MACAM-MACAM ORDO TANAH DAN KARAKTERISTIK

Posted: March 31, 2011 in Soil Science

Ultisols

  • Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu. Seperti dibawah ini :

Fisik:                                                                           Kimia:

  1. Kedalaman solum sedang ( 1-2 meter )          1. Ph < 5,5
  2. Warna merah atau kuning                               2.   BO rendah – sedang.
  3. Tekstur halus pada horizon Bt.                       3.   KB < 35 %
  4. Konsistensi teguh.                                           4.   KTK < 24 me /100 gr liat.
  5. Permeabilitas lambat sampai baik.                  5.   Nutrisi rendah.
  • Faktor  Kendala
  1. Mengalami proses pecucian sangat efektif.
  2. Kadar mineral lapuknya sangat rendah.
  3. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi .
  4. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah .
  5. Kandungan fosfor dan kalium tanah rendah.
  6. Daya simpan air terbatas.
  7. Kedalaman efektif terbatas.
  • Cara Pengendalian
  1. Untuk meningkatkan produktivitas tanah dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan , penambahan BO, dan penanaman tanaman adaptif.
  2. Penerapan teknik budidaya tanaman lorong ( tumpang sari ), terasiring, drainase dan pengolahan tanah yang seminim mungkin.
  3. Memperbanyak tanaman penutup tanah seperti rumput atau alang-alang.
  4. Melakukan rotasi tanaman untuk menjaga ketersediaan unsur hara.
  5. Tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.
  • Lokasi/ Ha

Ultisol di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia (Subagyo et al. 2004).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Harus adanya penutup lahan agar tanah tidak terkena sinar matahari langsung seperti Pemberian mulsa, berupa sisa-sisa tanaman, untuk mempertahankan kelembaban tanah, mengurangi alian permukaan/erosi, dan menambah bahan organik.
  2. Tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.
  3. Penanaman pohon-pohon produktif, yang menghasilkan buah, getah dan produk lainnya, yang dapat melindungi permukaan tanah dari terpaan air hujan dan aliran permukaan.
  4. Untuk tanaman pangan dilakukan pergiliran tanaman.

Entisols

  • Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Entisol terjadi di daerah dengan bahan induk dari pengendapan material baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat dibandingkan dengan laju pembentukan tanah. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

  • Faktor  Kendala

1.   Iklim yang sangat ekstrim basah atau kering, sehingga perombakan bahan induk terhambat.

2.   Bahan induk yang sangat resisten terhadap pelapukan, misalnya kuarsa.

3. Adanya faktor erosi yang selalu menggerus epipedon, sehingga tidak pernah terbentuk horison iluviasi.

  • Cara Pengendalian
  1. Memperbanyak tanaman penutup tanah seperti rumput atau alang-alang.
  2. Pembuatan terasering pada lereng-lereng agar tidak mudah tererosi.
  3. Pemberian mulsa (plastic atau organic)  dan bedengan untuk mengurangi penguapan dan memperbaiki drainase.
  4. Membiarkan apa adanya tanaman yang sudah alami disitu atau melakukan penanaman pohon-pohon untuk jadi hutan lindung, karena kurang baik untuk budidaya.
  5. Melakukan rotasi tanaman untuk menjaga ketersediaan unsur hara.
  6. Pada daerah berlereng memanfaatkan dengan system agroforestri.
  • Lokasi/ Ha

1.   Entisol merupakan tanah yang tersebar luas di permukaan bumi mulai dari kutub sampai dengan daerah ekuator.

2.   Luas areal entisol sekitar 10,6 % dari luas kepulauan Indonesia.

3.   Jenis tanah ini bnyak ditemukan di Irian Jaya (5.6 juta ha)Kalimantan  Tengah(1.54 juta ha),Sumatera Selatan(1.27 juta ha) dan NTT (0.91 juta ha).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

1.   Untuk entisol yang disawahkan memerlukan upaya pemantauan dari satu periode ke periode lainnya, dikhawatirkan timbulnya degradasi akibat budidaya

2.   Pertanian yang dikembangkan di tanah ini sebaiknya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija

3.   Entisol yang tergolong suborder Psamment di mana tekstur pasir sangat mendominasi, maka pemanfaatannya diarahkan kepada kawasan lindung mutlak.

4.   Pertanian yang dikembangkan di tanah ini sebaiknya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija

Histosols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

1.   Tidak mempunyai horizon.

2.   Berwarna kroma mantap atau meningkat dengan bertambahnya kedalaman dan mempunyai warna kurang dari 3.

3.   ketebalan BO mencapai puluhan meter bisa sampai ratusan meter.

4.   Mempunyai epipedon histik.

5.   Tekstur beragam.

6.   Tidak berstruktur atau berblok pada lapisan atas.

7.   Bahan organik fibrik, hemik atau saprik.

8.   Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.

  • Faktor  Kendala
  1. pH rendah.
  2. Jenuh air.
  3. Drainase jelek.
  4. Air tanah dangkal.
  5. Daya penyangga mekanis jelek.
  6. Miskin unsur hara.
  7. Mudah terbakar.
  • Cara Pengendalian
  1. Pengapuran.
  2. Pemupukan unsure makro dan mikro.
  3. Pembuatan saluran drainase.
  4. Dijadikan kawasan konservasi.
  5. Tidak menebang dan membabat vegetasi didaerah tersebut.
  • Lokasi/ Ha

Histosols tersebar hampir diseluruh dunia meskipun hanya meliputi 2% dari luas dunia.Sebagaian besar tersebar di Asia Selatan pada daerah tropika basah dan konsentrasi di sekitar flat sunda(Malaysia dan Kalimantan)lebih dari 20 juta ha .17 juta ha berada di Indonesia meliputi sumatera 9,7 juta ha dan Kalimantan 6,3 juta ha.

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

Potensi pengembangan lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut :

  1. Padi sawah.
  2. Tanaman semusim dan tanaman tahunan dapat dibudidayakan pada lahan gambut tetapi yang paling berhasil atau menunjukkan harapan adalah tanaman sayuran seperti : buncis, kacang panjang, bayam. Tanaman buah-buahan (seperti nanas, pepaya dan rambutan). Dan tanaman perkebunan (terutama kelapa, kelapa sawit, kopi dan karet)

Inceptisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah dengan horison bawah penciri kambik, telah terdapat proses pembentukan tanah alterasi.
  2. Kenaikan liat pada horison B dan perubahan warna (hue dan croma bertambah tinggi)
  3. Tekstur beragam dari kasar hingga halus (tergantung pada tingkat pelapukan bahan induknya)
  4. Cukup subur.
  5. Kedalaman efektif beragam dari dangkal hingga dalam.
  6. Merupakan tanah yang belum matang (immature) yang perkembangan profilnya lebih lemah dibanding dengan tanah matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya.

  • Faktor  Kendala
  1. Pelapukan belum intensif.
  2. Kisaran kadar KTK dan C-organik rendah.
  3. Kekurangan suplai unsur hara karena pelapukan batuan induk belum intensif.
  4. Terdapat horison sulfurik yang sangat masam pH sangat rendah (< 4) sehingga sulit untuk dibudiyakan.
  5. Beberapa kedalaman efektif dangkal dan terdapat kontak litic.
  6. Membentuk lapisan oksida (keras) yang sulit untuk ditembus oleh air.
  • Cara Pengendalian
  1. Memerlukan masukan yang tinggi baik masukan anorganik (pemupukan berimbang N, P dan K) maupun masukan organik (pengembalian sisa panen ke dalam tanah, pemberian pupuk kandang atau pupuk hijau).
  2. Memiliki tingkat kelerengan tinggi maka harus dengan pola tanaman tahunan atau agroforestry.
  • Lokasi/ Ha

Inceptisols ditemukan hampir diseluruh daratan Indonesia yaitu Irian Jaya(15.49 juta ha),Kalimantan Timur(6.12 juta ha),Kalimantan Tengah(4.21 juta ha), dan Maluku(4.0 juta ha).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

Pada umumnya inceptisols di Indonesia digunakan untuk pertanaman padi sawah dan sebaiknya untuk tanaman budidaya yang semusim apabila didaerah yang kemiringannya datar. untuk bercocok tanam hortikultura tanaman pangan, sampai dikembangkan sebagai lahan-lahan perkebunan besar seperti sawit, kakao, kopi, dan lain sebagainya, bahkan pada daerah-daerah yang eksotis, dikembangkan pula untuk agrowisata.

Alfisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah ini dicirikan adanya selaput liat.
  2. Tanah dengan horison argilik, kandik, atau natrik.
  3. KB >35%.
  4. Kesuburan alami tinggi.
  5. Bentuk wilayah beragam  dari bergelombang hingga tertoreh tekstur berkisar antara sedang hingga halus,Drainasenya baik . bahan organic pada umunya sedang hingga rendah.Jeluk tanah dangkal hingga dalam. Mempunyai sifat kimia dan fisika relati baik.
  • Faktor  Kendala
  1. Pada beberapa tempat di jumpai kondisi lahan berlereng dan berbatu.
  2. Horison B argilik dapat mencegah distribusi akar yang baik pada horison B bertekstur berat.
  3. Rendahnya kandungan bahan organik, fosfor dan kalium.
  • Cara Pengendalian

Pengelolaan tanah sebaiknya dilakukan dengan alternatif sebagai berikut :

  1. Pembuatan terassering pada lahan yang berlereng.
  2. Adanya tanaman lorong.
  3. Penambahan unsur hara secara organik.
  4. Adanya irigasi yang baik.
  5. Pembuatan guludan searah dengan kountur.

  • Lokasi/ Ha

Penyebaran alfisol di Indonesia terdapat dipulau Jawa,Sumatera,Irian Jaya,Bali,Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan luas areal 12.749.000 hektar. di Sulawesi lusa areal tanah Alfisol ini 2.930.000 hektar dan juga ditemukan di Irian Jaya 106.000 hektar.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

Penggunaan Alfisol di Indonesia diusahakan menjadi pesawahan (padi) baik tadah hujan atau pun berpengairan,perkebunan(buah-buahan ),tegalan, hutan produsi(sengon) dan pedang rumput.

Vertisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.
  2. Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi.
  3. Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi.
  • Faktor  Kendala
  1. Vertisol pada umumnya memiliki tekstur liat, kandungan liat berkisar antara 35% hingga 90% dari total tanah. Kandunga liat di seluruh lapiran tanah bukan merupakan pross translokai melainkan berasal dari bahan induk.
  2. Terjadi rekahan saat musim kemarau.
  3. Kejenuhan basa  tinggi, KTK yang tinggi, tekstur yang relative halus, permeabilitas yang rendah dan pH yang relative tinggi dan status hara yang tidak seimbang.
  4. Pada umumnya  Vertisol juga defisiensi P. Setelah N, unsure P merupakan pembatas hara terbesar pada Vertisol. Kekurangan unsure P jika kandungan P kurang dari 5 ppm.
  • Cara Pengendalian
  1. Adanya pemanfaatan irigasi yang baik.
  2. Pemupukan secukupnya hanya untuk unsur hara yang kurang kebanyakan unsur P sebagai pembatas.
  3. Melakukan pengolahan tanah agar membuat tanah tetap jenuh.
  4. Dalam mengatasi kembang mengkerutnya tanah vertisol yaitu dengan memperbanyak bahan organik seperi kompos dan pupuk kandang.

  • Lokasi/ Ha

Tanah-tanah ini banyak ditemukan kebanyakan di NTT(0.198 juta ha),Jawa Timur(0.96 juta ha),NTB(0.125 juta ha),Sulawesi Selatan(0.22 juta ha),dan Jawa Tengah(0.4 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Kapas,seringkali air melalui irigasi dan dapat tumbuh pada kisaran yang luas.
  2. Sorgum,pensetum dan sesame, dapat tumbuh pada curah hujan 200mm/tahun atau lebih besar.
  3. Padi dengan sistem irigasi yang sudah baik.
  4. Tanaman-tanaman lain yang terdapat adalah jagung,rumput makanan ternak,bunga matahari,risius,gula beet,tembakau.

Andisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Berkembang dari bahan induk abu vulkan, batu apung (pumice) dan sinder.
  2. Banyak mengandung mineral dalam tanah.
  3. Potensi fiksasi fosfat tinggi.
  4. Daya menahan air tinggi.
  5. Porositas tinggi dan permeabilitas cepat.
  6. Berat Isi tanah rendah.
  7. Ketebalan solum antara 100 sampai 225 cm.
  8. Warna hitam, kelabu sampai coklat tua.
  9. Tanah mineral dengan sifat andik.

10.  Tanah mineral yang tidak memiliki horison argilik, natrik, spodik dan oksik.

11.  Mempunyai satu atau lebih dari : epipedon histik, molik, umbrik,

  • Faktor  Kendala
  1. Peka terhadap erosi.
  2. Retensi P tinggi.
  3. Pencucian unsur hara tinggi.
  4. Andisol yang mempunyai kontak litik dan paralitik dangkal.
  • Cara Pengendalian
  1. Meningkatkan penutupan tanah (pemberian mulsa atau penambahan vegetasi di atasnya).
  2. Pembuatan teras pada daerah miring (8-10%).
  3. Penerapan pola tanam tumpangsari yang dapat menutup tanah sepanjang tahu.
  4. Penembahan pupuk fosfat dosis tinggi dan penambahan bahan organik.
  5. Meningkatkan penutupan tanah; penerapan drip irrigation untuk mengurangi laju pencucian unsur hara karena perkolasi.
  6. Membuat bedengan agar mengurangi pencucian unsur hara dan erosi.
  • Lokasi/ Ha

Total luasan sekitar 5.39 juta ha atau 2.9% dari lahan yang ada di Indonesia dengan penyebaran Sumatera Utara (1.06 juta ha),Jawa Timur(0.73 juta ha),Jawa Barat(0.50 juta ha),Jawa Tengah(0.45 juta ha),dan di Maluku(0.32 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Di Sumatera Andisols digunakan untuk budidaya tanaman industri(tembakau cerutu deli).
  2. Lembang (Jawa barat) merupakan sentral produksi hortikultura
  3. Jawa Timur pada umunya menjadi sentra untuk hortikultura dan tanaman tahunan.
  4. Di Temanggung(Jawa Tengah) dimanfaatkan untuk budidaya tanaman tembakau.

Dari semua pemanfaat tersebut dilakukan kajian yang intesif terhadap kemiringan   lahan agar tidak terjadi erosi yang tinggi.

Oxisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Tanah yang memiliki horizon oksik atau kandik dengan cadangan mineral yang sedikit. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning. Diuraikan dibawah ini :

Fisik:

  1. Tekstur oxisol sedang hingga halus, memiliki kandungan debu yang sangat rendah.
  2. Rasio antara debu terhadap lempung atau liat pada suatu sample tanah berada di bawah 0,15.
  3. Bulk density rendah, berkisar antar 1-1,3 gr/cm3.
  4. Kemampuan menahan airnya rendah jika di bandingkan dengan tanah yang lain.

Kimia:

  1. KB rendah, kandungan Fe, Al, dan Sioksida tinggi.
  2. KTK rendah <16 me/100 g
  3. Memilki reaksi tanah yang sangat masam

  • Faktor  Kendala
  1. Iklim : temperature dan curah hujan.
  2. Bahan induk :merupakan bahan induk tua yang sudah mengalami proses pelapukan lanjut.
  3. Relief / topografi.
  4. Cadangan mineral sedikit.
  5. KTK rendah.
  6. Tanah masam.
  7. Dapat keracunan Al, Fe dan Si.
  8. Kemampuan menahan air rendah (drainase cepat).
  • Cara Pengendalian
  1. Tidak menggangu tanaman alami pada tanah oxisols, didaerah yang berlereng.
  2. Membuat irigasi untuk suplai air.
  3. Pemupukan tanah agar suplai unsur hara yang di butuhkan tersedia.
  4. Memperbaiki sifat kimia dengan cara pengapuran dan penambahan BO.
  • Lokasi/ Ha

Tanah-tanah sudah tua total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dam menyebar  di Sumatera Selatan (2.82 juta ha),Irian Jaya (2.41 juta ha),Kalimantan Tengah(2.06 juta ha),Kalimantan Barat (1.79 juta ha),Jambi(1.14 juta ha) dan Lampung(1.01 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Menjadikan hutan lindung untuk mengurangi dampak pemanasan global.
  2. Permukaan tanah harus dalam kondisi tertutup oleh tanaman penutup tanah karena apabila permukaan tanah terbuka menyebabkan erosi dan mengintensifkan pelapukan tanah. Dapat juga terjadi pengerasan tanah karena adanya Fe yang tinggi.
  3. Untuk tanaman pangan pengelolaan tidak hanya dilakukan pemupukan unsur anorganik atau pengapuran  tetapi juga diperlukan adanya masukan bahan organik yang cukup besar untuk mempertahankan kondisi tanah.

Spodosol

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.
  2. Adanya lapisan pasir masam berwarna putih abu-abu  ( horizon albik ) di atas lapisan lempung berpasir yang berwarna gelap
  3. Terbentuknya tanah ini pada bahan induk pasir kuarsa dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan seresah masam.
  • Faktor  Kendala
  1. Kesuburan alami rendah.
  2. Iklim : Boreal ( dingin ) iklim sub tropis dan tropis.
  3. Adanya penimbunan Fe dan Al dengan humus yang dapat meracuni tanaman, bahkan dapat memadas/mengeras apabila terkena sinar matahari.
  4. Topografi : datar sampai bergelombang.
  5. Tanah ini juga peka terhadap erosi karena teksturnya berpasir sehingga cenderung gembur (remah).

  • Cara Pengendalian
  1. Adanya penutup lahan.
  2. Pembuatan bedengan, guludan atau terasering sesuai dengan kelerengannya.
  3. Untuk meningkatkan produktivitas tanah dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan , penambahan BO, dan penanaman tanaman adaptif.
  4. Sebaiknya tanah Spodosol tidak dijadikan lahan pertanian, tetapi tetap dibiarkan sebagai hutan. Kalau sudah terlanjur dibuka sebaiknya dilakukan reboisasi.
  • Lokasi/ Ha

Luas penyebaran tanah darat lebih kurang 200 juta ha.dengan luas dan penyebaran kemapuan wilayah seluas 162,335 juta ha.atau81% tersebar di Sumatera(47,270 juta ha),Kalimantan (53,966 juta ha),Sulawesi(18,904 juta ha)dan Irian Jaya(42,195 juta ha),Dari 162,335 juta ha.luas daratan tersebut 124,044 juta ha berwujud tanah kering dan 38,291 juta ha berwujud tanah basah.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Sebagai daerah konservasi.
  2. Spodosol banyak digunakan sebagai hutan .Kecuali itu dapat juga digunakan sebagi daerah rumput ternak(pasture), atau rekreasi.

Mollisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

Tanah yang mempunyai horison (lapisan) permukaan berwarna gelap yang mengandung bahan organik yang tinggi. Tanah ini kaya akan kation-kation basa, oleh karena itu tanah ini juga tergolong sangat subur. Mollisol secara karakter terbentuk di bawah rumput dalam iklim yang sedang. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering.

Sifat Fisik

  1. Memiliki warna gelap, kroma velue kurang dari 3,5 (lembab) dan kurang dari 5,5 (kering).
  2. Struktur gembur tidak keras, berbentuk prisma
  3. Tekstur halus sampai sedang.

Sifat Kimia

  1. pH sedang sampai alkali,
  2. memiliki kejenuhan basa lebih dari 60%.
  • Faktor  Kendala
  1. Intensitas pengelolaan dan pemanfaatannya relatif masih rendah.
  2. Biasanya adanya kontak litik yang ditemukan pada kedalam < 50 cm.
  • Cara Pengendalian
  1. Memanfaatka tanah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kebutuhan dan berdasarkan ilmu pengetahuan yang jelas.
  2. Budidaya tanaman semusim yang akarnya tidak lebih dari 50cm.
  • Lokasi/ Ha

Irian jaya, NTT, Kalimantan timur, Sulawesi tangah, dan Jawa timur.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

Cocok untuk usaha budidaya tanaman semusim yang memiliki akar pendek seperti jagung, kacang tanah, dan padi.

Aridisols

  • Sifat /Ciri Utama

Reaksi-eaksi fisik, kimia dan biologi berjalan lambat karena kurangnya air. Akibatnya aridisol merupakan tanah yang memiliki sifat hampir sama dengan bahan induknya. Aridisol memiliki KB tinggi karena rendahnya proses pencucian. Aridisol memiliki kandungan bahan organik yang rendah dan tidak adanya proses feritisasi. Serta tidak ditemukannya horizon eluviasi. Pada beberapa aridisol, di permukaan tanah sering ditemukan adanya gravel pavement. Ditemukanya caliche atau lapisan akumulasi karbonat, ini terjadi karena CaCO3 di endapkan oleh air perkolasi yang mulai habis. Selain itu juga ditemukan horizon salik dan  natrik

  • Faktor  Kendala
  1. Tanah-tanah yang berada di daerah-daerah dengan tingkat kekeringan yang ekstrem (sangat kering), bahkan sekalipun untuk petumbuhan vegetasi-vegetasi mesopit (seperti rumput).
  2. Selama musim kering biasanya terganggu oleh gundukan pasir serata erosi yang disebabkan arah angin yang cepat.
  3. Terjadinya pengerasan alga yang menyebabkan penurunan laju masuknya air (infiltrasi) bahkan dapat mencapai nol, hal ini dapat meningkatkan besarnya run off, banjir bandang, erosi parit yang parah saat musim penghujan yang berkepanjangan.
  4. Ketersediaan air sedikit bahkan tidak ada.
  • Cara Pengendalian
  1. Dilakukannya pengolahan tanah dengan penambahan bahan organik dalam tanah
  2. Penanaman sistem cover crop serta penambahan vegetasi di area yang dibutuhkan guna melindungi dari terjadinya run off yang besar.
  3. Penggunaan sistem irigasi seperti teras bangku atau gulutan.
  4. Penggunaan mulsa plastik.
  • Lokasi/ Ha

Di Indonesia tanah jenis ini hamper tidak ditemukan. Bahan induk tanah ini adalah batu kapur.Adapun di jumpai hanya sedikit tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

karena lingkungannya yang kering, Aridisol termasuk sangat sulit dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam. Tetapi dapat dilakukan budidaya tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan membutuhkan air yang sedikit, misalnya tebu dan nanas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s