Archive for the ‘Horticulture’ Category

BUDIDAYA ANTHURIUM

Posted: April 4, 2011 in Horticulture

ANTHURIUM

anthurium

anthurium

Nama anthurium berasal dari bahasa Yunani, yang artinya bunga ekor. Sumber genetik anthurium berasal dari Benua Amerika yang beriklim tropik, khususnya di Peru, Kolumbia, dan Amerika Latin. Pengembangan anthurium relatif berhasil di daerah yang beriklim subtropis, antara lain Belanda.

Taksonomi tanaman anthurium

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Sub-Divisi       : Angispermae

Kelas               : Monocotyledonae

Ordo                : Aracales

Famili              : Araceae

Genus              : Anthurium

Species            : Anthurium crystallianum Lindl & Andre, Anthurium andreanum Linden, A. ornatum Hook. f. dan lain-lain.

 

Morfologi

Anthurium termasuk keluarga Araceae yang mempunyai perakaran yang banyak, batang dan daun yang kokoh, serta bunga berbentuk ekor.

AKAR
Anthurium yang sehat mempunyai jumlah akar yang banyak, berwarna putih dan menyebar ke segala arah. Oleh sebab itu membutuhkan media yang porous.

BATANG
Batang Anthurium tidak nampak karena terbenam di dalam media. Setelah tanaman dewasa batang ini akan membesar menjadi bonggol.

DAUN
Daun Anthurium pada umumnya tebal dan kaku, bentuknya bervariasi seperti berbentuk jantung, lonjong, lancip, dan memanjang. Untuk Anthurium daun, kekompakan bentuk daun meningkatkan nilai estetikanya.

  1. 1. BUNGA
    Anthurium mempunyai bunga berumah satu artinya dalam satu bunga terkandung sel kelamin betina dan sel kelamin jantan. Bunga terdiri dari tangkai, mahkota, dan tongkol. Semua bagian bunga tersebut menjadi satu kesatuan dan berbentuk seperti ekor, sehingga Anthurium dikenal dengan si bunga ekor. Putik dan tepung sari menempel pada tongkol. Masaknya putik dan tepung sari tidak bersamaan (dichogamaous). Pada umumnya putik masak lebih awal dibanding tepung sari.
  2. BUAH DAN BIJI
    Buah berbentuk bulat dan menempel pada tongkol, buah muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah. Biji yang telah masak akan terlepas dari tongkolnya, biji inilah yang baik untuk disemai. Bibit yang dihasilkan dari biji, umumnya mempunyai sifat yang berbeda dari induknya.

 

POTENSI DAN KENDALA ANTHURIUM BUNGA

  1. 1. POTENSI

Potensi Anthurium sebagai komoditas florikultura bernilai ekonomis dan sosial bagi peningkatan pendapatan petani semakin besar. Hal ini melihat fungsi gandanya sebagai flora hias dan bunga potong yang makin digemari oleh masyarakat di dalam dan luar negeri.

Tanaman ini pada tahun 2007  menjadi sebuah komoditas laku keras untuk diperjualbelikan bahkan dengan harga yang tinggi mencapai puluhan juta rupiah dan berapa harga pasar terjadi tidak ada yang dapat memprediksikan dengan tepat seperti harga pasar kebutuhan pokok dapat diprediksikan dengan pasti.

Tanaman ini ketika itu tidak dapat diprediksikan karena antara suplay dan demand mungkin berbading terbalik artinya suplay tanaman ini memang dapat dikatakan langka sedangkan kebutuhan atau permintaan sangat tinggi khususnya untuk para kolektor adan pedagang yang punya akses kepada kolektor. Dengan embel-embel yang langka ini maka potensi pasarnya masih sangat luas dibanding dengan tanaman hias lain seperti adenium dan aglaonema. Saat ini memang sangat terkenal di Pulau Jawa dan akan meluas ketempat lain bahkan ke luar Jawa.

Dengan potensi pasar yang besar dan kepetingan para pedagang sebagai bahan komoditi yang diperjualbelikan maka para pengusaha atau pedagang masih dapat memetik keuntungan dari jual beli tanaman anthurium ini.

 

  1. 2. KENDALA

Kendala dalam budidaya anthurium ini adalah adanya hama dan penyakit jenis serangga yang paling sering mengganggu adalah Thrips. Dengan gejala perusakan yang nampak pada seludang bunga yang salah bentuk. Hama tersebut dapat dikendalikan dengan menggunakan Decis. Sedangkan pada bagian daun biasanya terserang oleh jamur, dan dapat dikendalikan dengan menggunakan Dithane M-45 atau Daconil.

 

VARIETAS ANTHURIUM

1. Anthurium scherzeranium

Tinggi tanaman biasanya berkisar 60 cm. Warna merah cerah mengkilau, panjang seludang berkisar 7,5-10 cm. Umur 2 tahun mulai berbunga.

2. Anthurium andreanum

Panjang seludang dapat mencapai kurang lebih 15 cm.

3. Anthurium bakeri

Daunnya memanjang seperti pita berwarna hijau kekuningan. Seludangnya kecil berwarna hijau kekuningan dengan ujung tajam. Bunganya panjang berwarna merah cerah. Putiknya menempel pada tangkai sari seperti bercak-bercak warna merah cerah.

 

 

4. Anthurium papilionensis

 

Warna daun hijau kekuningan, bentuknya seperti jantung, seludang bunga berwarna kuning keputihan.

5. Anthurium magnificum

Warna daun hijau dengan tulang daun berwarna kuning keputihan. Bentuk daun seperti jantung. Seludangnya seperti pita berwarna putih yang ujungnya runcing. Bunganya panjang dengan tangkai sari dan putiknya berwarna kuning.

6. Anthurium clarinervum

Warna daun hijau seperti beludru . Tulang daun berwarna agak putih . Bentuk daun seperti jantung dengan tangkai bunga yang sangat panjang. Berseludang kuning, ujungnya runcing dan bunganya berwarna kuning kehijauan

 

TEKNIK BUDIDAYA ANTHURIUM

SYARAT TUMBUH

  1. Kebutuhan Cahaya
    Untuk mendapatkan cahaya yang sesuai, pembudidayaan yang dilakukan pada daerah dataran rendah membutuhkan bangunan dengan atap naungan paranet 60-70%. Untuk dataran sedang menggunakan naungan paranet 50%. Sedang untuk dataran tinggi cukup digunakan atap paranet 25%. Jika cahaya terlalu banyak, daun akan menguning dan kering, sebaliknya bila cahaya kurang daun nampak lemas dan pucat, serta daun dan tangkainya cenderung memanjang.
  2. Kebutuhan Suhu
    Suhu lingkungan yang optimal berkisar antara 18º-31º C. penampilan daun akan lebih mengkilap bilaman a perbedaan suhu siang dan malam tidak terlalu mencolok. Kondisi ini akan membantu membentuknya klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau dan mengkilap. Untuk hal itu maka bilamana suhu siang terlalu tinggi, pada lingkungan pertanaman perlu ditambah kipas angin untuk menurunkan suhu.
  3. Kebutuhan Kelembaban
    Kelembaban udara yang cocok untuk pertumbuhan si raja daun ini berkisar antara 60%-80%. Bilamana kelembaban udara terlalu kering maka perlu penyemprotan air di sekitar tanaman. Sebaliknya bila terlalu lembab perlu dipasang kipas angin.
  4. Sirkulasi Udara
    Angin semilir akan memberikan kondisi yang baik bagi tanaman, karena dengan adanya angin yang bertiup perlahan akan membuat hawa yang sejuk. Oleh karena itu peranan kipas angin yang dipasang di lingkungan pertanaman akan berperan ganda, yakni menyejukan udara, menjaga kelembaban udara dan menjaga suhu udara.

MEDIA TUMBUH

Tanaman anthurium membutuhkan persyaratan media tumbuh sebagai berikut :

1. Bersifat porous atau mudah merembeskan air yang berlebihan dan menahan air secukupnya untuk tanaman

2. Subur, gembur, dan tidak mengandung hama atau penyakit tular tanah

3. Bersifat ringan dan dapat menjaga kelembaban medium tumbuh sepanjang waktu.

PENYEMAIAN

Perbanyakan melalui biji perlu dilakukan melalui tahap pembibitan dengan menyiapkan sarana persemaian berupa bak, kotak kayu atau pot dengan medium pasir steril atau campuran moss dengan pasir (1:1), atau bisa juga dengan menggunakan arang sekam. Biji anthurium disemai dengan kedalaman 1-1,5 cm dengan jarak antar biji 5 x 5 cm, 10 x 5 cm atau 10 x 10 cm.

PERBANYAKAN TANAMAN

Anthurium dapat diperbanyak secara generatif yaitu dengan biji maupun vegetatif, dengan tunas anakan dan stek batang. Cara perbanyakan tersebut antara lain:

1. Biji

Biji anthurium yang sudah masak dipetik rata-rata berumur 10-12 bulan setelah persarian. Kemudian disemai dengan media kompos yang sudah tua atau moss yang sudah dipotong-potong lembut.

Kemudian kompos halus ditabur dan disiram dengan air hingga lembab. Ditutup dengan plastik, setelah daun pertama tumbuh, dipindahkan ke pot.

2. Tunas dan rhizoma

Tunas dan rhizoma dapat diperlakukan sama, yaitu disemai dalam lingkungan yang medianya banyak mengandung humus, dan lingkungan yang lembab.

3. Stek ujung batang pokok

Anthurium membentuk batang pokok yang memanjang, sekaligus membentuk akar udara dari ketiak daunnya. Batang pokok yang masih berakar udara berwarna hijau dan berair diambil kemudian disemai di tempat teduh.

PENANAMAN

Anthurium bila ditanam mulai dari biji akan mulai berbunga pada umur sekitar 3 tahun. Jarak tanam anthurium di lahan minimal 50 x 50 cm.

 

STRATEGI PEMELIHARAAN ANTHURIUM

Pemeliharaan dan perawatan yang harus dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan dan membersihkan daun dari debu dan kotoran yang menempel serta memotong daun yang menguning. Di smping itu kegiatan pemeliharaan yang tidak terlupakan adalah repotting.

  1. Repotting

Repotting merupakan kegiatan penggantian pot dan sekaligus media karena ukuran tanaman dan potnya sudah tidak sesuai lagi. Langkah-langkah repotting seperti langkah-langkah yang dilakukan pada penanaman. Namun yang perlu diperhatikan dalam repotting ini adalah memotong dan membersihkan akar-akar yang busuk dan mengatur perakaran pada media dan pot yang baru. Pengaturan perakaran ini dimaksudkan agar semua bagian akar dapat kontak langsung dengan media. Jangan sampai akar tidak menempel pada media (ada rongga antara media dan akar) karena hal ini akan menyebabkan membusuknya akar dan akibatnya tanaman akan menjadi tidak sehat.

  1. Pengairan

Pengairan dilakukan dengan alat semprot dan dikenakan keseluruh bagian tanaman dilakukan 2-3 hari sekali dengan melihat kondisi media. Media dijaga agar tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering.

  1. Pemupukan

Pupuk yang diberikan sebaiknya pupuk majemuk (N, P dan K) yang penyediaannya lambat (slow riliaze) diberikan 2-3 bulan sekali dengan dosis sesuai anjuran dan besarnya tanaman. Di samping itu juga perlu ditambahkan pupuk daun yang diberikan setipa 1-2 minggu sekali. Untuk menjaga penampilan agar daun tampil bersih dan mengkilap maka daun yang ada perlu dibersihkan dengan lap yang lembut yang telah dibasahi dengan air. Daun-daun yang telah tua dan menguning perlu dipotong.

 

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI ANTHURIUM

  1. Perbanyakan dengan kultur jaringan.
  2. Penanaman biji dari anthurium dengan perlakuan yang tepat.
  3. Penyambungan antara batang bawah dengan atas agar tumbuh baik karena batang atas masih dapat tumbuh maksimal.

PANEN DAN PASCA PANEN ANTHURIUM

  1. Pemanenan

Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari, pukul 06.00-08.00 waktu setempat.  panen bunga juga bisa dilakukan pada sore hari.  Akan tetapi bunga yang telah dipotong sebaiknya diperlakukan secara khusus, yaitu pangkal tangkai bunga harus direndam di dalam air yang dicampur dengan suatu bahan nutrisi tanaman, misalnya gula (glukosa), agar bunga tidak cepat layu.

  1. Pengumpulan Bunga yang Telah Dipotong

Bunga-bunga yang telah dipotong langsung dikumpulkan di dalam wadah (tempat bunga) yang sesuai dengan kebutuhan setiap jenis bunga.  Tempat bunga tersebut hendaknya disimpan pada suatu tempat yang teduh dan aman, terhindar dari percikan air atau kotoran lainnya, sehingga bunga terjaga dari kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bunga.

  1. Pengangkutan ke Tempat Sortasi

Setelah selesai dikumpulkan, bunga diangkut ke tempat sortasi untuk disortir dan diseleksi.  Di tempat sortasi, bila waktu untuk melakukan sortir bunga masih lama, sebaiknya pangkal tangkai bunga direndam dulu di dalam bak berisi air bersih agar bunga tidak cepat layu.

  1. Sortasi dan Seleksi Kualitas

Bunga hasil panen diletakkan di atas meja, dipisahkan menurut jenis dan warna bunga.  Bunga diperiksa/diteliti satu persatu untuk melihat kedaan bunganya, tingkat kemekaran bunga, keadaan tangkai bunga yang meliputi panjang-pendeknya, lurus-bengkoknya, besar-kecilnya, dan tegar-lemasnya (vigor), serta kebersihan daunnya.

  1. Pengikatan/Pengelompokan Bunga (Bunching)

Pada umumnya bunga dilakukan pengikatan / pengelompokan, kecuali anthurium, anggrek, dan beberapa bunga lainnya.  Bunga dan daun-daunan yang telah diseleksi dan ditentukan kriteria grading-nya, diikat dengan menggunakan tali atau karet menurut aturan jumlahnya.

  1. Pembungkusan

Setelah diikat menurut aturan jumlahnya, bunga harus segera dibungkus dengan kertas atau plastik pembungkus sesuai dengan jenis bunga yang akan dibungkus.  Pembungkusan ini bertujuan untuk menjaga agar bunga terhindar dari kerusakan (lecet-lecet) sehingga kualitas bunga tetap terjaga.

  1. Penyimpanan

Penyimpanan sementara dilakukan untuk penyimpanan bunga dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1 hari) bunga bisa disimpan pada suhu ruang dengan merendam pangkal tangkainya di dalam bak berisi air bersih.  Penyimpanan untuk persediaan (stok) dilakukan untuk jangka waktu yang agak lama  bunga harus disimpan di dalam ruang penyimpanan berpendingin (cold storage) dengan temperatur sekitar 50C dan kelembaban udara yang tinggi, sekitar 90%.

  1. Pengepakan

Untuk pengiriman ke tempat penjualan, bunga harus dikemas dalam kardus/karton atau kontainer plastik yang berukuran sesuai dengan panjang maksimal bunga, sehingga bunga bisa diatur rapi dan tetap terjaga kualitasnya.  Di Kebun Ciputri, dalam satu kardus berukuran 100 x 40 x 40 cm dapat diisi dengan 25 bungkus chrysant, dimana isi per bungkusnya 10 tangkai.  Untuk carnation dapat digunakan kardus berukuran 80 x 40 x 20 cm, yang dapat menampung 24-30 bungkus carnation, dengan isi 10 tangkai / bungkus.  Pada bidang-bidang yang berukuran 40 x 40 cm untuk kardus chrysant, dan 40 x 20 m untuk carnation diberi lubang-lubang, sebagai tempat pegangan tangan dan juga untuk ventilasi udara di dalam kardus.

 

Advertisements

KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)

1. SEJARAH SINGKAT

Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari

Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan

oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman

berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama

kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan

Portugis.

Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang

bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang

tanah adalah “peanut” atau “groundnut”.

2. JENIS TANAMAN

Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut:

Kingdom          : Plantae atau tumbuh-tumbuhan

Divisi               : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji

Sub Divisi        : Angiospermae atau berbiji tertutup

Klas                 : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua

Ordo                : Leguminales

Famili              : Papilionaceae

Genus              : Arachis

Spesies : Arachis hypogeae L.; Arachis tuberosa Benth.; Arachis guaramitica

Chod & Hassl ; Arachis idiagoi Hochne.; Arachis angustifolia (Chod &

Hassl) Killip.; Arachis villosa Benth.; Arachis prostrata Benth.; Arachis

helodes Mart.; Arachis marganata Garden.; Arachis namby quarae

Hochne.; Arachis villoticarpa Hochne.; Arachis glabrata Benth.

Varietas-varietas kacang tanah unggul yang dibudidayakan para petani biasanya

bertipe tegak dan berumur pendek (genjah).

Varietas unggul kacang tanah ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:

a) Daya hasil tinggi.

b) Umur pendek (genjah) antara 85-90 hari.

c) Hasilnya stabil.

d) Tahan terhadap penyakit utama (karat dan bercak daun).

e) Toleran terhadap kekeringan atau tanah becek.

Varietas kacang tanah di Indonesia yang terkenal, yaitu:

a) Kacang Brul, berumur pendek (3-4 bulan).

b) Kacang Cina, berumur panjang (6-8 bulan).

c) Kacang Holle, merupakan tipe campuran hasil persilangan antara varietasvarietas

yang ada. Kacang Holle tidak bisa disamakan dengan kacang “Waspada” karena

memang berbeda varietas.

3. MANFAAT TANAMAN

Di bidang industri, digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun

dan minyak goreng. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas

kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom melalui fermentasi

jamur. Manfaat daunnya selain dibuat sayuran mentah ataupun direbus, digunakan

juga sebagai bahan pakan ternak serta pupuk hijau. Sebagai bahan pangan dan

pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein

(27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral

antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium dan Sulphur.

4. SENTRA PENANAMAN

Di tingkat Internasional mula-mula kacang tanah terpusat di India, Cina, Nigeria,

Amerika Serikat dan Gombai, kemudian meluas ke negara lain. Di Indonesia kacang

tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di

seluruh Indonesia.

pohon kacang tanah

5. SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300

mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan rontok dan bunga tidak

terserbuki oleh lebah. Selain itu, hujan yang terus-menerus akan meningkatkan

kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.

b) Suhu udara bagi tanaman kacang tanah tidak terlalu sulit, karena suhu udara

minimal bagi tumbuhnya kacang tanah sekitar 28–32 derajat C. Bila suhunya di

bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat,

bahkan jadi kerdil dikarenakan pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.

c) Kelembaban udara untuk tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 %. Adanya

curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembaban terlalu tinggi di sekitar

pertanaman.

d) Penyinaran sinar matahari secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang

tanah, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.

2. Media Tanam

a) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang

gembur/bertekstur ringan dan subur.

b) Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH

antara 6,0–6,5.

c) Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati.

Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang ada

disekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau lahan

yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi pertumbuhan kacang

tanah.

3. Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman kacang tanah adalah pada

ketinggian antara 500 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

1. Pembibitan

1) Persyaratan Benih

Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah yang baik adalah:

a) Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul.

b) Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat.

c) Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat.

d) Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.

e) Kadar air benih berkisar 9-12 %.

2) Penyiapan Benih

Penyiapan benih kacang tanah meliputi hal-hal sebagai berikut:

a) Benih dilakukan secara generatif (biji).

b) Benih sebaiknya tersimpan dalam kaleng kering dan tertutup rapat.

c) Benih yang baik tersimpan dalam keadaan kering yang konstan.

d) Benih diperoleh dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh

Balai Sertifikasi Benih.

2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

Pengukuran luas lahan sangat berguna untuk mengetahui berapa jumlah benih

yang dibutuhkan. Kondisi lahan yang terpilih harus disesuaikan dengan persyaratan

tanaman kacang tanah.

2) Pembukaan Lahan

Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam

gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan

lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan

inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan

mesin traktor. Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau oleh alat bajak dan

alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

3) Pembentukan Bedengan

Untuk memudahkan pengaturan penanaman dilakukan pembedengan sesuai dengan

ukuran yang telah ditentukan, yaitu untuk lereng agak curam jarak tanam cukup 0,5 m dan

untuk lahan yang tidak begitu miring bisa antara 30–40 meter.

Sedangkan untuk tanah datar, luas bedengan adalah 10 – 20 meter atau 2 x 10 meter.

Ketebalan bedengan antara 20–30 cm.

4) Pengapuran

Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam,perlu

dilakukan pengapuran. Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran pada saat

pembajakan adalah 1-2,5 ton/ha dicampurkan dan diaduk hingga merata.Selambat-

lambatnya 1 bulan sebelum tanam.

5) Pemupukan

Pemupukan adalah untuk menambah unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman.

Jenis dan dosis pupuk setiap hektar yang dianjurkan adalah Urea=60–90 kg ditambah

TSP=60–90 kg ditambah KCl=50 kg. Semua dosis pupuk diberikan pada saat tanam.

Pupuk dimasukkan di kanan dan kiri lubang tugal dan tugal dibuat kira-kira 3 cm.

3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanam

Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang

subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm

atau 30 x 20 cm. Pada tanah yang kurang subur dapat ditanam lebih rapat yaitu

40 x 10 cm atau 20 x 20 cm.

2) Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm dengan tugal dengan jarak seperti yang telah

ditentukan di atas.

3) Cara Penanaman

Pilih benih kacang yang telah memenuhi syarat benih bermutu tinggi. Masukan

benih satu atau dua butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam

yang paling baik dilahan kering adalah pada awal musim hujan, di lahan sawah

dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September

(palawija II). Sedangkan untuk lahan bukaan terlebih dahulu dilakukan inokulasi

rhizobium (benih dicampur dengan inokulan dengan dosis 4 gram/kg) kemudian

benih langsung ditanam paling lambat 6 jam.

4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman

Penyulaman dilakukan bila ada benih yang mati atau tidak tumbuh, untuk

penyulaman waktunya lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh

±3-7 hari setelah tanam).

2) Penyiangan

Penyiangan dilakukan untuk menghindari hama dan penyakit tanaman. Juga agar

tanaman yang ditanam tidak bersaing dengan tanaman liar (gulma) pada umur 5-7 hari.

3) Pembubunan

Pembubunan dilakukan dengan cara mengumpulkan tanah di daerah barisan

sehingga membentuk gundukan yang membentuk memanjang sepanjang barisan

tanaman.

4) Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan jenis dan dosis pupuk yang dianjurkan yaitu

Urea=60-90 kg/ha ditambah TSP=60-90 kg/ha ditambah KCl=50 kg/ha. Semua

dosis pupuk diberikan pada saat tanam dan pupuk dimasukan dikanan kiri lubang

tunggal.

5) Pengairan dan Penyiraman

Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada

musim kemarau diberikan mulsa dan pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan

penyiraman, karena dapat menggganggu penyerbukan.

6) Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan untuk mengusir ataupun memberantas hama tanaman hendaknya

dilakukan pada sore atau malam hari. Obat yang digunakan maupun dosis sesuai

dengan jenis hama yang menyerang tanaman tersebut.

7) Pemeliharaan Lain

Hal-hal lain yang sangat menunjang faktor pemeliharaan bisa dilakukan, asalkan

tidak memerlukan biaya yang berarti, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeli-

haraan tunas dan bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang

kesehatan tanaman)

7. HAMA DAN PENYAKIT

1. Hama

a) Uret

Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong akhirnya tanaman layu

dan mati. Pengendalian: menanam serempak, penyiangan intensif, tanaman

terserang dicabut dan uret dimusnahkan.

b) Ulat berwarna

Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian:

penyemprotan insektisida Azodrin 15 W5C, Sevin 85 S atau Sevin 5 D.

c) Ulat grapyak

Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok.

Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2)

penyemprotan insektisida lannate L, Azodrin 15 W5C.

d) Ulat jengkal

Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan insektisida

Basudin 60 EC Azodrin 15 W5C, Lannate L Sevin 85 S.

e) Sikada

Gejala: menghisap cairan daun. Pengendalian: (1) penanaman serempak,

pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate 25 WP, Lebaycid 500

EC, Sevin 5D, Sevin 85 S, Supraciden 40 EC.

f) Kumbang daun

Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga.

Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan Agnotion 50 EC,

Azodrin 15 W5C, Diazeno 60 EC.

7.2. Penyakit

a) Penyakit layu

Pengendalian: penyemprotan Streptonycin atau Agrimycin, 1 ha membutuhkan

0,5-1 liter. Agrimycin dalam kelarutan 200-400 liter/ha.

b) Penyakit sapu setan

Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman

inang dibersihkan (sanitasi lingkungan).

c) Penyakit bercak daun

Pengendalian: penyemprotan dengan bubur Bardeaux 1 % atau Dithane M 45,

atau Deconil pada tanaman selesai berbunga, dengan interval penyemprotan 1

minggu atau 10 hari sekali.

d) Penyakit mozaik

Pengendalian: penyemprotan dengan fungisida secara rutin 5-10 hari sekali sejak

tanaman itu baru tumbuh.

e) Penyakit gapong

Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya, kemudian baru diberi

DD (Dichloropane Dichloropene 40-800 liter/ha per aplikasi.

f) Penyakit Sclertium

Pengendalian: membakar tanaman yang terserang cendawan.

g) Penyakit karat

Pengendalian: tanaman yang terserang dicabut dan dibakar serta semua vektor

penularan harus dibasmi.

8. PANEN

1. Ciri dan Umur Panen

Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek

± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap

dipanen antara lain:

a) Batang mulai mengeras.

b) Daun menguning dan sebabian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras.

c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.

2. Cara Panen

Pencabutan tanaman, lalu memetik polong (buahnya) terus bersihkan dan dijemur matahari, memilih bila diperlukan untuk benih dan seterusnya dilakukan

penyimpanan, untuk konsumsi bisa di pasarkan langsung atau bisa langsung dibuat

berbagai jenis produk makanan.

3. Perkiraan Produksi

Jumlah produksi panen yang normal dalam satuan luas, misalnya untuk lahan seluas satu hektar produksi normal berkisar antara 1,5-2,5 ton polong kering.

9. PASCAPANEN

  • Pengumpulan

Kumpulkan brangkasan tanaman kacang tanah ditempat strategis

  • Penyortiran dan Penggolongan

Pilah-pilah polong yang tua dan polong yang muda untuk dipisahkan berdasarkan derajat ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk untuk dibuang

  • Penyimpanan

Penyimpanan a) Penyimpanan dalam bentuk polong kering, masukan polong kering kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat lalu disimpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering. b) Penyimpanan dalam bentuk biji kering. c) Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur (keringkan) biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukan ke dalam wadah

  • Pengemasan dan Pengangkutan

Pengemasan bisa dilakukan untuk produk mentah/polong mentah dalam bungkus plastik per 10 kg. Dapat juga berupa kemasan kue atau bentuk makanan yang sudah dimasak seperti kacang rebus, kacang goreng dan berbagai jenis kue dari kacang tanah. Untuk pengangkutan pada prinsipnya yang pentuing kondisi komoditi tersebut tidak rusak atau tidak berubah dari kualitas yang sudah disiapkan.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

4.1. Analisis Usaha Budidaya Perkiraan analisis usaha tani kacang tanah seluas 1 hektar per musim tanam (3 bulan) pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat dapat dirinci berikut ini: a) Biaya produksi 1. Sewa lahan 1 musim tanam 2. Bibit: benih 200 kg @ Rp 4.000,3. Pupuk – Urea: 100 kg @ Rp. 1.500,-

– TSP: 100 kg @ Rp. 1.800,- KCL: 50 kg @ Rp. 1.650,4. Pestisida: 2 liter @ Rp. 50.000,5. Peralatan 6. Tenaga kerja – Pengolah tanah 50 HKP @ Rp 10.000,- Penanaman dan pemupukan 5 HKP + 15 HKW – Penyiangan dan pembubutan 4 HKP + 5 HKW 7. Panen dan pasca panen 4 HKP + 10 HKW 8. Lain-lain Jumlah biaya produksi

Rp. 180.000,Rp. 82.500,Rp. 100.000,Rp. 200.000,Rp. 500.000,Rp. 112.500,Rp. 77.500,Rp. 115.000,Rp. 150.000,Rp. 2.967.500,-

b) Pendapatan 1. Berupa polong kering 2.000 kg @ Rp. 2.000,Rp. 4.000.000,2. Berupa biji kering (rendemen 0,6): 2.000 kg @ Rp. 4.000,- Rp. 4.800.000,c) Keuntungan bersih 1. Berupa polong kering 2. Berupa biji kering d) Parameter kelayakan usaha 1. O/I berupa polong kering 2. O/I berupa biji Catatan : HKP : Hari kerja pria, HKW : Hari kerja wanita. 4.2. Gambaran Peluang Agribisnis Produksi komoditi kacang tanah per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum, meskipun bibit unggul yang berproduksi tinggi sudah diciptakan, namun dalam praktek produksinya belum memenuhi harapan. Hal ini merupakan daya tarik tersendiri bagi konsumen. Yang terjadi di lapangan, sebelum panen tiba, para tengkulak mulai melakukan pembelian di areal pertanaman secara besar-besaran (Jawa: ditebas) dan para tengkulak kemudian menjual ke pabrik-pabrik minyak goreng. Hal yang paling mendapat sorotan pemerintah, selama tahun 1969-1991, produksi dan produktivitas kacang tanah nasional meningkat terus. Di Indonesia, angka produksi kacang tanah diantara jenis kacang-kacangan lainnya, menempati urutan ke-2 setelah kedelai.

pohon kacang tanah

pohon kacang tanah

By : Candra Quida N

BUDIDAYA TANAMAN KRISAN

Posted: April 4, 2011 in Horticulture

BUDIDAYA TANAMAN KRISAN

krisan

krisan

1. SEJARAH SINGKAT

Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.

 

2. JENIS TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut:

Divisi : Spermathophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Famili : Asteraceae

Genus : Chrysanthemum

Species : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll

Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas:

1.      Krisan lokal (krisan kuno) : Berasal dari luar negeri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur).

2.      Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida) : Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink).

3.      Krisan produk Indonesia : Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A.

 

3. MANFAAT TANAMAN

Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai:

1.      Bunga pot : Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning).

2.      Bunga potong : Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll.

 

4. SENTRA PENANAMAN

Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara).

 

5. SYARAT PERTUMBUHAN

5.1. Iklim

1.      Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi,
penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik.

2.      Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara jam 22.30–01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m² dan lampu dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2-8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga.

3.      Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 derajat C. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 derajat C.

4.      Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit, setek diperlukan 90-95%. Tanaman muda sampai dewasa antara 70-80%, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai.

5.      Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosistesa antara 600-900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO2, hingga mencapai kadar yang dianjurkan.

5.2. Media Tanam

1.      Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit.

2.      Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7.

5.3. Ketinggian Tempat

ketinggian tempat yang ideal untuk budidaya tanaman ini antara 700–1200 m dpl.

budidaya krisan

budidaya krisan

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

a.      Persyaratan Bibit : Bibit diambil dari induk sehat, berkualitas prima, daya tumbuh tanaman kuat, bebas dari hama dan penyakit dan komersial di pasar.

b.      Penyiapan Bibit : Pembibitan krisan dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jaringan.

1.      Bibit asal anakan

2.      Bibit asal stek pucuk : Tentukan tanaman yang sehat dan cukup umur. Pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.

3.      Penyiapan bibit dengan kultur jaringan : Tentukan mata tunas atau eksplan dan ambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCL) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. Lakukan penanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutan perbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:

1.      Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari.

2.      Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.

3.      Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:

1.      Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.

2.      Perbanyakan vegetatif tanaman induk.

a.      Pemangkasan pucuk, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-1 cm.

b.      Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15-20 cm atau disebut cabang primer.

c.      Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh sepanjang 10-15 cm.

3.      Teknik Penyemaian Bibit

a.     Penyemaian di bak : Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan.

b.      Penyemaian kultur jaringan : Bibit mini dalam botol dipindahkan ke pesemaian beisi medium berpasir steril dan bersungkup plastik tembus cahaya.

c.      Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian : Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. Pemeliharaan pada kultur jaringan dilakukan di ruangan aseptik, setelah bibir berukuran cukup besar, diadaptasikan secara bertahap ke lapangan terbuka.

d.      Pemindahan Bibit : Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.

6.2. Pengolahan Media Tanam

a.      Pembentukan Bedengan : Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur, keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma dan bentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm.

b.      Pengapuran : Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

 

6.3. Teknik Penanaman

a.      Teknik Penanaman Bunga Potong

1.      Penentuan Pola Tanam. : Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat dibudidayakan secara monokultur.

2.      Pembuatan Lubang Tanam : Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari.

3.      Pupuk Dasar : Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk.

4.      Cara Penanaman : Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan.

b.      Teknik Penanaman untuk Memperpendek Batang : Penanaman dilakukan sama dengan untuk bunga potong biasa, tetapi dengan menambah cahaya agar tangkai menjadi pendek.

1.      Pengaturan dan Penambahan Cahaya : Dilakukan sampai batas tertentu dengan ketinggian tanaman yang dinginkan. Misalnya, bila diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya sejak ketinggian 50-60 cm. Lampu dimatikan. Periode berikutnya beralih ke generatif. Tangkai bunga memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya 70 cm, maka tangkai bunga yang tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu tergantung varietas krisan. Cara pengaturan dan penambahan cahaya yaitu dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 menit. Cara lain pengaturan dan penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada tengah malam mulai pukul 22.30-01.00.

2.      Pemupukan : Waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue dan periodik seminggu sekali, dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, cara pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri dan samping kanan.

3.      Pembuangan Titik Tumbuh : Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes ujung tanam sepanjang 5 cm.

4.      Penjarangan Bunga : Jika ingin mendapatkan bunga yang besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yang tumbuh.

3.      Teknik Penanaman untuk Bunga Pot : Sebanyak 5-7 Bibit yang telah berakar ditanam di dalam pot yang berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah dan sekam padi (1:1). Untuk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu dengan penyinaran 16 jam/hari. Untuk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian diberi pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam 16.00-22.00. Selama pertumbuhan tanaman diberi pupuk cir multihara lengkap. Pembungaan ini dapat pula dipacu dengan menambahkan hormon tumbuh giberelin sebanyak 500 ppm pada saat penyinaran pendek.

Untuk mendapatkan bunga yang besar dan jumlahnya sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot dengan 5-7 bunga yang mekar bersamaan.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

a.      Penjarangan dan Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru.

b.      Penyiangan : Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-rumput liar.

c.      Pengairan dan Penyiraman : Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah.

 

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1.      Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

o        Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.

o        Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.

2.      Thrips (Thrips tabacci)

o        Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.

o        Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.

3.      Tungau merah (Tetranycus sp)

o        Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.

o        Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.

4.      Penggerek daun (Liriomyza sp) :

o        Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang mengelilingi permukaan daun.

o        Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.

7.2. Penyakit

1.      Karat/Rust

o        Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan P chrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.

o        Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.

o        Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.

2.      Tepung oidium

o        Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.

o        Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.

o        Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.

3.      Virus kerdil dan mozaik

o        Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).

o        Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.

o        Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.

o        Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.

o        Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Penentuan stadium panen adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh. Tipe spray 75-80% dari seluruh tanaman. Umur tanaman siap panen yaitu setelah 3-4 bulan setelah tanam.

8.2. Cara Panen.

Panen sebaiknya dilakukan pagi hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat bunga krisan berturgor optimum. Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan: tentukan tanaman siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.

8.3. Prakiraan Produksi

Perkiraan hasil bunga krisan pada jarak 10 x 10 cm seluas 1 ha yaitu 800.000 tanaman.

 

9. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Kumpulkan bunga hasil panen, lalu ikat tangkai bunga berisi sekitar 50-1000 tangkai simpan pada rak-rak.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan

Pisahkan tangkai bunga berdasarkan tipe bunga, warna dan varietasnya. Lalu bersihkan dari daun-daun kering atau terserang hama. Buang daun-daun tua pada pangkal tangkai. Kriteria utama bunga potong meliputi penampilan yang baik, menarik, sehat dan bebas hama dan penyakit. Kriteria ini dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:

Kelas I untuk konsumen di hotel dan florist besar, yaitu panjang tangkai bunga lebih dari 70 cm, diameter pangkal tangkai bunga lebih 5 mm.

2.   Kelas II dan III untuk konsumen rumah tangga, florits menengah dan dekorasi massal yaitu panjang tangkai bunga kurang dari 70 cm dan diameter pangkal tangkai bunga kurang dari 5 mm.

9.3. Pengemasan dan Pengangkutan

Tentukan alat angkutan yang cocok dengan jarak tempuh ke tempat pemasaran dan susunlah kemasan berisi bunga krisan secara teratur, rapi dan tidak longgar, dalam bak atau box alat angkut.

MANFAAT BUNGA KRISAN

Bunga krisan masih bersaudara dengan bunga Aster, Daisy, sama sama masuk famili Asteraceae. Keunggulan Krisan terletak pada masa tanamnya yang singkat dan harganya yang stabil, keaneka-ragaman warna dan bentuk bunganya, juga karena sebagai bunga potong, krisan bisa tahan lebih dari 2 minggu di vas. Krisan pot bahkan bisa bertahan sampai hitungan bulan.

Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai:
a) Bunga pot
Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning).
b) Bunga potong
Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll.

Manfaat Krisan bagi kesehatan.

Krisan jenis Chrysanthemum morifolium or Chrysanthemum indicum, yang warna putih atau kuning bisa dijadikan teh krisan ato Chrysanthemum Tea.
Khasiatnya untuk menyembuhkan influenza, jerawat dan mengobati panas dalam dan sakit tenggorokan. Bole juga untuk obat demam, mata panas dan berair, pusing2 serta untuk membersihkan liver.

PROSPEK BUNGA KRISAN

Tanaman hias krisan merupakan bunga potong yang penting di dunia. Prospek budidaya krisan sebagai bunga potong sangat cerah, karena pasar potensial yang dapat berdaya serap tinggi sudah ada. Diantara pasar potensial tersebut adalah Jerman, Inggris, Swiss, Italia, Austria, Amerika Serikat, Swedia dan sebagainya.
Saat ini krisan termasuk bunga yang paling populer di Indonesia karena memiliki keunggulan, yaitu bunganya kaya warna dan tahan lama. Bunga krisan terdiri atas sedikitnya 55 varietas, antara lain Pink Paso Dobel, Reagan, Salmon Impala, Klondike, Gold van Langen, Ellen van Langen, Yellow Puma dan Peach Fiji. Warnanya pun cukup beragam, yaitu merah tua, kuning, hijau, putih, campuran merah putih dan lainnya. Bunga elok itu kesegarannya dapat bertahan tidak layu di vas bunga hingga dua minggu sesudah dipetik

Analisa Ekonomi
Perkiraan analisa budidaya tanaman krisan seluas 0,5 hektar, dengan jarak tanam 10×10 sentimeter, biaya dan keuntungan dapat diasumsikan perhitungannya secara sederhana seperti berikut.
1. Biaya produksi
1. Sewa lahan 1 tahun = Rp 1.500.000,-
2. Bibit : 150.000 batang @ Rp 250,- = Rp. 37.500.000,-
3. Pupuk dan kapur
– Pupuk kandang, Urea, ZA, SP-36, KCI, KN03, Kapur Pertanian, Pestisida:
150.000 x Rp 600,- = Rp 90.000.000,-
4. Biaya tenaga kerja
– Penyiapan lahan, pemupukan, penanaman, dan pemeliharaan:
5 HKP @ Rp 10.000,- x 30 = Rp 1.500.000,- + 5 HKW @ Rp 8.000,- x 30 = Rp 1.200.000,-
5. Biaya lain-lain (pajak, iuran, alat) = Rp 500.000,-
– Jumlah biaya produksi = Rp 132.200.000,-
2. Pendapatan 150.000 tanaman @ Rp 1.000,- = Rp 150.000.000,-
3. Keuntungan = Rp 17.800.000,-
Keterangan:

HKP : Hari Kerja Pria
HKW : Hari Kerja Wanita

 

FISIOLOGI PASCA PANEN PADA BUNGA ANGGREK POTONG


PENDAHULUAN

Anggrek merupakan tanaman yang sangat banyak jenisnya, terutama

keindahan bunganya. Bentuk, ukuran variasi warna, dan corak bunga anggrek

memiliki keindahan yang sangat mempesona. Warnanya beraneka ragam dari putih,

kuning, jingga, merah nyala, merah tua, pink dan two-ione (dua warna). Susunan

bunyanya pun sangat bagus. Daya tahan kesegaran bunganya pun luar biasa.

Kesegaran anggrek potong mampubertahan hingga 3 pekan, walau tanpa diberi bahan

pengawet. Itulah sebabnya, bunga anggrek sering dijuluki ratu bunga.

Di lingkungan penganggrek, dikenal adanya anggrek sebagai tanaman

kolekksi dan anggrek sebagai tanaman bunga potong. Kedua anggrek itu mempunyai

sifat dan karakteristrik sberbeda. Kesalahan memilih jenis terlihat ketika hasil

produksi akan dimanfaatkan. Anggrek yang bukan untuk bunga potong akan cepat

layu ketika dirangkai sebagai bunga hias.

Anggrek sebagai bunga potong memiliki kriteria yang khas. Jenis itu memiliki

nilai ekonomis, mudah dibudidayakan dan anggrek potong memiliki ketahanan yang

sangat baik kalau perlakuan panen dan pasca panennya dikerjakan dengan baik.

Anggrek sebagai bunga potong merupakan produk yang mudah rusak kalau

penangannya kurang hati-hati. Ini karena kualitas bunga potong sangat ditentukan

oleh penampilannya yang dituntut harus prima.

Dengan demikian perlu adanya upaya teknik pengawetan yang tepat agar

kesegaran bunga yang telah dipotong dari tanaman tetap menarik dalam waktu yang

cukup lama. Teknik pengawetan di arahkan kepada upaya untuk menghambat layu

respiarasi, layu tranpirasi dan pencegahan dari kerusakan akibat jamur dan bakteri.

 

BUNGA ANGGREK POTONG

Anggrek termasuk tanaman dari keluarga Orchidaccea. Tanaman berbunga

indah ini tersebar luas di pelosok dunia, termasuk Indonesia. Kontribusi anggek

Indonesia dalam khasanah anggrek dunia cukup besr. Dari 20.000 spesies anggrek

yang tersebar di seluruh dunia 6.000 di antaranya hasil silangan atau hibrida.

Diperkirakan setiap tahun dihasilkan 1.000 hibrida baru (Edi Sandara, 2002).

Diantara keluarga tanaman berbunga lainnya, sosok bunga anggek termasuk

paling beragam. Bebrapa jenis mirip kalajengking (Arachis), kupu-kupu

(phalaenopis) dan kantung (Paphiopedilum). Jumlah kuntumnya juga bervariasi dari

satu hingga ratusan kuntum. Bunga-bungga tersebut juga ditemukan dalam berbagai

ukuran, mulai 0,5 cm hingga 3 meter. Demikian juga keragaman warnanya, hamper

semua jenis warna melekat pada bunga yang dijadikan symbol cinta dan kecantikan

ini.

Bunga merupakan unsur terpenting dari tanaman anggrek. Struktur dasar

bunganya sudah baku, terdiri dari tiga kelompok (sepal) dan tiga tajuk bunga (petal).

Salah satu petal berubah menjadibibir bunga atau labellum. Bagian inilah yang

menjadi cirri khas bunga anggrek sehingga berbeda dengan famili tanaman berbunga

lainnya. Jadi tak salah jika segala keistimewaan dan keindahan melekat pada bunga

ini.

FISIOLOGI PASCA PANEN

Dalam mengusahakan anggrek sebagai bunga potong, tingkat kesegaran

bunga sangatlah penting diperhatikan. Untuk mendapatkan bunga yang prima dengan

ketahanan yang cukup lama perlu memperbaiki unsure panen dan saat panen, suhu

dan laju respirsi, pasokan air dan unsur hara, penggunaan bahan pengawet, kerusakan

mekanis dan penyakit.

 

1. Panen dan Saat Panen

Bunga anggrek yang akan dipanen harus nerasal dari tanaman yang sehat dan

sudah dewasa. Bunga anggrek dianggap layak untuk dipanen jika sudah mencapai stadia kuncup. Sebab, kuncup bunga memiliki kemampuan untuk mekar penuh

setelah mengalmai proses penyimpanan, pengangkutan dan pendistribusian.

Pemanenan bunga anggrek dilakukan saat proses transpirasi tidak terlalu besr,

yakni pagi pukul 08.00-10.00 atau sore setelah pukul 16.00. Tujuan pemanenan

pada pagi atau sore hari adalah untuk menurunkan tingkat keruskaan bunga akibat

panas dan kekurangan air.

Gunakan gunting tanaman yang bersih dan tajam ketika memotong tangkai

bunga. Umumnya, tangkai bunga itu dipotong miring. Bunganya yang telah

dipotong ditaruh di dalam bak kereta dorong. Supaya bunga tidak rusak, pada

dadsar bak dilapisi kertas atau busa yang lembut. Setelah bunga terkumpul, segera

dikirim ke tempat pengepakan.

Teknik penanganan seperti ini memberikan banyak keuntungan, antara lain

mempercepat waktu panen, meningkatkan kapasitas isi kemas, menyeerhanakan ,

manajemen suhu, mengurangi kerusakan mekanis dan menekan kehilangan air.

Selama ini, bunga anggrek (terutama dendrobium) dipanen jika 75-80 %

bunga di dalam satu tangkainya sudah mekar. Jenis anggrek lain, seperti cattleya,

dipanen 3-4 hari setelah bunga mekar, karena bunga caltteya yang dipanen

premature (terlalu dini) akan gagal mekar.

 

2. Suhu dan Laju Respirasi

Suhu lingkungan berhubungan langsung dengan laju respirasi bunga anggrek

potong. Suhu rendah dapat menekan laju respirasi, sehingga kerusakan bunga

dapat ditunda. Suhu tinggi membuat laju respirasi meningkat, sehingga

kandungan karbohidrat pada tangkai dan daun cepat berkurang. Suhu optimum

untuk penyimpanan bunga anggrek sangat tergantung dari spesies dan klon.

Anggrek potong dari marga cymbidium dan paphiopedilum dapat bertahan

selama tiga minggu pada suhu 1o C. bahkan jika masih di pohon cattleya,

cymbidium, paphiopedilum, phalaaenopis dan vandal bisa bertahan selama dua minggu jika disimpan pada suhu 5-7o C. anggrek potong dendrobium cukup baik

jika disimpan pada suhu 10-13o C.

 

3. Pasokan Air dan Unsur Hara

Untuk mempertahankan kesegaran bunga anggrek potong dn membuat mekar

kuncup bunganya diperlukan cadangan pati dan gula yang disimpan dalam

batang, daun dan petal.

Kandungan karbohidrat akan meningkat pada sore hari setelah sehari penuh

terkena sinar matahari, tetapi pemanenan bunga dianjurkan pada pagi hari karena

saat itu suhu lingkungan masih rendah, kandungan air tanaman tinggi dan banyak

tersedia waktu untuk penanganan bunga setealh dipotong, dari pohonnya.

Sifat bunga anggrek potong peka terhadap kekeringan. Air yang hilang setelah

bunga dipanen harus segera diimbangi dengan larutan perendam yang

mengandung air, senyawa pengawet dan zat hara.

 

4. Penggunaan Zat Pengawet

Penggunaan zat pengawet yang dilarutkan ke dlaam air dapat memperpanjang

kesegaran bunga potong 100-300 %. Umumnya, bahan pengwet komersial untuk

bunga mengandung beberapa komponen, seperti gula, bakterisida atau germisida,

garam logam, senyawa penghambat respirasi dan senyawa asam untuk

menurunkan pH air.

Gula berfungsi sebagai substrata dalam proses respirasi atau aktivitas

metabolisme lainnya. Namun, pertumbuhan bakteri akan meningkat jika substrat

yang digunakan hanya berupa gula. Senyawa pengawet anggrek potong adalah

8-hydroxyqinoline (HQS), AgNO3 , Physan-20 dan Alat (asam N-dimetilamino

sukksinamik). Seluruh pengawet itu bersifat bakterisida atau germisida

(penghambat perkembangbiakan bakteri penyebab busuk). Basa atau ester dari

HQS, terutama sulfat dan sitrat adalah germisida yang sering digunakan dlaam

larutan pengawet bunga potong. Sementara itu, AgNO3 adalah bakterisida yang

efektif dalam larutan pengawet bunga potong dan berperan sebagai antagonis

etilen (penghambat munculnya gas etilen).

Cara pengawetan yang biasa dilakukan merendam tangkai bunga selama dua

jam ke dalam 500 ppm AgNO3 + 10 % sukrosa + 150 ppm asam sitrat. Tinggi

larutan perendam sekitar 10 cm. setelah itu, bunga diikat sebanyak 5, 10 atau 15

tangkai per ikatnya. Tangkai tersebut dimasukkan ke dalam kantung plastic berisi

kapas basah atau aquades. Anggrek vandal dan arachins cukup dibungkus kertas

Koran atau kertas roti.

Anggrek dendrobium dan cattleya dapat dibungkus dengan kertas tissue toilet.

Ketika pembungkusan dilakukan, jaga jangan sampai tepung sarinya terlepas

karena akan mengakibatkan munculnya gas etilen yang menyebabkan bunga cepat

layu.

 

5. Kerusakan Mekanis dan Penyakit

Anggrek potong dapat memproduksi etilen. Gas ini dapat mempercepat proses

produksi bunga, sehingga bunga menjadi layu dan rontok. Kepekaan bunga

anggrek terhadap gas etilen dapat dikurangi dengan pemberian suhu dingin,

setelah panen atau setelah pengiriman. Bunga anggrek potong tersebut harus

segera dikeluarkan dari wadah pengemasannya. Kemudian diletakkan di daam

ruangan pendingin yang bersuhu cocok dengan bunga anggrek potong tersebut.

Sedapat mungkin hindari terjadinya perlukan mekanis, sseperti memar dan

patah tangkai. Selain mengurangi nilai estetika, permukaan yang terluka akan

menjadi tempat pencemaran jasad renik, meningkatkan produksi etilen,

meningkatkan kecepatan respirasi dan mengurangi umur kesegaran bunga.

Bunga anggrek potong setelah pascapanen tergolong peka terhadap penyakit

dan kerusakan mekanis. Factor penyebabnya adalah mahkota bunga anggrek yang

agak rapuh dan adanya cairan madu pada bunga anggrek yang dapat merangsang

pertumbuhan pathogen. Selain itu, fluktuasi suhu pada penyimpanan dan

distribusi dapat menyebabkan terjadinya kondensi (pengembunan) air pada bunga potong sehingga terjadi pencemaran oleh jasad renik. Kerusakan akibat gangguan

penyakit ini dapat dihindari dengan manajemen yang baik, pengendapaian suhu

dan melakukan minimalisasi terjadinya kondensi pada bunga anggrek potong.

 

PENUTUP

Anggrek potong memiliki daya tahan yang cukup lama. Walaupun

begitu berbagai usaha untuk mempertahankan kesegaran bunga tetap perlu dilakukan

untuk menjaga penampilan dan kecantikannya. Salah satu cara untuk menjaga

penampilan aggrek tetap cantik dan segar adalah penanganan pesca panen dan pasca

produksi yang benar. Faktor utama yang mempengaruhi mutu pasca panen dan pasca

produksi anggrek potong adalah tingkat ketuaan bunga, suhu, pasokan air dan

makanan, etilen, kerusakan mekanis dan penyakit.

Teknik yang terbaik (murah dan mudah dilakukan) untuk mengatasi

masalah tersebut diatas yaitu dengan cara pangkal tangkai bunga dibungkus dengan

kapas yang telah dibasahi dengan aquades di tambah pengawet kemudian dimasukkan

pada kantong plastik kecil dan diikat.

 

By : Candra Quida N

 

Budidaya Semangka

Posted: April 4, 2011 in Horticulture

Selayang Pandang Semangka

Semangka atau tembikai (Citrullus lanatus, suku ketimun-ketimunan atau Cucurbitaceae) merupakan tanaman buah berupa herba yang tumbuh merambat. Dalam bahasa Inggris disebut Water Mellon. Berasal dari daerah kering tropis dan daerah setengah gurun di Afrika bagian selatan, kemudian berkembang dengan pesat ke berbagai negara seperti: Cina, Jepang, dan Indonesia. Semangka termasuk dalam keluarga buah labu-labuan (Cucurbitaceae). Tanaman ini masih sekerabat dengan melon (Cucumis melo) dan ketimun (Cucumis sativus).  pada daerah asalnya sangat disukai oleh manusia/binatang yang ada di benua tersebut, karena banyak mengandung air, sehingga penyebarannya menjadi cepat. Semangka biasa dipanen, buahnya untuk dimakan segar atau dibuat jus. Biji semangka yang dikeringkan dan disangrai juga dapat dimakan isinya (kotiledon) sebagai kuaci.

Sebagaimana anggota suku ketimun-ketimunan lainnya, habitus tanaman ini merambat namun ia tidak dapat membentuk akar adventif dan tidak dapat memanjat. Jangkauan rambatan dapat mencapai belasan meter.

Daunnya berlekuk-lekuk di tepinya. Bunganya sempurna, berwarna kuning, kecil (diameter 3cm). Semangka adalah andromonoecious monoklin, yaitu memiliki dua jenis bunga pada satu tumbuhan: bunga jantan, yang hanya memiliki benang sari (stamen), dan bunga banci/hermafrodit, yang memiliki benang sari dan putik (pistillum). Bunga banci dapat dikenali dari adanya bakal buah (ovarium) di bagian pangkal bunga berupa pembesaran berbentuk oval.

Buah semangka memiliki kulit yang keras, berwarna hijau pekat atau hijau muda dengan larik-larik hijau tua. Tergantung kultivarnya, daging buahnya yang berair berwarna merah atau kuning. Tanaman ini cukup tahan akan kekeringan terutama apabila telah memasuki masa pembentukan buah.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Cucurbitales
Famili: Cucurbitaceae
Genus: Citrullus
Spesies: C. lanatus

Nama binomial Citrullus lanatus

Terdapat puluhan varietas/jenis semangka yang dibudidayakan, tetapi hanya beberapa jenis yang diminati para petani/konsumen. Di Indonesia varietas yang cocok dibudidayakan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: Semangka Lokal (Semangka hitam dari Pasuruan, Semangka Batu Sengkaling dan Semangka Bojonegoro) dan Semangka Hibrida Impor (dari hasil silangan Hibridasi) yang mempunyai keunggulan tersendiri. Semangka tersebut diklasifikasikan menurut benih murni negara asalnya: benih Yamato, Sugar Suika, Cream Suika dan lainnya. Semangka banyak dibudidayakan di negara-negara seperti Cina, Jepang, India dan negara-negara sekitarnya. Sentra penanaman di Indonesia terdapat di Jawa Tengah (D.I. Yogyakarta, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kulonprogo); di Jawa Barat (Indramayu, Karawang); di Jawa Timur ( Banyuwangi, Malang); dan di Lampung, dengan rata-rata produksi 30 ton/ha/tahun.

Potensi dan Kendala

Potensi

Tanaman semangka dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai buah segar, tetapi ada yang memanfaatkan daun dan buah semangka muda untuk bahan sayur-mayur. Semangka yang dibudidayakan untuk dimanfaatkan bijinya, yang memiliki aroma dan rasa tawar, bijinya diolah menjadi makanan ringan yang disebut “kuwaci” (disukai masyarakat sebagai makanan ringan). Kulit semangka juga dibuat asinan/acar seperti buah ketimun atau jenis labu-labuan lainnya.

Semangka termasuk salah satu buah segar yang digolongkan sebagai makanan fungsional (functional food). Alasannya, semangka rendah kalori meskipun rasanya manis, banyak mengandung air, bebas lemak, kaya betakaroten dan vitamin C, serta berlimpah likopen yang berkhasiat obat. Keunggulan ini menjadikan semangka aman dinikmati seberapapun Anda suka.

Semangka sangat baik bagi pengidap hipertensi. Kandungan air dan kaliumnya yang tinggi membantu mengontrol tekanan darah, apalagi karena semangka tidak mengandung lemak. Beberapa literatur juga menyebutkan semangka bermanfaat mempergiat kerja jantung. Sejumlah antioksidannya, termasuk betakaroten dan vitamin C, membantu sel-sel tubuh tetap sehat.

Kendala

  1. Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia masih tergolong rendah.
  2. Lemahnya permodalan petani, terutama untuk penyediaan sarana produksi pertanian dan pada waktu tertentu beberapa sarana itu sulit diperoleh.
  3. Kurangnya pengetahuan dan tingkat pendidikan petani tentang budidaya tanaman jagung.
  4. Alam (iklim dan cuaca) yang tidak bisa ditebak.

Selain hal diatas masih banyak permasalahan yang sering dijumpai seperti fluktuasi produksi dan harga, penanganan pascapanen pada saat panen raya dan alsin prossesing dan pengolahannya (dryer dan corn sheller) termasuk silo, masih terbatas sehingga berpengaruh terhadap kualitas hasil, terbatasnya modal usahatani, dan kemitraan usaha belum berkembang.

 

Teknologi Budidaya dan Proses Produksi

SYARAT PERTUMBUHAN
Iklim

Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan. Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.

Butuh iklim hangat, dan untuk pertumbuhannya membutuhkan lebih banyak panas daripada tanaman hortikultura lainnya.

Suhu perkecambahan 25 – 30 °C untuk yang berbiji, sedang non biji 28 – 30 °C. Suhu pertumbuhan 20 – 25 °C, untuk pembuangaan dan penyerbukan 25°C. Untuk pengisian dan pemasakan buah 30°C.

Butuh cuaca kering dan cukup sinar matahari. Perakarannya dalam sehingga tahan kering, sebaliknya tidak tanah keadaan basah. Hujan terus menerus atau cuaca berawan terus menyebabkan tanaman kerdil, jumlah bunga dan buah berkurang.

Tumbuh baik di tanah berpasir atau geluh pasiran dengan pengatusan yang baik. Tidak baik ditanam terus menerus pada tanah yang sama. Bekas tanaman padi, jagung atau tebu adalah yang paling baik untuk semangka. PH tanah 6 -7 (netral).

Media Tanam

1)      Kondisi tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah yang cukup

gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan

yang telah dikeringkan.

2)      Keasaman tanah (pH) yang diperlukan antara 6-6,7. Jika pH < 5,5 (tanah asam)

maka diadakan pengapuran dengan dosis disesuaikan dengan tingkat keasaman

tanah tersebut.

3)      Tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah porous (sarang)

sehingga mudah membuang kelebihan air, tetapi tanah yang terlalu mudah

membuang air kurang baik untuk ditanami semangka.

Proses Budidaya

1. Pembibitan

1) Persyaratan Benih

Pemilihan jenis benih semangka yang disemaikan adalah: Hibrida import, terutama benih jenis Triploid (non biji) yang mempunyai kulit biji yang sangat keras dan jenis Haploid (berbiji).

2) Penyiapan Benih

Jenis benih Hibrida impor, terutama jenis bibit triploid setelah dipilih disiapkan alat bantu untuk menyayat/merenggangkan sedikit karena tanpa direnggangkan biji tersebut sulit untuk berkecambah, alat bantu tersebut berbentuk gunting kuku yang mempunyai bentuk segitiga panjang berukuran kecil dan disediakan tempat kecil yang mempunyai permukaan lebar. Jenis Haploid dengan mudah disemai karena bijinya tidak keras sehingga mudah membelah pada waktu berkecambah.

3) Teknik Penyemaian Benih

Teknik penyemaian benih semangka dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :

a)      Perenggangan bibit biji semangka terlebih dahulu supaya untuk mempermudah dalam proses pertumbuhannya;

b)      Perendaman biji dalam suatu satuan obat yang diramu dari bahan-bahan: 1 liter air hangat suhu 20-25 derajat C; 1 sendok teh hormon (Atornik, Menedael, Abitonik); 1 sendok peres fungisida (obat anti jamur) seperti: Difoldhan 4T, Dacosnil 75 WP, Benlate; 0,5 sendok teh peres bakterisida (Agrept 25 WP). Setelah direndam 10-30 menit, diangkat dan ditiriskan sampai air tidak mengalir lagi dan bibit siap dikecambahkan.

4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

Kantong-kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan serupa rumah kaca mini dan untuk salah satu ujungnya terbuka dengan pinggiran yang terbuka. Pemupukan dilakukan lewat daun untuk memacu perkembangan bibit dicampur dengan obat, dilakukan rutin setiap 3 hari sekali. Pada usia 14 hari, benih-benih dipindahkan ke lapangan yang telah matang dan siap ditanami benih tersebut.

5) Pemindahan Bibit

Setelah pengecambahan dilakukan penyemaian bibit menggunakan kantongkantong plastik berukuran : 12 cm x (0,2 – 0,3 )mm. Satu kantong ditanam satu benih (sudut kantong dipotong secukupnya untuk pengurangan sisa air) dan diisi campuran tanah dengan pupuk organik komposisi: 1 bagian tanah kebun, 1 bagian kompos/humus, 1 bagian pupuk kandang yang sudah matang. Setelah bibit berumur 12-14 hari dan telah berdaun 2-3 helai, dipindahkan ke areal penanaman yang telah diolah.

2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

Bila areal bekas kebun, perlu dibersihkan dari tanaman terdahulu yang masih tumbuh. Bila bekas persawahan, dikeringkan dulu beberapa hari sampai tanah itu mudah dicangkul, kemudian diteliti pH tanahnya.

2) Pembukaan Lahan

Lahan yang ditanami dilakukan pembalikan tanah untuk menghancurkan tanah hingga menjadi bongkahan-bongkahan yang merata. Tunggul bekas batang/jaringan perakaran tanaman terdahulu dibuang keluar dari areal, dan juga segala jenis batuan yang ada dibuang, sehingga tidak mempengaruhi perkembangan tanaman semangka yang akan ditanam di areal tersebut.

3) Pembentukan Bedengan

Tanaman semangka membutuhkan bedengan supaya air yang terkandung di dalam tanah mudah mengalir keluar melalui saluran drainase yang dibuat. Jumlah bedengan tergantung jumlah baris tanam yang dikehendaki oleh si penanam (bentuk bedengan baris tanaman ganda, bedengan melintang pada areal penanaman). Lebar bedengan 7-8 meter, tergantung tebal tipis dan tinggi bedengan (tinggi bedengan minimum 20 cm).

4) Pengapuran

Dilakukan dengan pemberian jenis kapur pertanian yang me-ngandung unsure Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang bersifat menetralkan keasaman tanah dan menetralkan racun dari ion logam yang terdapat didalam tanah. Dengan kapur Karbonat/kapur dolomit. Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomite dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

5) Pemupukan

Pupuk yang dipakai adalah pupuk organik dan pupuk buatan. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang berasal dari hewan sapi/kerbau dan dipilih pupuk kandang yang sudah matang. Pupuk kandang berguna untuk membantu memulihkan kondisi tanah yang kurang subur, dengan dosis 2 kg/ bedengan. Caranya, ditaburkan disekeliling baris bedengan secara merata.

Pupuk tersebut terdiri atas: (a) Pupuk Makro yang terdiri dari unsur Nitrogen, Phospor, Kalsium (dibuat dari pupuk ZA, TSP dan KCl); (b) Pupuk Mikro yang terdiri dari Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangaan (Mn), Besi (Fe), Belerang (S), Tembaga (Cu), Seng (Zn) Boron (Bo) dan Molibden (Mo). Pupuk tersebut, dijual dengan beberapa merek seperti Mikroflex, Microsil dll. Penggunaannya, dicampur 1% obat anti hama penggerek batang.

6) Lain-lain

Tahap penghalusan dan perataan bongkahan tanah pada sisi bedengan pada tempat penanaman semangka dilakukan dengan cangkul. Di bagian tengah, sebagai landasan buah pada bedengan, diratakan dan diatas lapisan ini diberi jerami kering untuk perambatan semangka dan peletakan buah. Bedengan perlu disiangi, disiram dan dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm dan plastik mulsa dengan lebar plastik 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuh tanaman liar. Pemakaian plastik lebih menguntungkan karena lebih tahan lama, sampai 8-12 bulan pada areal terbuka (2 – 3 kali periode penanaman). Plastik sisa yang berwarna perak yang memantulkan sinar matahari dan secara tidak langsung membantu tanaman banyak mendapat sinar matahari untuk pertumbuhannya.

3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman

Tanaman semangka merupakan tanaman semusim dengan pola tanam monokultur.

2) Pembuatan Lubang Tanaman

Penanaman bibit semangka pada lahan lapangan, setelah persemaian berumur 14 hari dan telah tumbuh daun 2-3 lembar. Sambil menunggu bibit cukup besar dilakukan pelubangan pada lahan dengan kedalaman 8-10 cm. Persiapan pelubangan lahan tanaman dilakukan 1 minggu sebelum bibit dipindah ke darat. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 80-100 cm/tergantung tebal tipisnya bedengan. Lahan tertutup dengan plastic mulsa, maka diperlukan alat bantu dari kaleng bekas cat ukuran 1 kg yang diberi lubang-lubang disesuaikan dengan kondisi tanah bedengan yang diberi lobang.

3) Cara Penanaman

Setelah dilakukan pelubangan, areal penanaman disiram secara massal supaya tanah siap menerima penanaman bibit sampai menggenangi areal sekitar ¾ tinggi bedengan, dan dibiarkan sampai air meresap. Sebelum batang bibit ditanam dilakukan perendaman, agar mudah pelepasan bibit menggunakan kantong plastic yang ada. Langkah imunisasi dilakukan dengan perendaman selama 5-10 menit disertai campuran larutan obat obatan. Susunan obat terdiri dari: 1 sendok the hormon Atonik, Abitonik, dekamon, menedael, 1 sendok teh peres bakterisida tepung, 1 sendok teh peres fungisida serbuk/tepung (Berlate, dithane M-45, Daconiel).

Urutan penanaman adalah sebagai berikut:

a)      Kantong plastik diambil hati-hati supaya akar tidak rusak.

b)      Tanam dengan tanah posisi kantong dan masukkan ke lubang yang sudah

disiapkan

c)      Celah-celah lubang ditutup dengan tanah yang telah disiapkan

d)     Lubang tanaman yang tersisa ditutup dengan tanah dan disiram sedikit air agar

media bibit menyatu dengan tanah disekeliling dapat bersatu tanpa tersisa.

4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penjarangan dan Penyulaman

Tanaman semangka yang berumur 3-5 hari perlu diperhatikan, apabila tumbuh terlalu lebat/tanaman mati dilakukan penyulaman/diganti dengan bibit baru yang telah disiapkan dari bibit cadangan. Dilakukan penjarangan bila tanaman terlalu lebat dengan memangkas daun dan batang yang tidak diperlukan, karena menghalangi sinar matahari yang membantu perkembangan tanaman.

2) Penyiangan

Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah ditebang karena mengganggu pertumbuhan buah. Pengaturan cabang utama dan cabang primer agar semua daun pada tiap cabang tidak saling menutupi, sehingga pembagian sinar merata, yang mempengaruhi pertumbuhan baik pohon/buahnya.

3) Pembubunan

Lahan penanaman semangka dilakukan pembubunan tanah agar akar menyerap makanan secara maksimal dan dilakukan setelah beberapa hari penanaman.

 

4) Perempalan

Dilakukan melalui penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang. Perempelan dilakukan untuk mengurangi tanaman yang terlalu lebat akibat banyak tunas-tunas muda yang kurang bermanfaat.

5) Pemupukan

Pemberian pupuk organik pada saat sebelum tanam tidak akan semuanya terserap, maka dilakukan pemupukan susulan yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan. Pada pertumbuhan vegetative diperlukan pupuk daun (Topsil D), pada fase pembentukan buah dan pemasakan diperlukan pemupukan Topsis B untuk memperbaiki kualitas buah yang dihasilkan. Pemberian pupuk daun dicampur dengan insekstisida dan fungisida yang disemprotkan bersamaan secara rutin. Adapun penyemprotan dilakukan sebagai berikut:

a)      Pupuk daun diberikan pada saat 7, 14, 21, 28 dan 35 hari setelah tanam;

b)      Pupuk buah diberikan pada saat 45 dan 55 hari setelah tanam;

c)      ZA dan NPK (perbandingan 1:1) dilakukan 21 hari setelah tanam sebanyak 300

ml, 25 hari setelah tanam sebanyak 400 ml dan 55 hari setelah tanam

sebanyak 400 ml.

6) Pengairan dan Penyiraman

Sistim irigasi yang digunakan sistem Farrow Irrigation: air dialirkan melalui saluran diantara bedengan, frekuensi pemberian air pada musim kemarau 4-6 hari dengan volume pengairan tidak berlebihan. Bila dengan pompa air sumur (diesel air) penyiraman dilakukan dengan bantuan slang plastik yang cukup besar sehingga lebih cepat. Tanaman semangka memerlukan air secara terus menerus dan tidak kekurangan air.

7) Waktu Penyemprotan Pestisida

Selain pupuk daun, insktisida dan fungisida, ada obat lain yaitu ZPZ (zat perangsang tumbuhan); bahan perata dan perekat pupuk makro (Pm) berbentuk cairan. Dosis ZPT: 7,5 cc, Agristik: 7,5 cc dan Metalik (Pm): 10 cc untuk setiap 14- cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah ditebang karena mengganggu pertumbuhan buah. Pengaturan cabang utama dan cabang primer agar semua daun pada tiap cabang tidak saling menutupi, sehingga pembagian sinar merata, yang mempengaruhi pertumbuhan baik pohon/buahnya.

3) Pembubunan

Lahan penanaman semangka dilakukan pembubunan tanah agar akar menyerap makanan secara maksimal dan dilakukan setelah beberapa hari penanaman.

4) Perempalan

Dilakukan melalui penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang. Perempelan dilakukan untuk mengurangi tanaman yang terlalu lebat akibat banyak tunas-tunas muda yang kurang bermanfaat.

5) Pemupukan

Pemberian pupuk organik pada saat sebelum tanam tidak akan semuanya terserap, maka dilakukan pemupukan susulan yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan. Pada pertumbuhan vegetative diperlukan pupuk daun (Topsil D), pada fase pembentukan buah dan pemasakan diperlukan pemupukan Topsis B untuk memperbaiki kualitas buah yang dihasilkan. Pemberian pupuk daun dicampur dengan insekstisida dan fungisida yang disemprotkan bersamaan secara rutin. Adapun penyemprotan dilakukan sebagai berikut:

a)      Pupuk daun diberikan pada saat 7, 14, 21, 28 dan 35 hari setelah tanam;

b)      Pupuk buah diberikan pada saat 45 dan 55 hari setelah tanam;

c)      ZA dan NPK (perbandingan 1:1) dilakukan 21 hari setelah tanam sebanyak 300

ml, 25 hari setelah tanam sebanyak 400 ml dan 55 hari setelah tanam

sebanyak 400 ml.

6) Pengairan dan Penyiraman

Sistim irigasi yang digunakan sistem Farrow Irrigation: air dialirkan melalui saluran diantara bedengan, frekuensi pemberian air pada musim kemarau 4-6 hari dengan volume pengairan tidak berlebihan. Bila dengan pompa air sumur (diesel air) penyiraman dilakukan dengan bantuan slang plastik yang cukup besar sehingga lebih cepat. Tanaman semangka memerlukan air secara terus menerus dan tidak kekurangan air.

7) Waktu Penyemprotan Pestisida

Selain pupuk daun, insktisida dan fungisida, ada obat lain yaitu ZPZ (zat perangsang tumbuhan); bahan perata dan perekat pupuk makro (Pm) berbentuk cairan. Dosis ZPT: 7,5 cc, Agristik: 7,5 cc dan Metalik (Pm): 10 cc untuk setiap 14- 17 liter pelarut. Penyemprotan campuran obat dilakukan setelah tanaman berusia >20 hari di lahan. Selanjutnya dilakukan tiap 5 hari sekali hingga umur 70 hari. Penyemprotan dilakukan dengan sprayer untuk areal yang tidak terlalu luas dan menggunakan mesin bertenaga diesel bila luas lahan ribuan hektar. Penyemprotan dilakukan pagi dan sore hari tergantung kebutuhan dan kondisi cuaca.

8) Pemeliharaan Lain

Seleksi calon buah merupakan pekerjaan yang penting untuk memperoleh kualitas yang baik (berat buah cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman), calon buah yang dekat dengan perakaran berukuran kecil karena umur tanaman relatif muda (ukuran sebesar telur ayam dalam bentuk yang baik dan tidak cacat). Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Setiap calon buah 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidak-merataan terkena sinar matahari, sehingga warna kurang menarik dan menurunkan harga jual buah itu sendiri.

HAMA DAN PENYAKIT

1. Hama

Hama tanaman semangka dapat digolongkan dalam 2 kelompok: hama yang tahan dan tidak tahan terhadap peptisida. Hama yang tidak tahan terhadap pestisida (Kutu daun, bentuk seperti kutu), umumnya berwarna hijau pupus, hidup bergelombol, tidak bersayap, dan mudah berkembang biak. Gejala yang terjadi daun berberecak kuning, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian dilakukan secara non kimiawi dan kimiawi dengan obatobatan. Hama kedua adalah hama yang tahan terhadap pestisida seperti: tikus, binatang piaraan (kucing, anjing dan ayam). Pengendallian: menjaga pematang selalu bersih, mendirikan pagar yang mengelilingi tanaman, pemasangan suatu alat yang menghasilkan bunyi-bunyian bila tertiup angin dan diadakan pergiliran jaga.

1) Thrips

Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas. Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida sampai tanaman basah dan merata.

2) Ulat perusak daun

Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, tanda serangan daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang

Pengendalian: dilakukan secara non kimiawi dan secara kimiawi.

3) Tungau

Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman, membela diri dengan menggigit dan menyengat. Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat.

Pengendalian: dilakukan secara non-kimiawi dan dengan pestisida.

4) Ulat tanah

Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman.

Pengendalian: (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian secara kimiawi, dengan obat-obatan sesuai dengan aturan penanaman buah semangka.

5) Kutu putih dan Lalat buah

Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercakbercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar.

Pengendalian : dilakukan secara non kimiawi (membersihkan lingkungan terutama pada kulit buah, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul). Secara kimiawi : dengan obat obatan.

2. Penyakit

1) Layu Fusarium

Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur, lambat laun akan. Pengendalian: (1) secara non kimiawi dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, atau menanam benih yang sudah direndam obat; (2) secara kimiawi dilakukan penyemprotan bahan fungisida secara periodik.

2) Bercak daun

Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang.

Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu.

Pengendalian: (1) secara non kimiawi seperti pada penyakit layu fusarium; (2) tanaman disemprot dengan fungisida yang terdiri dari Dithane M 45 dosis 1,8-2,4 gram/liter; Delsene MX 200 dengan dosis 2-4 gram/liter, Trimoltix 65 Wp dosis 2-3 gram/liter dan Daconil 75 Wp dosis 1-1,5 gram/liter.

3) Antraknosa

Penyebab: seperti penyakit layu fusarium.

Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas.

Pengendalian: (1) dilakukan secara non kimia sepeti pengendalian penyakit layu fusarium; (2) menggunakan fungisida Velimex 80 WP dosis 2-2,5 gram/liter air.

 

 

4) Busuk semai

Menyerang pada benih yang sedang disemaikan.

Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati.

Pengendalian: benih direndam di dalam obat Benlate 20 WP dosis 1-2 gram/liter air dan Difolathan 44 FF dosis 1-2 cc/liter air.

5) Busuk buah

Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik.

Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.

6) Karat daun

Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang.

Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium. Belum ditemukan obat yang tepat, sehingga tanaman yang terlanjur terkena harus, supaya tidak menular pada tanaman sehat.

3. Gulma

Selain gangguan oleh hama dan penyakit, gangguan juga disebabkan kekurangan / kelebihan unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pohon semangka yang kekurangan dan kelebihan unsure hara tersebut, menderita akibat adanya gulma (tanaman pengganggu).

PANEN

1. Ciri dan Umur Panen

Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: setelah terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen). Masa panen dipengaruhi cuaca, dan jenis bibit (tipe hibrida/jenis triploid, maupun jenis buah berbiji).

2. Cara Panen

Dalam pemetikan buah yang akan dipanen sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah dan tidak berawan sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer. Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.

3. Periode Panen

Panen dilakukan dalam beberapa periode. Apabila buah secara serempak dapat dipanen secara sekaligus, tetapi apabila tidak bisa bersamaan dapat dilakukan 2 kali. Pertama dipetik buah yang sudah tua, ke-dua semuanya sisanya dipetik semuanya sekaligus. Ke-tiga setelah daun-daun sudah mulai kering karena buah sudah tidak dapat berkembang lagi maka buah tersebut harus segera dipetik.

4. Prakiraan Produksi

Hasil produksi dari masing-masing pohon semangka perlu diadakan pembatasan hasil buahnya, sehingga dapat diperkirakan jumlah produksinya. Secara wajar, jumlah buah berkisar antara 2-3 buah setiap pohon (1 buah pada cabang pohon dan 2 buah pada batang utama dari pohon), dengan berat buahnya 6-8 kg per pohon.

PASCAPANEN

1. Pengumpulan

Pengumpulan hasil panen sampai siap dipasarkan, harus diusahakan sebaik mungkin agar tidak terjadi kerusakan buah, sehingga akan mempengaruhi mutu buah dan harga jualnya. Mutu buah dipengaruhi adanya derajat kemasakan yang tepat, karena akan mempengaruhi mutu rasa, aroma dan penampakan daging buah, dengan kadar air yang sempurna.

2. Penyortiran dan Penggolongan

Penggolongan ini biasanya tergantung pada pemantauan dan permintaan pasaran. Penyortiran dan penggolongan buah semangka dilakukan dalam beberapa klas.

3. Penyimpanan

Penyimpanan buah semangka di tingkat pedagang besar (sambil menunggu harga lebih baik) dilakukan sebagai berikut:

1)      Penyimpanan pada suhu rendah sekitar 4,4 derajat C, dan kelembaban udara

antara 80-85%;

2)      Penyimpanan pada atmosfir terkontrol (merupakan cara pengaturan kadar O2 dan

kadar CO2 dengan asumsi oksigen atau menaikan kadar karbon dioksida (CO2),

dapat mengurangi proses respirasi;

3)      Penyimpanan dalam ruang tanpa pengatur suhu: merupakan penyimpanan jangka

pendek dengan cara memberi alas dari jerami kering setebal 10-15 cm dengan

disusun sebanyak 4-5 lapis dan setiap lapisnya diberi jerami kering.

4. Pengemasan dan Pengangkutan

Di dalam mempertahankan mutu buah agar kondisi selalu baik sampai pada tujuan akhir dilakukan pengemasan dengan proses pengepakan yang secara benar dan hati-hati.

1).Menggunakan tempat buah yang standar untuk mempermudah pengangkutan.

2).Melindungi buah saat pengangkutan dari kerusakan mekanik dapat dihindari.

3).Dibubuhi label pada peti kemas terutama tentang mutu dan berat buah.

5. Penanganan Lain

Pemasaran merupakan salah satu faktor penting, maka perlu diperhatikan nilai harga dan jalur-jalur pemasaran mulai dari produsen (petani) sampai konsumen. Semakin cepat dikonsumsi semakin tinggi harga jualnya. Pemasaran biasa dilakukan melalui sistem borongan dengan harga yang lebih rendah, atau melalui beberapa tahapan (seperti produsen, pengumpul, pengecer)

Varietas Unggul Semangka

  1. Balitbu Tropika 01
    • Umur tanaman : 85-90 hari
    • Bibit siap tanam : 15 hari setelah semai
    • Keluar bunga betina: 25 hari setelah tanam
    • Umur buah : 50-55 hari setelah silang
    • Berat buah : 7,5 kg
    • Tebal kulit buah    : 1,3 cm
    • Warna daging buah: kuning merah
    • Tekstur buah    : renyah
    • TSS         :11o Brix
  2. Balitbu Tropika 02
    • Umur tanaman : 85-87 hari
    • Bibit siap tanam : 5 hari setelah semai
    • Keluar bunga betina: 25 hari setelah tanam
    • Umur buah : 45-48 hari setelah silang
    • Berat buah : 7,5 kg
    • Tebal kulit buah : 1,1 cm
    • Warna daging buah: kuning merah
    • Tekstur buah    : renyah
    • TSS         :12oBrix
  3. Balitbu Tropika 03
    • Umur tanaman : 90-95 hari
    • Bibit siap tanam : 15 hari setelah semai
    • Keluar bunga betina : 25 hari setelah tanam
    • Umur buah : 50-55 hari setelah silang
    • Berat buah : 7,7 kg
    • Tebal kulit buah : 1,1 cm
    • Warna daging buah: merah
    • Tekstur buah : renyah
    • TSS         :11,5oBrix
  4. Balitbu Tropika 04
    • Umur tanaman : 90-95 hari
    • Bibit siap tanam : 15 hari setelah semai
    • Keluar bunga betina: 25 hari setelah silang
    • Umur buah : 50-55 hari setelah tanam
    • Berat buah : 8,1 kg
    • Tebal kulit buah : 1,0 cm
    • Warna daging buah: merah
    • Tekstur buah : renyah
    • TSS :11,5oBrix
  5. Balitbu Tropika 05
    • Umur tanaman : 90-95 hari
    • Bibit siap tanam : 15 hari setelah semai
    • Keluar bunga betina: 25 hari setelah tanam
    • Umur buah : 50-55 hari setelah silang
    • Berat buah : 7,6 kg
    • Tebal kulit buah : 1,1 cm
    • Warna daging buah : merah
    • Tekstur buah : renyah
    • TSS         :11,5oBrix

By : Candra Quida N