida dapat mematikan gulma, juga dapat membunuh organismo lain sehingga penggunaannya harus selektif dan dan menjadi alternatif terakhir.

    1. Pengendalian Secara Terpadu

    Merupakan pengendalian dengan mempraktekkan beberapa teknik pengendalian yang serráis untuk menekan pertumbuhan dan mematikan gulma sampai batas yang secara ekonomi tidak merugikan. Pengendalian secara terpadu harus mempertimbangkan keadaan lingkungan dan faktor ekonomi.

    1. II. PENYAKIT

    2.1  Definisi Penyakit

    • Penyakit tanaman merupakan sesuatu yang menyimpang dari keadaan normal, cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat di lihat, menurunkan koalitas atau nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama.
    • Penyakit tanaman dalam arti luas seperti yang dikemukakan Whetzel  (1935) vide robert dan Boothroyd (1972) adalah suatu aktifitas fisiologis yang merugikan akibat gangguan terus-menerus oleh faktor penyebab primer dan dinyatakan melalui aktifitas sel yang abnormal serta ditunjukkan dalam keadaan patologis yang khas atau disebut “gejala”.

    2.2  Kerugian Akibat Serangan Penyakit

    Macam kerugian akibat serangan penyakit pada tanaman pertanian, prinsipnya hádala sebagai berikut :

    1. Kerugian secara kuantiítas, yaitu :
      1. Timbulnya pembusukan pada bunga sehingga tidak menghasilkan buah.
      2. Matinya sel-sel daun atau busuknya jaringan daun sehingga tidak dapat melakukan fotosíntesis secara maksimal yang akhirnya dapat mempengaruhi terhambatnya pembentukan bunga atau buah.
      3. Banyaknya tanaman yang mati, sehingga mengurangi populasi tanaman dan hasil panen per satuan luas.
    2. Kerugian secara kualitas, misalnya :
      1. Timbulnya warna lain pada macam produksi (daun, kuncup, bunga, dan buah ).
      2. Timbulnya pembusukan.
      3. Timbulnya perubahan rasa.
      4. Adanya bercak-bercak.
      5. Bentuk macam produksi yang tidak normal.

    2.3  Sifat-Sifat Penyakit

    Sifat penyakit tanaman dibedakan dalam 2 macam yaitu penyakit menular dan tidak menular. Sifat-sifat tersebut ditentukan oleh faktor-faktor penyebab penyakit, yang terdiri atas :

    1. Faktor Biotik

    Faktor biotik merupakan organismo yang bersifat parasit dan dapat menular. Organisme penyebab penyakit ini umumnya berukuran amat kecil sehingga tidak mudah dilihat dengan mata kepala telanjang untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop. Namur, ada di antaranya penyebab penyakit yang bisa dilihat secara langsung tanpa menggunakan alat seperti cendawan yang berukuran besar dan tumbuhan tingkat tinggi.

    1. Faktor Abiotik

    Faktor abiotik merupakan factor yang disebabkan oleh lingkungan dan sifatnya tidak menular. Suhu tinggi menyebabkan gejala tertentu pada beberapa jenis tanamanmisalnya gejala warna kuning (klorosis) daun. Sebaliknya, suhu rendah di bawah 0º C menyebabkan tanaman rusak (frost). Sinar matahari terlalu terik dapat mengakibatkan terbakarnya daun atau buah tanaman tertentu. Gejala kekurangan air atau kekeringan yang bersifat kronis mengakibatkan pertumbuhan tanaman merana, warna daun kusam, dan laya pada siang hari. Gejala tanaman akibat pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan bagi tanaman siifatnya tidak menular.

    2.4  Penyebaran Penyakit

    Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan (penyebaran) penyakit, antara lain hádala sebagai berikut :

    1. Iklim

    Unsur-unsur iklim yang berpengaruh besar terhadap perkembangan dan penyebaran penyakit hádala sebagai berikut :

    1. Suhu

    Untuk berkembang dengan pesat, setiap patogen menghendaki suhu tertentu.misalnya : Fusarium oxysporum 21º C-33º C. Bila suhu lebih tinggi atau lebih rendah daripada kisaran suhu tersebut, perkembangan dan penyebaran pathogen akan terhambat, bahkan petogen bisa mati.

    1. Kelembapan

    Hampir sebagian besar penyebab penyakit tanaman, terutama golongan cendawan, akan berkembang dengan pesat pada kelembapan tinggi misalnya Phytopthora palmivora.

    1. Cahaya

    Factor cahaya yang paling utama adalah sinar matahari. Sinar matahari memiliki hubungan erat dengan suhu dan kelembapan. Akibat cahaya matahari terik, suhu lingkungan tempat tanaman tumbuh akan naik. Bila pada lingkungan tersebut terdapat banyak air, maka akan terjadi penguapan sehingga lingkungan menjadi lembap. Kondisi seperti ini Amat di senangi oleh patogen untuk melakukan aktivitas hidupnya, termasuk berkembangbiak.

    1. Angin

    Tubuh patogen Amat ringan sehingga bila ada angin sedikit saja akan mudah lepas dan terbawa terbang. Semakin angin bertiup kencang, maka penyebaran patogen semakin jauh dan dalam waktu relatif singkat penyakit cepat meluas.

    1. Curah Hujan

    Tumbukan air hujan ke permukaan tanah akan menimbulkan cipratan-cipratan. Patogen yang ada pada tanah ikut terlempar, lalu menempel pada bagian yang lunak, terutama pada tanaman muda atau tanaman semusim kemudian memparasiti tanaman tersebut. Banyak patogen yang menghendaki curah hujan tinggi, seperti Phytophthora palmivora.

    1. Tanah

    Sifat-sifat tanah dapat mempengaruhi perkembangan (penyebaran) penyakit tanaman misalnya :

    1. PH Tanah

    Tanah yang mempunyai PH rendah di sukai oleh sebagian besar cendawan. Pada tanah masa, cendawan berkembang pesat sehingga banyak menimbulkan kerugian.

    1. Struktur Tanah

    Pada tanah berstruktur pejal akar tanaman menjadi lemah karena aerasi dan drainase jelek serta tanah memadat. Pada kondisi tanah seperti ini cendawan mudah menginfeksi dan memparasiti tanaman.

    1. Kelembapan tanah

    Tanah yang lembap mempermudah patogen menginfeksi bagian tanaman di dalam tanah.

    1. Tanaman Inang

    Berbagai jenis tumbuhan ada yang merupakan tanaman inang bagi patogen-patogen tertentu. Ada patogen yang hanya punya beberapa tanaman inang, ada juga yang punya banyak jenis tanaman inang. Semakin banyak tanaman yang dapat dijadikan tanaman inang, semakin leluasa patogen bertahan, menyebar, dan berkembang biak.

    1. Faktor Mekanis
      1. Teknik Bercocok Tanam

    Teknik bercocok tanam yang baik mampu menghambat perkembangan penyakit tanaman. Pengolahan tanah dan pembuatan parit yang baik dan teratur akan menyebabkan struktur, aerasi, dan drainase tanah menjadi baik tanaman tumbuh sehat, kuat, mampu bersaing dalam pertumbuhan serta lebih tahan terhadap gangguan luar. Perlakuan benih yang baik, pemupukan yang berimbang dan penerapan PHT yang baik akan menekan perkembangan patogen.

    1. Sanitasi

    Sanitasi (pembersihan kebun) tidak memberi kesempatan pada patogen untuk memanfaatkan lingkungan tersebut ataupun berkembang biak.

    1. Irigasi

    Pembuatan irigasi yang kurang baik, pemberian air yang tidak teratur  akan menimbulkan dengan genangan-genangan air dan kelembapan yang tinggi. Kondisi ini sangat di sukai oleh patogen. Selain itu air irigasi yang telah tercemar oleh patogen akan menjadi penyebeb peluasan penyakit.

    Timbulnya peledakan (outbreak) penyakit secara luas tergantung kepada :

    1. Banyaknya tanaman yang peka (rentan)
    2. Banyaknya patogen
      1. Keadaan lingkungan yang sesuai untuk patogen dalam jangka waktu yang lama.

    Ketiga faktor di atas di kenal dengan triangal deases.

    2.5   Medium Penyebaran Penyakit

    Patogen dapat berpindah dan menyebar ke tanaman atau tempat lain dengan bantuan médium penyebaran. Médium penyebaran itu, antara lain :

    1. Air

    Spora cendawan atau koloni bakteri berukuran amat kecil sehingga bila jatuh atau tersapuh oleh aliran air akan mudah hanyut ke bawa ke tempat lain.

    1. Angin

    Tiupan angin mempengaruhi cepat lambatnya penyebaran penyakit.

    1. Serangga dan Binatang Vektor

    Penyebaran virus dari satu tanaman ke tanaman lain di bantu melalui perantara serangga atau binatang lain (vektor) yang menginfeksi atau yang memakan tanaman sakit. Di samping itu vektor dapat menyebarkan cendawan dan bakteri dari tanaman sakit ke tanaman lain.

    1. Manusia

    Pada saat melakukan memelihara tanaman patogen dapat menempel pada tubuh pakaian, atau alat-alat pertanian. Oleh karena itu manusia dapat berperan sebagai médium penyebaran penyakit.

    2.6  Pengendalian Penyakit Tanaman

    1. Cara Pengendalian
      1. Secara Fisik

    Merupakan pengendalian paling sederhana dan mudah pelaksanaannya tetapi perlu di landasi pengetahuan yang menyeluruh tentang ekologi patogen sebab setiap jenis patogen punya batas toleransi terhadap factor lingkungan fisik terutama suhu dan kelembapan. Cara pengendalian fisik misal :

    • Perlakuan panas yaitu perendaman benih/bibit dengan air panas.
    • Pembakaran sisa-sisa tanaman atau bagian tanaman yang sakit.
    • Penggunaan penghalang (barrier) misalnya pemblongsongan buah.
    1. Cara Kultur Teknis

    Pengendalian ini bertujuan mengelola lingkungan tanaman agar tidak atau kurang cocok bagi kehidupan bagi perkembangbiakan patogen sehingga dapat mengurangi laju peningkatan populasi patogen dan kerusakan tanaman. Pengendalian ini bersifat preventif. Pengendalian ini tergolong murah, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, dan mudah di kerjakan petani. Macam pengendaliannya :

    • Sanitasi, membersihkan lahan dari sisa tanaman yang masih hidup, yang sudah mati, jenis tanaman lain yang dapat menjadi inang pengganti.
    • Pengolahan tanah yang baik
    • Penggunaan benih unggul bebas penyakit
    • Pergiliran tanaman dan pola tanam
    • Penanaman serempak
    • Cara bercocok tanam seperti pengaturan jarak tanam, pemangkasan pohon, membersihkan gulma dan memperbaiki sirkulasi udara.
    • Pengembangan tanaman resisten atau tahan.
    1. Cara Biologis

    Usaha penanggulangan secara biologis menggunakan jasad lain yang ditujukan terutama untuk mengurangi aktifitas patogen. Efek ini bisa berupa biocidal ( jasad yang satu mematikan jasad yang lain ) atau biostatic (jasad yang satu menghambat pertumbuhan jasad yang lain ). Misal, Trichoderma lignorum dapat memarasiti cendawan.

    1. Cara Kimia

    Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang disebut “pestisida”. Pesticida yang digunakan tergantung pada jenis patogen yang menyerang. Bila patogen berasal dari golongan bakteri digunakan bakterisida (agrept, agrimycin, bacticin, tetracycline). Bila patogen dari golongan cendawan digunakan fungisida ( Dithane M-45 80 P, Benlate, Antracol 70 WP, dll.). untuk mengendalikan serangga digunakan insektisida ( Dipel WP, Orthene 75 SP, Hopcin 59 EC, dll. ).

    1. Karantina Tumbuhan

    Merupakan upaya pencegahan patogen dengan jalan menghentikan pengiriman atau pemasukan secara resmi barang-barang yang diduga membawa patogen pontesial yang Amat berbahaya bagi daerah pengimpornya.

    1. Prinsip-Prinsip dan Pelaksanaan Pengendalian Penyakit

    Tindakanpengendalian penyakit bertujuan mencegah berlangsungnya siklus hidup parasit dan patogen. Setiap tindakan pengendalian penyakit harus menunjukkan prinsip-prinsip dasar, dan setiap prinsip dasar mempengaruhi inokulum awal atau kecepatan infeksi. Selanjutnya, tindakan pengendalian penyakit ditujukan langsung kepada penyebab penyakit. Oleh karena itu, dasar pendekatan dalam usaha mencegah timbulnya epidemik adalah mereduksi inokulum awal dan memperlambat kecepatan infeksi, mereduksi atau memperlambat inokulum awal dilakukan dengan cara :

    1. Eksklusif, yaitu membebaskan semua patogen pada benih dengan cara memberikan perlakuan benih.
    2. Eradikatif, yaitu menggunakan pestisida yang dapat  membunuh spora cendawan yang mengkotaminasi permukaan benih
    3. Terapi (terapeutik), yakni menggunakan pesticida untuk membunuh bakteri atau cendawan yang menyerang embrio, kotiledon, atau endosperm di bawah kulit.
    4. Resistensi vertical, yakni dengan menanam varietas tanaman yang mempunyai kekebalan lapang.

    Mereduksi (memperlambat) kecepatan infeksi penyakit pada tanaman dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

    1. Proteksi, yakni menggunakan pesticida untuk mencegah masuknya cendawan tular tanah (soil borne) masuk dalam batang semai.
    2. Penghindaran (avoidance), yakni dengan menghindari penularan penyakit misalnya menanam tanaman yang letaknya di bawah angin agar tidak tertulari penyakit-penyakit yang terbawa oleh angin, menanam tanaman penghadang (barrier) atau tanaman perangkap (trap crop) hama yang berperan sebagai vektor penyakit.
    3. Resistensi horizontal, yakni dengan menanam varietas tanaman yang mempunyai ketahanan lapang.

    Masuknya (penetrasi) parasit kke dalam tanaman yang sehat berbeda-beda. Cendawan membutuhkan waaktu yang berjam-jam untuk melakuakan penetrasi ke dalam tanaman sehat. Bakteri dan nematoda memmerlukan luka mekanis untuk melakukan penetrasi. Di samping itu, faktor lingkungan terutama air, suhu, dan unsur (hara nutrisi), Amat mempengaruhi inokulasi dan kolonisasi penyakit. Lingkungan yang tidak mendukung penyakit sehingga memperlambat inokulum awal atau mengurangi kecepatan infeksi.

    III HAMA

    Yang dimaksud dengan hama adalah semua binatang yang merugikan tanaman, terutama yang berguna dan dibudidayakan manusia; apabila tidak merugikan tanaman yang berguna dan dibudidayakan manusia dengan sendirinya kita tidak menyebutnya sebagai hama.

    Apabila petani mengetahui cara hidup binatang-binatang yang merugikan dengan sendirinya akan mudah dalam mengendalikannya atau dapat melindungi tanaman dari serangan musuh-musuh tanaman (proteksi tanaman).
    Pengendalian hama yang baik itu sebenarnya yang dilakukan secara biologis dengan menggunakan predator atau parasit hama, karena dengan cara ini hanya binatang yang menjadi musuh tanaman yang akan mati. Oleh karena itu perlu dipelajari ekobiologis dari binatang perusak tersebut (hama).

    • TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

    a)      Pengendalian secara mekanik

    Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual.

    b)      Pengendalian secara fisik

    Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.

    Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik; karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga.

    c)      Pengendalian hayati

    Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama.

    Dua jenis organisme yang digunakan untuk pengendalian hayati terhadap serangga dan tunggau adalah parasit dan predator. Parasit selalu berukuran lebih kecil dari organisme yang dikendalikan oleh (host), dan parasit ini selama atau sebagian waktu dalam siklus hidupnya berada di dalam atau menempel pada inang. Umumnya parsit merusak tubuh inang selama peerkembangannya. Beberapa jenis parasit dari anggota tabuhan (Hymenoptera), meletakkan telurnya didalam tubuh inang dan setelah dewasa serangga ini akan meninggalkan inang dan mencari inang baru untuk meletakkan telurnya.

    Sebaliknya predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar sari serangga yang dikendalikan (prey), dan sifat predator secara aktif mencari mangsanya, kemudian memakan atau mengisap cairan tubuh mangsa sampai mati.

    Selain menggunakan parasit dan predator, untuk menekan populasi serangga hama dapat pula memanfaatkan beberapa pathogen penyebab penyakit pada serangga. Seperti halnya dengan binatang lain, serangga bersifat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cendawan, virus dan protozoa. Pada kondisi lingkungan yang cocok beberapa jenis penyakit akan menajdi wabah epidemis. Penyakit tersebut secara drastis mampu menekan populasi hama hanya dalam beberapa hari.

    Metode pengelolaan agen pengendali biologi terhadap serangga hama meliputi :

    1. Introduksi, yakni upaya mendatangkan musuh alami dari luar (exotic) ke wilayah yang baru (ada barier ekologi).
    2. Konservasi, yakni upaya pelestarian keberadaan musuh alami di suatu wilayah dengan antara lain melalui pengelolaan habitat.
    3. Augmentasi, parasit dan predator lokal yang telah ada diperbanyak secara massal pada kondisi yang terkontrol di laboratorium sehingga jumlah agensia sangat banyak, sehingga dapat dilepas ke lapangan dalam bentuk pelepasan inundative.

    d)      Pengendalian dengan varietas tahan

    Mekanisme ketahanan tersebut secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :

    1. Toleransi

    Tanaman yang memiliki kemampuan melawan serangan serangga dan mampu hidup terus serta tetap mampu berproduksi, dapat dikatakan sebagai tanaman yang toleran terhadap hama.

    1. Antibiosis

    Tanaman-tanaman yang mengandung toksin (racun) biasanya memberi pengaruh yang kurang baik terhadap serangga. Tanaman yang demikian dikatakan bersifat antibiosis. Tanaman ini akan mempengaruhi banyaknya bagian tanaman yang dimakan hama, dapat menurutkan kemampuan berkembang biak dari hama dan memperbesar kematian serangga.

    1. Non prefens

    Jenis tanaman tertentu mempunyai sifat fisik dan khemis yang tidak disukai serangga. Sifat-sifat tersebut dapat berupa tekstur, warna, aroma atau rasa dan banyaknya rambut sehingga menyulitkan serangga untuk meletakkan telur, makan atau berlindung. Pada satu spesies tanaman dapat pula terjadi bahwa satu tanaman kurang dapat terserang serangga dibanding yang lain. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat yang ada sehingga dapat lebih menarik lagi bagi serangga untuk memakan atau meletakkan telur.

    e)      Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam

    Pada dasarnya pengendalian ini merupakan pengendalian yang belerja secara alamiah, karena sebenarnya tidak dilakukan pembunuhan terhadap hama secara langsung. Pengendalian ini merupakan usaha untuk mengubah lingkungan hama dari keadaan yang cocok menjadi sebaliknya.

    f)       Pengendalian hama dengan sanitasi dan eradikasi

    Pada pengendalian dengan cara sanitasi eradikasi dititikberatkan pada kebersihan lingkungan di sekitar pertanaman. Kebersihan lingkungan tidak hanya terbatas di sawah yang ada tanamannya, namun pada saat bero dianjurkan pula membersihkan semak-semak atau turiang-turiang yang ada. Pada musim kemarau sawah yang belum ditanami agar dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh serangga-serangga yang hidup di dalam tanah, memberikan pengudaraan (aerasi), dan membunuh rerumputan yang mungkin merupakan inang pengganti suatu hama tertentu.

    Cara melakukan eradikasi adalah dengan membabat tanaman yang terserang hama, kemudian membakar atau membenamkan ke dalam tanah.

    g)       Pengendalian kimiawi

    Bahan kimia akan digunakan untuk mengendalikan hama bilamana pengendalian lain yang telah diuarikan lebih dahulu tidak mampu menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman.

    Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :

    a.     Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.

    b.    Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.

    c.     Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.

    d.    Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.

    e.    Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.

    f.       Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.

    g.    Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).

    Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :

    1.    Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.

    2.    Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.

     

    KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

    KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

    KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

    1. SEJARAH SINGKAT

    Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari

    Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan

    oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman

    berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama

    kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan

    Portugis.

    Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang

    bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang

    tanah adalah “peanut” atau “groundnut”.

    2. JENIS TANAMAN

    Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut:

    Kingdom          : Plantae atau tumbuh-tumbuhan

    Divisi               : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji

    Sub Divisi        : Angiospermae atau berbiji tertutup

    Klas                 : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua

    Ordo                : Leguminales

    Famili              : Papilionaceae

    Genus              : Arachis

    Spesies : Arachis hypogeae L.; Arachis tuberosa Benth.; Arachis guaramitica

    Chod & Hassl ; Arachis idiagoi Hochne.; Arachis angustifolia (Chod &

    Hassl) Killip.; Arachis villosa Benth.; Arachis prostrata Benth.; Arachis

    helodes Mart.; Arachis marganata Garden.; Arachis namby quarae

    Hochne.; Arachis villoticarpa Hochne.; Arachis glabrata Benth.

    Varietas-varietas kacang tanah unggul yang dibudidayakan para petani biasanya

    bertipe tegak dan berumur pendek (genjah).

    Varietas unggul kacang tanah ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:

    a) Daya hasil tinggi.

    b) Umur pendek (genjah) antara 85-90 hari.

    c) Hasilnya stabil.

    d) Tahan terhadap penyakit utama (karat dan bercak daun).

    e) Toleran terhadap kekeringan atau tanah becek.

    Varietas kacang tanah di Indonesia yang terkenal, yaitu:

    a) Kacang Brul, berumur pendek (3-4 bulan).

    b) Kacang Cina, berumur panjang (6-8 bulan).

    c) Kacang Holle, merupakan tipe campuran hasil persilangan antara varietasvarietas

    yang ada. Kacang Holle tidak bisa disamakan dengan kacang “Waspada” karena

    memang berbeda varietas.

    3. MANFAAT TANAMAN

    Di bidang industri, digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun

    dan minyak goreng. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas

    kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom melalui fermentasi

    jamur. Manfaat daunnya selain dibuat sayuran mentah ataupun direbus, digunakan

    juga sebagai bahan pakan ternak serta pupuk hijau. Sebagai bahan pangan dan

    pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein

    (27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral

    antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium dan Sulphur.

    4. SENTRA PENANAMAN

    Di tingkat Internasional mula-mula kacang tanah terpusat di India, Cina, Nigeria,

    Amerika Serikat dan Gombai, kemudian meluas ke negara lain. Di Indonesia kacang

    tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di

    seluruh Indonesia.

    pohon kacang tanah

    5. SYARAT PERTUMBUHAN

    1. Iklim

    a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300

    mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan rontok dan bunga tidak

    terserbuki oleh lebah. Selain itu, hujan yang terus-menerus akan meningkatkan

    kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.

    b) Suhu udara bagi tanaman kacang tanah tidak terlalu sulit, karena suhu udara

    minimal bagi tumbuhnya kacang tanah sekitar 28–32 derajat C. Bila suhunya di

    bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat,

    bahkan jadi kerdil dikarenakan pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.

    c) Kelembaban udara untuk tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 %. Adanya

    curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembaban terlalu tinggi di sekitar

    pertanaman.

    d) Penyinaran sinar matahari secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang

    tanah, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.

    2. Media Tanam

    a) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang

    gembur/bertekstur ringan dan subur.

    b) Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH

    antara 6,0–6,5.

    c) Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati.

    Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang ada

    disekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau lahan

    yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi pertumbuhan kacang

    tanah.

    3. Ketinggian Tempat

    Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman kacang tanah adalah pada

    ketinggian antara 500 m dpl.

    6. PEDOMAN BUDIDAYA

    1. Pembibitan

    1) Persyaratan Benih

    Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah yang baik adalah:

    a) Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul.

    b) Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat.

    c) Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat.

    d) Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.

    e) Kadar air benih berkisar 9-12 %.

    2) Penyiapan Benih

    Penyiapan benih kacang tanah meliputi hal-hal sebagai berikut:

    a) Benih dilakukan secara generatif (biji).

    b) Benih sebaiknya tersimpan dalam kaleng kering dan tertutup rapat.

    c) Benih yang baik tersimpan dalam keadaan kering yang konstan.

    d) Benih diperoleh dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh

    Balai Sertifikasi Benih.

    2. Pengolahan Media Tanam

    1) Persiapan

    Pengukuran luas lahan sangat berguna untuk mengetahui berapa jumlah benih

    yang dibutuhkan. Kondisi lahan yang terpilih harus disesuaikan dengan persyaratan

    tanaman kacang tanah.

    2) Pembukaan Lahan

    Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam

    gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan

    lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan

    inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

    Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan

    mesin traktor. Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau oleh alat bajak dan

    alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

    3) Pembentukan Bedengan

    Untuk memudahkan pengaturan penanaman dilakukan pembedengan sesuai dengan

    ukuran yang telah ditentukan, yaitu untuk lereng agak curam jarak tanam cukup 0,5 m dan

    untuk lahan yang tidak begitu miring bisa antara 30–40 meter.

    Sedangkan untuk tanah datar, luas bedengan adalah 10 – 20 meter atau 2 x 10 meter.

    Ketebalan bedengan antara 20–30 cm.

    4) Pengapuran

    Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam,perlu

    dilakukan pengapuran. Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran pada saat

    pembajakan adalah 1-2,5 ton/ha dicampurkan dan diaduk hingga merata.Selambat-

    lambatnya 1 bulan sebelum tanam.

    5) Pemupukan

    Pemupukan adalah untuk menambah unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman.

    Jenis dan dosis pupuk setiap hektar yang dianjurkan adalah Urea=60–90 kg ditambah

    TSP=60–90 kg ditambah KCl=50 kg. Semua dosis pupuk diberikan pada saat tanam.

    Pupuk dimasukkan di kanan dan kiri lubang tugal dan tugal dibuat kira-kira 3 cm.

    3. Teknik Penanaman

    1) Penentuan Pola Tanam

    Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang

    subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm

    atau 30 x 20 cm. Pada tanah yang kurang subur dapat ditanam lebih rapat yaitu

    40 x 10 cm atau 20 x 20 cm.

    2) Pembuatan Lubang Tanam

    Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm dengan tugal dengan jarak seperti yang telah

    ditentukan di atas.

    3) Cara Penanaman

    Pilih benih kacang yang telah memenuhi syarat benih bermutu tinggi. Masukan

    benih satu atau dua butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam

    yang paling baik dilahan kering adalah pada awal musim hujan, di lahan sawah

    dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September

    (palawija II). Sedangkan untuk lahan bukaan terlebih dahulu dilakukan inokulasi

    rhizobium (benih dicampur dengan inokulan dengan dosis 4 gram/kg) kemudian

    benih langsung ditanam paling lambat 6 jam.

    4. Pemeliharaan Tanaman

    1) Penyulaman

    Penyulaman dilakukan bila ada benih yang mati atau tidak tumbuh, untuk

    penyulaman waktunya lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh

    ±3-7 hari setelah tanam).

    2) Penyiangan

    Penyiangan dilakukan untuk menghindari hama dan penyakit tanaman. Juga agar

    tanaman yang ditanam tidak bersaing dengan tanaman liar (gulma) pada umur 5-7 hari.

    3) Pembubunan

    Pembubunan dilakukan dengan cara mengumpulkan tanah di daerah barisan

    sehingga membentuk gundukan yang membentuk memanjang sepanjang barisan

    tanaman.

    4) Pemupukan

    Pemupukan dilakukan dengan jenis dan dosis pupuk yang dianjurkan yaitu

    Urea=60-90 kg/ha ditambah TSP=60-90 kg/ha ditambah KCl=50 kg/ha. Semua

    dosis pupuk diberikan pada saat tanam dan pupuk dimasukan dikanan kiri lubang

    tunggal.

    5) Pengairan dan Penyiraman

    Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada

    musim kemarau diberikan mulsa dan pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan

    penyiraman, karena dapat menggganggu penyerbukan.

    6) Waktu Penyemprotan Pestisida

    Penyemprotan untuk mengusir ataupun memberantas hama tanaman hendaknya

    dilakukan pada sore atau malam hari. Obat yang digunakan maupun dosis sesuai

    dengan jenis hama yang menyerang tanaman tersebut.

    7) Pemeliharaan Lain

    Hal-hal lain yang sangat menunjang faktor pemeliharaan bisa dilakukan, asalkan

    tidak memerlukan biaya yang berarti, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeli-

    haraan tunas dan bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang

    kesehatan tanaman)

    7. HAMA DAN PENYAKIT

    1. Hama

    a) Uret

    Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong akhirnya tanaman layu

    dan mati. Pengendalian: menanam serempak, penyiangan intensif, tanaman

    terserang dicabut dan uret dimusnahkan.

    b) Ulat berwarna

    Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian:

    penyemprotan insektisida Azodrin 15 W5C, Sevin 85 S atau Sevin 5 D.

    c) Ulat grapyak

    Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok.

    Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2)

    penyemprotan insektisida lannate L, Azodrin 15 W5C.

    d) Ulat jengkal

    Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan insektisida

    Basudin 60 EC Azodrin 15 W5C, Lannate L Sevin 85 S.

    e) Sikada

    Gejala: menghisap cairan daun. Pengendalian: (1) penanaman serempak,

    pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate 25 WP, Lebaycid 500

    EC, Sevin 5D, Sevin 85 S, Supraciden 40 EC.

    f) Kumbang daun

    Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga.

    Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan Agnotion 50 EC,

    Azodrin 15 W5C, Diazeno 60 EC.

    7.2. Penyakit

    a) Penyakit layu

    Pengendalian: penyemprotan Streptonycin atau Agrimycin, 1 ha membutuhkan

    0,5-1 liter. Agrimycin dalam kelarutan 200-400 liter/ha.

    b) Penyakit sapu setan

    Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman

    inang dibersihkan (sanitasi lingkungan).

    c) Penyakit bercak daun

    Pengendalian: penyemprotan dengan bubur Bardeaux 1 % atau Dithane M 45,

    atau Deconil pada tanaman selesai berbunga, dengan interval penyemprotan 1

    minggu atau 10 hari sekali.

    d) Penyakit mozaik

    Pengendalian: penyemprotan dengan fungisida secara rutin 5-10 hari sekali sejak

    tanaman itu baru tumbuh.

    e) Penyakit gapong

    Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya, kemudian baru diberi

    DD (Dichloropane Dichloropene 40-800 liter/ha per aplikasi.

    f) Penyakit Sclertium

    Pengendalian: membakar tanaman yang terserang cendawan.

    g) Penyakit karat

    Pengendalian: tanaman yang terserang dicabut dan dibakar serta semua vektor

    penularan harus dibasmi.

    8. PANEN

    1. Ciri dan Umur Panen

    Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek

    ± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap

    dipanen antara lain:

    a) Batang mulai mengeras.

    b) Daun menguning dan sebabian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras.

    c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.

    2. Cara Panen

    Pencabutan tanaman, lalu memetik polong (buahnya) terus bersihkan dan dijemur matahari, memilih bila diperlukan untuk benih dan seterusnya dilakukan

    penyimpanan, untuk konsumsi bisa di pasarkan langsung atau bisa langsung dibuat

    berbagai jenis produk makanan.

    3. Perkiraan Produksi

    Jumlah produksi panen yang normal dalam satuan luas, misalnya untuk lahan seluas satu hektar produksi normal berkisar antara 1,5-2,5 ton polong kering.

    9. PASCAPANEN

    • Pengumpulan

    Kumpulkan brangkasan tanaman kacang tanah ditempat strategis

    • Penyortiran dan Penggolongan

    Pilah-pilah polong yang tua dan polong yang muda untuk dipisahkan berdasarkan derajat ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk untuk dibuang

    • Penyimpanan

    Penyimpanan a) Penyimpanan dalam bentuk polong kering, masukan polong kering kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat lalu disimpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering. b) Penyimpanan dalam bentuk biji kering. c) Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur (keringkan) biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukan ke dalam wadah

    • Pengemasan dan Pengangkutan

    Pengemasan bisa dilakukan untuk produk mentah/polong mentah dalam bungkus plastik per 10 kg. Dapat juga berupa kemasan kue atau bentuk makanan yang sudah dimasak seperti kacang rebus, kacang goreng dan berbagai jenis kue dari kacang tanah. Untuk pengangkutan pada prinsipnya yang pentuing kondisi komoditi tersebut tidak rusak atau tidak berubah dari kualitas yang sudah disiapkan.

    10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

    4.1. Analisis Usaha Budidaya Perkiraan analisis usaha tani kacang tanah seluas 1 hektar per musim tanam (3 bulan) pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat dapat dirinci berikut ini: a) Biaya produksi 1. Sewa lahan 1 musim tanam 2. Bibit: benih 200 kg @ Rp 4.000,3. Pupuk – Urea: 100 kg @ Rp. 1.500,-

    - TSP: 100 kg @ Rp. 1.800,- KCL: 50 kg @ Rp. 1.650,4. Pestisida: 2 liter @ Rp. 50.000,5. Peralatan 6. Tenaga kerja – Pengolah tanah 50 HKP @ Rp 10.000,- Penanaman dan pemupukan 5 HKP + 15 HKW – Penyiangan dan pembubutan 4 HKP + 5 HKW 7. Panen dan pasca panen 4 HKP + 10 HKW 8. Lain-lain Jumlah biaya produksi

    Rp. 180.000,Rp. 82.500,Rp. 100.000,Rp. 200.000,Rp. 500.000,Rp. 112.500,Rp. 77.500,Rp. 115.000,Rp. 150.000,Rp. 2.967.500,-

    b) Pendapatan 1. Berupa polong kering 2.000 kg @ Rp. 2.000,Rp. 4.000.000,2. Berupa biji kering (rendemen 0,6): 2.000 kg @ Rp. 4.000,- Rp. 4.800.000,c) Keuntungan bersih 1. Berupa polong kering 2. Berupa biji kering d) Parameter kelayakan usaha 1. O/I berupa polong kering 2. O/I berupa biji Catatan : HKP : Hari kerja pria, HKW : Hari kerja wanita. 4.2. Gambaran Peluang Agribisnis Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum, meskipun bibit unggul yang berproduksi tinggi sudah diciptakan, namun dalam praktek produksinya belum memenuhi harapan. Hal ini merupakan daya tarik tersendiri bagi konsumen. Yang terjadi di lapangan, sebelum panen tiba, para tengkulak mulai melakukan pembelian di areal pertanaman secara besar-besaran (Jawa: ditebas) dan para tengkulak kemudian menjual ke pabrik-pabrik minyak goreng. Hal yang paling mendapat sorotan pemerintah, selama tahun 1969-1991, produksi dan produktivitas kacang tanah nasional meningkat terus. Di Indonesia, angka produksi kacang tanah diantara jenis kacang-kacangan lainnya, menempati urutan ke-2 setelah kedelai.

    pohon kacang tanah

    pohon kacang tanah

    By : Candra Quida N

    TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH

    Posted: April 4, 2011 in Soil Science

    TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH

    1. Pengertian Tanah

    Definisi Tanah
    1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)
    Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

    2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)
    Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.
    Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

    3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)
    Kata Edaphos = bahan tanah subur.
    Tanah adalah media tumbuh tanaman

    Perbedaan Pedologis dan Edaphologis
    1. Kajian Pedologis:
    Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan Pengetahuan Alam Murni.
    Kajian ini meliputi: Fisika Tanah, Kimia Tanah, Biologi tanah, Morfologi Tanah, Klasifikasi Tanah, Survei dan Pemetaan Tanah, Analisis Bentang Lahan, dan Ilmu Ukur Tanah.

    2. Kajian Edaphologis:
    Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman.
    Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah, Konservasi Tanah dan Air, Agrohidrologi, Pupuk dan Pemupukan, Ekologi Tanah, dan Bioteknologi Tanah.

    Paduan antara Pedologis dan Edaphologis:
    Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air, Evaluasi Kesesuaian Lahan, Tata Guna Lahan, Pengelolaan Tanah Rawa, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

    Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)
    Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

    2.Faktor yang mempengaruhi terbentuknya tanah

    Iklim

    Iklim merupakan faktor yang amat penting dalam pembentukan tanah. Suhu dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap intensitaas reaksi kimia dan fisika dalam tanah. Setiap suhu naik 10º C maka kecepatan reaksi menajdi dua kali lipat. Reaksi-reaksi oleh mikroorganisme jugfa sangat dipengaruhi oleh suhu tanah.

    Adanya curah hujan dan suhu tunggi di daerah tropik menyebabkanreaksi kimia berjalan cepat. Akibatnya banayk tanah di Indonesia telah mengalami pelapukan lanjut, rendah kadar unsur hara dan bereaksi masam.

    Di daerah-daerah yang beriklim lebih kering seperti di Indonesia bagian timur pencucian tidak berjalan intensif sehingga tanahnya kurang masam dan lebih tinggi kadar basa-basanya.

    Organisme

    Pengaruh organisme dalam proses pembentukan tanah tidaklah kecil. Akumulasi bahan orgsnik, siklus unsur hara, dan pembentukan struktur tanah yang stabil sangat dipengruhi oleh kegiatan organisme dalam tanah. Di samping itu unsur nitrogen dapat diikat kedalam tanah dari udara oleh mikroorganisme dalam tanah  dari udara oleh mikroorganisme baik yang hidup sendiri maupun yang simbiose dengan tanaman. Demikian juga vegetasi yang tumbuh ditanah tersebut dapat merupakan penghalang untuk terjadinya erosi, sehingga mengurangi jumlah tanah permukaan yang hilang.

    Di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat tanah adalah sangat nyata. Vegetasi  hutan membentuk tanah-tanah hutan berwarna merah sedang vegetasi rumput-rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak sisa-sisa bahan organik yang tertinggal dari akar-akar dan sisa rumput.

    Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman juga sangat berpengaruh tehadap sifat-sifat tanah. Jenis-jenis cemara juga akan menberi kation-kation logam seperti Ca, Mg, dan K yang rendah. Siklus unsur hara di bawah tanama-tanaman tersebut adalh rendah dibanding dengan tanaman berdaun lebar, dinama seresahnya lebih banyak mengandung basa-basa. Akibatnya tanah di bawah pohon pinus biasanya lebih masam dari pada tanah di bawah pohon jati dan sebagainya. Pencucian basa-basa biasanya juga lebih intensif pada tanah-tanah di bawah pohon pinus.

    Bahan Induk

    Sifat-sifat dari bahan induk masih tetap terlihat, bahkan pada tanah daerah humid yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut. Misalnya tanah-tanah bertekstur pasir adalah akibat dari kandungan pasir yang tinggi dari bahan induk. Susunan kimia dan mineral bahan induk mempengsruhi intensitas tingkat pelapukan, tetapi kadang-kadang menentukan jenis vegetasi alami yang tumbuh di atasnya. Terdapatnya batu kaour di daerah humid akan menghambat tingkat kemasaman tanah. Di samping itu vegetasi yang hidup di atas tanah berasal dari batu kapur biasnya banyak mengandung basa-basa. Dengan adanya pengembalian basa-basa lapisan tanah atas melalui seresah dari vegetasi tersebut maka proses pengasaman tanah menjadi lambat.

    Topografi (relief )

    Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah termasuk di dalamnya perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Relief mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan cara : (1) Mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau di tahan dalam tanah, (2) mempengaruhi dalamnya air tanah, (3) mempengaruhi besarnya erosi, dan (4) Mengarahkan gerakan air berikut bahan-bahan yang terlarut di dalamnya.

    Topografi ( bentuk wilayah atau relief ) suatu daerah dapat menghambat atau mempercepat pengaruh iklim. Di daerah datar atau cekung dimana air tidak mudah hilang dari tanah atau menggenang, pengeruh iklim menjadi tidak jelas dan terbentuklah tanah berwarna kelabu atau banyak mengandung karatan sebagai akibat genangan air tersebut.

    Di daerah bergelombang, drainase tanah lebih baik sehingga pengaruh iklim ( curah hujan suhu ) lebih jelas dan pelapukan serta pencucian lebih cepat. Di daerah-daerah yang berlereng curam kadang-kadang terjadi terus menerus erosi permukaan sehingga terbentuklah tanah-tanah dangkal. Sebaliknya, pada kaki-kaki lereng tersebut sering ditemukan tanah dengan profil dalam akibat penimbunan bahan-bahan yang dihanyutkan dari lereng atas tersebut.

    Sifat-sifat tanah yang umumnya berhubungan dengan relief adalah: tebal solum, tebal dan kandungan bahan organik hrorizon A, kandungan aiar tanah (relative wetness), warna tanah, tingkat perkembangan horizon, reaksi tanah (PH), kejenuhan basa, kandungan garam mudah larut dan lain-lain.

    Waktu

    Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus maka tanah-tanah yanh semakin tua juga semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Profil tanah juga semakin berkembang dengan meningkatnya umur.

    Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka bahan induk tanah berubah berturut-turut menjadi: tanah muda (immature atau young soil), tanah dewasa (mature soil) dan tanah tua (old soil). Ini diakibatkan oleh lama waktu proses pembentukan tanah.

     

    2 Sifat fisika tanah

    Tanah memmiliki sifat-sifat fisika yaitu :

    1. Batas-batas horizon

    Batas suatu horizon dengan horizon lainnya dalam profil tanah dapat terlihat jelas atau baur.Dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan horizon-horison ini dibedakan ke dalam beberapa tingkatan yaitu nyata(lebar peralihan kurang 2,5-6,5 cm), berangsur(lebar peralihan 6,5-12,5 cm ) dan baur (lebar peralihan lebih dari 12,5).disamping itu bentuk topografi dari batas horizon tersebut dapat rata, berombak, tidak teratur, atau terputus.

    2. warna tanah

    Warna merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanh tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya oleh perbedaan kandungan bahan organik.Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap.

    Hubungan warna tanah dengan kandungan bahan organik di daerah tropika sering tidak sejalan dengan di daerah beriklim sedang(Amerika,Eropa) tanah-tanah merah di Indonesia banyak yang mempunyai kandungan bahan organik lebih dari satu persen, sama dengan kandungan bahan organik tanah hitam (Mollisol) di daerah beriklim sedang.

    Warna tanah ditentukan dengan menggunakan warna-warna baku  yang terdapat dalam buku Munsell Soli Color Chart.Dalam warna baku ini warna disusun oleh  tiga variable yaitu : bue, vaue, chroma.Hue adalah warna spectrum yang dominant sesuai dengan warna gelombangnya.Value menunjukkan warna gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.

    Warna tanah akan berbeda bila tanah basah, lembab atau kering, sehingga dalam menentukan warna tanah perlu dicatat apakah tanah tersebut dalam keadaan basah, lembab atau kering.

    3.Tekstur

    Tanah terdiri dari butir –butir  tanah bebagai ukuran.Bagian tanah yang berukuran lebih dari 2mm disebut bahan kasar(kerikil sampai batu).Bahan-bahn tanah yang lebih halus dapat dibedakan menjadi :

    Pasir : 2mm-50u

    Debu : 50u-2u

    Liat    : kurang dari 2u

    Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah berdasar atas berbandingan banyaknya butir-bitir pasir dan liat maka tanah dikelompokkan kedalam beberapa macam kelas tekstur yaitu

     

    Pasir

    Kasar

    Pasir berlempung

     

    Agak kasar                                     Lempung berpasir

    Lempung berpasir halus

     

    Lempung berpasir sangat halus

     

    Sedang                                                Lempung

     

    Lempung berdebu

     

    Lempung liat bedebu

     

     

    Lempung liat

     

    Agak halus                              Lempung liat berpasir

     

    Lempung liat berdebu

     

    Liat berpasir

     

    Halus                                       Liat berdebu

     

    Liat

     

    Dalam klasifikasi tanah(Taksonomi tanah) tingkat famili, kasr halusnya tanah ditunjukkan dalam sebaran besar butir (particle size distribution) yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah dengan memperhatikan  pula fraksi tanah yang lebih kasar dari pasir(lebih dari 2mm).Sebaran besar butir untuk fraksi kurang dari 2mm meliputi : berpasir, berlempung kasar, berlempung halus, berdebu kasar, berdebu halus, berliat halus, berliat sangat halus.Bila fraksi alus (kurang dari 2mm) sedikit sekali dan tanah terdiri dari kerikil, batu-batu, dan lain-lain disebut fragmental.Bila tanah halus termasuk kelas berpasir, berlempung atau berliat, tetapi mengandun g 35% atau lebih(volume) bahan kasar(kerikil,batu-batu) maka  sebaran besar butirnya disebut berpasir skeletal,berlempung skeletal, dan berliat skeletal.

    Tanah-tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit menyaerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah bertekstur liat mempunyai permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsure hara tinggi.Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar

     

    Di lapang tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah basah diantara jari-jari sambil dirasakan halus kasarnya yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir, debu, liat, sebagiai berikut.

     

    Pasir                – rasa kasar

    - tidak melekat

    - tidak dapat dibentuk bola dan gulungan

     

    Pasir                – rasa kasar jelas

    berlempung     – sedikit sekali melekat

    - dapat dibentuk bola yang mudah sekali hancur

     

    Lempung         – rasa kasar agak jelas

    berpasir            – agak melekat

    - dapat di buat bola, mudah hancur

    Lempung         – rasa tidak kasar dan tidak licin

    - agak melekat

    - dapat dibentuk bola agak teguh, dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat

    Lempung         – rasa licin

    Berdebu          – agak melekat

    - dapat dibentuk bola, agak teguh, gulungan dengan permukaan mengkilat

    Debu               – rasa licin sekali

    -  agak melekat

    - dapat dibentuk bola teguh, dapat disebut gulungan dengan permukaan membulat

    Lempung         – rasa agak licin

    Berliat             – agak melekat

    - dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur

    Lempung         – rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar

    Liat berpasir    – agak melekat

    - dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan mudah hancur

    Lempung         – rasa halus

    - agak licin

    Liat berdebu    – melekat

    - dapat dibentuk bola teguh, gulungan mengkilat

    Liat berpasir    – rasa halus, berat tetapi terasa sedikit kasar

    - melekat

    - dapat dibentuk bola teguh, mudah digulung

    Liat berdebu    – rasa halus, berat, agak licin

    - sangat lekat

    - dapat dibentuk bulat teguh, mudah digulung

    Liat                  – rasa berat, halus

    - sangat lekat

    - dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung

    4. Struktur

    Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butr-butir tanah.Gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organic, oksida-oksida besi dan lain-lain. Gumpalan-gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran, dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda. Bentuk strutur: menurut bentuknya strutur dapat dibedakan menjadi:

    1. Lempeng (platy) – sumbu vertical < sumbu horizontal ditemukan di horizon  A2  atau pada lapisan padas liat.

    2. Prisma – sumbu vertical > sumbu horizontal bagian atasnya rata di horizon B, tanah daerah iklim kering.

    3. Tiang – sumbu vertical > sumbu horizontal bagian atas membulat. Di horizon B tanah daerah iklim kering.

    4. Gumpal bersudut – seperti kubus dengan sudut-sudut tajam.Sumbu verttkal = sumbu horizontal.Dihorison B tanah daerah iklim basah

    5.gumpal membulat — seperti kubus dengan sudut-sudut,membulat, .Sumbu verttkal = sumbu horizontal.Dihorison B tanah daerah iklim basah

    6.Granuler – bulat – porous.Di horizon A

    7.Remah – bulat sangat porous. Di horizon A

     

    Didaerah curah hujan tinggi umumnya ditemukan struktur remah atau granuler dipermukaan dan gumpal dihorison bawah.Di daerah kering sering dijumpai tanah dengan struktur tiang atau prisma dilapisan bawah.

    5. Konsistensi

    Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap daya yang akan mengubah bentuk. Gaya-gaya tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan sebagainya. Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena tanah dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah, atau kering. Maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut.

    Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampaai teguh (agak sulit dicangkul).

    Dalam keadaan kering, tanah dibedakan kedalam konsistensi lunak sampai  keras. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat.

    Dlam keadaan lembab atau kering konsistensi tanah ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsistensi teguh (lembab) atau keras (kering).

    Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari (melekat atau tidak melekat) atau mudah tidaknya membentuk bulatan dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). Secara lebih terinci cara penentuan konsistensi tanah adalah sebagai berikut:

    Tanah basah : kandungan air diatas kapasitas lapang

    a. Kelekatan       – kekuatan adhesi (melekat) dengan benda lain :

    Tidak lekat      – tidak melekat pada jari tanah atau benda lain

    Agak lekat       – sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain

    Lekat               – melekat pada jari tangan atau benda lain

    Sangat melekat         – sangat melekat pada jari tangan atau benda lain

    b. Plastisitas       – menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan :

    Tidak plastis    – tidak dapat membentuk gulungan tanah

    Tidak plastis    – hanya gulungan tanah kurang dari 1 cm dapat terbentuk

    Plastis              – dapat membentuk gulungan tanah lebih 1 cm, diperlukan sedikit tekanan untuk    merusak gulungan tersebut

    Sangat Plastis  – diperlukan tekanan untuk merusak gulungan tersebut

    Tanah lembab : kandungan air mendekati kapasitas lapang

    Lepas - tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah pasir)

    Tanah gembur    – gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas

    Gembur              – diperlukan sedikit tekanan untuk m engahancurkan gunpalan tanah dengan meremas

    Teguh )               – berturut-turut memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghancurkan

    sangat teguh)      tanah sampai sama sekali tidak tidak dapat hancur dengan remasan tangan.

    sangat teguh

    sekali)

    Tanah kering : tanah dalam keadaan kering angin

    Lepas                  – tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah pasir)

    Lunak                 – gumpalan tanah mudah hancur bila diremas

    Agak keras)        – berturut-turut memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghancurkan

    Keras)                 tanah sampai tidak dapat hancur dengan remasan tangan

    Sanagat keras)

    Sangat keras

    sekali)

    Sementasi (pemadasan)

    Lemah                – dapat dihancurkan dengan tanah

    Kuat                   – dapat dihancurkan dengan palu

    Memadas            – dapat dihancurkan dengan pukulan palu yang keras

     

    3 Sifat Biologi Tanah

     

    Biologi tanah adalah studi tentang komponen-komponen ysng hidup dslsm tanah,meliputi jamur,bakteri,aktinomisetes,ganggang,dan fauna tanah,yang kesemuanya Mempunyai peranan yang penting dalam proses-proses yang terjadi didalam tanah.Sifat biologi tanah sangat erat kaitannya dengan organisme dan vegetsi tanah dimana mempunya peranan yang sangat penting dalan proses yang terjadi di tanah

    4 Sifat Kimia Tanah

     

    pH tanah

    Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion nitrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH – yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+.Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH –, sedang pada tanah alkalis kandungan OH – lebih banyak daripada H+. BIla kandungan H+ sama dengan OH – maka tanah bereaksi netral yaitu tanah mempunyai pH 7.

    Pentingnya pH tanah

    1.Menentuksn mudah tidaknya unsure-unsur hara diserap tanaman. Pada umumnya unsure hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada ph tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam unsure P tidak dapat diserap tanaman karena diikat(difiksasi) oleh Al, Sedang pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena difikssaasi oleh Ca.

    2.Menunjukkan kemungkinan adanya unsure-unsur beracun.Pada tanah masma baynak ditemukan ion0-ion Al di dalam tanah, yang kecuali memfiksasi unsure P juga merupakan racun badi tanaman. Pada tanah-tanah rawa ph yang terlalu rendah(sangat masam) menunjukkan kandungan sulfat tinggi, yang juga merupakan racun bagi tanaman disamping itu pada reaksi tanah yang masam, unsure-nsur mikro juga mudah larut, sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu banyak. Unsur mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yangsangat kecil, sehingga menjadi racun kalau terdapat dalam jumlah yang terlalu besar. Termasuk unsur mikro dalam jenis ini adalah Fe,Mn,Zn,Cu,Co. Unsur mikro yang lain yaitu Mo dapat menjadi racun kalau pH terlalu alkalis. Disamping itu tanah yang terlalu alkalis juga sering mengandung garam yang terlalu tinggi yang juga dapat menjadi racun bagi tanaman.

    3. Mempengaruhi perkembangan mikro organisme

    - Bakteri berkembang dengan baik pada pH 5,5 atau lebih sedang pada  kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terhambat.

    - Jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah . Pada pH  lebih dari 5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri.

    - Bakteri pengikat nitrogen dari udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik pada pH lebih dari 5,5.

    Mengubah pH tanah : tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pH nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedang tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkkan pHnya dengan penambahan belerang.

    Koloid tanah

    Yang dimaksud dengan koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organic tanah  yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi per satuan berat (massa). Koloid berasal dari bahasa Yunani yang berarti seperti lem (glue like). Termasuk koloid tanah adalah liat (koloid anorganik) dan humus (koloid organik). Menurut Brady 1974 koloid berukuran < 1 µ, sehingga tidak semua fraksi liat (< 2 µ) termasuk koloid. Koloid tanah merupakan bagian tanah yang sangat aktif dalam reaksi-reaksi fisiko kimia di dalam tanah.

    Partikel-partikel koloid yang sangat halus yang disebut micelle (micro sell) umumnya bermuatan negative. Karena itu ion-ion yang bermuatan positif (kation) tertarik pada koloid tersebut sehingga terbentuk lapisan ganda ionic (ionic double layer). Bagian dalam dari lapisan ganda ion ini terdiri dari partikel koloid yang bermuatan negative (aniaon) sedang bagian luar merupakan kerumunan kation yang tertarik pada partikel-partikel koloid tersebut.

    Mineral liat

    Mineral liat adalah mineral yang berukuran < 2 µ. Mineral liat dalam tanah terbentuk karena :

    1. Rekristalisasi (sintesis) dari senyawa-senyawa hasil pelapukan mineral primer atau

    2. Alterasi (perubahan) langsung dari mineral primer yang telah ada (misalnya mika menjadi ilit). Mineral liat dalam tanah dapat dibedakan menjadi :

    1. Mineral liat Al-silikat

    2. Olsida-oksida Fe dan Al

    3. MIneral-mineral primer

     

    Koloid organik

    Yang dapat dimasukkan koloid organic di dalam tanah adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organic dengan koloid anorganik (liat adlah bahwa koloid organic (humus) terutama disusun oleh C, H, dan O sedang liat terutama tersusun oleh Al, Si  dan O. Humus bersifat amorf, mempunyai kapasitas tukar kation yang lebih tinggi dari mineral liat (lebih tinggi dari montmorilonit), dan lebih mudah dihancurkan disbanding dengan liat.

    Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Dalam keadaan masam H+dipegang kuat dalam gugusan karboksil dan fenol. Tetapi ikatan tersebut menjadi kurang kekuatannya bila pH menjadi lebih tinggi. Akibatnya disosiasi H+ meningkat dengan naiknya pH, sehingga muatan negative dalam koloid humus yang dihasilkan juga meningkat.

    Kapasitas Tukar Kation

    Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca²+, Mg²+, K+, Na+, NH­4+, H+, Al ³+, dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalm air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 gr) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah di jerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Hal tersebut dinamakan pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebut diatas merupakan kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah.

    Kapasitas tukar kation dinyatakan dalam satuan kimia yaitu miliekivalen per 100 gr (me/100 gr). Satu ekkivaken adalh suatu jumlah yang secara kimia setara dengan 1 gr hydrogen. Jumlah atom dalam setiap ekivalen adalah 6,02 x 10²³ (bilangan Avogadro). Dengan demikian satu miliekivalen setara dengan 1 mg hydrogen yang terdiri dari 6,02 x 10²° atom hydrogen. Untuk menunjukkan jumlah muatan negative dalam tanah dengan menuliskan jumlah muatan yang sebenarnya ada (misalnya 6,02 x 10²°, 2 x 6,02 x 10²°dan seterusnya) adalah tidak praktis, sehingga lebih mudah digunakan satuan miliekivalen. Dari satu miliekivalen dapat diubah menjadi satuan berat, demikian pula dari satuan me/100 gr tanah dapat diubah menjadi PPM (Part Per Million).

    Pertukaran Anion

    Di dalam tanah, disamping pertukaran kation sering ditemukan pula pertukaran anion walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit. Kapasitas tukar anion (KTA) banyak ditemukan pada mineral liat amorf (alofan), dan liat Al dan Fe oksida. KTA ditemukan pula pada kaulinit dalam jumlah yang lebih sedikit. Adanya muatan positif pada mineral liat silikat disebabkan oleh adanya patahan-patahan kristal atau akibat penggantian gugusan OH – oleh anion-anion lain (Sanchez, 1976). Pada oksida-oksida Fe dan Al timbulnya muatn positif terutama akibat penggantian gugusan OH – oleh anion-anion lain. Karena koloid-koloid ini bermuatan positif maka terjadilah pertukaran anion. Secara umum, bila tanah mengandung muatan positif maka :

     

    1. Terjadi penjerapan anion seperti (NO­3–), chlor Cl– dan lain-lain.
    2. Kation-kation seperti Ca, Mg, dan K tidak dijerap tanah tetapi tetap dalam larutan tanah sehingga mudah tercuci.
    3. Fosfat dan Sulfat dapat difiksasi oleh tanah. Karena tanah mempunyai kemampuan memfiksasi P dengan sangat kuat maka P tersedia sangat rendah.

    Kejenuhan Basa

    Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebut dapat dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation-kation asam.Termasuk kation-kation basa adalah Ca²+, Mg²+, K+, dan Na+, sedang yang termasuk kation-kation asam adalah H+, dan Al³+.

    Kejenuhsn basa menunjukkan perbandingan antara kation-kation basa dengan jumlah senua kation(kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam konsep jerapan tanah.

    Kation-kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukan tanaman. Disamping itu basa-basa umumnya mudah tercuci, sehingga tanah dengan keajenuhan basa tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang subur

    Unsur-unsur hara esensial
    Unsur-unsur hara esensial adalah unsur hara yang sangat diperlukan bagi tanaman dan fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan dengan unsur lain, sehingga bila tidak terdapatdalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal. Unsur-unsur hara esenseial ini dapat berasal dari udara, air atau tanah. Jumlah unsur hara ada tujuh belas yaitu :

    Unsur makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg,dan S

    Unsur mikro : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co

    Unsur hara makro adalah unsure hara yang diperlukan dalam jumlah banyak. Unsur hara mikro adlah unsur hara yang diperlukan dalm jumlah sedikit.

    5 Morfologi dan Klasifikasi Tanah

    Klasifikasi tanah dapat dibedakan menjadi klasifikasi alami dan klasifikasi taknis

    Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi ini memberikan gambaran terhadap sifat fisik, kimia dan mineralogi tanah yang dimiliki masing-masing kelas yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasarbuntuk pengelolaan bagi berbagai penggunaan tanah.

    Klasifikasi teknis adalah klasifiaksi atnah yang didasarkan atas sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah untuk penggunaan-penggunaan tertentu, misalnya klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman pekebunan

    Sistem klasifikasi tanah (alami) yang ada di dunia ini berbagai macam , karena banyak Negara mengggunakan sistem klasifikasi yang dikembangkan sendiri oleh Negara tersebut. Di Indonesia saat ini dikenal tiga sistem klasifikasi tanah.

    Dalam pengklasifikasian tanah dikenal berbagai tingkat(kategri) klasifikasi. Pada kategori tinggi tanah dibedakan secara garis besar, kemudian pada kategori berikutnya dibedakan lebih terperinci dan seterusnya sehingga pada kategori yang paling rendah tanah dibedakan sangat terperinci. Sifat-sifat tanah yang digunakan untuk membedakan tanah pada kategori tinggi juga merupakan pembeda pada kategori yang lebih rendah,sehingga jumlah factor pembeda semakin meningkat dengan semakin rendahnya kategori.

    Taksonomi ]Tanah (USDA). Sistem ini dikembangkan oleh amerika pada tahun 1975 dengan menggunakan enam kategori yaitu, order, suborder, greatgoup, subgroup, famili, dan seri. Sistem iini tergolong baru baik mengenai cara-cara penamaan (tatanama) maupun definisi-definisi mengenai horison-horison penciri atau sifat-sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis-jenis tanah.

    Horison penciri, untuk keperluan klasifikasi tanah selain penggolongan horizon tanah ke dalam horizon A, B, C dan sebagainya perlu diidentifikasi horizon penciri baik baik epipedon, horizon bawah(subsurface), ataupun sifat-sifat penciri lain.

    Epipedon adalah horizon permukaan tetapi tidak sama dengan horizon A. Mungkin lebih tipis dari horizon A tetapi mungkin pula meliputi horizon B.

    Epipedon histik                       — Horison permukaan yang mengandung bahan organic tinggi ( lebih dari                   20%)

    Epipedon mollik                      — Mengandung bahan organic lebih 1% , warna lembab dengan value kurang dari 3,5 tebal 18 cm atau lebih, kejenuhan basah lebih dari 50%

    Epipedon umbrik        –seperi mollik tapi kejenuhan basah kurang dari 50%

    Epipedon anthropik    –seperi mollik, tetapi mengandung lebih dari 250 ppm P2O5 larut dalam asm sitrat

    Epipedon ochrik                      –horison berwarna terang(value lembab lebih dari 3,5), bahan organic kurang dari 1% atau keras –sangat keras dan massif.

    Epipedon plaggen       –tebal lebih dari 50 cm, hitam, terbentuk karena pemupukan organic ( pupuk kandang) yang terus menerus.

    Horizon lain yang ditemukan di permukaan sebagai penciri adalah :

     

    Horizon arenik                        –horison banyak mengandung pasir tebal lebih dari 50 cm terletak di atas horizon argilik.

    Horizon glossarenik    –seperti arenik tapi tebalnya lebih dari 100 cm.

    Horizon Bawah Penciri:

    Horizon agrik              –horison di bawah lapisan akumulsi debumdan humus.

    Horizon albik              –horison berwarna pucat (horizon A2),warna dengan value lembab lebih

    Dari 5

    Horizon argilik                        –horison penimbunan liat, adalah horizon B yang paling sedikit mengandung 1.2 kali lipat lebih banyak daripada liat diatasnya. Terdapat selaput liat.

    Horison kalsik             –tebal 15 cm atau lebih, mengandung karbonat(CaCO3 atau MgCO3) sekunder tinggi.

    Horisom Kambik                     –indikasi lemah adanya agrilik atau spodik, tetapi tidak memnuhi syarat untuk kedua horizon tersebut.

    Horizon gipsik             –hroizon banyak mengandung gypsum(CaSO4)sekunder.

    Horizon natrik             –horizon agrilikyang banyak mengandung Na.

    Horizon oksik              –tebal 30 cm atau lebih, KTK(NH4OAC) < 16 me/100 g liat, dan KTK (NH4CL tanpa Buffer) < 10 me/100g liat.

    Horison petrokalsik     –horizon kalsik yang mengeras

    Hotison petrogipsik     –horison gipsik yang mengeras

    Horizon salik               –tebal 15cm atau lebih,banyak mengandung garam-garam, sekunder mudah larut

    Horizon sombrik                     –horison berwarna gelap, sifat-sifat seperti epipedon umbrik ,terjadi iluviasi humus tanpa Al dan tidak terletak di bawah horizon albik.

    Horison spodik                        –horison iluviasi seskuioksida bebas dan bahan organic.

    Horizon sulfuric                      –horizon banyak mengandung sulfat masam (cat clay), pH < 3,5 , terdapat karatan terdiri dari jarosit.

    Horizon Penciri Untuk Tanah Organik :

    Bahan fibrik                –kandungan hutan organic kasar ( fibrik ) lebih 2/3.

    Bahan saprik               –Bahan hemik kandungan bahan organic dengan tingkat kasar 1/3 – 2/3.

    Bahan humilluvik        –iluviasi humus setelah lama untuk bercocok tanam (pada tanah organic).

    Bahan limnik               –endapan organic atau anorganik dari makhluk hidup air .

    Penciri khusus:

    Konkresi                      –senyawa tertenru yang mengeras, berlapis konsentris (memusat).Bahan yang disementasikan misalnya misalnya  : kapur,berisi mangan dan silikat.

    Oterde                         –penimbunan besi dan bahan organic tanpa sementasi.

    Fragipan                      –lapisan tanah yang teguh ,mudah pecah, kepdatan tinggi.Tampak memadas bila kering,tetapi mudah pecah bila lembab.

    Duripan                       –lapisan tanah yang teguh,tak tembus aie dan akar.

    Padas Liat(CLAYPAN)         –lapisan atau horizon padat kaya akan liat,batas dengan horizon diatasnya jelas.

    Krotovinas                  –Coraqk yang membentuk pipa teratur dalam suatu horizon, terbenruk dari bahan berasal horizon yang lain.

    Plintit(plinthire)                       –bahan liat lapuk ,kaya seskuisida,niskin humus,biasanya sebagai karatan-karatan merah di atas dasar kelabu atau dasar merah karatan kelabu atau putih,terbentuk “polygonal” atau beralih” irreversible”ke konkresi dalam keadaan basah atau keringberulang-ulang; batas-batas keatas dank e bawah baur atau berangsur-angsur.

    Slickenside                  –permukaan-permukaan licin dan mengkilap disebabkan oleh massa tanah satu dan lainnya saling menggesek/menggeser.

    Selaput liat (clasy skin)           –selaput liat alumunium silikat , biasanya terdapat di bidang-bidang belahan struktur atau dalam pori-pori dan terletak sejajajr dengan bidang-bidang belahan struktur.Selaput liat ini mengandung atau tidak mengandung organic dalam jumlah nyata mengeras bila kering.Bagian lapisan yang mengeras berwarna metah,biasanya mengandung karatan kuning,abu-abu atau putih.

    Konthak lithik             –batas tanah dengan dibawahnya yang keras dan padu.

    Regin temperature(untuk kedalaman tanah ±50 cm)

    Pergilic                        –suhu tanah rata-rata tahunan kurang dari 0°C(Permaforst)

    Crycic                          –suhu tanah tahuana antara 0° C – 8° C,suhu musim panas rata-rata kurang dari 15°C.

    Firgid                          –suhu tanah rata-rata tahunan 0°C-8°C,pada mjusim panas suhu rata- rata lebih panas dari cycric (lebih dari 15°C)

    Mesic                           –suhu tanah rata-rata tahunan 8°C-15°C.

    Thermic                       — suhu tanah rata-rata tahunan 15°C-22°C.

    Hyperthermic              — suhu tanah rata-rata tahunan lebih dari 22°C

    Iso mesic                     –Perbedaan suhu tanah rata-rata musim panas dan musim dingin kurang dari 5°C suhu tanah rata-rata tahunan = figrid ,mesic, thermic, hyperthermic.

    Tropic                          –mempunyai sifat iso dan suhu tanah rata-rata tahunan lebih dari 8°C(isomesic atau lebih panas)

    Regin kelembababan (untuk kedalaman antara 10-90 cm)

    Aquic                          –Tanah sering jenuh air,sehingga terjadi reduksi.Ditunjukan oleh adanya karatan denag khroma rendah.

    Aridic atau torric         –Kering lebih dari 6 bulan (bila tanah tidak pernah beku).Tidak lembab leboh dari 90 hari atau lebih setiap tahun.

    Perudic                        –curah hujan setiap bulan selalu melebihi evapotranspirasi.

    Udic                            –tanah tidak kering 90 hari(kumulatif )setiap tahun.

    Ustic                            –tanah setiap tahun kering lebih dari 90hari(kumulatif)tetapi kurang dari 180hari.

    Xeric                           –hanya terdapat di daerah beriklim Meditran (non iso),Setiap tahun lebih dari 45 hari berturut-turut di musim panas ,lembab lebih dari 45 hari berturut-turut di musim dingin.

    Tata Nama

    Salah satu hal yang baru dalam system Taksonomi Tanah adalah penggunaan tata nama.Dalam system ini nama-nama tanah selalu memiliki arti ,yang umumnya yang menunjukan dari sifat utama dari tanah tersebut.Dalam kategori order nama tanah selalu deberi kata sol(solum = tanah),sedang suku nkata sebelumnya menunjukan, sifat utam dari tanah tersebut . Untuk kategori yang lebih rendah dari order akhiran sol tidak digunakan lagi.Sebagai gantinya maka untuk menunjukan hubungan sifat-sifat tanah dari kategori yinggi ke kategori rendah digunakanlah akhiran yang merupakan singkatan dari nama masing-masing order tersebut seperti terlihat pada table di bawah ini

    Nama Order Aliaran unutk kategori lain Arti asal kata
    ALFISOL ALF Dari Al-Fe
    ARIDISOL ID Aridus sangat kering
    ENTISOL ENT Dari recent
    HISTOSOL IST Histos, jaringan
    INCEPTISOL EPT Inceptum,permulaan
    MOLLISOL OLL Mollis, lunak
    OXISOL OX Oxide, oksida
    SPODOSOL OD Spodos,abu
    ULTISOL ULT Ultimus,akhir
    VERTISOL ERT Verto,berubah

     

    Pada tingkat famili,tanah diberi nama secara deskriptif yang umunya menerangkan susunan besar butir,susunan mineral liat,regim suhu tanah,atau sifat-sifat lain yang spesifik dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman .

    Pada tingkat seri,tanah deberi nama menurut nama tempat dimana tanah tersebut pertama ditemukan.

    Dibawah ini adalah sebuah contoh :

    Order               : Ultisol (ultus = akhir, perkembangan tanah pada tingkat akhir)

    Suborder         : Udult (udus = daerah tropic ,terus menerus panas dengan sifat iso)

    Greatgroup      :Tropudult (trpikos = daerah tropic , terus, menerus panas dengan

    sifat iso)

    Subgroup         :  Aquic Trorpodult (Aqua = air,kadang-kadang berair.)

    Famili              : Aquic Trorpodult , Berliat halus ,kaolinitik, isohipertermik

    (kaolinitik = mineral liat yang dominan ; adalah kaolinitik

    ishohipertermik = suhu tanah lebih dari 22°C, perbedaan

    suhu musim panas dan musim dingin kurang dari 5°C)

    Seri                  :Granada (pertama kali ditemukan di daerah granda).

    Sifat-sifat tanah dalam tingkat order,Taksonomi Tanah

    Berdsarkan atas horizon-horizon penciri dan sifat-sifat penciri lain maka tanah di dunia ini dapat dikelompokkkan ke dalam sepuluh order seperti tertera pada table 22.

    Alfisol             — Tanah-tanah terdapat dimana penimbunan liat di horizon bawah (=horizon

    agrilik) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35 % pada kelembaban 180cm dari permukaan tanah.Liat tertimbun di horizon bawah ini berasal ini berasal dari horizon di atasnya dan tercuci ke bawah tanah ini dulu termasuk dengan gerakan air. Tanah ini dulu termasuk tanah mediteran ,Merah kuning.

    Aridisol                       –Tanah-tanah yang mempunyai keklebahan tanah arid (sangat kering).

    Mempunyaiepipedon orchik, kadang-kdang dengan dengan gorison penciri lain.

    Dulu disebut Desert soil .

    Entisol             –Tanah yang masih sangat masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan

    dalam perkembangan .Tidak ada horizon penciri lain kecuali epipedon orchik  ,

    albik atau histik (ENT-Recent=Baru).Tanah ini disebut tanah alluvial atau

    Regosol.

    Hitosol                        –Tanah dengan kandungan bahan organic lebih dari 20% (tekstur pasir),atau

    lebih 30% (tekstur liat).Lapisan yang mengandung bahan organic tinggi (tekstur

    liat).Lapisan yang menagandung bahan organic tinggi tersebut tebalnya lebih dari

    40 cm.(histos = jaringan).Tanah Gambut, Tanah orginik atau organosol.

    Inceptisol        –Merupakan tanah muda ,tetapi lebih berkembang daipada Entisol (inceptum

    permulaan ).Umumnya mempunyai horizon kamblik .karena tanah belum berkembang lanjut kebanyakan tanah ini cukup subur .Tanah ini dulu termasuk tanah Aluvial ,Andosol, Regosol, Gleihumus dan lain-lain.

    Mollisol                       –Tanah dengan table epipedon lebih dari 18cm yang berwarna hitam (gelap),

    kandungan bahan organic lebih dari 1% kejenuhan basa lebih dari 50%.

    Agregasi tanah baik sehingga tanah tidak keras bila kering (Mollis = Lunak ).

    Tanah ini  dulu disebut chernozen ,bRunizem, Rendzina dll.

     

    Tabel 22.Order Tanah dan Penciri utama menurut system Taksonomi Tanah.

    Order Penciri Utama
    Horison Penciri Sifat-Sifat Pnciri lain
    Alfisol Horizon Argilik KejenuhaN basa tinggi

    ( lebih dari 35%)

    Aridisol Regim kelembaban tanah ordik (sanagat kering)
    Entisol Hanya ada epipedon orchik, albik ,atau histik
    Histosol Epipedon histik tebalnya lebih dari 40cm.
    Inceptisol Horizon Kambik
    Mollisol Epipedon Mollik Kejenuhan basa
    Oxisol Horizon Oksik Seluruh solum lebih dari 50%
    Spodosol Horizon spodik
    Ultisol Horizon Agrilik Kejenuhan basa rendah (kurang dari 35%)
    Vertisol Sifat vertik*),lebih dari 30% liat

    *)         musim kering mengerut,tanah pecah-pecah ,musim hujan mengembang tanah sangat lekat.

    Oxisol          -Tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak  aktif sehingga kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 16 me/100 g liat). Banyak mengandung oksida-oksida besi atau Al. Dilapang tanah nini menunjukkan batas-batas horizon yang tidak  jelas tanah ini dulu disebut tanah Latosol (umumnya Latosol merah atau merah kekuningan), laterik pada atau juga podzolik merah kuning

    Spodosol         -Tanah dimana dihorison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horizon spodik) sedang dilapisan atas terdapat horizon elevasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Tanah ini dulu disebut podzol

    Ultisol             -Tanah–tanah  dimana terjadi penimbunan liat dihorison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Tanah ini dulu disebut tanah podzolik merah kuning yang banyakterdapat di Indonesia. Kadang-kadang banyak juga tanah tnah latosol dan Hidromorf kelabu

    Vertisol           -Tanah dengankandunga liat tinggi (lebih tinggi dri 30%) diseluruh horizon, mempunyai sifat mengembang mengerut sehingga tanah pecah-pecah dank eras, kalau basah mengembang dan lengket. Tanah ini dulu disebut tanah Gromusol atau Margalith

     

    6 Manfaat Unsur Makro Serta Gejala Gejala Defisiasi Unsur-Unsur Makro Terhadap Pertumbuhan Tanaman

    Nitrogen (N)

    Nitrogen berasal dari:

    1.Bahan orgonik tanah

    Bahan organik harus halus N tirendahnggi, C/N rendah

    Bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi

    Bahan organik merupakan  sumber N yang utama didalam tanah. Selain N,  iorganik mengandung pula nusur-unsur lain sebagai berikut : C, N , P , S (unsur  : mikro) =100 :10 :1 :1 sangat sedikit

    Faktor yang mepengaruhi penghancuran (dekomposisi) bahan organik adalah :

    • Suhu       : Suhu tinggi, dekomposisi
    • Kelembaban       : Basah tanah yang selalu dalam posisi bahan organik, lambat, lembab cepat
    • Tata udara tanah            :Tata udara baik, dekomposisi
    • Pengolahan tanah           :tanah yang diolah, tata udara menjadi baik, penghancuran bahan organik cepat
    • pH          tanah dengan pH masam, penghancuran bahan organik lambat
    • Jenis bahan organik        : pinus sulit dihancurkan, tanaman –tanaman budidaya umumnya cepat dihancurkan

    2. Pengikat oleh mikroorganisme dari N udara:

    a. Simbosis dengan tanaman legumunase, yaitu oleh bakteri bintil akar atau rhizobium

    b. bakteri yang hidup bebas (noon simbiotik

    - Azetobakter

    - Clostridium

    3.Pupuk

    Misalnya ZA,

    Air hujan

    Fungsi N

    • Memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman. Tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih hijau
    • Pembentuka protein

    Gejala- gejala kekurangan N

    • Tanaman kerdil
    • Pertubuhan lambat
    • Daun-daun kuning gugur

    Gejela-gejala kebanyakan N

    • Memperlambat kematangan tanaman (terlalu banyak pertumbuhan tanaman)
    • Batang-batang lemah mudah roboh
    • Senyawa-senyawa amino
    • Mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit

    Nitrogen didalam tanah terdapat dalam bentuk, yaitu:

    • Protein (bahan organik)
    • Senyawa –senyawa amino
    • Amonium (NH)
    • Nitrat (NO)

    Perubahan –perubahan bentuk bentuk nitrogen dalam tanah dari bahan organik melalui berbagai macam proses yaitu:

    Aminisasi : pembentukan senyawa amino dari bahan organik (protein) oleh bermacam-macam (heterogonus) mikroorganisme

    Protein  +  enzim              s enyawa amino + CO2 + Energi

    (Bahan     (mikro-           (R-NH2)              (untuk pertumbuhan

    Organik)    organisme)                                  mikroorganisme)

    Amonifikasi : pembentukan amonium dari senyawa-senyawa amino oleh mikroorganisme R-NH2 + HOH             R-OH + NH3 + Energi

    NH3 + HOH           NH4OH            NH4 + OH

    Nitrifikasi : perubahan dari amonium ( NH4 ) menjadi nitrit oleh bakteri nitrosomonas kemudian menjadi nitrat ( oleh mikrobakter )

    2NH4 + 3O                         2NO2 + 2H2O + 4H + Energi

    (nitrosomonas)

    2NO2 + O2                   2NO3 + Energi

    (nitrobakter)

     

    Factor-faktor yang mempengaruhi Nitrifikasi :

    • -Tata udara—Nitrifikasi berjalan baik kalau tata udara baik
    • Ph tanah – baik pada Ph sekitar 7
    • Suhu—terlalu dingi lambat

    Nitrogen diambil tanaman dalam bentuk

    -NH4

    -NO3

    Hilangnya N dari tanah

    1. digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme

    2. N dalam bentuk NH4 dapat diikat oleh mineral liat jenis ilit sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman

    3. N dalam bentuk NO3 (nitrat) mudah dicuci oleh air hujan (leacing) :

    - banyak hujan N rendah

    - tanah pasir mudah merembeskan air, N lebih rendah dari pada tanah liat

    4. Proses denitrifikasi :

    Yaitu proses reduksi nitrat (NO3) menjadi N2 gas

    1. oleh mikroorganisme

    bakteri denitrifikasi

    2HNO3                                    2HNO2                N2O              N2 gas

    -2(0)                                  -H2O                    -(0)

    b. Proses reduksi nimia ( terjadi setelah terbentuk nitrit misalnya produksi nitrit dengan urea )

    2HNO2 + CO(NH2)2        CO2 + 3H2O + 2N2 gas nitrit urea

    Sarat terjadinya denitrifikasi :

    -          ditempat yang tergenang, drainase buruk, tata udara jelek

    Fosfor (P)

    Unsur P di dalam tanah berasal dari :

    -          Bahan organik (pupuk kandang, sisa-sisa tanaman)

    -          Pupuk buatan ( TSP, DS)

    -          Mineral-mineral dalam tanah (apatit)

    Jenis P dalam tanah

    1. P-Organik ( phytin, nucleid acid, phospolitit)
    2. P-anorganik

    Fungsi P

    -          pembelahan sel

    -          pembentukan albumin

    -          pembentukan bungaa, buah dan biji

    -          mempercepat pematanagan

    -          memperkuat batang agar tidak mudah roboh

    -          perkembangan akar

    -          memperbaiki kualitas tanaman terutama sayur-sayuran dan makanan ternak

    -          tahan terhadap penyakit

    -          membentuk nutcleoprotein (sebagai penyusun gen)

    -          metabolisme karbohidrat

    -          menyimpan dan memindahkan energi

    sebab-sebab kekurangan P dalam tanah

    -          jumlah P didalam tanah sedikit

    -          sebagian besar terdapat dalam bentuk yang tidak dapat diambil oleh tanaman

    -          terjadi pengikatan (fiksasi) oleh Al pada tanah masam dan oleh Ca pada tanah alkalis

    -          Gejala kekuranagn P

    -          pertumbuhan terhambat (kerdil), karena pembelahan sel terganggu

    -          daun-daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun

    -          terlihat jelas pada tanaman yang masih muda

    -          pada jagung, tongkol jagung menjadi tidak sempurna, kecil-kecil

     

    Kalium (K)

    Unsur K dalam tanah berasal dari :

    1. mineral-0mineral primer tanah (feldspar, mika dll.)
    2. pupuk buatan (Zk)

    Fungsi K

    -          (K) tidak merupakan unsur penyusun jaringan tanaman

    -          Pembentukan pati

    -          Mengaktifkan enzim

    -          Pembukaan stomata (mengatur pernafasan dan penguapan)

    -          Proses fisiologis pada tanaman

    -          Proses metabolik dalam sel

    -          Mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain

    -          Mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan, penyakit

    -          Perkembanagn akar

    K di temukan dalam jumlah yang banyak diddalam tanah tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan (dalam koloid tanah).

     

    K didalam tanah dapat dibedakan menjadi :

    1. tidak tersedi bagi tanaman

    - terdapat dalam mineral-mineral primer tanah seperti feldspar (ortoklas, leusit), mika dan lain-lain

    - jumlahnya 90—98%total K di dalam tanah

    2. tersedia

    - terdiri dari K yang dapat dipertukarkan (dijerap oleh koloid liat atau humus) dan K dalam larutan ( bentuk ion K+)

    - jumlah 1—2% total dalam tanah

    3. tersedia tapi lambat

    - yang yang btidak dapat dipertukarkan, diikat (difiksasi) ooleh mineral liat (+ monmorilonit)

    - tidak terccuci oleh air hujan, dapat berubah menjadi bentuk yang tersedia

    - jumlah tergantung banyaknya mineral ilit yang ada dalam tanah.

    Pengambilan K oleh Tanaman

    Tanaman cenderung mengambil K dalam jumlah yang jauh lebih banyk dari yang dibutuhkan tetaoi ntidak menambah produksi

    Hilangnya K dari tanah

    -diserap tanaman terutama tanaman leguminosa, tomat, kentang

    - pencucian oleh air hujan ( oleh leacing)

    Gejala kekurangan K

    -          Unsur K mudah bergerak (mobile) didalam tanam sehingga gejala-gejala kekurangan K pada daun terutama terlihat pada daun tua, karena daun-daun muda yang masih tumbuh  dengan aktif menyedot K dari daun-daun tua tersebut

    -          Ruas pada jagung memendek dan tanaman tidak tinggi

    -          Pinggir-pinggir daun berwarna coklat mulai dari daun tua

     

    Kalsium (Ca)

    Asal  Ca dalam tanah

    -          mineral-mineral primer (misalny mineral plagioklas)

    -          karbonar : CaaCo3 (kalsit)

    CaMg(CO3)2 (dolomit)

    -          Garam-garam sederhana : CaSO4 (gypsum)

    Ca fosfat

    Ca diambil tanaman dalam bentuk Ca++

    Fungsi Ca dalam tanaman

    -          Untuk penyusunan dinding-dinding sel tanaman

    -          Pembelahan sel

    -          Untuk tumbuh (elongation)

    Gejala kekurangan Ca

    -          Tunas dan akar tidak dapat tumbuh (tidak dapat berkembang) karena pembalahan sel terhambat.

    -          Pada jagung, ujung-ujung daun menjadi coklat dan melipat serta terkulai ke bawah saling melekat dengan daun du bawahnya.

    Magnesium (Mg)

    Diserap sebagai Mg++

    Asal Mg dalam tanah

    Mineral kelam – boitit, augit, hotrenblande, amfibol

    Garam               – MgSO4

    Kapur                – CaMg (CO3)2, dolomit

    Fungsi

    -          pembentukan khlorofil

    -          sistem enzim (aktivator)

    -          Pembentukan minyak

    Gejala kekuranagn Mg

    -          Mg mobil di dalam tanaman, difisiensi pada daun-daun tua

    -          Daun menguning karena pembentukan klorofil terganggu

    -          Pada jagung terliaht garis-garis kuning pada daun

    -          Pada daun muda keluar lendir terutama bila sudah lanjut.

    Belerang (S)

    Diserap tanaman

    -          dalam bentuk SO4

    -          dalam bentuk gas SO2 dari udara melalui daun.

    Bentuk dalam tanaman

    -          Protein

    -          Sulfat (SO4) 65 % dari total S

    -          Bentuk (CH2=CHCH2)2S pada bawang merah, bawang putih

    Fungsi : terutama untuk pembentuk protein

    Fungsi Tanah
    1.Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
    2.Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)
    3.Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
    4.Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

    Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:
    1.Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan
    2.Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.

    Kelebihan Tanah dibanding Media Tanam Lain

    • Lebih kuat dlm menyangga tanaman
    • Dapat menyediakan unsur hara
    • Dapat mengatur ketersediaan air
    • Filter dari kontaminan
    • Tempat hidup biota yang menghasilkan unsur yang berguna bagi tanaman

    Kelemahan Tanah dibanding Media Tanam Lain

    • Tanah dijaman sekarang ini sulit didapat apalagi dikota-kota besar
    • Pengolahannnya memakan biaya yang besar
    • Penggunaan pupuk kurang efisien dibanding dengan media lain
    • Tempat hidup biota yang bisa merugikan tanaman

    Upaya Konservasi Tanah

    1. Memberi pupuk / pemupukan sesuai dengan jenis tanah baik pupuk kandang maupun pupuk buatan.
    2. Membuat saluran irigasi untuk pengairan sawah yang jauh dari mata air.
    3. Membuat sengkedan untuk mencegah erosi tanah.
    4. Menjaga tanah dari penggunaan zat / bahan-bahan kimua yang merugikan.
    5. Menanami lahan yang gundul untuk membantu terjadinya erosi.
    6. Melakukan rotasi tanaman alias gonta-ganti jenis tanaman yang ditanam pada suatu bidang tanah.
    7. Melaksanakan penghijauan dengan cara memberi humus pada tanah.
    8. Memelihara cacing tanah dalam tanah untuk membantu menggemburkan tanah.
    9. Tidak membuang sampah sembarangan di tanah

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Brady,Nyle C.1960.The Nature and Properties Of Soils 6th. The Macmilllan Company.USA

    Foth,Henry D.1990.Fundamental Of Soil Science.8E.John Wiley & Sons.USA

    Foth,Henry D.1984.Fundamental Of Soil Science 7th.John Wiley & Sons.USA

    Handayanto dan Khairiah.2007.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.Pustaka. Adipura

    Yogyakarta

    Hardjowigeno,Sarwono.1987.Ilmu Tanah.Mediyatama Sarana Perkasa.Jakarta

    Hardjowigeno,Sarwono.2003.Iklasifikasi Tanah dan pedogenesis..Akademika pressindo.Jakarta

    Kemas,2004.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Rajawali Press.Jakarta

    Singer,Michel J.1996.Soils an Introduction 3rd.University Of California.USA

     

    By : Candra Quida N